Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Kisah Cinta Baru


__ADS_3

Renata yang awalnya ingin mengajak Jefra berenang justru mendapatkan pemandangan yang mencubit hati.


Jefra sedang bersama dengan seorang wanita asing yang begitu sexy.


Deg


Hati Renata terasa diremas saat wanita itu mendekat pada Jefra dan membisikan sesuatu.


Renata segera melangkah cepat untuk menghampiri Jefra, matanya memanas saat wanita itu memegang bahu Jefra.


Kenapa mereka terlihat akrab? Apakah Jefra sudah beralih ke wanita lain karena Renata yang sudah mengantungkan perasaannya?


Jefra yang berbalik terlihat terkejut saat melihat Renata yang ternyata berdiri di belakangnya.


"Jefra, apa yang sedang kamu lakukan dengan wanita asing tadi?" tanya Renata menyelidiki.


Renata merasa cemburu, dadanya terasa sesak karena pemikirannya sendiri.


"Apa kamu sedang menggoda wanita itu?" tanya Renata lagi.


"Tidak, wanita itu hanya menanyakan arah," jawab Jefra.


Renata menatap intens Jefra, dia tahu jika Jefra berbohong dari cara pemuda itu menghindari kontak mata dengannya.


Kepala Renata tertunduk, mengigit bibirnya sendiri, merasa menyesal telah mengantungkan perasaan Jefra. Padahal Renata sudah menyadari rasa sukanya pada Jefra, bahkan lebih dari itu...


Renata mencintai Jefra.


'Aku nggak mau menyerah,' pikir Renata.


Ya, dia tidak mau menyerah atas perasaannya, dan tidak akan membiarkan Jefra bersama wanita lain.


Grreb


Renata memeluk Jefra, "Jef."


Sedangkan Jefra langsung mematung di tempat, badannya kaku seketika karena mendapat pelukan secara tiba-tiba, terlebih lagi Renata yang memeluknya.


"Kamu nggak boleh menggoda wanita lain," ucap Renata.


"A-aku tidak menggoda wanita lain," sangkal Jefra dengan perasaan gugup karena Renata yang memeluknya.


"Pokoknya nggak boleh, kamu harus melihat aku saja, jangan melihat wanita lain, oke!"


Jefra terdiam sesaat untuk mencerna apa maksud perkataan Renata. Namun, otak yang bisanya cerdas itu mendadak buntu.


"Kenapa?" tanya Jefra.


"Karena aku mencintaimu, kamu adalah milikku, kamu nggak boleh bersama wanita lain," jawab Renata seraya menatap mata hitam kelam Jefra.


Pada akhirnya Renata mengatakan perasaannya.


Jefra benar-benar terkejut dengan peryataan Renata, apakah ini mimpi atau prank?


"Aku mencintaimu, Jefra," ungkap Renata lagi.


Jefra menutup sebagian wajah dengan telapak tangan untuk menutupi pipi yang sudah semerah tomat, jantung pun berdetak kencang.


"Kamu masih mencintaiku, bukan?" tanya Renata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Renata," ucap Jefra.


Lalu dia tersenyum dan memeluk tubuh mungil Renata hingga sedikit terangkat, "Sial! Jantungku hampir meledak karena senang," gumamnya.


"Renata."


"Renata."


"Renata."


Bahkan Jefra memanggil nama gadis cantik yang dipeluknya berkali-kali, untuk meyakinkan jika ini adalah kenyataan.


Kenyataan jika Renata membalas cintanya.


"Tentu saja aku mencintaimu, bahkan tidak sekali pun berhenti untuk mencintaimu. Ya, aku adalah milikmu, mana mungkin aku dengan wanita lain," ucap Jefra sembari mengeratkan pelukannya.


Renata merasa lega dan bahagia saat mendengar ucapan Jefra. Sepertinya dia memang salah paham pada pemuda itu.


"Jef, se-sesak," Renata memukul pelan punggung Jefra.


Jefra segera melepas pelukannya, "Maaf," ucapnya.


"Nggak apa-apa," kata Renata malu-malu.


Kemudian mereka saling menatap satu sama lain.


"Jef, apa kamu nggak ingin bilang apa-apa padaku?" tanya Renata sembari memainkan jemari yang saling menyatu.


"Bilang apa?" Jefra justru bertanya balik.


"Jadi kita ini apa?" tanya Renata ragu.


"Apa kamu ingin kita pacaran?" tentu saja Jefra tahu apa yang diinginkan Renata.


"Ya!"


Renata menutup mulutnya karena menjawab dengan begitu kencang.


Jefra tertawa pelan, lalu meraih ke dua tangan Renata untuk digenggam, "Renata, ayo kita pacaran sebelum menikah," ucapnya mengalun bagai udara hangat untuk Renata.


Oh, tentu saja Jefra tidak akan lupa dengan pernikahan mereka.


Renata tersenyum lebar dan mengangguk, hatinya seakan ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran.


Namun.


"Ciee yang sudah pacaran," sela Ryo yang entah sejak kapan menonton.


"Selamat untuk kalian," timpal Jelita sembari bertepuk tangan.


"Kok nggak ada adegan kiss, sih? Ayo dong Jefra kasih kiss Dokter Renata, jangan membuat penonton kecewa," ujar Ryo tergelak.


Bahkan Jelita sudah menyiapkan ponselnya untuk merekam adegan selanjutnya.


Momen romantis Renata dan Jefra pun buyar karena ke dua orang yang menganggu.


"Ka-kalian sejak kapan di situ?" Renata benar-benar malu sekali saat ini.


**

__ADS_1


Malamnya.


Mereka berempat pergi ke resor dekat Laut Mati dan melakukan pesta Barbeque.


"Bersulang untuk hubungan Renata dan Jefra!" seru Ryo.


Tring!


Bunyi ke empat gelas berisikan cairan berwarna jingga yang saling beradu.


"Kenapa jadi heboh sekali?" Renata tertawa.


"Tentu saja karena berkat kalian aku akan mendapatkan hadi—"


Perkataan Ryo terpotong karena Jelita yang membungkam mulutnya dengan daging.


"Makan ini," ucap Jelita dan mengisyaratkan agar Ryo diam dengan gerakan mata.


Ryo pun menurut, lalu mengunyah daging yang berada di mulutnya.


"Mendapatkan apa?" tanya Renata yang penasaran dengan kelanjutan dari perkataan Ryo.


"Nggak kok," jawab Jelita.


Tidak mungkin Jelita mengatakan kalau dia menjanjikan sebuah hadiah untuk Ryo karena keberhasilan hubungan Renata dan Jefra.


"Sayang, suapi aku lagi," pinta Ryo.


Wangi daging yang sedang dipanggang dengan saus marinade, serta pemandangan laut yang berwarna gelap, menjadi latar berakhirnya kegiatan mereka di Yordania. Mereka terlihat menikmati pesta barbeque dengan bercanda dan tertawa bersama.


Hingga waktu berlalu tanpa disadari.


Setelah berakhirnya acara barbeque, Jelita dan Ryo sudah kembali ke kamar mereka.


Sedangkan Renata dan Jefra sedang duduk berdampingan dengan beralasan pasir pantai.


"Mulai sekarang Yordania adalah negara favoritku," ucap Renata memecah keheningan.


"Kenapa?" tanya Jefra mengalihkan tatapannya untuk menatap sang kekasih. Ya, sekarang Jefra sudah dapat memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Renata, selama jomblo 27 tahun pada akhirnya dia mendapatkan kekasih.


"Tentu saja karena dirimu," jawab Renata sembari menerawang ke depan.


Ketika sebuah cinta lama yang tidak lagi membahagiakan, menyakitkan, memberikan luka, kita tidak bisa mengulanginya atau memperbaikinya. Tapi tidak mengapa, karena kita selalu bisa membuat kisah baru, menemukan kebahagiaan lain, dan cinta yang baru.


Kemudian Renata membaringkan dirinya di pasir pantai. Tersenyum menatap langit malam yang bertabur bintang, begitu cerah tanpa adanya awan. Dia berharap jika hubungan mereka bisa berjalan lancar kedepannya. Renata tidak ingin mengulang kisah cinta yang menyakitkan lagi.


Bisakah seperti itu?


Kepala Jefra muncul, menghalangi pemandangan langit yang Renata tatap. Namun, justru menjadi pemandangan yang lebih indah untuk Renata.


"Jangan berbaring di sini, Renata," Jefra melarang Renata karena pasir pantai yang dapat membuat kotor.


Bukannya menurut, justru Renata mengalungkan tangannya pada leher Jefra, menarik si pemuda untuk mendekatkan padanya.


"Jefra."


Jefra yang awalnya terkejut berhasil mengendalikan ekspresinya kembali, tersenyum lembut menatap Renata, "Hmm?"


"Apa kamu nggak ingin mencium aku?" tanya Renata dengan wajah memerah.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2