Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mimpi Berciuman


__ADS_3

Di kamar dengan cahaya lilin yang remang-remang, Jelita dan Ryo terduduk saling berhadapan dengan posisi duduk bersila di atas ranjang.


Jelita sedang membimbing Ryo bermeditasi agar rileks dan tenang. Dengan cara menarik napas dalam-dalam, bermeditasi, dan melakukan relaksasi memang dapat membantu mengatasi pikiran negatif dan kecemasan.


"Cobalah untuk berdamai dengan peristiwa itu. Ketahuilah bahwa hal buruk yang pernah kamu alami di masa lalu tidak akan selalu terjadi setiap kamu sedang dalam kegelapan," kata Jelita pada Ryo yang sedang memejamkan mata, gestur pemuda itu masih terlihat ketakutan.


"Kamu juga harus memahami bahwa pengalaman buruk yang pernah terjadi cukup menjadi ingatan dan pengalaman, bukan menjadi batu sandungan yang akan mengganggu aktivitas kamu di masa kini dan masa depan," sambung jelita menanamkan keberanian pada Ryo.


"Buka matamu," perintah Jelita.


Ryo membuka matanya, dia menatap Jelita.


"Apa rasa takutmu sudah berkurang?" tanya Jelita.


"Sedikit," jawab Ryo.


"Lakukan meditasi setiap ingin tidur dan tanamkan perkataanku tadi di pikiranmu, dengan ini kamu bisa memvisualisasikan rasa aman pada dirimu."


Ryo mengangguk, "Baiklah."


"Setelah itu coba ke Psikiater untuk melakukan terapi."


"Nggak, nanti pasti aku akan disuntik," tolak Ryo, dasar si Casanova penakut.


Pelipis Ryo berkedut, "Apa sih yang tidak kamu takuti?"


Ryo merengut sebal, "Aku hanya takut gelap dan jarum suntik."


"Kamu juga takut kecoak," ucap Jelita yang tidak lupa dengan Ryo yang heboh karena seekor kecoak.


"Semua orang pasti takut kecoak, jadi wajar," Ryo mencoba membela diri.


"Tapi aku nggak takut."


"Mungkin kamu Alien yang nyasar ke bumi," celetuk Ryo ngawur.


Jelita memutar bola matanya, berdebat dengan Ryo memang tidak akan ada habisnya.


"Tenang saja, kamu hanya terapi, nggak ada suntik menyuntik," kata Jelita kembali ke topik utama.


Ryo berpikir sebentar, "Baiklah aku mau ke Psikiater."


Jelita tersenyum dan mengacak rambut Ryo, "Good boy."


Ryo menepis tangan Jelita, semburat merah menjalar di pipinya, "Jangan seenaknya menyentuh majikanmu."


"Maafkan aku," ucap Jelita.


"Aku mau tidur, kamu tetaplah di sini sampai listrik menyala kembali," kata Ryo sambil merebahkan dirinya, dia tidur memunggungi Jelita.


"Baik, tuan muda," patuh Jelita.


Jelita bangkit untuk menuju sofa yang berada di kamar itu, dan mendudukkan bokongnya di sana.


Setelahnya hanya keheningan.


15 menit berlalu. Jelita melirik Ryo yang masih tidur membelakanginya, sepertinya pemuda itu sudah tidur nyenyak. Gadis itu merasa kantuk karena bosan, dia pun ketiduran dengan posisi yang masih terduduk.

__ADS_1


Jelita tidur dengan napas yang teratur. Di dalam tidurnya dia merasakan jika bibirnya di sentuh sesuatu yang lembut, sentuhan yang semakin menekan dan menjadi lumαtαn.


Mimpi berciuman yang sangat begitu nyata.


"Bangun."


"Eh?" Jelita langsung terbangun, dia linglung sesaat, tangannya langsung menyentuh bibirnya.


"Ck, malah bengong."


Jelita mendongak, dia melihat Ryo yang berdiri di hadapannya dengan tangan yang bersedekap di dada. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya, "Maaf, aku ketiduran, tuan muda," ucapnya.


"Ya, sana pergi, listriknya sudah menyala, aku sudah nggak membutuhkan kamu," usir Ryo, habis manis sepah dibuang.


"Baik," patuh Jelita langsung melangkah keluar dari kamar Ryo.


Jelita kembali memegang bibirnya, "Kenapa jadi bengkak? Apa digigit nyamuk?" tanyanya diliputi kebingungan.


Di sisi lain, Ryo menutup bibirnya dengan punggung tangannya, wajahnya memanas.


**


Pagi yang cerah, awan di atas langit yang berbaris rapi.


Jelita melajukan mobil membelah jalan raya kota Jakarta yang terlihat ramai, sedangkan Ryo yang terduduk di sebelahnya tengah menyanyikan lagu rock yang terdengar dari audio mobil.


Suasana hati Ryo terlihat bagus.


Ryo menyipitkan matanya saat melihat seorang perempuan yang dia kenal. "Hentikan mobilnya," perintahnya pada Jelita.


Jelita segera menghentikan mobil tepat di sebelah perempuan itu, Ryo membuka jendela kaca pintu mobil.


"Ryo?" Reva berbinar senang, "Aku sedang membutuhkan bantuan."


"Bantuan?" Ryo mengalihkan tatapannya pada kap mobil Reva yang terbuka, "Apa terjadi sesuatu pada mobilmu?"


"Mogok," jawab Reva berekspresi sedih.


"Oh."


"Hanya 'oh' saja?" kilah Reva terlihat kesal.


"Terus aku harus apa? Salto sambil bilang 'oh' gitu?" ucap Ryo dengan konyol.


"Beri aku tumpangan," pinta Reva yang mengabaikan ucapan konyol Ryo.


Ryo melihat arloji pada pergelangan tangannya, pukul 8 pagi, "Aku nggak bisa memberikan tumpangan, aku ingin ke kampus, waktunya sudah mepet."


"Tenang saja, aku juga ingin ke kampus kok," kata Reva tersenyum manis, "Aku kuliah di kampus yang sama denganmu."


"Kamu pindah kampus? Bagaimana dengan beasiswa kamu di LA?" tanya Ryo heran.


"Ibuku sedang sakit," kata Reva berkaca-kaca, "Karena itu aku pulang ke Indonesia dan memutuskan beasiswa demi merawat Ibuku," jawab Reva berbohong, padahal Ibunya sedang baik-baik saja, dia memang pandai berakting.


"Aku baru tahu soal itu," ucap Ryo dengan menatap iba Reva.


"Ya, kamu kan memang selalu nggak tahu tentang aku," tukas Reva tersenyum kecut.

__ADS_1


Ryo tertawa kikuk, "Baiklah, kamu boleh menumpang."


"Thanks," Reva langsung membuka pintu bagian belakang dan masuk ke dalam mobil.


"Jalan," perintah Ryo pada Jelita.


Jelita menjalankan mobil kembali.


"Kamu meninggalkan mobilmu begitu saja?" tanya Ryo pada Reva yang berada di kursi belakang.


"Aku sudah menelepon bengkel," jawab Reva, pada kenyataannya mobilnya tidaklah mogok, dia hanya beralasan agar bisa menumpang mobil Ryo.


"Baguslah."


Jelita melirik spion tengah, dia meneliti penampilan Reva, 'Apa dia benar-benar ingin ke kampus? Dengan baju seperti itu?' pikirnya.


Reva tampil berani dan sexy dengan turtle neck berbahan tipis, bahkan brα hitamnya tercetak jelas, dan rok super pendek yang mempertontonkan paha mulusnya.


Tidak lama kemudian mereka sampai di kampus, Jelita memarkirkan mobil di area parkir. Setelahnya mereka bertiga keluar dari mobil.


Reva segera bergelayut manja pada Ryo, gadis itu mengapit lengan Ryo, menempelkan dαdanya di sana. Jelita yang melihat itu hanya bisa menahan rasa sesak.


"Lepas, Reva," kata Ryo melepaskan diri dari Reva.


Reva menatap heran Ryo, "Kenapa? Apa kamu takut jika wanitamu yang lain cemburu karena aku?"


"Aku sudah berhenti bermain wanita."


Reva terkejut, "Seriusly?"


"Ya, aku sudah berubah," jawab Ryo dengan mimik yang serius.


"Kalau begitu aku adalah satu-satunya?" Reva terlihat senang, dia sangat optimis jika dialah yang akan menjadi satu-satunya bagi Ryo.


"Kamu hanya masa laluku, Reva," kata Ryo mengeryit tidak suka dengan apa yang dikatakan Reva.


"Kita bisa memulainya dari awal."


"Sudahlah, jangan berharap lebih padaku. Kamu cantik, kamu pasti bisa dapatin yang lebih baik dariku."


Seketika Reva mendadak keluh, hatinya terbelah menjadi dua. Ryo menolaknya secara halus.


Ryo melangkah pergi meninggalkannya Reva, dia memang tidak mempunyai perasaan apapun pada Reva. Dari pada mempermainkan Reva lagi, lebih baik dia menolak.


"Aku kira kamu akan senang digelayuti cewek itu," ucap Jelita yang sejak tadi mengekor Ryo, hatinya yang panas kini menjadi lega karena respon Ryo pada Reva.


"Senang matamu," sengit Ryo, "Aku kan sudah tobat bermain wanita."


"Tapi dia kan mantanmu, kamu sudah nggak mencintainya?"


"Cinta?" Ryo tertawa, seakan itu adalah hal yang sangat lucu, "Mana pernah aku mencintainya, dulu aku hanya bermain-main saja. Prinsipku itu tabrak lari, sekedar memanipulasi kelemahan wanita, menikmati se-ks dan kemudian meninggalkannya, aku nggak pernah menggunakan cinta."


Jelita terdiam, dia melupakan satu hal.


Ryo adalah laki-laki yang pandai memikat hati banyak wanita dan bak lebah terbang dari kuntum ke kuntum lain dan selalu berhasil mengisap sari madu bunga yang dihinggapinya.


Apakah dia terlalu bodoh karena mengharapkan cinta dari Ryo?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2