Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Dasar Mesum


__ADS_3

Malam harinya, di rumah Renata.


"Tenanglah, cowok sepertinya memang nggak pantas untukmu, Renata," ucap Jelita sembari menepuk-nepuk punggung Renata yang sedang memeluknya.


Jelita sengaja datang ke rumah Renata untuk sekedar menghibur sepupunya yang sedang patah hati. Dia tidak begitu terkejut saat tahu jika Davian mengkhianati Renata, sebenarnya Jelita sudah menduga hal itu karena semua sifat Davian yang aneh.


"Aku sudah nggak apa-apa, Jelita," ujar Renata sembari melerai pelukannya.


"Syukurlah kalau begitu."


Jelita merasa lega karena Renata tidak terlihat depresi karena itu, dia kira sepupunya akan menangis dan mengurung diri di kamar. Namun, dugaannya salah. Renata terlihat baik, meski memang ekspresinya menunjukkan raut kepedihan.


"Aku ini seorang psikiater jadi aku pasti bisa mengatasi ini," tukas Renata justru membanggakan profesinya.


"Padahal seorang psikiater juga manusia yang memiliki hati dan perasaan," kila Jelita menggelengkan kepala.


Renata tersenyum kecut, "Siap jatuh cinta berarti juga siap patah hati. Sebab nggak semua perjalanan cinta itu berakhir menyenangkan. Tidak bisa dipungkiri kalau aku merasa patah hati, tapi aku mencoba untuk nggak terlalu larut dalam kesedihan. Aku harus tetap semangat maju, dengan perlahan pasti aku bisa move on."


Jelita memincingkan mata, "Bilang saja kalau kamu sudah ada yang baru," ledeknya.


"A-apa yang kamu bicarakan," Renata terlihat gelagapan.


"Ryo berkata padaku kalau kamu sedang ada something dengan Jefra," ucap Jelita dengan tatapan menyelidik.


Ryo memang mengadu jika Jefra meninggalkan dirinya di rumah sakit untuk mencari Renata.


Renata tersedak napasnya sendiri, "Itu..." wajahnya langsung merona merah karena mengingat Jefra.


"Apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan padaku, Renata?" selidik Jelita lagi.


"Sebenarnya Jefra..."


Kemudian Renata mulai menceritakan semuanya, dari pertemuan awal dengan Jefra, kesalahpahaman yang terjadi, Jefra yang meminta ingin menikah, dan waktu 3 bulan yang Jefra minta.


Jelita melongo mendengar cerita Renata yang sangat di luar dugaan, Jefra yang terlihat kaku justru kepincut pada Renata. Dan lagi Renata mudah sekali mengiyakan permintaan 3 bulan dari Jefra.


"Apa kamu menyukai Jefra?" tanya Jelita akan perasaan Renata.


Renata menggeleng tanpa ragu, dia meyakini dirinya jika tidak menyukai Jefra, "Aku saja masih mengalami patah hati, aku tidak mungkin langsung menyukai orang lain dengan begitu cepat," ucapnya.


Ya, luka di hati Renata masih teramat basah untuk dimasuki orang lain.


Jelita paham dengan itu, tapi dia tidak menyangka jika kisah cinta sepupunya lebih rumit dari pada kisah cintanya dengan Ryo.


"Oh, Renata yang malang," ucap Jelita menatap kasian sepupunya.


"Hais, jangan menatapku seperti itu," Renata tidak terima dengan tatapan kasihan yang Jelita berikan.


"Ayo ikut denganku berlibur," kata Jelita tahu-tahu mengubah haluan.


"Berlibur?" Renata membeo.

__ADS_1


"Ya, aku akan membantu menghilangkan kegalauan hatimu dengan cara mengajakmu berlibur," ujar Jelita menjelaskan tujuan sebenarnya.


Renata mulai terlihat tertarik, jarang-jarang Jelita mengajaknya berlibur, dia sangat tahu sifat Jelita yang workaholic.


"Aku dan Ryo akan honeymoon keliling dunia, kamu ikutlah dengan kami," sambung Jelita.


Dan pastinya Jefra juga akan ikut. Mungkin dengan ini Jelita dapat membantu percintaan Renata yang rumit itu.


"Tentu saja aku mau ikut!" seru Renata menjadi heboh sendiri.


Oh, ayolah, siapa yang tidak mau keliling dunia.


**


Pukul 10 malam.


Kini Jelita sudah berada di kediamannya, tepatnya di kamar.


Terlihat Jelita yang sedang duduk di bibir ranjang sambil menelepon seseorang, ekpresi wajahnya begitu dingin.


"Urus pemecatan Davian," ucap Jelita pada Nohan yang di ujung sana.


[Bukannya Nona nggak jadi memecatnya?]


"Aku berubah pikiran."


[Baiklah, Nona.]


"Dan buat dia sejatuh-jatuhnya."


"Ya."


[Serahkan padaku, Nona.]


Panggilan telepon pun berakhir.


"Ini baru permulaan, Davian. Tunggulah kehancuran dirimu sendiri karena sudah menyakiti Renata," gumam Jelita.


Renata adalah sepupunya sekaligus teman satu-satunya, Jelita tidak akan membiarkan orang yang telah menyakiti Renata.


Davian pasti akan mendapatkan penyesalan karena perbuatannya itu. Dia sudah menggali lubangnya sendiri, maka dia harus siap untuk jatuh ke dalamnya. Ingat karma itu ada, dan Jelita yang akan memberikan karma yang begitu cepat untuk Davian.


"Kenapa ekpresi kamu menyeramkan sekali?" tanya Ryo yang tiba-tiba saja muncul.


Ryo yang baru selesai mandi merasa heran dengan istrinya yang termenung dengan tatapan yang begitu tajam.


"Eh?" Jelita menatap Ryo yang berdiri di hadapannya dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang.


Seketika wajah Jelita memanas, "Ke-kenapa kamu hanya memakai handuk? Cepat pakai baju," ujarnya.


Ryo terkekeh geli, "Memang kenapa? Bukannya kamu sudah sering melihat tubuhku?"

__ADS_1


"Tapi, tetap saja itu memalukan."


"Malu tapi mau," celetuk Ryo.


"Tentu saja nggak," bantah Jelita.


Namun, tatapannya tidak lepas dari tubuh bagian atas Ryo yang terbuka sempurna, seakan memanggilnya untuk menyentuh dan meraba-raba. Otak Jelita sepertinya sudah tercemar dengan kemesuman dari suaminya.


Ryo yang menyadari tatapan Jelita tersenyum menggoda, "Yang benar nggak mau? Padahal aku nggak keberatan untuk disentuh," ucapnya.


"Bo-bolehkah?" Jelita memastikan lagi.


"Ya, sayang," jawab Ryo mantap.


Dengan agak ragu Jelita mengulurkan kedua tangannya, jemarinya menekan bagian da-da di lekuk otot suaminya itu, membelai, dan menyentuh ujung da-danya yang mengeras.


Sedangkan Ryo merinding dibuatnya.


Kemudian jari lentik itu menjalar menelusuri perut kotak-kotak yang begitu menggoda iman.


"Suamiku, Kenapa badanmu bisa sebagus ini?" tanya Jelita tanpa mengalihkan tatapannya pada roti sobek.


"Tentu saja karena aku hobi berenang," jawab Ryo dengan suara serak.


Tidak heran jika ada kolam renang yang begitu besar di dalam rumah, Ryo memang sangat suka berenang jika sedang senggang.


"Coba lebih ke bawah," pinta Ryo.


Jika lebih ke bawah tentu saja menjalar pada ular kasur yang masih bersembunyi di balik handuk. Jelita menggeleng, "Nggak," tolaknya.


"Oh, aku tahu, pasti kamu ingin aku melepas handuk terlebih dahulu," ucap Ryo asal menerka.


Sebelum jelita membantah, Ryo segera membuka handuknya dan mempertontonkan seluruh auratnya pada istrinya. Betapa tidak ada rasa malunya.


"Dasar mesum!" pekik Jelita segera menutup rapat-rapat matanya, tapi sialnya dia sudah melihat dengan begitu jelas sebelumnya.


Ryo justru tertawa menyaksikan respon Jelita, "Masih kaku saja," ucapnya.


Kemudian Ryo meraih tangan Jelita, dan mengarahkannya pada sesuatu yang sudah menegang di bawah tubuhnya, "Pegang ini," ujarnya.


Jelita sedikit tersentak saat telapak tangannya merasakan kekerasan dari sesuatu yang disodorkan suaminya. Masih dengan mata yang tertutup, dia mencoba menggenggamnya.


"Sayang, bukalah matamu, dia nggak menggigit."


Jelita pun menurut untuk membuka matanya.


Ryo menyeringai samar, "Nggak menggigit, kan?"


"Y-ya," Jelita mengangguk dengan gerakan patah-patah, tanpa sadar menelan salivanya sendiri.


"Suck."

__ADS_1


Jelita terbelalak karena permintaan Ryo.


_To Be Continued_


__ADS_2