
Sebuah kenangan masa lalu yang mengakibatkan trauma mendalam bukan alasan bagi seorang untuk menjadi lemah. Anggap saja semuanya mimpi lalu. Selalu melangkah ke depan dengan tekad yang kuat. Karena dirinya juga pantas mendapatkan kebahagiaan.
Ya, Sachi pasti bisa mendapatkan kebahagiaan.
Sachi Emelin terlihat seperti malaikat dalam balutan dress putih panjang. Dia tampil simpel dan feminim dengan rambut hitam digerai dan lipstik pink. Di tangannya ada sebuah bungkusan yang berisi buah apel kesukaan Gavin, pemuda itu memang suka sekali memakan apel ketika di rumah sakit. Serta kue kering buatan tangan.
Ditekannya bel pintu yang tertempel di dinding dekat pintu masak sebuah rumah.
Ting... Tong...
Cklek
Pintu terbuka dan menampakan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Sachi!" seru Elena dengan mata yang berkilat senang.
Sachi sedang bertamu ke rumah Gavin. Sebenarnya dirinya minder ketika melihat rumah Gavin yang bagai istana. Gadis itu tidak menyangka jika kekasihnya adalah anak konglomerat.
Ingin berbalik pulang. Namun, sudah terlanjur datang. Alasannya datang adalah untuk menjenguk Gavin yang sedang sakit. Pemuda itu terserang demam akibat hujan-hujanan kemarin, tempatnya saat aksi kejar-kejaran bersamanya. Sachi sungguh merasa bersalah.
"A-aku ingin menjenguk Gavin, Tante," Sachi sungguh gugup.
Mata cokelat Elena yang mirip seperti mata Gavin semakin berkilat senang, benar-benar tidak menyangka dengan kehadiran gadis yang seperti malaikat itu.
"Menjenguk Gavin?" tanya Elena memastikan pendengarannya. Ini adalah kali pertama rumahnya mendapat kunjungan dari seorang gadis yang ingin bertemu putranya.
"Ya, Tante."
Elena langsung menggenggam salah satu tangan milik Sachi. Gadis itu sampai terkejut dibuatnya.
"Kamu dan Gavin pacaran?"
Pertanyaan yang sungguh tepat sasaran, dan tanpa basa-basi sama sekali.
Dengan wajah yang tersipu malu, Sachi mengangguk kaku. Ingin rasanya dia kabur saat ini juga. Namun, itu tidak sopan.
"Wahh, kak Gavin punya pacar!" seru Alina yang tahu-tahu muncul dari balik punggung Elena.
Sepertinya akan menjadi panjang urusannya.
**
Suara pintu terbuka terdengar. Sachi memasuki sebuah kamar. Dirinya benar-benar canggung, ini adalah kali pertamanya memasuki kamar laki-laki. Dia memang sudah mendapatkan izin dari Elena untuk langsung masuk saja ke kamar Gavin, sekalian membawakan bubur.
Terlihat si pemuda yang terbaring di atas ranjang dengan memejamkan mata, tidak terganggu dengan suara pintu terbuka.
Sachi mendekat ke samping ranjang, lalu meletakan nampan yang berisikan bubur di meja.
Kemudian tangannya terulur untuk diletakan di kening milik Gavin.
Hangat.
Hal yang membuat pemuda itu terbangun. Membuka kelopak mata dan menampakan bola mata berwarna cokelat yang terlihat sayu.
Sachi langsung menarik kembali tangannya, "Su-sudah bangun?" tanya Sachi canggung.
Gavin mengedipkan mata beberapa kali, seakan memastikan penglihatannya.
"Apa aku bermimpi?" gumam Gavin dengan suara serak sehabis bangun tidur.
Lalu tangannya menarik lengan Sachi sehingga membuat si gadis terjatuh di atas tubuhnya.
__ADS_1
"Eh?" Sachi sangat terkejut.
Tangan Gavin melingkar ke pinggul dan punggung Sachi. Memeluk Gadis manis itu dengan erat.
"Mrs. Sachi..."
"Ga-Gavin, lepas," cicit Sachi dengan jantung yang terpompa hebat.
Bukannya menurut, Gavin justru menyelusupkan kepalanya ke dalam garis leher Sachi. Mencoba mencari kehangatan.
Sepertinya Gavin masih menganggap jika ini adalah mimpi. Dia memang kerap kali memimpin Sachi.
"Gavin!" Sachi berseru dengan agak kencang.
Gavin mematung sesaat. Dia baru sadar kalau ini bukanlah mimpi. Kemudian langsung melepas pelukannya. Mendorong Sachi untuk bangkit dari tubuhnya.
Kini mereka duduk berhadap-hadapan, dengan Sachi yang duduk menyamping pada bibir ranjang.
"Mrs. Sachi kamu..." Gavin sampai tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Aku datang untuk menjenguk kamu," ucap Schi dengan wajah yang sudah semerah tomat.
"O-oh, maaf sudah asal menarik kamu," kata Gavin sembari menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
Sachi hanya mengangguk, "Aku sudah mengirim pesan kalau mau datang. Apa kamu tidak membacanya?" ujarnya kemudian.
"Tidak, tadi kepalaku pusing, jadi tidak memegang ponsel, aku hanya tidur sejak pagi."
"Yasudah, tidak apa-apa."
Lalu Sachi mengambil bubur yang berada di meja.
Gavin refleks mengangguk. Oh, dia tidak percaya dengan hal ini. Apakah ini rasanya mempunyai pacar yang perhatian? Gavin bahkan mengabaikan rasa bubur yang hambar karena Sachi yang menyuapinya.
Jika tahu begitu Gavin rela-rela saja sakit setiap hari.
Sachi menyuapi Gavin dengan telaten. Meniup bubur terlebih dahulu sebelum menyuapi si pemuda.
Sedangkan Gavin hanya menurut. Tatapannya tidak lepas dari wajah manis Sachi. Apalagi ketika bibir pink itu mengerucut untuk meniup-niup, Gavin sangat gemas melihatnya.
Tanpa sadar Gavin menghabiskan semangkuk bubur itu.
Kemudian ibu jari Sachi mengelap sudut bibir Gavin. Mata ke duanya pun bertemu dalam satu tatapan.
Gavin tersenyum, "Terima kasih karena Mrs. Sachi sudah repot-repot datang menjengukku."
Sachi menggerakkan bola matanya ke samping kiri, memutus acara saling tatap itu.
"Tidak apa. Kita kan sekarang adalah... hmm... ke-kekasih, jadi aku tidak merasa direpotkan."
Raut wajah Gavin menjadi berseri-seri saat Sachi mengatakan itu. Apalagi pengakuan status kekasih dari mulut gadis itu secara langsung. Meskipun belum ada kata-kata cinta dari Sachi, tapi Gavin sudah sangat senang dengan hal itu.
Gavin langsung meraih mangkuk kosong yang dipegang Sachi untuk diletakkannya di meja. Lalu menggenggam ke dua tangan.
"Ya, sekarang aku dan Mrs. Sachi adalah sepasang kekasih," Gavin tertawa senang.
Sachi ikut tertawa dengan tingkah Gavin yang berlebihan itu.
"Cantik."
"A-apa?"
__ADS_1
"Mrs. Sachi sangat cantik kalau tertawa," ucap Gavin dengan tatapan terpesona yang kentara sekali.
Gavin... tidak tahu kah kamu dengan efek dari ucapan kamu itu?
Sachi menjadi sangat salah tingkah. Bisa-bisanya seorang Dosen salah tingkah di hadapan mahasiswanya sendiri. Terlebih lagi mahasiswanya itu adalah kekasihnya.
Apakah saat ini Sachi sedang menjalin hubungan dengan seorang brondong?
Sachi berdeham, "Jangan panggil aku Mrs."
Mulai sekarang Sachi memang harus menghapus jarak itu. Setidaknya saat mereka sedang tidak di area kampus.
"Sayang~"
"Sa-sayang?" Sachi hampir tersedak salivanya sendiri karena panggilan yang diberikan Gavin. Padahal yang dia maksud bukan seperti itu.
"Ya, sayang," ucap Gavin bertambah senang.
Namun, tidak buruk juga.
Sett
Sachi terkesiap tatkala merasakan tarikan pada pundaknya. Gavin menjatuhkan tubuhnya untuk tidur di ranjang.
Gavin mengukung Sachi dengan ke dua lengannya.
"Sachi," panggil Gavin mendayu dengan lembut.
Pemuda itu sangat bahagia terlepas dari sudah mengetahui Sachi belum bersuami. Dan kini, mereka benar-benar sudah menjadi sepasang kekasih.
"Y-ya," jawab Sachi dengan gugup, diselipkan ke dua tangannya di antara dada mereka yang hampir bersentuhan. Tentu saja dia tidak mau jika Gavin merasakan detak jantungnya yang menggila.
"Sachi sayang," panggil Gavin dengan embel-embel yang membuat hati ke duanya bergetar.
"Ya, Gavin say..." Sachi tidak sanggup melanjutkannya, lidahnya mendadak keluh dan merasa agak mual.
Sepertinya penyakitnya belum sepenuhnya hilang. Hanya mengucapkan 'sayang' saja sangat sulit, apalagi mengatakan 'cinta'?
Gavin mengulum senyum, dibelainya salah satu pipi kemerahan Sachi, "Tidak apa."
Sachi menatap tepat pada bola mata milik Gavin yang juga menatapnya.
"Pelan-pelan saja. Kamu pasti bisa sembuh."
Apakah ini yang dimaksud dengan kebersamaan, semuanya terasa begitu mudah?
Gavin mulai mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka berdua. Bibirnya semakin dekat pada bibir pink Sachi.
Namun.
Tok... Tok..
Bunyi ketukan pintu menginterupsi, yang membuat ke duanya membeku seketika.
"Sachi, apa kamu ingin makan siang di sini?"
Itu suara Elena.
Ya, Gavin memang harus bertindak pelan-pelan.
_To Be Continued_
__ADS_1