
Hari-hari sudah berlalu dengan begitu cepat tanpa disadari. Kini adalah hari di mana pernikahan Jefra dan Renata.
Di sebuah gedung yang di dalamnya sudah disulap seperti taman buatan. Tema pernikahan ala garden dengan dekorasi yang didominasi dengan dedaunan dan taman hijau, aneka bunga-bunga segar warna merah muda, putih, dan krem mempercantik suasana. Terlihat asri, elegan, dan mewah.
"Aku iri, bro. Pengin kawin juga," ucap Gavin sembari memeluk Ryo yang duduk di kursi sebelahnya.
"Lepas!" Ryo melepas paksa pelukan Gavin.
"Ck, teman lagi sedih juga," Gavin mencebikkan bibir.
"Gayamu kayak homo, Vin," ucap Ryo bergidik ngeri, dia menepuk-nepuk badannya seakan merasa jijik karena habis dipeluk Gavin.
"Hais, sialan kamu, Yo. Gini-gini aku masih suka lubang surgawi," sengit Gavin.
"Cih, kayak udah pernah ngerasain saja kamu," cibir Ryo meremehkan.
Jleb
Gavin benar-benar tertohok. Tentu saja dia belum pernah merasakannya.
"Nan-nanti juga aku pasti akan merasakannya," kilah Gavin.
"Merasakan dengan siapa? Dengan kucing?" Ryo tertawa meledek.
"Sinting! Kamu kira aku apa?" protes Gavin tidak terima.
Keahlian Ryo adalah mudah meningkatkan emosi orang.
"Aduh!" rintih Ryo saat merasakan telinganya dijewer Jelita.
"Jangan ribut," omel Jelita.
Jelita yang sedari tadi duduk di samping kiri Ryo, merasa jengah dengan keributan ke dua pemuda itu.
Kini mereka sedang berada di tempat tamu VIP dan meja makan keluarga. Bisa-bisanya Ryo dan Gavin ribut di tempat ini, apalagi hanya karena hal tidak berfaedah.
Ryo mengusap telinganya yang memerah, "Kamu jahat sekali, telingaku hampir robek karena perbuatanmu."
Jelita tampak tidak perduli dengan Ryo yang merengek sakit.
"Rasakan," Gavin tertawa puas.
Seketika tawa Gavin berhenti saat Jelita menatapnya tajam. Oh, ayolah, tentu saja Gavin tidak mau dibuat bonyok oleh Jelita.
"Sayang, jangan marah, oke? Aku dan Gavin nggak akan ribut lagi," ujar Ryo mencoba menenangkan aura sang Istri yang terlihat menakutkan.
"Y-ya, Jelita, hentikan tatapan menakutkanmu itu," timpal Gavin.
"Menakutkan katamu?" Jelita justru semakin menatap tajam Gavin.
Sepertinya Gavin salah bicara.
"Sudah, sudah, bukankah kamu ingin menemani Dokter Renata?"
Ryo mencoba melerai.
__ADS_1
Jelita mengangguk, "Aku akan ke tempat Renata dulu," ucapnya kemudian.
Gavin bernapas dengan lega karena sudah lolos dari amukan Jelita.
"Sini kiss dulu," pinta Ryo.
"Kiss Gavin saja."
Ryo dan Gavin melotot seketika.
Kemudian Jelita bangkit dari posisi duduknya, lalu melangkah pergi.
"Najis!" Gavin menatap Ryo horor.
"Ck, jauh-jauh sana!" Ryo jadi tambah sensi dengan temannya itu.
**
Sejak pagi Renata membiarkan dirinya didandani bak boneka oleh penata riasnya. Pikirannya jauh menerawang, membayangkan kehidupannya setelah menikah. Dia dan Jefra akan segera menaiki roller coaster kehidupan rumah tangga yang pastinya akan penuh dengan emosi dan hal-hal yan tidak terduga lainnya. Ya, Renata sudah mempersiapkan diri secara emosional untuk perjalanan mereka menyusuri kehidupan bersama.
Saat ini Renata merasa gugup, gelisah, dan bahagia. Dia masih merasa tidak percaya jika sedang berada di tahap tinggal selangkah lagi menuju ke pelaminan, serta akan melepas diri untuk mengikuti Jefra. Renata sungguh deg-degan dibuatnya.
Renata merasa bersyukur karena telah berhasil mempersiapkan pernikahan impiannya. Meskipun Jefra sudah menyuruhnya tidak usah pusing mengurusnya, tetapi Renata ingin ikut andil. Segala persiapan memang tidak berjalan mulus seperti jalan tol, tidak semuanya berjalan seperti yang kehendaki. Selalu ada saja hal-hal ataupun kejadian yang tidak diharapkan yang terjadi. Bermacam tes mulai dari emosi, perbedaan pendapat, keluarga ataupun vendor, serta berbagai hal lain.
Dan berkat kesabaran hari bahagia ini pun bisa terlaksana.
"Renata, kamu sudah siap?" tanya Jelita yang melongok dari balik pintu.
"Ya," jawab Renata.
Acara akan segera di mulai. Renata mencoba rileks untuk mengatasi grogi.
"Ayo," ucap Renata setelah merasa agak tenang.
Dengan didampingi Jelita dan Indy, Renata melangkah keluar ruangannya. Kemudian menuju meja akad di depan pelaminan melewati ratusan tamu undangan.
Deg
Deg
Setiap langkah detak jantung Renata meningkat. Apalagi ketika matanya beradu pandang dengan sepasang mata hitam milik Jefra yang sedang mengenakan jas putih. Wajahnya memerah dan ratusan kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya saat Jefra tersenyum padanya.
"Tenanglah, dulu aku juga merasa seperti itu," bisik Jelita mencoba menenangkan Renata.
Kemudian prosesi akad nikah mulai dilakukan. Sebastian selaku wali dari mempelai wanita duduk berhadapan sambil menjabat tangan Jefra.
Sedangkan Renata mendengarkan proses tersebut di samping, di kursi belakang Jefra. Hatinya sungguh berdebar-debar.
"Sah!"
Ijab kabul telah berhasil terlaksana, kini Jefra sudah bertanggung jawab penuh atas Renata, menanggung semua hal tentang Renata pada bahunya. Menjaga dan menjadi pelindung utama untuk Renata sudah menjadi tugas Jefra.
Setelah prosesi akad nikah dan tukar cincin selesai dilangsungkan, acara pun berlanjut ke resepsi pernikahan dan acara foto-foto.
Kini Jefra dan Renata sedang duduk di pelaminan. Akhirnya Jefra sudah berhasil membawa Renata sampai tahap itu.
__ADS_1
"Jef, sejak tadi jantungku berdetak kencang."
Renata mulai memberitahu Jefra tentang apa yang dia rasa.
Jefra tersenyum menanggapinya, "Apa sekarang sudah tidak apa-apa?" tanyanya.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Renata.
Meski begitu Renata merasa bersyukur karena pernikahan mereka berjalan dengan lancar.
"Kalau begitu persiapan jantungmu untuk nanti malam."
"Eh?"
Renata terkejut dengan apa yang dikatakan Jefra. Nanti malam? Yang artinya malam pertama.
Aliran darah Renata seakan langsung terponpa menuju wajah. Bisa-bisanya Jefra mengatakannya dengan begitu santai. Renata tidak tahu jika Jefra memang memiliki sisi liar yang berusaha dipendam. Sepertinya Renata memang harus bersiap-siap.
"Apa kamu akan melempar bunga itu?" tanya Jefra saat MC acara memberitahu jika selanjutnya adalah sesi lembar bunga.
"Ya," jawab Renata.
Sesi pelemparan bunga bisa jadi momen paling ditunggu-tunggu para tamu. Di sesi ini para pria dan wanita lajang akan berkumpul bersama, menunggu Renata melemparkan buket bunga untuk diperebutkan. Siapa saja yang berhasil merebut buket bunga tersebut diyakini akan beruntung, konon katanya akan mendapat jodoh dalam waktu dekat, dan akan segera melangsungkan pernikahan.
"Ayo kita lempar bersama," ujar Renata.
Jefra dan Renata bersiap melempar bunga kepada tamu undangan dengan posisi membelakangi sang tamu.
"1..."
"2..."
"3!"
Lalu pada hitungan yang ke 3, bunga pun dilempar dan menjadi rebutan para tamu undangan.
"Kyaaaa!"
Para tamu pun berteriak untuk berebut bunga.
Namun, lembaran bunga terlalu tinggi dan melewati kumpulan tamu yang sedang berebut itu, mengarah pada Gavin yang sedang di sebelah Ryo.
Sett
Sebelum bunga mengenai wajah Gavin ada seorang wanita yang melompat untuk menangkapnya. Wanita itu berhasil menangkapnya dengan badan yang berputar, lalu oleng ke arah Gavin.
Gubrakk
Semua orang terkejut melihat hal yang tidak terduga itu.
Wanita itu jatuh tepat menindihi tubuh Gavin, dan bibir ke duanya saling bersilaturahmi.
Entah apakah ini kesialan Gavin atau justru sebaliknya.
_To Be Continued_
__ADS_1