
"Buka saja kemejaku," ucap Ryo dengan berbisik sensual.
"Aku nggak meminta kamu buka baju," Jelita langsung menjauhkan tangannya dari kancing kemeja Ryo.
"Nggak usah malu," ujar Ryo masih berbisik seraya menarik dasi yang sejak tadi dia pakai dan melepasnya. Saat ini dia memang hanya memakai kemeja karena jas miliknya tersampir di kursi kerja.
Jelita menelan saliva kasar, dia jadi gelagapan sendiri, "Nggak," kilah Jelita. Mana bisa dia melakukan itu.
"Kalau nggak mau biar aku yang meneruskan membuka pakaianmu," ujar Ryo yang tatapannya teralihkan pada belahan da-da Jelita yang menyembul karena ke tiga kancing teratas kemejanya sudah Ryo buka sebelumnya.
Jelita reflek mencengkram kemejanya, dia hampir lupa dengan keadaannya sekarang, "Enak saja," ucapnya.
Ryo menyeringai samar, "Jelita, tatap aku," ujarnya dengan menangkup kedua pipi Jelita agar mendongak menatapnya.
Kemudian Ryo melepas kacamata yang dipakai Jelita, bola mata hazel bertemu dengan amber tanpa penghalang, mereka hanyut ke dalam tatapan satu sama lain.
Wajah mereka semakin dekat sehingga bulu mata ke duanya saling bersentuhan saat berkedip. Saat hidung bersentuhan barulah mereka memejamkan mata untuk kembali berciuman. Ryo kembali memberikan luma-tan pada bibir Jelita. Namun, luma-tan itu cukup menyulitkan Jelita karena lebih liar dan menggebu dari sebelumnya, gigi Ryo pun ikut andil dalam mengigit dan menarik bibir Jelita.
Jelita menggerang pelan, tangannya yang tadi mencengkram kemejanya kini meremas rambut hitam Ryo. Jelita benar-benar sudah mabuk kepayang, dia bahkan menikmati saat tangan Ryo mulai memijat ke dua da-danya.
Ryo memijat bongkahan besar milik Jelita dengan ke dua tangannya. Ryo merasa tidak puas jika sentuhannya terhalang kain, karena itu dia mulai membuka kancing kemeja Jelita hingga terbuka sepenuhnya, lalu meloloskan blazer dan kemeja yang Jelita pakai.
Kini gadis itu hanya memakai br-a. Jelita sendiri sepertinya masih tidak sadar dengan keadaannya yang tengah ditelanja-ngi Ryo, pikirannya kosong dan hanya tertuju pada ciuman Ryo yang begitu menggebu-gebu.
Click
Ryo berhasil membuka kaitan br-a dan melepaskannya, dia telah menggunakan kesempatan dengan begitu baik.
Dengan masih melahap bibir Jelita, Ryo mulai menggerakkan jari-jarinya untuk menyentuh da-da Jelita dan merasakan kelembutan benda itu tanpa adanya penghalang. Perut Jelita secara refleks langsung menegang, erangan nikmat yang lolos terendam bungkaman mulut Ryo.
Ryo mulai menggerakkan tangannya untuk megusap dan menekan ke atas da-da Jelita. Dan diakhiri meraba bagian puncaknya yang sudah menegang sempurna.
"Akh," Jelita memekik karena Ryo menarik puncak da-danya dengan ibu jari dan telunjuk yang di satukan, kemudian memelintirnya.
Jelita memundurkan wajahnya, "Ryo, a-apa yang kamu lakukan? Da-dadaku sakit," ucap Jelita sedikit berkaca-kaca. Ingin memukul Ryo tapi dirinya sudah terlalu lemas.
Ryo hanya nyengir tidak ada rasa bersalah sama sekali, "Habisnya gemas."
Pandangan Jelita langsung turun ke bagian depan tubuhnya, dia terkejut karena sudah setengah te-lanjang.
"Ahh, he-hentikan," desαh Jelita saat Ryo semakin gencar meremas ke dua buah da-danya.
__ADS_1
"Mana bisa dihentikan," Ryo memajukan wajahnya untuk mencumbui leher Jelita, tanpa membuat jejak karena mungkin akan mempersulit gadis yang tengah di cumbunya itu. lagi pula satu jejak pada tulang selangka Jelita sudah cukup baginya.
"Ryo, Akhhh..."
Jelita langsung menutup mulutnya dengan tangan, dia sangat malu telah mengeluarkan suara-suara aneh lagi.
"Jangan tutup mulutmu, Jelita," ujar Ryo menatap Jelita yang sedang menahan suara indahnya, lalu segera melepas tangan gadis itu.
"A-aku malu," cicit Jelita.
"Nggak usah malu, suaramu sangat merdu," ucap Ryo mencium sekilas pipi Jelita.
Jelita mengangguk, dia kira itu akan menjadi hal yang memalukan jika didengar Ryo, tapi justru kebalikannya.
"Baiklah, sekarang izinkan aku meminum susu," pinta Ryo kemudian.
"Kamu mau susu?" tanya Jelita dengan ekspresi polos.
"Ya," jawab Ryo jadi gemas sendiri melihat ekspresi Jelita.
"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu," uap Jelita.
"Katanya mau susu," Jelita mengeryit bingung.
"Kamu kan sudah punya," Ryo menyeringai samar.
Jelita menggeleng, dia belum paham apa yang Ryo maksud, "Aku nggak punya," ucapnya.
"Kamu punya susu, ada dua pula, itu yang bergelantungan di tubuh bagian depanmu," kata Ryo sambil menunjuk da-da Jelita.
Refleks Jelita langsung menutup tubuh bagian depannya, "Da-dasar kurang ajar," omelnya.
Ryo terkekeh, kemudian dia memeluk Jelita, "Jadi makin cinta," ucapnya sembari menempelkan pipinya pada pipi Jelita dan menggeseknya seperti kucing. Jelita-nya memang sangat imut dan polos, sifatnya itu berhasil tertutup rapat dengan sosok kuat gadis itu.
Wajah Jelita kembali merona malu-malu.
Kemudian Ryo mengurai pelukannya, "Pakai lagi pakaianmu," ujarnya, selagi kewarasannya kembali dia akan mencoba menghentikan perbuatan tidak senonohnya.
Jelita segera mengangguk cepat, dia merutuki dirinya yang dengan mudahnya terbuai dan kecolongan seperti ini.
'Bagimana bisa aku nggak sadar saat ditelanja-ngi?' pikir Jelita tidak menyangkah pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Kemudian Jelita bangkit dari pangkuan Ryo dan memunguti baju dan br-a miliknya yang berserakan di lantai, tidak lupa dia memakai kembali kacamatanya. Sedangkan Ryo mengalihkan atensinya dengan mengambil ponsel di saku celananya, mencoba mengecek ponselnya sembari menunggu Jelita memakai pakaiannya.
Jelita segera merapikan dirinya dengan terburu-buru. Setelahnya dia merasakan jika ada yang aneh pada tubuh bagian bawahnya, dia merasakan basah.
'Apa aku ngompol?' batinnya dengan wajah yang memucat, lalu dia melihat bagian celana Ryo yang tadi dia duduki.
"Ryo..."
"Ya? Sudah selesai?" tanya Ryo mengalihkan tatapannya dari ponsel.
Jelita mengangguk, "Itu..." dia tidak sanggup meneruskan perkataannya.
"Itu apa?" tanya Ryo bingung.
"Itu celanamu, aku mengompol dan celanamu kena," ucap Jelita dengan tertunduk malu.
"Hah?" Ryo berekspresi seperti orang bodoh.
Ryo langsung melihat celananya, dan benar saja ada jejak sedikit basah di sana, karena dia menggunakan celana berwarna abu-abu jadi sangat terlihat jelas.
"Nggak apa-apa," ucap Ryo terkekeh.
"Nggak apa-apa gimana? Celana kamu jadi kotor. Maafkan aku," Jelita sampai ingin menangis karena itu.
Jelita memang sungguh polos. Dia benar-benar berpikir jika mengompol.
"Kamu nggak mengompol, Jelita," kata Ryo mencoba menahan tawanya, ingin ngakak tapi merasa kasihan.
"Terus?" tanya Jelita yang masih belum mengerti.
"Itu karena kamu baru saja terang-sang," jawab Ryo mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang baik, "Karena kegiatan kita barusan," lanjutnya.
"A-apa?"
Ryo tertawa renyah, "Sudahlah nggak usah dipikirkan lagi," ucapnya.
'Mau kabur saja rasanya,' batin Jelita menjerit dalam hati.
_To Be Continued_
Maaf otornya sesad buat bab yang iniš¤£
__ADS_1