
4 bulan sudah berlalu.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kalimat yang selama ini Renata tanam saat kepergian Gina. Tidak bisa dipungkiri jika momen perpisahan akan terasa menyesakkan, apalagi berpisah selama-lamanya. Hati terasa sedih hingga lidah tak mampu berkata-kata.
Awalnya Renata memang mengalami hari-hari terberat. Perasaan sedih, shock, menyesal dan menyalahkan diri sendiri atas kematian Gina. Namun, dia sadar jika ini adalah sebuah takdir yang Tuhan berikan. Bagaimanapun, kematian adalah hukum alam yang tidak dapat dilawan. Manusia tidak diberi kesempatan untuk menawar, melainkan kekuatan untuk sabar.
Renata hanya bisa berdoa semoga Gina dan bayinya mendapatkan tempat terbaik di sisinya.
"Kenapa melamun?"
Renata sedikit tersentak saat mendengar bisikan Jefra tepat di belakang telinganya. Suaminya itu tahu-tahu datang dan memeluknya dari belakang.
Kini mereka sedang berada di balkon kamar.
"Aku hanya sedang melihat bintang saja," Renata tersenyum seraya mengelus lengan suaminya.
Jefra mengikuti arah pandang Renata, dan benar saja. Langit terlihat cerah dengan bintang-bintang bertabur indah.
"Apa kamu lebih suka melihat bintang dari pada melihatku?"
Renata berbalik untuk menghadap Jefra, melingkarkan tangan pada pinggul Jefra yang menurutnya sexy itu.
"Tentu saja tidak, bagiku kamu lebih indah dari pada bintang-bintang di langit," ucap Renata.
Jefra tersenyum lebar, "Siapa yang mengajarimu kata-kata manis itu?"
"Hmm," Renata berlagak seolah berpikir, "Pria tampan yang bernama Jefra Annefall."
"Memangnya siapa pria tampan itu?" tanya Jefra.
"Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah."
Jefra tersenyum mendengarnya.
Namun, dia baru saja tersadar.
"Apa? Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah? Maksudmu..." bola mata hitam Jefra membesar seketika.
Renata hanya mengulum senyum untuk menanggapi rasa terkejut suaminya, tanpa berkata apapun dia melangkah meninggalkan balkon untuk masuk ke dalam kamar.
Jefra yang ditinggal langsung mengikuti Renata.
"Apa maksudnya, Renata?"
Langkah Renata masuk ke kamar mandi, dan Jefra menunggunya di luar.
"Sayang, bicaralah, jangan membuatku bingung. Jangan menyembunyikan apapun dariku, hmm."
Jefra masih saja menuntut kejelasan atas perkataan Renata tadi.
Tidak lama kemudian Renata keluar dari kamar mandi, dengan tangan kanan yang dibunyikan di balik badan. Entah apa yang sedang disembunyikannya itu
__ADS_1
Dengan menggunakan tangan satunya, Renata meraih tangan Jefra. Lalu meletakan sesuatu yang disembunyikannya itu di telapak tangan Suaminya itu.
Sebuah test pack.
Jefra melihat test pack yang diberikan Renata yang menunjukkan dua garis berwarna merah.
"Apa kamu tahu artinya itu?" tanya Renata karena melihat kebingungan dari ekspresi Jefra.
"Memangnya apa?" Jefra bertanya balik.
Ya, Jefra mana tahu tentang arti dua garis di test pack.
"Aku hamil."
Bola mata hitam Jefra kembali membesar, jadi itu benar. Istrinya hamil!
"Awalnya aku hanya mencoba mengetesnya saja, karena merasa aneh akhir-akhir ini dan telat datang bulan. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini setelah periksa ke Dokter untuk mengetahui hasil yang lebih akurat," sambung Renata.
Memang tidak heran jika dia hamil, bagaimana tidak hamil jika Jefra selalu menyerangnya setiap ada kesempatan. Jefra memang seperti hewan buas yang lepas kandang setelah mereka menikah.
Jefra langsung memeluk Istri tercintanya itu.
"Terima kasih," ucapnya.
Renata membalas pelukan Jefra.
"Terima kasih, Renata. Kamu telah hadir memberi cinta, membawa bahagia, dan memberikan rasa rindu yang tak pernah ada habisnya. Aku tidak mau sesuatu dari dunia ini, karena aku sudah merasa mengambil semua jatah kebahagiaanku saat aku memilikimu," lanjut Jefra.
Dipeluknya Renata erat-erat, mengangkatnya sedikit dan memutar badannya. Sontak Renata histeris dan senang karena pelukan berputar itu. Pelukan yang terasa sangat bersemangat dan menyenangkan.
**
Esoknya, di poli kandungan.
"Loh? Kalian sedang apa di sini?" tanya Ryo pada Jefra dan Renata yang baru keluar ruang pemeriksaan.
Ryo sedang menemani Jelita untuk pemeriksaan kandungan secara rutin di poli kandungan. Kini kehamilan Jelita memasuki trimester ke dua, yakni 20 Minggu.
"Kami ingin membeli pecel," jawab Jefra sekenanya.
"Di sini itu tempat pemeriksaan orang hamil. Bukan tempat jualan pecel. Jangan ngadi-ngadi, Jefra," kata Ryo yang menanggapi serius jawaban mantan Bodyguardnya.
Jefra memutar bola matanya.
"Renata, jangan bilang kamu..." kata Jelita yang lebih cepat tanggap dari pada sang Suami.
Renata menanggung dengan tersenyum, "Aku hamil," ucapnya.
Setelah pengecekan dengan test pack yang menunjukkan dua garis, hari ini Renata ke poli kandungan untuk lebih memastikan keakuratan kehamilannya. Dan benar, Renata positif mengandung 4 Minggu.
Jelita langsung berbinar senang, "Aku turut bahagia mendengar berita ini. Selamat untuk kehamilanmu, Renata."
__ADS_1
"Terima kasih. Pada akhirnya kita hamil bersama," Renata tertawa.
Jelita ikut tertawa, "Ya, anak kita akan seumuran meskipun aku akan melahirkan duluan. Kita akan sama-sama membawa bayi yang cantik ke dunia."
Terlihat sekali jika ke dua calon Ibu itu sangat gembira. Sedangkan Ryo dan Jefra tersenyum saat melihat Istri tercinta masing-masing.
"Ngomong-ngomong perutmu sudah terlihat sangat besar," ucap Renata yang melihat perut Jelita.
Jelita mengelus perutnya yang buncit, "Ya, punggungku juga sering sakit karena ini."
Ryo ikut mengelus perut Istrinya, "Tapi meskipun sedang hamil besar, Istriku tetap cantik kok."
Wajah Jelita merona tipis karena ucapan Ryo. Bisa-bisanya Suaminya itu menginterupsi dengan ucapan manis.
**
Setelah pertemuan yang tidak disangka-sangka itu, Ryo dan Jelita masuk ke ruang pemeriksaan. Jelita melakukan pemeriksaan USG pada trimester ke duanya.
"Apa katamu?" Ryo terlihat terkejut.
Begitu pula dengan Jelita yang sedang terbaring di ranjang, dengan baju yang terbuka di bagian perut, menampakan perutnya yang buncit.
"Selamat, Nona Jelita mengandung anak kembar," kata si Dokter wanita.
"Ke-kembar?" Jelita masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dokter.
"Lihat ini," si Dokter menunjukkan hasil USG.
Hasil USG 4D dapat memperlihatkan gerakan dan sosok janin lebih jelas melalui video, ada dua janin di sana.
"Kali ini bisa dikonfirmasi jika bayinya kembar indentik dan ke duanya laki-laki. Bayinya sehat. Sekarang kalian yakin, bukan?"
Bukankah ini jackpot besar? Bukan hanya satu, mereka memiliki dua bayi. Akan ada dua jagoan yang sehat dan lucu. Sungguh berkali-kali lipat bahagia saat ini. Ryo dan Jelita sangat excited.
"Alhamdulillah ya Allah, ada dua bayi di sini," ucap Jelita sembari mengelus perutnya, air mata bahagia menetes dari pelupuk matanya.
Ryo mengecup kening Jelita, di dalam hati dia terus memanjatkan rasa syukur.
"Kehamilan kembar pasti akan lebih melelehkan dari pada kehamilan normal. Mulailah dengan cek kehamilan lebih rutin selama seminggu sekali. Selalu menjaga kesehatan tubuh dan memberikan perhatian lebih," Dokter memberikan nasihat untuk lebih menjaga kehamilan.
"Baik," kata Jelita.
"Serta dukungan dari Suami juga sangat membantu istri dalam masa kehamilan. Semakin dekat hubungan antara suami dan istri, maka keduanya semakin mampu berbagi perasaan yang dirasakan," ujar Dokter pada Ryo.
Ryo mengangguk paham. Itu sudah pasti akan Ryo lakukan, sebisa mungkin dia akan selalu mendukung dan membuat Jelita merasa aman.
"Boleh bertanya satu hal, Dok?" tanya Ryo kemudian.
"Boleh," jawab Dokter tersenyum ramah.
Ryo terlihat ragu untuk bertanya, tetapi dia segera menepis keraguannya itu, "Bolehkah kami melakukan hubungan suami-istri?"
__ADS_1
Jelita speechless dengan wajah yang memerah saat mendengar pertanyaan suaminya itu.
_To Be Continued _