
Jelita membutuhkan waktu tiga Minggu untuk perawatan di rumah sakit. Dr. Liam sudah memberikan perawatan yang terbaik dengan cara melatih kekuatan otot dan mengembalikan kemampuan bergerak Jelita.
Selama itu pula Ryo tidak mengunjunginya, padahal Jelita sangat merindukan pemuda itu.
Di ruang rawat. Kini Jelita sedang berkemas, dia memang sudah diperbolehkan pulang hari ini, tapi dengan catatan tidak boleh melakukan aktivitas yang berat sampai cederanya sembuh total. Namun, Jelita bingung untuk pulang ke kediaman Albirru atau kembali menjadi Bodyguard Ryo. Jelita berpikir jika Ryo benar-benar membuangnya.
Cklek
Jelita terkejut saat melihat pemuda bermata hazel yang membuka pintu.
Ramaryo, tuan mudanya, calon suaminya. Kemana saja Ryo? Kenapa pemuda itu baru datang menemuinya?
'Apa aku tidak jadi dibuang?' pikir Jelita menatap Ryo berkaca-kaca, ingin menangis tapi dia tahan, dia sangat merindukan Ryo yang terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu, 'Apa dia nggak makan?' pikirnya lagi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ryo dengan raut yang dia buat se-cool mungkin.
Alasan Ryo baru menemui Jelita karena selama ini dia mencoba menyusun keberaniannya untuk bertemu dengan gadis berkacamata itu, tiga Minggu ini dia uring-uringan karena rasa galaunya, dia bahkan benar-benar mandi dengan satu truk hand sanitizer untuk mensterilkan tubuhnya yang dia anggap kotor. Ryo tidak mau jika Jelita jijik padanya.
Itulah Ryo dengan kelakuan konyolnya.
"Sudah lama kita nggak ketemu, aku kangen padamu," ucap Jelita jujur seraya menunduk.
Ryo jadi salah tingkah dibuatnya, Jelita sangatlah jujur dan tidak ada rasa jaim untuk mengatakan kangen, "Ya, aku memang tampan jadi selalu dikangenin banyak orang," ucapnya.
"Aku kira kamu sudah membuang aku," kata Jelita menyuarakan pemikirannya selama ini.
"Mana mungkin," sangkal Ryo cepat.
Jelita tersenyum tipis.
"Buktinya aku datang menjemputmu untuk menjadi Bodyguardku lagi," sambung Ryo.
"Ah, terima kasih," ucap Jelita, hatinya merasa lega seketika.
"Ya, nggak masalah," jawab Ryo, "Apa kamu sudah selesai berkemas?" tanya Ryo kemudian.
"Ya, baru saja selesai," jawab Jelita yang memang baru menyelesaikan acara berkemasnya.
"Jefra," panggil Ryo pada Jefra yang menunggu di luar.
Jefra segera masuk, "Ya, tuan muda."
"Bawa barang-barang Jelita," titah Ryo.
__ADS_1
"Baik, tuan muda," patuh Jefra, dia segera membawa barang-barang Jelita dan keluar.
"Padahal aku bisa membawanya sendiri," ucap Jelita, dia jadi tidak enak, sebagai Bodyguard tidak seharusnya dia diperlakukan sebagai putri begini.
Ryo memincingkan mata karena tidak setuju dengan apa yang diucapkan Jelita, "Ingat, kamu belum boleh melakukan aktivitas berat," ujarnya.
Jelita merengut, "Jangan memperlakukan aku seperti wanita lemah," katanya.
"Sekarang ini kamu memang adalah wanita yang lemah," Ryo justru mengejek.
Jelita menatap Ryo kesal, ingin rasanya dia menonjok mulut Ryo agar tidak berbicara sembarang lagi.
"Oh, nggak bisa," ucap Ryo dengan menunjukkan jari telunjuk yang bergerak ke kanan dan kiri, "Kamu nggak bisa menonjok aku, menonjok itu termasuk aktivitas berat," lanjutnya seakan tahu apa yang tengah Jelita pikirkan.
"Cih," Jelita melengos.
Ryo terkekeh dengan respon Jelita, "Baiklah ayo kita pulang."
Tanpa aba-aba Ryo langsung mengangkat tubuh Jelita untuk menggendongnya. Jelita langsung terkejut dibuatnya, bahkan dia sampai memekik.
"Tu-turun aku, aku mau jalan sendiri," tolak Jelita gugup.
"Diamlah, kamu belum boleh banyak bergerak, lagi pula aku sudah steril kok, kamu jangan khawatir," ucap Ryo.
"Steril?" Jelita membeo.
"Malu sekali," cicit Jelita.
"Malu? Harusnya kamu bangga digendong cowok ganteng seperti aku," kata Ryo dengan percaya diri.
"Dan cowok ganteng itu menggendong cewek jelek," timpal Jelita.
Ryo terdiam sesaat, sejatinya dia tidak sudi berdekatan dan menggendong perempuan jelek, tapi pengecualian bagi Jelita. "Dasar cewek jelek yang beruntung," ucapnya kemudian.
Jelita tampak keruh karena mendengar ucapan Ryo. Namun, dia merasa jika Ryo sedikit demi sedikit sudah menerima kekurangan.
Dan tidak bisa dipungkiri, Jelita begitu senang karena Ryo tidak membuangnya.
Begitu pula dengan Ryo yang juga merasa senang, karena Jelita tidak mengungkit tindakan kurang ajarnya tiga Minggu yang lalu, justru mengatakan kangen padanya. Padahal dia sudah menyiapkan keberanian untuk menerima makian dan kemarahan Jelita.
**
Pada malam hari, pukul 7 malam, di kamar Jelita.
__ADS_1
Terlihat Jelita yang masih dalam mode penyamaran tengah membuka perban pada tubuhnya, dia ingin mandi sekaligus mengganti perban. Jika di rumah sakit ada suster yang membantunya, tapi kini dia harus menggantinya sendiri.
Cklek
"Kyaa!" pekik Jelita saat Ryo yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, belum lagi dia yang sedang bertelanjang dada sehabis membuka perban, "Ngapain kamu ke sini, tuan muda?" serunya yang langsung menutup tubuh bagian depannya dengan kedua tangannya.
"A-ah, aku, aku ingin mengajakmu makan malam," ucap Ryo dengan wajah yang memerah sempurna, dia segera menutup sedikit matanya. Ya, hanya sedikit, karena Ryo masih bisa melihat Jelita yang sedang menutupi ke dua bukitnya, sebenarnya percuma saja ditutupi karena Ryo sudah melihatnya.
"Jangan lihat!" pekik Jelita, dia mengambil bantal dan melempar Ryo.
Ryo berhasil menghindar lemparan bantal, "Ett, nggak kena."
"Akh," Jelita merintih saat merasakan sakit pada otot punggung, salahkan dirinya yang terlalu bertenaga saat melempar bantal.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ryo terlihat panik, dia menghampiri Jelita yang sedang duduk di ranjang.
"Sakit," adu Jelita.
Ryo mendekat dan berinisiatif untuk mengelus punggung polos Jelita dengan gerakan yang lembut, "Siapa suruh melempar aku bantal," ucapnya.
Tubuh Jelita seketika menegang, ini mengingatkannya dengan sentuhan Ryo saat itu, rasa sakitnya kini digantikan dengan debaran ketika tangan hangat Ryo mengelus punggungnya.
"Tenang saja, tanganku ini bersih, dan aku nggak tertarik dengan tubuhmu," sambung Ryo mencoba menenangkan Jelita, dia mengira jika Jelita menegang karena takut dengannya. Padahal tubuh bagian bawahnya sudah mengeras karena merasakan kulit punggung Jelita yang begitu halus. Asal tahu saja, iman Ryo itu hanya sebatas kotoran hidung.
Sedangkan Jelita merasa tertohok karena mengira Ryo benar-benar tidak tertarik dengan tubuhnya, "Aku sudah nggak apa-apa, kamu makan malam duluan saja, aku mau mandi dan mengganti perban dulu," katanya.
"Mau aku mandikan dan memasangkan perban? Pasti kamu kesulitan untuk melakukannya sendiri," Ryo menawarkan jasa, pikiran cabul sudah berkeliaran di otaknya.
"Nggak usah, aku bisa sendiri," tolak Jelita cepat.
"Padahal aku sedang berbaik hati."
"Nggak, terima kasih, kamu keluar saja sana," usir Jelita.
"Yasudah deh," Ryo segera melangkah untuk keluar dari kamar Jelita, "Lain kali kunci pintunya," ucapnya sebelum menghilangkan di balik pintu.
"Padahal dia yang salah, seenaknya masuk dan nggak ketuk pintu, untung aku belum melepas penyamaran," gerutu Jelita seraya bangkit untuk mengunci pintu dan berjalan ke kamar mandi.
Di sisi Ryo berada.
Ryo mengangkat ke dua tangannya dan melebarkan jari-jarinya, "Ugh, aku mau pegang lagi," ucapnya dengan berpikir kotor.
"Kenapa, tuan muda?" tanya Jefra yang melihat Ryo bertingkah aneh.
__ADS_1
"Ah, nggak," jawab Ryo yang terlihat salah tingkah.
_To Be Continued_