Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Jambret


__ADS_3

Sudah enam bulan Jelita menjadi Bodyguard Ramaryo, selama itu pula Ryo menunjukkan perubahnya, pemuda itu tidak main-main atas niatnya itu. Ryo sudah berhenti minum-minuman, tidak bermain wanita, tidak ke Bar, dan nilai perkuliahannya pun tidak seanjlok dulu.


"Hai, Honey," sapa Vano tahu-tahu datang saat Jelita sedang berdiri di samping bangku taman yang diduduki Ryo dan Gavin, gadis itu seperti sedang mengasuh dua orang bocah yang sedang mabar game online.


Jelita tidak menjawab, dia sudah cukup terbiasa dengan Vano yang tidak kapok mengganggunya. Baginya Vano adalah pemuda sinting yang haus akan perhatian.


"Semester ini aku bakal sibuk, karena aku ambil total 24 sks," kata Vano dengan poker face.


"Aku nggak perduli," ucap Jelita tidak kalah datarnya.


"Kamu nggak sedih? Aku akan susah bertemu dengan kamu karena akan sibuk."


"Justru itu bagus. Enyalah, jangan menggangguku," ucap Jelita yang begitu menohok.


Vano tersenyum tipis, inilah yang membuatnya tidak menyerah untuk mendapatkan Jelita. Respon Jelita sangatlah berbeda dengan perempuan lain, jika perempuan lain pasti akan histeris jika berdekatan dengannya, sedangkan Jelita sangatlah cuek padanya. "Seperti biasa, ucapan kamu begitu menyakitkan, Honey," katanya.


"Kyaaa! Kak Vano!"


"Aku pergi dulu, Honey," kata Vano ketika melihat segerombolan mahasiswi yang akan mengerumuninya, dia berniat kabur.


Para mahasiswi menatap Jelita sengit sebelum mengejar pangeran kampus yang kabur, Jelita hanya memutar bola matanya jengah.


"Kenapa kamu selalu menolak Vano, Jelita?" tanya Gavin tanpa mengalihkan fokusnya dari ponsel.


Jelita menatap Ryo dengan tatapan penuh arti, bagaimana bisa dia melirik pemuda lain jika hatinya sudah diambil oleh sang calon suami.


Ya, Jelita memang sudah mencintai Ryo.


"Aku nggak suka dengannya," jawab Jelita kemudian.


"Jual mahal sekali," ucap Ryo yang membuat pelipis Jelita berkedut.


"Jangan seperti itu Ryo, perasaan seseorang memang nggak bisa dipaksa," kata Gavin yang sudah cukup berpengalaman atas penolakan Dhita dulu, dia sendiri tidak bisa memaksa perasaannya.


"Kalau memang nggak suka harusnya lebih tegas lagi dong, bilang ke cowok itu supaya berhenti mendekatimu," ucap Ryo seraya bangkit dari duduknya.


"Biarin saja sih Jelita didekatin Vano. Siapa tahu mereka jodoh, Bodyguard juga membutuhkan pasangan," ujar Gavin seperti menyiram kobaran api dengan bensin.


"Ck!" Ryo berdecak sebal seraya bangkit dan melangkah pergi, hatinya semakin panas saat mendengar perkataan Gavin. Dia sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya, kenapa tiba-tiba dia merasa marah?


Jelita menatap heran Ryo dan mengikuti pemuda itu dari belakang.

__ADS_1


**


Aroma semerbak yang begitu manis dan menenangkan menyambut Jelita dan Ryo yang memasuki salah satu toko roti.


Ryo berkata jika dia ingin ke toko roti setelah pulang kuliah, dan di sinilah mereka berdua.


Ryo membeli beberapa Croissant. Pemuda itu memang sangat menyukai roti berbentuk seperti bulat sabit itu, tekstur yang renyah dan empuk begitu menggoda selera baginya.


"Sewaktu kecil aku sering datang ke toko roti ini bersama Ibu," kata Ryo tiba-tiba.


Jelita hanya diam, dia menunggu apa yang akan dikatakan Ryo selanjutnya.


"Sebenarnya aku nggak ingin ke sini karena bisa membuatku semakin merindukan Ibu."


"Terus kenapa ingin ke sini?" tanya Jelita penasaran.


"Aku hanya ingin menunjukkan toko ini padamu saja."


Seketika jantung Jelita berdetak kencang. Apa Ryo bermaksud memberitahu tempat berharga bagi pemuda itu pada dirinya? Jelita sangat senang dibuatnya.


"Karena jika aku menginginkan Croissant kamu bisa membelikan aku di sini," lanjut Ryo yang menghancurkan kesenangan Jelita.


Seharusnya Jelita memang tidak mengharapkan lebih. 'Bodoh sekali aku,' pikirnya.


"Cinnamon Roll," jawab Jelita.


"Oh, kamu memang suka dengan hal yang manis-manis, ya? Berbeda sekali dengan wajah kamu yang tidak ada manis-manisnya," kata Ryo terkekeh, dia memang suka sekali meledek Jelita.


'Sabar,' batin Jelita menahan marah.


Itulah yang disukai Ryo, ekpresi Jelita yang menahan marah terkesan lucu baginya.


Setelahnya mereka keluar dari toko Roti, Ryo berjalan santai di depan dan Jelita di belakang dengan menenteng bungkusan yang berisi Croissant dan Cinnamon Roll.


"Jambret!"


Terdengar suara perempuan yang berteriak, Jelita melihat jika ada seorang preman yang mengambil paksa tas dari perempuan yang baru keluar dari mobil.


"Pegang ini dulu, tuan muda," kata Jelita menyerahkan bungkusan yang dia pegang pada Ryo dan berlari mengejar si pelaku.


Ryo yang melihat Jelita sudah berlalu tidak sempat mencegah gadis itu, "Padahal tugasnya hanya untuk menjaga aku saja, kenapa juga dia harus repot-repot menolong orang? Apa dia malaikat?" gerutunya.

__ADS_1


Jelita mengejar pria si pencuri tas, dia langsung mencopot sepatu pantofel miliknya dan melemparkannya tepat di bagian belakang kepala pria itu.


Headshot.


Duak


Jelita menendang punggung pria itu hingga tersungkur, lalu menarik ke dua tangan pria itu ke belakang.


"Argh! Ampuni aku," rintih si pria merasakan ke dua tangannya yang mau patah karena ditarik Jelita ke belakang.


Jelita melepas dasi yang dikenakannya dan menggunakan itu untuk mengikat tangan dan membuka blazer untuk mengikat kaki si pria.


Ryo menghampiri Jelita, "Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja," jawab Jelita yang sedang mengambil tas milik wanita yang tadi di ambil paksa.


"Aku nggak bertanya padamu, tapi pada pria ini," kilah Ryo menunjuk pria yang sudah tidak berdaya, dia tahu jika Jelita sangatlah kuat, Bodyguardnya itu tidak mungkin kalah dengan ikan teri.


"Tolong aku," ucap si pria memohon pada Ryo.


"Aku bukan Superman yang suka menolong orang," kata Ryo menatap si pria tanpa prihatin sama sekali, lagi pula mana sudi dia menolong penjahat, jika penjahat itu adalah wanita cantik mungkin akan dia pertimbangkan.


"Tinggalkan saja di sini, polisi akan datang untuk menangkapnya," kata Jelita yang habis menghubungi 110.


"Jangan serahkan aku ke polisi," ucap si pria meronta-ronta.


"Berani berbuat berani tanggung jawab. Maka berpikirlah dulu sebelum bertindak," tukas Jelita dingin.


Ryo melihat kagum Jelita, mulutnya membentuk bulatan kecil, Bodyguardnya memang selalu membuatnya terkagum-kagum.


"Ayo kita pergi," ajak Ryo setelah sadar dari rasa kagumnya.


"Ya, tuan muda," Jelita mengikuti Ryo setelah memakai sepatu pantofel yang dia lempar tadi.


Mereka berdua menghampiri perempuan si pemilik tas. Ryo menyipitkan mata ketika merasa familiar dengan perempuan itu.


Jelita memberikan tas yang tadi dia selamatkan pada perempuan itu.


"Terima kasih banyak," ucap si perempuan tersenyum manis. Perempuan dengan rambut panjang sepinggang berwarna honey blonde, menggunakan makeup tebal, dan memakai baju yang sangat ketat.


"Revalia?"

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2