
"Kok bisa ya, Abang nasi goreng nggak gugup pas dilihatin waktu masak?" tanya Ryo dengan berbisik pada Jelita.
Jelita terkekeh dengan pertanyaan absurd suaminya, "Tanya saja sama Abangnya," ujarnya.
Pasangan suami-istri itu sedang membeli nasi goreng keliling yang berhenti di depan rumah. Dan anehnya itu adalah kemauan Ryo. Pemuda itu tiba-tiba saja ingin makana nasi goreng yang menjadi langganan satpam rumah. Sungguh tidak biasa.
"Entah kenapa nafsu makan aku bertambah," ucap Ryo.
"Bagus dong."
"Kok bagus? Nanti kalau aku jadi buncit gimana? Bukankah kamu sangat suka dengan tubuhku yang berotot ini?"
Wajah Jelita merona, perkataan Ryo memang ada benarnya. Tapi sungguh membuat malu, karena Abang nasi goreng dapat mendengar perkataan Ryo, bahkan sampai tidak fokus memasak dibuatnya.
"Ja-jangan berkata seperti ini!" seru Jelita yang sudah malu sampai ubun-ubun.
Ryo justru terkekeh tanpa dosa.
Kemudian pesanan nasi goreng sudah jadi, Ryo membayarnya dengan satu lembar uang berwarna merah.
"Tunggu! Uangnya kebanyakan," ucap Abang nasi goreng mencegah Ryo yang hendak mengikuti Jelita masuk ke dalam pintu gerbang rumah.
Ryo mengeryit dahi. Kebanyakan? Padahal jika di restauran harganya bisa lebih dari itu. Sebelumnya dia memang belum pernah membeli makanan keliling.
"Nggak apa-apa ambil saja," ujar Ryo.
"Terima kasih," ucap si Abang nasi goreng terlihat senang.
"Ya, sama-sama," pungkas Ryo tersenyum menanggapi.
Setelahnya Ryo kembali mengikuti sang Istri.
**
"Enak?" tanya Jelita yang sedang menyuapi Ryo.
Ryo mengangguk, "Ini bahkan lebih enak dari pada nasi goreng yang ada di restauran mewah," ucapnya.
"Benarkah?"
"Ya, kamu coba deh," ujar Ryo.
Ryo mengambil alih sendok yang dipegang Jelita dan gantian menyuapi.
Jelita menerima suapan nasi goreng yang menggugah selera, dan menguyah untuk mencicipi rasanya.
Seketika tatapan Ryo teralihkan dengan gerakan bibir Jelita yang sedang mengunyah, dan tanpa sadar menelan saliva.
"Bagaimana?" tanya Ryo.
"Ya, enak," jawab Jelita dengan berbinar.
"Sepertinya aku sudah nggak ingin makan nasi goreng lagi," kata Ryo seraya merengsek maju ke arah Jelita.
Jelita yang tidak peka dengan maksud terlihat bingung, "Loh? Kenapa?" tanyanya.
Ryo mengangkat tangan, untuk mengusap pelan bibir bawah milik Jelita yang begitu menggoda dengan ibu jari.
"Aku ingin makan ini saja. Boleh, ya?"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari sang Istri, Ryo menjatuhkan bibirnya pada bibir milik Jelita.
Jelita memejamkan mata dengan wajah yang merona.
Bibir mulai melu-mat, seperti biasanya Ryo melakukannya dengan lembut. Jelita tidak menolak, bahkan membalas lu-matan itu. Saling mengecap dan membangun gai-rah.
Lumayan lama mereka melakukannya.
Merasa cukup, Ryo sudahi ciuman itu. Wajah Jelita yang seakan pasrah menjadi sensasi tersendiri bagi Ryo.
"Rasa nasi goreng," bisik Ryo dengan napas yang menggelitik telinga Jelita.
"Te-tentu saja, kan habis makan nasi goreng," ucap Jelita seraya bergidik geli karena Ryo yang menjilat telinganya dengan sensual.
Ryo semakin menjadi-jadi menggoda tubuh Istrinya. Tangan nakal miliknya pun sudah bergerilya masuk ke dalam blouse yang dikenakan Jelita, lalu merasakan sensasi halus dari sana. Kemudian tangannya merambat ke atas, meremas gundukan yang masih terbungkus br-a.
"R-Ryo, ki-kita sedang berada di ruang makan," ucap Jelita dengan susah payah.
"Biar saja, aku ingin melakukannya di sini."
Dengan gerakan yang cepat Ryo mengangkat tubuh Jelita untuk tidur di atas meja makan.
"Kamu pasti akan menjadi makanan terenak," ucap Ryo dengan menjilat bibirnya sendiri, lalu mengunci ke dua tangan Jelita di atas.
"Tung...gu, hmmp..."
Belum sempat melayangkan protesnya, Ryo kembali menyatukan bibir ke duanya, menyatu dengan rapat dan bergumul dengan liar.
Jelita menggerang pelan saat gerakan bibir Ryo beralih mencium dagu dan menggigitnya pelan. Lalu Ryo menghirup dalam-dalam wangi yang menyeruak dari leher Jelita.
Namun, tiba-tiba saja perut Ryo merasa mual. Bergejolak seakan ingin muntah. Kemudian segera menjauh dari Jelita, dan langsung berlari ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Ryo memuntahkan isi perutnya ke kloset.
Jelita datang dan mengurut pelan tengkuk leher suaminya, ekspresinya terlihat sangat khawatir.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jelita.
Ryo mengangguk dengan wajah yang pucat. Lalu melangkah ke wastafel setelah menekan tombol penyiram pada kloset.
Jelita memperhatikan Ryo yang sedang berkumur dan mencuci tangan. Tentu saja dia tidak percaya begitu saja, sekali dilihat keadaan Ryo memang sedang tidak baik-baik saja sejak pulang dari rumah Renata.
"Ayo kita ke rumah sakit," ujar Jelita.
"Nggak perlu. Aku baik-baik saja, sayang. Mungkin cuman masuk angin saja," tolak Ryo tersenyum.
"Apa kamu mau dikerok?" tanya Jelita.
"Dikerok?" beo Ryo.
Jelita menarik tangan suaminya untuk berjalan ke arah kamar, "Ayo ikut aku."
Ryo menurut tanpa tahu apa itu dikerok. Menurutnya, tidak ada yang lebih menakutkan dari pada ke rumah sakit dan berakhir disuntik.
Namun, pikiran Ryo salah. Dia tidak tahu jika akan berakhir kesakitan saat uang koin seribuan menggosok punggungnya hingga memerah.
**
Besoknya di kampus, tepatnya di kelas.
__ADS_1
"Apa Jelita bermain kasar hingga lehermu merah-merah seperti itu?"
Gavin melototi leher Ryo yang memiliki garis-garis merah.
"Ini karena dikerok," jawab Ryo seraya mengusap leher.
Ryo bergidik saat membayangkan aksi kerok mengerok Jelita pada punggung dan leher miliknya, benar-benar sadis. Bukannya sembuh tapi justru membuat sakit.
'Untung cinta,' batin Ryo.
Gavin tertawa terbahak-bahak karena tidak sanggup menahan tawa.
"Ck," Ryo berdecak kesal.
"Memangnya kamu kenapa sampai mendapat tanda kerokan sebanyak itu?" tanya Gavin sambil berusaha menghentikan tawa.
"Masuk angin," jawab Ryo sekenanya.
"Si mantan Casanova bisa masuk angin juga ternyata," ledek Gavin.
"Karena aku yang tampan ini juga manusia," Ryo justru membanggakan diri.
"Aku kira kamu dedemit," ucap Gavin ngasal.
"Sembarangan," sengit Ryo kesal.
"Ngomong-ngomong misi kita berhasil dong," kata Gavin mengalihkan obrolan.
"Maksudmu misi membantu Jefra?"
"Ya, bukankah dia akan segera menikah dengan cewek yang disukainya itu?"
Ryo mengangguk, "Sebulan lagi Jefra dan Dokter Renata akan menikah."
"Baguslah."
"Jangan iri ya, jomblo."
Pelipis Gavin berkedut karena ucapan Ryo yang sekate-kate.
"Ck, lihat saja aku pasti akan segera menikah juga," kata Gavin dengan percaya diri.
Semua memiliki waktunya masing-masing. Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh pasti akan datang. Jadi Gavin hanya perlu sabar.
"Ugh," tiba-tiba Ryo merintih sembari memegang perut.
"Kenapa, Yo?" tanya Gavin berekspresi panik.
"Perutku kram."
Ryo merasakan jika perutnya seperti tengah ditarik, ditekan, dan melilit. Begitu sakit hingga membuatnya berkeringat dingin. Pandangan pun kabur dan berakhir menjadi gelap.
Bruk
Ryo terjatuh dari kursinya karena pingsan.
"Ryo!" seru Gavin.
Sebenarnya ada apa dengan Ryo?
__ADS_1
_To Be Continued_