Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Memasak Untuk Istriku


__ADS_3

Pada akhirnya Jefra dan Renata melakukan Drive Thru dan makan di dalam mobil. Memang lebih efisien karena masih hujan deras.


Jefra memarkirkan mobilnya di depan taman yang terlihat gelap dan sepi, padahal jika tidak hujan taman itu sering dibanjiri muda-mudi yang sedang berpacaran ataupun sekedar nongkrong.


"Apa kamu sedang kelaparan?" tanya Jefra pada Renata yang terlihat lahap memakan burger.


Renata hanya mengangguk karena masih mengunyah makanan.


Tangan Jefra terulur untuk menyeka mayones yang menempel pada garis bibir bagian atas Renata.


Renata langsung melihat Jefra dengan tatapan terkejut, apalagi Jefra tengah menjilat ibu jarinya sendiri yang tadi habis menyeka mayones.


"Uhuk," Renata sampai tersedak saling terkejutnya.


Jefra dengan sigap memberikan Cola pada Renata, lalu Renata segera meminumnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jefra terlihat khawatir.


"Nggak apa-apa," jawab Renata dengan wajah semerah tomat, entah akibat tersedak atau hal yang lain.


Jefra mengambil tisu dan mengelap mulut Renata dengan perlahan.


Deg


Jantung Renata terpompa begitu cepat karena perlakuan Jefra yang sangat manis itu, bahkan saat bersama dengan Davian dulu dia tidak pernah mendapatkan perlakukan seperti ini.


Pada kenyataannya wanita memang akan diperlakukan seperti Ratu oleh pria yang tepat.


"Nah, sudah," kata Jefra setelahnya, "Pelan-pelan saja makannya, oke?" lanjutnya.


"O-oke," jawab Renata tergagap karena gugup.


Jefra menghela napas berat, "Harusnya aku mengajakmu makan malam di tempat yang bagus, tapi justru di dalam mobil," ucapnya merasa tidak enak hati.


"Ini juga sudah bagus," jawab Renata pelan.


"Bagus? Bagian mananya? Bahkan kamu sampai tersedak karena makan di dalam mobil yang sempit ini," kilah Jefra menyalahartikan penyebab dari Renata yang tersedak.


"Aku nggak tersedak karena itu, Jef," sangkal Renata.


Malu sekali jika dia harus mengatakan penyebab sebenarnya.


"Lalu karena apa?" tanya Jefra.


"Karena aku makan terburu-buru," jawab Renata berbohong.


Jefra merasa hari ini dia telah gagal untuk membuat Renata terkesan padanya. Namun, siapa yang menyangka jika sifat manisnya yang justru berhasil membuat hati Renata cenat-cenut.


**


Dunia terasa milik berdua saat malam Minggu akhirnya berlalu, dan digantikan dengan pagi hari yang begitu dingin karena sehabis hujan.

__ADS_1


Jelita yang sedang bergelung dengan selimut meraba-raba kasur di sebelahnya untuk mencari kehangatan dari suaminya. Namun, terasa kosong.


Gadis itu mengeryit dan membuka matanya sedikit, lalu segera bangkit karena tidak menemukan pemuda tercinta.


"Ryo...?" panggil Jelita masih dengan rasa kantuknya.


Tidak ada jawaban dari sang suami.


"Ke mana dia?" gumam Jelita merasa bingung karena tidak seperti biasanya Ryo bangun duluan.


Kemudian Jelita melihat jam yang tergantung pada dinding, sudah pukul 8 pagi, ternyata dialah yang bangun kesiangan. Mungkin ini adalah akibat karena semalam terlalu banyak makan dan berakhir tidur bagai kerbau.


Jelita segera berdiri dari posisinya dan melangkah untuk ke kamar mandi, dia harus membersihkan diri dan membuat sarapan, lalu mencari suaminya yang entah pergi ke mana pada hari Minggu seperti ini.


"Pergi kok nggak mengajak aku," gumam Jelita cemberut.


Setelahnya terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, pertanda Jelita yang sedang memulai ritual mandinya.


**


Kini Jelita sudah terlihat rapi dengan pakaian kasual. Kaki jenjangnya melangkah menuju arah dapur.


"Bau apa ini?" gumam Jelita saat mencium aroma yang seperti...


Gosong.


Jelita langsung berjalan cepat menuju dapur, dia semakin panik saat melihat asap keabu-abuan dari tempat yang dia tuju itu.


Namun, ternyata bukan.


Mata Jelita terbelalak sempurna saat melihat keadaan dapur yang porak-poranda, seperti kapal pecah.


"Ryo, apa yang kamu lakukan?" tanya Jelita dengan berseru keras.


Ryo yang sedang berkutat dengan sesuatu yang ada di penggorengan langsung mengalihkan atensinya, dia agak terkejut dengan kedatangan Jelita yang tiba-tiba.


"Memasak," jawab Ryo dengan tampang yang polos.


"What!" seru Jelita lagi.


Lalu Jelita menghampiri Ryo untuk melihat sesuatu yang sedang di masak suaminya. Jelita terkejut saat melihat jika ikan yang tengah digoreng gosong. Dengan segera Jelita mematikan kompor.


"Hampir saja dapur ini kebakaran karena kamu," omel Jelita.


Ryo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Maaf," ucapnya.


"Kenapa kamu memasak? Kenapa nggak membangunkan aku atau menyuruh Jefra saja?" tanya Jelita dengan masih mengomel.


Ke dua lengan Ryo di pegang Jelita, lalu diputarnya badan Ryo. Jelita sedang meneliti keadaan suaminya itu. Dan syukurlah karena tidak ada luka.


"Aku sedang ingin memasak untuk istriku," ucap Ryo.

__ADS_1


Jelita terdiam sesaat, ada rasa terharu dan senang karena Ryo ingin memasak untuknya.


"Izinkan aku melayanimu hari ini, sayang," sambung Ryo dengan mengecup kening Jelita.


Oh, sepertinya jantung Jelita tengah berpesta ria saat ini.


"Ta-tapi..."


Jelita melihat sekeliling dapur yang sungguh berantakan, dia tidak bisa membiarkan Ryo mencoba memasak lagi.


"Biar aku saja yang memasak," ucap Jelita melanjutkan perkataannya.


"Mana bisa seperti itu," Ryo cemberut karena tidak terima dengan apa yang Jelita katanya.


Lalu untuk apa Ryo mencoba memasak sejak tadi jika ujung-ujungnya Jelita yang memasak?


Jelita terlihat berpikir sejenak, dia tidak mau Ryo beranggapan jika dia tidak menghargai usaha Ryo yang ingin memasak untuknya.


Dan sebuah ide brilian muncul.


"Kalau begitu kita memasak bersama saja," saran Jelita.


"Tidak buruk juga," Ryo pun setuju.


Dari pada dirinya menghancurkan dapur, lebih baik masak bersama Jelita.


Kemudian pasangan suami-istri itu mulai memasak bersama dengan sesekali mengobrol dan tertawa. Mereka tidak menyangka jika memasak akan lebih menyenangkan jika bersama dengan orang tercinta.


"Ah, panas," rintih Ryo saat lidahnya terbakar sehabis mencicipi kuah panas dari sup ayam yang sudah matang.


"Duh, kenapa nggak ditiup dulu baru dicicip?" omel Jelita namun terlihat panik.


"Aku kira nggak sepanas itu," ucap Ryo yang merasakan kebas pada lidahnya.


"Buka mulutmu," pinta Jelita.


Tanpa bertanya Ryo segera membuka mulutnya, meskipun dia bingung dengan apa yang akan dilakukan istrinya itu. Apa Jelita ingin mengobati lidahnya yang kebas?


Detik berikutnya Jelita mendekatkan wajahnya dan meniup mulut Ryo, meniupnya berkali-kali berharap rasa panas yang dirasakan Ryo menghilang.


Bukannya menghilang, tapi rasa panas yang dirasakan Ryo justru berpindah ke wajah. Ryo dapat merasakan hangatnya hembusan napas Jelita pada lidahnya hingga rongga mulutnya.


Apa Jelita tidak tahu efek dari perbuatannya itu?


Setelahnya Jelita menjauhkan wajahnya, "Sudah nggak panas?" tanyanya.


Ryo mengangguk kaku, lalu dia menutup mulutnya dengan tangan.


Jelita tiba-tiba terkejut dengan sendirinya, karena baru mengingat satu hal. Dia langsung meniupkan napasnya pada ke dua telapak tangan miliknya dan mencium baunya.


"A-apa aku bau mulut?" tanya Jelita takut-takut.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2