
Dengan segara rayuan dan bujukan, pada akhirnya Jelita menuruti permintaan suaminya. Melakukanya dengan arahan dari Ryo, dia bahkan menurut agar tidak menyertakan giginya.
"Stop," ucap Ryo sedikit melenguh karena rasa nikmat yang dia rasakan, dia harus menghentikan ini segera.
Jelita menjauhkan wajahnya, bibirnya mengkilap basah akibat aktivitas hisap menghisapnya, dia kira rasanya akan buruk namun ternyata tidak.
"Kenapa?" tanya Jelita dengan mendongak bingung.
Ryo tidak menjawab pertanyaan Jelita, sebagai gantinya mulut Ryo menyentuh mulut Jelita dengan penuh has-rat. Jelita bereaksi membuka mulutnya, membiarkan lidah milik Ryo mendesak masuk dan bergumul dengan lidah miliknya. Saling memiringkan kepala agar bibir mereka semakin bersentuhan rapat. Ke duanya mengerang pelan dan panjang.
Ciuman yang begitu meng-gairahkan, terasa hangat, dan rasa cinta yang menggebu-gebu.
Tangan Jelita mulai bergerak ke otot-otot badan suaminya. Jelita memang belum puas untuk membelainya, dan itu membuat Ryo mengeluarkan suara pelan dan serak.
Sedangkan tangan Ryo mulai bergerak di antara tubuh mereka, melepas kancing-kancing piyama Jelita, Ryo ingin membelai setiap inci tubuh molek istri tercintanya. Namun, Jelita menahan lengannya saat melepas kancing ke tiga.
Ryo mengeryit bingung, lalu melepas tautan bibir mereka, "Kenapa?" tanyanya.
Bisa-bisanya Jelita menahannya di saat naf-sunya sudah di ujung tanduk.
"Kita nggak bisa meneruskan ini, aku sedang datang bulan," jawab Jelita jujur.
"A-apa?"
Ryo mematung seketika, datang bulan? Berarti tidak ada bayi dan lebih parahnya tidak bisa skidipapap.
"Maaf," ucap Jelita tertunduk.
"Kenapa kamu minta maaf? Aku tahu kalau datang bulan adalah hal yang wajar bagi seorang wanita," ujar Ryo sembari mengelus rambut pendek Jelita yang sedikit berantakan karena ulahnya tadi.
"Tapi aku belum bisa memberimu bayi," kata Jelita, dia takut jika Ryo kecewa padanya.
"Nggak apa-apa, sayang," Ryo tersemyum lembut, "Belum diberi bayi artinya kita memiliki waktu untuk lebih saling menyayangi dan banyak berdiskusi tentang hari depan, hingga akhirnya kita matang untuk menjadi orang tua," sambungnya.
Itulah Ryo, kadang memiliki sisi pemikiran dewasa dan kadang memiliki sisi pemikiran kekanakan.
"Ya," Hati Jelita pun menghangat karena perkataan suaminya itu.
"Kalau begitu aku akan libur dulu," kata Ryo dengan terkekeh.
Ya, Ryo akan libur sementara waktu untuk menahan has-rat binatang buasnya.
Jelita mengangguk, lalu tatapannya tertuju pada tubuh Ryo, "Se-sebaiknya kamu pakai baju dulu," ujarnya segera melengos karena tidak kuat dengan pemandangan bu-gil di depannya.
__ADS_1
"Pakaikan," rengek Ryo sempat-sempatnya manja tidak pada hal yang tepat.
"Nggak, ih!" tolak Jelita.
Tentu saja dia tidak mau menuruti permintaan Ryo. Semakin lama permintaan suaminya semakin aneh.
"Go it, sayang," Ryo masih mencoba meminta dipakaikan baju.
"Pakai sendiri," tolak Jelita lagi.
Jelita memang harus banyak-banyak bersabar dengan bayi besarnya itu.
**
Besoknya, di JA Group.
"Kenapa aku tiba-tiba dipecat tanpa alasan?" tanya Davian yang sedang menghadap ruang CEO.
Davian yang mendapat surat pemecatan langsung menghadap ruang CEO karena tidak terima jika dia dipecat. Padahal dia yakin jika Jelita mempunyai ketertarikan lebih terhadapnya. Itu terbukti karena Davian tidak pernah mendapat teguran saat melakukan kesalahan, dan dugaannya semakin kuat ketika mendapatkan promosi jabatan dalam kurun waktu 2 bulan bekerja di perusahaan. Karena yakin jika dirinya tidak mungkin dipecat maka Davin bekerja seenaknya.
"Tentu saja aku tidak memecat kamu tanpa alasan, tuan Davian," ucap Jelita dengan dingin, "Sering datang terlambat, pulang selalu lebih cepat dari pada jam pulang kantor, dan semua hasil pekerjaanmu yang buruk," sambungnya.
Davian membatu seketika, lidahnya mendadak keluh, yang dikatakan Jelita memang benar semua. Namun, kenapa baru sekarang dia mendapat teguran? Apa Jelita marah karena selama ini dia cuek?
Bukannya mengakui kesalahannya dan meminta agar tidak dipecat, Davian justru tersenyum menggoda pada Jelita, "Jangan seperti itu, bilang saja jika kamu marah karena telah gagal mendapatkan perhatianku, Nona," ucapnya dengan orang ajar.
Jelita mendelik marah, "Apa maksudmu?"
"Bukankah kamu menyukai aku?" ujarnya begitu percaya diri.
Jelita menatap jijik Davian, "Menyukaimu? Dalam mimpimu saja, bang-sat," geramnya bahkan dengan makian.
Davian terlihat terkejut karena respon Jelita yang di luar dugaannya.
Jelita menghela napas sesaat, dia merasa muak berbicara dengan laki-laki semacam Davian.
"Oh ya, aku akan memberi tahu kamu satu hal. Renata adalah sepupuku," kata Jelita kemudian.
"Ja-jadi Nona sepupu Renata?" tanya Davian begitu terkejut.
Selama ini Davian memang tidak tahu jika Renata memiliki hubungan saudara dengan CEO perusahaan tempat dia bekerja.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada Renata yang sudah memintaku untuk memperkerjakan kamu di perusahaan ini dan mempromosikan jabatan kamu, bukannya justru berselingkuh di belakangnya," sinis Jelita dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"A-apa?" Davian tercekat.
Dia memang baru tahu tentang Renata yang sudah membuatnya bekerja di perusahaan JA Group. Dan itu sudah menjelaskan jika Renata yang sudah berperan dalam keberuntungannya selama ini, bukan karena Jelita yang menyukainya.
Tanpa Davian sadari, Renata memang sudah berkorban banyak untuknya. Seperti membuang berlian demi sebuah biji jagung, dia justru membuang Renata yang berharga dan patut diperjuangkan demi sesuatu yang tidak berharga.
Jelita bangkit dari kursinya, dia meraih tongkat baseball yang berada di bawah meja kerja, lalu berjalan ke arah Davian.
"A-apa yang ingin Nona lakukan?" Davian refleks mundur karena melihat Jelita yang berjalan ke arahnya.
"Aku akan memberimu pelajaran karena sudah menyakiti Renata," ucap Jelita seraya memukul-mukul pelan ujung tongkat baseball pada telapak tangannya, "Memukulmu dengan ini, mungkin?"
Glek
Davian menelan salivanya berat, dia berkeringat dingin, seluruh karyawan yang bekerja di JA Group tentu sudah tahu jika sang CEO adalah wanita berdarah dingin yang tidak segan-segan memukul orang yang mencari masalah dengannya.
Jika Davian tahu lebih awal tentang hubungan Renata dengan Jelita, dia tidak mungkin berani menyakiti Renata.
Jelita tersenyum mirip melihat ekspresi Davian, "Baru menyesal? Tapi itu sudah terlambat."
"Ma-mafkan aku, Nona," ucap Davian takut-takut.
"Sebaiknya kamu meminta maaf pada Renata," ucapan terakhir Jelita sebelum melayangkan tongkat baseball pada Davian.
Sett
Davian menghindar ke samping, lalu dia berlari untuk keluar. Namun, dia tidak bisa membuka pintu karena sudah terkunci dari luar.
"Buka!"
Tidak ada yang menjawab teriakan Davian.
Jelita kembali melayangkan tongkat baseball pada Davian. Ya, dia memang berniat menyiksa habis-habisan Davian, dengan begini rasa sakit yang dirasakan Renata segera terbalaskan.
Bugh
Bugh
"Argh!"
Di sisi lain, di luar ruangan Jelita.
Nohan bergidik ngeri karena mendengar suara pukulan yang bertubi-tubi dan teriakan kesakitan dari Davian dari balik pintu.
__ADS_1
_To Be Continued_