
Pagi hari.
Gavin terbangun dan melihat sekeliling, ruang rawatnya sudah disinari cahaya matahari pagi yang menyeruak dari Jendela. Dia tidur cukup larut semalam, begitu pula dengan Sachi yang menemaninya semalaman, dalam artian mengobrol.
Gavin melihat Sachi yang tidur di sofa dengan wajah yang mengernyitkan alis karena terkena sinar matahari, gadis itu terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Lalu Gavin bangkit, turun dari ranjang dan berjalan ke arah sofa di mana si putri tidur berada, kemudian berjongkok di sebelah sofa.
Tangan Gavin yang tidak di infus terulur tepat di atas wajah Sachi, berniat menghalau paparan sinar matahari yang menyinari wajah manis gadis itu. Dan itu membuat Sachi tidak mengeryit alis lagi.
Entahlah, Gavin tidak bisa menahan diri untuk memberikan perhatian kecil pada Sachi.
Kini wajah Sachi terlihat damai. Gavin senang melihat itu, ditariknya sudut bibinya sehingga membentuk senyum simpul.
Namun, hal itu tidak bertahan lama. Ekpresi Sachi tiba-tiba berubah gelisah, air mata menetes dari matanya yang terpejam. Gavin yang awalnya tersenyum sampai dibuat bingung.
Apa Sachi sedang mimpi buruk? Kenapa sampai menangis?
"Ayah... jangan lakukan itu, jangan sakiti Ibu.."
Bahkan Sachi sampai mengigau.
"Mrs. Sachi, bangunlah."
Gavin mencoba membangunkan Sachi, setahunya jika orang bermimpi buruk lebih baik dibangunkan. Sachi merespon dengan membuka mata, sontak bangkit terduduk dengan napas memburu seperti habis lari maraton.
"Tenanglah, itu hanya mimpi," ucap Gavin mencoba menenangkan si gadis.
Kemudian Sachi memeluk Gavin dengan kecepatan kilat.
"M-Mrs...?" Gavin tercekat dibuatnya.
Sachi yang baru tersadar segera melepas pelukannya, "Ma-maaf, aku kira kamu Ibuku," ucapnya.
"Ah, ya, tidak apa-apa," kata Gavin sembari mengusap tengkuknya yang memerah, "Apa kamu habis mimpi buruk? Kenapa menangis dan mengigau dengan menyebut Ayahmu?" sambung Gavin bertanya tentang rasa penasarannya.
Sachi segera menghapus jejak air matanya dengan refleks. Lalu mengalihkan tatapannya, bola matanya bergerak ke samping kiri, berniat menghindari tatapan si pemuda. Kini Sachi sudah tertangkap basah, bisa-bisanya Gavin melihat sisi rapuhnya.
"Itu hanya mimpi buruk bisa saja," jawab Sachi.
Meskipun tidak percaya dengan jawaban Sachi, akan tetapi Gavin tidak bertanya lebih lanjut lagi, dia cukup mengerti dengan sebuah privasi. Tidak semua hal dapat diberitahu pada orang lain.
"Ada apa, Gavin? Kenapa kamu turun dari ranjang? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Sachi mencoba mengalihkan topik.
"Aku... aku ingin mandi," jawab Gavin menyembunyikan fakta tentang perlakuannya tadi, karena tidak mau jika Sachi beranggapan buruk padanya.
"Mandi?" beo Sachi.
Apa dia akan membantu Gavin melepas pakaian lagi? Dan memandikan Gavin? Big no! Tentu saja Sachi tidak mau.
"Aku tidak mau memandikan kamu, Gavin!" bantah Sachi tegas.
Gavin tertawa mendengarnya, dan Sachi heran dibuatnya.
"Memangnya siapa yang meminta Mrs. Sachi memandikan aku?" tanya Gavin dengan tawanya.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak memintaku untuk memandikan kamu?" tanya Sachi dengan ekspresi loading.
Gavin sampai gemas dengan ekspresi Sachi. Siapa sangka kalau seorang Dosen pembimbing yang terkenal cuek dan ketus ternyata dapat semenggemaskan itu.
"Aku sih tidak masalah kalau Mrs. Sachi ingin memandikan," Gavin terkekeh.
"Ten-tentu saja aku tidak mau!" seru Sachi sekali lagi membantah.
"Aduh, kok meneriaki aku sih? Kepalaku jadi bertambah pusing karena Mrs. Sachi," ucap Gavin sembari memegang kepala yang diperban, dia sedang berpura-pura sakit.
"Maaf, Gavin. Aku tidak bermaksud meneriaki kamu," ucap Sachi merasa bersalah, gadis itu benar-benar perasa.
Kemudian Sachi mengelus kepala Gavin, dan memberikan tiupan di sana. Berharap dengan tindakannya itu rasa pusing yang si pemuda rasakan menghilang. Lalu tatapan mereka bertemu.
"Sudah tidak sakit kan?" tanya Sachi dengan tatapan polos yang begitu imut.
Niat ingin menjahili sang Dosen, tapi justru jantung Gavin yang menjadi tidak karuan karena akibat perbuatannya itu.
"Tidak sakit," jawab Gavin masih menatap mata hitam cemerlang milik Sachi. Mata yang seakan menenggelamkan Gavin ke dalam pesonanya.
Indah tapi tidak dapat dimiliki. Jauh dari harapan dan perjuangan yang sirna, karena si gadis sudah dimiliki orang lain. Gavin hanya bisa mengaguminya dalam diam. Begitu menyesakan. Namun, menyenangkan.
Setidaknya Gavin ingin terus menyukai Sachi dalam diam, meskipun dia tau perasaannya tidak terbalaskan dan salah.
Lalu Sachi tersenyum manis tanpa berkata apa-apa lagi, Gavin pun sampai tidak tahan untuk ikut tersenyum.
**
"Sisil, apa kamu sudah menyiapkan apa yang sudah aku minta?" tanya Ryo pada sekretarisnya.
"Ya, tuan muda," jawab Sisil.
"Jangan lupa untuk membungkusnya dengan cantik," ucap Ryo.
"Sudah, tuan muda."
"Bagus."
Ting
Ke duanya berjalan memasuki lift yang terbuka, dan dua Bodyguard mengikuti dari belakang.
Sisil, sekertaris sekaligus pengganti Jefra. Wanita muda itu menatap punggung Ryo yang berdiri di depannya. Jika boleh jujur dia memiliki ketertarikan pada atasannya itu.
Siapa yang tidak tertarik dengan pria kaya dan tampan?
Namun, sayangnya pria itu sudah memiliki Istri, bahkan terlihat sangat mencintainya. Itu terbukti saat Sisil berniat menggoda Ryo dengan memakai parfum yang dikabarkan memiliki aroma yang mampu menarik lawan jenis. Ryo memang tertarik, tetapi tertarik dalam artian ingin membelikan Istrinya parfum yang sedang dipakai Sisil.
Ya, perintah Ryo tadi adalah untuk membungkus parfum untuk dijadikan hadiah.
Sangat beruntung sekali Istri dari Ramaryo itu.
'Sebenarnya secantik apa Istrinya? Bisa-bisanya mengabaikan aku yang cantik dan bahenol ini,' pikir Sisil yang masih melihat punggung lebar Ryo.
__ADS_1
Ting
Dentingan pintu lift yang terbuka membuyarkan Sisil yang sedang berpikir keras.
"Sayang."
Sisil terkejut dengan nada suara Ryo yang lembut itu. Ini pertama kali baginya mendengar sang Presdir bersuara selembut itu, terlebih menyebut kata 'sayang'.
Siapa yang dipanggil Ryo?
Ryo berlari ke luar lift dan memeluk wanita cantik yang sedang berdiri di depan meja resepsionis, bahkan dia tidak perduli dengan keadaan lobi kantor yang ramai.
"Kamu ke sini? Kenapa nggak bilang-bilang?" tanya Ryo dengan binar rindu, padahal hanya beberapa jam saja tidak bertemu.
"Aku membawakan bekal," jawab Jelita.
Ya, wanita itu adalah Istri tercintanya.
Jelita mencoba melepas pelukan Ryo, saat ini mereka sedang menjadi tontonan semua karyawan yang berada di lobi, tentu saja Jelita masih mempunyai rasa malu dibandingkan dengan Suaminya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Jelita, tatapannya dialihkan pada Sisil yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh arti, dan Jelita menyadari akan hal itu.
"Aku nggak mau ke mana-mana, ayo ke ruanganku," jawab Ryo sembari merangkul pundak Jelita.
"Tap, tuan mud───"
"Batalkan," Ryo memotong perkataan Sisil.
"Baik," patuh Sisil.
Kemudian Ryo dan Jelita menaiki lift, hanya mereka berdua, karena Ryo memberi isyarat agar dua Bodyguardnya dan si Sekertaris tidak ikut naik, begitu pula karyawan lainnya.
Para karyawan di lobi mulai berbisik-bisik sepeninggal pasangan itu.
"Wanita itu bukankah CEO dari JA Group?"
"Dia itu Istri dari Presdir."
"Wah, gila sih Presdir beruntung sekali."
"Dia sangat cantik meskipun sedang hamil."
"Aku baru tahu kalau Istri Presdir sedang hamil."
"Mereka benar-benar serasi."
"Anak mereka pasti akan menjadi bibit unggul."
Sisil yang mendengar hanya bisa menahan sesak. Pantas saja Ryo sangat mencintai Istrinya itu, sampai-sampai membatalkan acara meeting penting siang ini. Ternyata sang Istri tidak hanya cantik luar biasa. Namun, sempurna.
Sepertinya Sisil akan mengibarkan bendera putih, dan mengurungkan niatnya untuk menjadi pelakor.
_To Be Continued _
__ADS_1