
Di rumah sakit.
Jelita sedang mendapat perawatan pada kakinya, belum juga cedera punggungnya sembuh dan kini dia sudah mengalami luka yang lain.
Dokter menganjurkan Jelita untuk mengistirahatkan bagian tubuh yang terkilir untuk sementara waktu. Pembengkakan yang dialami Jelita akan membaik dalam 3–5 hari, asal sering di kompres dengan air dingin.
"Saya akan memberi resep untuk obat anti nyeri," ucap Dokter setelah membalut pergelangan kaki kiri Jelita dengan perban elastis.
"Ya, Dok," jawab Jelita.
'Kenapa aku jadi selemah ini?' pikir Jelita seakan kecewa pada dirinya sendiri.
Sekarang Jelita merasa sudah tidak berguna karena untuk berjalan saja dia merasa kesulitan, tadi saja Ryo sampai menggendongnya untuk ke rumah sakit.
Mana ada Bodyguard yang justru menyusahkan tuannya?
"Kenapa mukamu murung seperti itu? Apakah kakimu sangat sakit" tanya Ryo sepeninggal Dokter.
"Nggak sakit," jawab Jelita sembari menggeleng.
"Berhentilah menutupi rasa sakit kamu padaku, Jelita," tukas Ryo dengan mimik yang serius, terlihat kilatan kekesalan di matanya, "Jujur saja kalau kamu merasakan sakit."
Jelita mengangguk.
"Jawablah, jangan mengangguk saja," Ryo menuntut jawaban.
"Ya, kakiku sakit," cicit Jelita.
Ryo mengelus kepala Jelita lembut, "Mulai sekarang cobalah untuk jujur padaku, aku sangat nggak suka kalau dibohongi," ujarnya.
Deg
Jelita melipat bibirnya ke dalam, hatinya merasa adanya tekanan secara mendadak. Ryo paling tidak suka kalau dibohongi, lalu tindakan penyamarannya adalah kebohongan yang terencana. Bagaimana jika Ryo tahu kebenarannya? Apa Ryo akan benci padanya?
"Aku tidak menolerir pembohong," sambung Ryo yang sangat menohok hati Jelita.
Ryo terkekeh melihat ekspresi Jelita, "Kenapa dengan ekspresi kamu yang mendadak kaku?" tanyanya seraya menagkup ke dua pipi Jelita dan menekannya, hingga bibir Jelita mengerucut lucu, "Benar-benar jelek seperti ikan buntal," ledeknya.
"Aku..." Jelita tidak sanggup melanjutkan perkataannya, dia jadi merasa bersalah pada Ryo, dia bahkan tidak mengacuhkan ledekan Ryo.
Cup.
Jelita terbelalak saat dia mendapatkan kecupan singkat pada bibir. Sedangkan Ryo sendiri memang sudah terlalu gemas melihat bibir Jelita yang mengerucut karena tindakannya.
"Jelita," panggil Ryo mendayu lembut.
"Y-ya?" cicit Jelita dengan perasaan bercampur aduk.
__ADS_1
Ryo terdiam sesaat untuk menghilangkan sedikit debaran jantungnya. Namun, nihil. Debarannya tidak bisa hilang meskipun sedikit.
"Aku rasa, aku sudah mencintaimu," ungkap Ryo dengan satu tarikan napas.
Jelita berkedip beberapa kali, dia mengira jika pendengarannya bermasalah, atau dia sedang halusinasi saat ini, "Kamu bilang apa tadi?" tanyanya.
"A-aku," Ryo menjadi bertambah gugup, keberaniannya sudah habis dia pakai pada ungkapan pertamanya tadi, dan sialnya Jelita justru meminta pengulangan.
"A-apa?" tanya Jelita tertular kegugupan Ryo.
"Aku, aku..."
Deg... Deg... Deg...
Ryo sudah tidak bisa mengontrol detak jantungnya, "Aku ingin menebus resep obatmu dulu," ucapnya langsung berbalik pergi.
"Bisa-bisanya dia nggak dengar perkataanku tadi," gumam Ryo seraya meraup wajahnya yang memerah dengan frustasi.
Mau tidak mau dia harus mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cintanya lagi.
**
Sepulangnya dari rumah sakit. Pukul 7 malam, Ryo sedang menggendong Jelita di balik punggungnya seraya berjalan memasuki hotel tempatnya menginap.
"Aku rasa, aku sudah mencintaimu."
Jelita mengeratkan pegangannya pada bahu lebar dan hangat milik Ryo.
"Tuan muda," panggil Jelita.
"Hmm?"
"Tentang perkataan kamu sewaktu di ruang sakit bisakah kamu ulang lagi?" pinta Jelita agak ragu.
"Nanti saja," jawab Ryo, "Kamu jangan memikirkan itu, lebih laik pikirkan kondisi tubuh bagian bawahku saat ini," sambung Ryo tanpa ada rasa malunya.
Berbeda dengan Jelita, isi kepala Ryo saat ini adalah kelembutan dan kekenyalan yang dirasakan punggungnya, 'Oh, my otong, aku mohon jangan menegang,' pikirnya.
"Tubuh bagian bawahmu?" jelita membeo.
"Ck, anak kecil pasti nggak akan mengerti," ucap Ryo, langkahnya berhenti tepat di depan lift, dia langsung memencet tombol angka 8.
Alis Jelita mengerut pertanda tidak terima atas penyebutan anak kecil yang dilontarkan Ryo, "Aku bukan anak kecil, umurku sudah 19 tahun," jawabnya merengut.
"19 tahun? Pantas saja," Ryo yang memang baru tahu umur Jelita semakin menjadi-jadi meledek, "Bisa-bisanya aku mencintai anak kecil sepertimu."
Perkataan Ryo tersamarkan dengan dentingan pintu lift yang terbuka, kemudian Ryo masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Jelita terdiam sesaat, dia kurang mendengar jelas perkataan Ryo. Sedangkan Ryo terlihat merutuki dirinya yang keceplosan, dan sialnya lagi Jelita tidak dengar.
"Pokoknya aku bukan anak kecil," kilah Jelita dengan penuh penekanan jika dia bukan anak kecil. Lagi pula umurnya dan Ryo hanya terpaut satu tahun.
"Oh," Ryo menyeringai, "Baiklah, mari kita lihat sudah sedewasa apa kamu," ujarnya.
"A-apa?" Jelita membulatkan ke dua matanya.
Dentingan lift kembali terdengar menandakan jika mereka sudah sampai di lantai yang dituju, pintu lift terbuka. Terlihat para Bodyguard yang menyambut kedatangan Ryo, mereka menunduk hormat, seluruh lantai ini memang sudah di sewa secara khusus.
"Tuan muda," sapa Jefra dengan ekspresinya khawatir.
Dia jadi kehilangan pengawasannya karena mencoba mengejar Jason. Ryo dan Jelita sudah tidak ada di arena ice skating saat Jefra kembali, dia tidak tahu jika ke duanya sedang ke rumah sakit.
"Kalian kemana saja? Dan kenapa dengan kaki Jelita?" tanyanya semakin khawatir saat melihat perban di pergelangan kaki kiri Jelita.
"Bukan urusanmu," jawab Ryo.
Jefra hanya bisa sabar mendengar jawaban Ryo.
Ryo memang pergi secara sembunyi-sembunyi agar Jefra tidak menggangu acara kencangnya dengan Jelita. Namun, dia tidak tahu jika Jefra tidak mudah lengah.
"Aku nggak apa-apa, Jefra," jawab Jelita.
"Tapi—"
Perkataan Jefra tidak didengar lagi oleh Ryo karena dia langsung masuk ke kamarnya dengan membawa Jelita di gendongannya.
"Hais, susah sekali mengurus remaja tanggung," ucap Jefra mengelus dada.
Di dalam kamar Ryo.
"Kenapa kamu membawa aku ke dalam kamarmu, tuan muda?" tanya Jelita dengan perasaan was-was.
"Menurutmu?" ucap Ryo seraya menurunkan Jelita dari gendongannya agar duduk di bibir ranjang.
Seketika Jelita merasa panik karena mengingat perkataan Ryo di lift tadi, tentu saja dia tahu apa yang akan Ryo lakukan padanya, "Aku mau kembali ke kamarku sendiri," Jelita mencoba bangkit, tapi Ryo menahan pundaknya.
"Kamu nggak akan bisa pergi," ujar Ryo.
Jelita menelan saliva berat, "A-apa yang ingin kamu lakukan?" tanyanya.
"Nanti kamu juga akan tahu," kata Ryo sambil membuka jaketnya.
"Jangan macam-macam, kalau nggak aku akan memukulmu," ancam Jelita dengan menunjukkan kepalan tangannya pada Ryo.
"Aku nggak takut, memangnya apa yang bisa kamu lakukan saat cedera?" tantang Ryo.
__ADS_1
Kemudian Ryo mengelus betis Jelita dengan gerakan yang membuat siempunya merinding.
_To Be Continued_