
"Perusahaan macam apa ini?" ujar seorang laki-laki berumur 20 tahunan yang memasuki ruangan Ryo.
"Maksudnya?" tanya Ryo dengan menaikan satu alisnya.
Terlihat Jelita yang duduk di sofa dengan memainkan ponsel. Wanita cantik itu masih berada di ruang kerja suaminya.
"Maaf, tuan muda. Dia adalah anak dari Mr. Jonathan yang memiliki perusahaan di London. Jadi dia yang akan menggantikannya," kata Sisil menjelaskan.
"Namaku Harry," ucap si laki-laki.
"Oh, begitu. Silakan duduk," Ryo mempersilahkan kliennya itu untuk duduk di kursi di depannya.
Kemudian Sisil meletakan secangkir teh.
"Silakan diminum tehnya," ucap Ryo.
"Aku biasanya tidak minum tea, ya. Di London aku bisanya minum coffee," tukas Harry.
"Maaf tapi di perusahaan ini tidak ada kopi," kata Ryo menatap tajam.
"What? Seriously? Kopi pun tidak ada? Come on, moodku jadi tidak baik karena ini."
Ryo menatap Harry sengit. Jadi karena pria menyebalkan itu yang telah mengganggunya? Klien penting, huh? Yang benar saja.
"Jadi apa maksud kedatangan kamu ke sini?" tanya Ryo tidak mau berbasa-basi lagi. Dia ingin cepat-cepat mengusir pria itu.
"Aku tahu, perusahaan kamu sedang mencari partner kerja untuk menutupi kerugian yang dialami, bukan?" ujar Harry dengan raut wajah sombong.
Ryo mengernyitkan dahi mendengarnya. Kemudian menerima file kerjasama yang Harry berikan padanya. Melihatnya sebentar dan menyerahkannya lagi pada Harry.
"Sorry, aku tidak bisa menerima kerjasama ini."
Harry menatap Ryo tidak kalah sengit, lalu bertepuk tangan dengan tatapan mencemooh, "Hebat dan keren juga, ya."
Ryo hanya diam, disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursi, tangannya bersedekap, tatapannya tenang namun terlihat tajam.
"Perusahaan yang sudah di ujung pinggir kehancuran, masih berlagak sombong untuk menolak bekerjasama dengan perusahaan terkenal kami," sambung Harry sedikit meninggikan nada suaranya.
"Perusahaan ini ada peraturan baru, dan perusahaan terkenal kamu ini belum memenuhi kualifikasinya," ucap Ryo.
Wajah Harry mengkerut mendengarnya.
Kemudian Ryo meraih ponsel miliknya, mencoba mengirim pesan pada seseorang.
Drett... Drett...
__ADS_1
Tidak lama kemudian ponsel milik Harry bergetar, menandakan adanya panggilan masuk, lalu diambilnya ponsel itu dan menerima panggilan.
"Halo, Dad."
[ Kamu bilang apa sama tuan muda Ryo? Kenapa bisa dia membatalkan kerjasama? Tuan muda adalah partner kerja terbaik perusahaan kita, tahu tidak? Perusahannya lah yang membantu perusahaan kita selama ini. Dasar anak tidak berguna! Cepat minta maaf padanya, bodoh! ]
Panggilan itu pun berakhir. Terlihat wajah Harry yang memucat ketika, dia baru tahu tentang itu. Kadang kalanya sesuatu sering terbalik, yang luar biasa terlihat biasa saja dan yang biasa justru berlagak luar biasa.
"Maaf atas perkataanku barusan, tuan muda. Aku mohon jangan batalkan kerjasama perusahaan kita," ucap Harry terlihat benar-benar menyesal.
Heh, baru sekarang dia menyesal setelah berlagak sombong? Sepertinya Harry baru terjun dalam dunia kerja. Tipe pemuda sombong yang membanggakan kekayaan orang tuanya tanpa tahu apa itu jerih payah.
Jelita yang ikut mendengar pembicaraan itu sudah tidak tahan lagi, ingin sekali dia memukul Harry karena sikapnya itu. Lalu Jelita bangkit dan berjalan ke arah di mana Ryo, Harry, dan Sisil berada. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur, tapi dirinya geregetan sendiri.
"Kesombongan tidak membuat orang tinggi derajat. Tapi dengan kesombongan itulah, kamu terperosok dalam kerendahan akhlak," kata Jelita yang menginterupsi.
Ke tiga orang itu pun mengalihkan tatapan pada wanita cantik yang tengah hamil itu.
"Sungguh disayangkan perusahaan keluargamu hancur karena sikap sampahmu itu, segera perbaiki dirilah," sambung Jelita.
Jelita menatap Harry yang menunduk, badannya gemetar, dan tangannya terkepal. Apakah itu reaksi penyesalan?
Harry bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Jelita.
"Kamu wanita pertama yang mengatai aku sampah," ucap Harry sembari meraih salah satu tangan Jelita.
"Siapa namamu? Aku jatuh cinta padamu! Menikah denganku, ya!" seru Harry dengan tatapan berbinar kagum.
Apa pemuda itu sinting?
"Kamu──"
Harry memotong perkataan Jelita, "Tolong panggil namaku! Namaku adalah──"
"Dia tidak tanya," Ryo memotong perkataan Harry, dengan mengeluarkan aura yang begitu dingin dan berapi-api.
Ryo segera menepis tangan Harry yang memegang tangan Jelita, lalu mengelap tangan sang istri dengan tisu yang diambilnya dari atas meja.
Setelah itu kembali menatap Harry dengan tatapan membunuh, "Kalau kamu tidak ingin aku menghancurkan perusahaan keluargamu, tutup mulutmu dan segeralah pergi dari sini."
Harry menelan saliva berat dibuatnya, tatapan dan ancaman Ryo benar-benar sangat menakutkan. Lalu dia melihat perut buncit Jelita. Oh, dia baru menyadari jika wanita cantik itu sedang hamil.
"Jaga matamu, bang sat. Jangan menatap istriku," Ryo segera menyembunyikan Jelita di balik punggungnya, dia sengaja menekan kata bang sat dan istriku.
"A... Aku, aku minta maaf," Harry berkeringat dingin dibuatnya, "Aku permisi!"
__ADS_1
Setelahnya Harry segera berjalan cepat untuk keluar, setetes air mata terlihat keluar dari pelupuk matanya, hatinya patah menjadi dua, padahal dirinya baru merasakan jatuh cinta pada seorang wanita.
"Urus si bang sat itu, Sisil," ucap Ryo pada si Sekertaris.
"Baik, tuan muda" patuh Sisil, lalu beranjak untuk menyusul Harry.
"Dasar nggak waras, bisa-bisanya dia melamar wanita hamil di depan suaminya," gerutu Ryo yang masih terlihat marah.
Ternyata kantor bukanlah tempat yang aman untuk sang Istri. Ryo memang harus selalu menjada Jelita dari lelaki semacam Harry, lelaki yang berniat menjadi pembinor.
Jelita tertawa kikuk, dia juga tidak menyangka jika akan mendapatkan lamaran tiba-tiba.
"Sudahlah, jangan memaki dan marah-marah lagi, ya," ujar Jelita sembari meraih tangan Ryo, lalu meletakkan di perut buncitnya, "Mereka menendang karena merasa Daddy-nya menyeramkan."
Ryo terkejut karena merasakan tendangan si kecil dan perkataan Jelita, "Baiklah, Daddy nggak marah lagi," ucapnya seraya mengelus perut buncit sang istri.
Namun, dalam hati Ryo berniat akan memberi sedikit pelajaran untuk Harry. Seperti menyuruh Mr. Jonathan untuk mengirim putranya itu ke Afrika dan hidup di suku pedalaman. Tentu saja Mr. Jonathan akan menurutinya dengan embel-embel mempertimbangkan kerjasama kembali.
Ryo menyeringai samar.
**
Pada waktu yang sama, di ruang Dokter Renata.
Di tahap yang terparah, Philophobia bisa membuat seseorang terisolasi secara sosial karena ketakutan yang tidak berarti dan bahkan bisa mencapai bunuh diri. Hal tersebut tentu sangat mengerikan di mana seseorang tidak boleh mengabaikannya. Itu adalah sesuatu yang paling dikhawatirkan Renata.
Namun, kini Renata merasa senang karena Sachi sudah dapat mengatasi rasa takutnya. Dari apa yang Sachi katakan, Gavin lah yang sudah memberikan kepercayaan pada gadis itu untuk tidak takut.
Bukankah ini seperti menemukan sebuah mata air di gurun yang tandus?
"Apakah itu normal? Aku, aku justru menyukai otot perutnya," ucap Sachi secara gamblang.
Sebenarnya dia sangat malu mengatakannya.
Renata tertawa dibuatnya, pasiennya yang satu ini memang sangat polos.
"Itu wajar kok. Seperti burung merak jantan yang menunjukkan daya tarik mereka dengan ekornya yang indah. Sama halnya dengan otot pada tubuh laki-laki yang menjadi tanda kegagahan, kalori, testosteron dan sistem kekebalan tubuh yang kuat. Jadi tidak heran jika wanita menyukainya. Bukankah itu terlihat sangat sexy?" ujar Renata.
Wajah Sachi memerah dibuatnya, kemudian mengangguk kaku untuk membenarkan perkataan Renata.
"Itu adalah perkembangan yang bagus, sepertinya cowok itu dapat menyembuhkan kamu."
"Menyembuhkan aku? Apa bisa?" Sachi mendongak untuk menatap Renata.
Renata tersenyum penuh arti.
__ADS_1
_To Be Continued _