
Tut... Tut... Tut...
Davian meremas ponsel miliknya saat panggilan teleponnya dimatikan sepihak oleh Renata.
"Renata..."
Ekspresi menggelap dan matanya berkilat kesal.
"Kamu sedang mengabaikan teleponku, ya?"
Padahal Renata tidak pernah mengabaikan panggilannya dulu, bahkan gadis itu yang selalu merecokinya dengan banyak mengirim pesan ataupun panggilan telepon.
Lantas kenapa Renata sekarang berbeda?
Nyatanya orang munafik itu adalah orang yang memiliki daya ingat yang rendah, buktinya Davian seakan lupa dengan apa yang membuat Renata berbeda. Padahal dia sudah menghancurkan hati Renata hingga berkeping-keping. Lalu dengan tidak tahu malu ingin kembali pada Renata yang sudah berusaha menyembuhkan hati yang berkeping-keping itu.
Tatapan Davian menerawang ke luar jendela besar yang berada di kamarnya.
Sebenarnya Davian sangat mencintai Renata, tetapi ego dan nafsu membutakan hatinya. Nafsu memang dapat mencuri akal sehat dan menelantarkan pada rimba tidak bernama. Davian telah melakukan tindakan bodoh dengan selingkuh, meninggalkan Renata untuk wanita semacam Gina.
Namun, sepertinya Davian belum mengintropeksi kebodohannya itu.
**
3 hari setelahnya.
Terlihat Renata yang sedang membereskan berkas-berkas pada meja kerjanya. Ini memang masih terlalu sore untuk bersiap pulang. Akan tetapi hari ini Renata akan memilih cincin pernikahan bersama Jefra.
Renata bersenandung pelan dan senyum tidak lepas dari bibir pink miliknya.
"Dokter Renata terlihat senang sekali," ucap Indy, Asisten Renata, pengganti Gina.
"Ya," Renata mengangguk.
Kenyataannya dia memang senang.
"Ada hal baik kah?" tanya Indy.
"Hari ini aku akan mencari cincin pernikahan dengan calon Suamiku," jawab Renata jujur.
"Pantas saja."
Indy memang sudah tahu tentang perihal Renata yang sebentar lagi akan menikah.
"Oh, ya, Indy. Apa kamu memiliki tips untuk memilih cincin pernikahan?"
Renata menanyakan itu karena Indy sudah berkeluarga, bahkan sudah memiliki 2 anak, yang pastinya Asistennya itu tahu banyak hal.
Cincin pernikahan diartikan sebagai simbol keabadian dalam suatu pernikahan. Renata berharap jika dia dapat memilih cincin yang terbaik. Dia tidak bisa sembarangan dalam memilihnya.
Indy berpikir sesaat, mengetuk jari telunjuknya di tengah-tengah dagu.
"...Jadi?" Renata terlihat tidak sabar.
"Karena dipakai seumur hidup, Dokter Renata harus memilih cincin pernikahan yang bikin nyaman dan bisa awet untuk dipakai."
Renata menggangguk paham.
Knock... Knock... Knock...
Bunyi pintu diketuk mengalihkan ke dua wanita itu.
"Masuk," ucap Renata.
__ADS_1
Cklek
Seorang pria dengan pakaian kurir pengantar barang muncul dari balik pintu.
"Apa ini benar ruangan Dokter Renata?" tanya kurir sopan.
"Ya, aku sendiri. Ada apa?" Renata berjalan mendekati si kurir.
"Ada paket untuk Dokter Renata."
Kurir itu memberikan karangan bunga mawar yang begitu cantik, lalu Renata menerimanya.
"15 tangkai mawar merah? Bukankah itu menunjukan pesan permintaan maaf?" tanya Indy sepeninggal kurir.
"Permintaan maaf? Bukan ucapan terima kasih? Aku kira ini dari salah satu pasien yang sudah sembuh."
Renata menatap karangan bunga itu bingung.
"Ya, setahuku kalau seseorang memberikan 15 tangkai mawar merah, itu artinya sebuah permintaan maaf," ucap Indy dengan yakin.
"Tapi nggak ada kartu ucapan apapun, bahkan nggak ada nama pengirimnya," ujar Renata.
"Apa itu dari calon suamimu?" tebak Indy.
"Eh? Jefra?"
Renata terdiam setelahnya. Jika ya, untuk apa Jefra meminta maaf? Atau karena tidak mengangkat telepon semalam? Bukankah ini berlebihan?
"Ya, pasti dia. Tidak mungkin orang asing, bukan?" Indy menguatkan tebakannya.
Kemudian Renata tersenyum, diciumnya karangan bunga itu, merasakan wangi khas bunga mawar yang begitu harum.
"Jefra manis sekali," gumam Renata.
**
Sesampainya, Renata membuka pintu mobil, lalu memasukinya.
"Hei, Jef."
Renata mengecup sudut bibir Jefra dengan gerakan yang cepat, berniat berterima kasih atas karang bunga yang dia dapat.
Jefra terlihat terkejut, bahkan terbengong sesaat.
"Terima kasih," ucap Renata tersenyum lebar.
"Untuk?" tanya Jefra mengeryit bingung.
"Untuk ini, aku sangat menyukainya."
Renata menunjukan karangan bunga yang dia bawa, ekspresinya terlihat senang.
Jefra menatap karangan bunga itu.
"Terima kasih telah memberikan ini untukku, kamu sangat manis sekali," sambung Renata.
"Tapi, Renata..."
"Ya?"
"Bukan aku yang memberikanmu itu," sangkal Jefra.
"Eh? A-apa?" Renata terperanjat.
__ADS_1
Ternyata dugaan Indy salah.
"Sepertinya kamu salah, dan kecupan tadi tidak seharusnya untukku."
Renata dapat melihat perubahan ekspresi Jefra yang agak cemberut.
"O-oh, aku kira ini darimu, soalnya nggak ada nama pengirimnya," kilah Renata.
"Mungkin dari penggemar rahasia kamu," ucap Jefra.
Kentara sekali jika pemuda itu sedang cemburu.
Renata tertawa pelan, "Menang aku artis."
Dengan gerakan yang tiba-tiba, Jefra mendekatkan wajahnya pada Renata. Sedangkan Renata mematung seketika.
'Te-terlalu dekat,' batin Renata.
"Sadarlah, kamu itu terlalu menggemaskan untuk dilewatkan," lirih Jefra sebelum mencium bibir Renata.
Renata sendiri tidak menolak, dia justru memejamkan mata dengan ke dua pipi yang merona.
Jefra melu-mat bibir bawah Renata. Dengan lembut lidahnya menyelusuri garis bibir Renata, lalu mendesak lebih dalam, menjelajahi dan merasakan. Semakin memperdalam ciuman itu hingga ke duanya hanyut. Bahkan Jefra tidak perduli dengan keberadaan mereka yang masih berada di depan gedung rumah sakit.
Ke duanya mulai memiringkan kepala. Debaran yang sungguh menyenangkan tengah menerpa mereka.
Jefra melepas ciumannya, dan langsung memandang bola mata indah milik si gadis. Oh, tidak, maksudnya gadis yang paling dia cintai.
Ibu jari Jefra mengusap lembut bibir Renata yang agak bengkak, ada rasa bangga saat tahu jika dialah penyebabnya.
"Dengarkan aku," ucap Jefra kemudian.
Seakan terhipnotis Renata hanya bisa mengangguk.
"Lain kali jangan menerima pemberian bunga dari siapapun lagi. Aku tidak suka," ujar Jefra.
"Kalau dari kamu?" tanya Renata.
"Kecuali dari aku. Lagi pula kalau aku memang ingin memberikanmu bunga, tentu saja akan memberikannya secara langsung, tidak mungkin dengan cara mengirimnya."
Apa Jefra sedang cemburu? Cemburu itu tandanya sayang, kan? Jadi kalau Jefra cemburu berlebihan hanya gara-gara bunga, itu artinya rasa sayang Jefra pada Renata juga berlebihan.
Renata mengangguk paham. Di dalam hati dia sangat bersyukur dengan kecemburuan Jefra.
"Good girl."
Jefra kembali mencium bibir Renata, tapi tidak seintens tadi, hanya mencium singkat. Lalu melilitkan sabuk pengaman pada tubuh Renata.
"Ayo berangkat," tukas Jefra.
"Y-ya," jawab Renata terbata karena gugup. Jefra dan semua perlakuannya benar-benar membuat cenat-cenut.
Selanjutnya, Jefra mulai menyalakan mesin mobil, menarik tuas, dan menginjak gas. Lalu mobil melaju meninggalkan kawasan rumah sakit.
Di sisi lain.
Davian yang ternyata adalah si pengirim bunga menatap mobil Jefra yang berlalu dengan tatapan penuh arti, wajahnya mengeras, dan tangan terkepal.
Sebenarnya dia sedang menunggu Renata untuk meminta maaf secara langsung setelah mengirim bunga. Namun, Davian justru diperlihatkan dengan pemandangan yang membuat geram.
Renata sudah memiliki kekasih baru, pantas saja Renata memblokir nomor ponselnya.
"Aku rindu kamu, Renata. Bukan, biar aku koreksi. Aku rindu kamu yang dulu."
__ADS_1
Apa pantas Davian mengatakan itu? Padahal dulu dia mengabaikan Renata.
_To Be Continued_