
21+ detail 🔥🔥
Tanpa menunggu jawaban dari Renata, Jefra langsung menjilat bibir milik Istrinya itu. lalu menjilati rahang Renata dan kembali mencium bibir yang menggoda itu.
Suara perpaduan bibir mereka terdengar begitu erotis. Lidah Jefra pun kembali bermain peran, semakin liar dan gesit berdansa dengan lidah milik Renata. Keduanya bercumbu dengan gan-as, ke duanya sudah terbakar dengan api gair-ah.
Jefra membalikan posisi menjadi menindihi Renata tanpa melepas ciumannya.
"Renata, aku ingin kamu," bisik Jefra.
Renata membuka mata dan menatap sayu, wajahnya merona, bibirnya membulat, perasaannya menghangat. Dia senang mendengar Jefra menginginkan dirinya, sungguh terdengar seperti pernyataan cinta yang ke dua.
"Sentuh aku dan cintai aku, Jef."
Sesungguhnya Renata sudah mempersiapkan diri untuk hal ini, karena tubuh dan hatinya adalah milik Jefra. Dikalungkan tangannya pada leher Jefra, lalu bibir mereka kembali bercumbu dengan panas.
Mereka sungguh tidak merasa bosan untuk saling mengecap.
Jefra beralih mencumbui basah leher jenjang Renata, membuat Renata terbuai dengan rangsangan yang tiada henti. Mulai dinaikannya baju Renata, menyingkapnya sehingga terlihat perut polos seputih keju.
Meskipun Renata sadar jika mereka akan ke step yang lebih gila, tapi tetap saja merasa terkejut ketika mendapati tangan Jefra mengusap perut ratanya. Terasa kasar dan panas.
Jefra mulai membuka mulut dan menjulurkan lidah ke permukaan kulit leher Renata, memberikan jilatan dari bagian bawah terus naik ke bagian atas dengan menggunakan ujung lidahnya. Sedangkan tangannya masih terus mengusap perut Renata seduktif.
Bahkan sekarang Renata sudah merasa bagian bawahnya mulai terasa aneh, dia benar-benar merasakan nikmat yang tidak bisa disangkal. Jefra yang sedang bernapas di lehernya pun membuat Renata merinding karena merasa sensasi panas. Jefra menciumnya di leher, lalu menjalar ke pipi dan telinga. Kemudian menghirup napas di bagian dekat telinga yang membuat darah Renata berdesir-desir.
"Bolehkan aku membuka bajumu?" tanya Jefra seraya berbisik dengan parau.
Jantung Renata berdegup lebih kencang saat mendengarnya. Kenapa juga Jefra harus bertanya dengan sesuatu yang sudah jelas jawabnya?
"Boleh," jawab Renata dengan lirih.
Bersama dengan jawaban Renata, dilepasnya baju yang sudah tersingkap sebelumnya. Jefra menarik baju itu hingga lolos melewati kepala Renata, dan sangat merasa beruntung saat tahu jika sang Istri tidak memakai br-a. Kebiasaan Renata yang tidak menggunakan br-a saat tidur, sungguh mempermudah Jefra.
Jefra menelan saliva kasar saat melihat ke dua bukit kembar yang begitu indah, bola matanya bergetar saat bersirobok dengan buah buah cherry yang berwarna pink. Jefra ngiler dibuatnya.
__ADS_1
"Ja-jangan terus menatapnya," cicit Renata karena merasa malu dengan tatapan mesum suaminya.
Dengan sigap Jefra menahan tangan Renata yang ingin menutupi pemandangan indah itu.
"Sesuatu yang cantik ini jangan kamu sembunyikan dariku," ujar Jefra.
"Ca-cantik?" Entah kenapa Renata justru merasa senang.
"Cantik dan besar," Jefra memperjelas.
Renata menggigit bibir bawanya, dirinya baru menyadari kalau Jefra tidaklah sekaku yang dia kira, Suaminya itu ternyata mesum dan memiliki insting binatang buas.
Entahlah, Renata bingung harus merasa takut atau senang?
"Kita lakukan pelan-pelan," kata Jefra tersenyum lembut, senyum yang hanya diperuntukan bagi Renata.
Mau bagaimanapun juga, Jefra adalah Jefra, orang yang selalu melindunginya dan sangat mencintainya. Jadi untuk apa Renata takut?
Renata mengangguk setelah menguatkan hati dan pikirannya.
"Kamu manis sekali, sayang," bisik Jefra tepat di telinga Istrinya.
"Nghhh."
Renata mend-esah saat Jefra meremas ke dua bukit kembar miliknya. Pertama kali merasakan jika tubuh sensitifnya disentuh oleh seseorang, Renata mengakui aksi Jefra sungguh membuatnya nikmat, dan berimbas pada bagian bawah tubuhnya yang basah.
Jefra kembali memberikan kecapan-kecapan sensual pada area leher Renata, sembari tangannya tidak henti-hentinya meremas dan memijat sesuatu yang menurutnya begitu lembut, lalu menekannya, mengusapnya ke atas, diakhiri dengan dirabanya area ujungnya.
Renata hanya bisa melenguh panjang, meremas kuat lengan Suaminya. Napasnya terdengar berat. Jefra mendongak untuk melihat ekspresi Renata. Dan... Jefra sangat menyukainya, sesekali dia dapat melihat urat leher Renata menegang, bibir pink Renata terbuka, sedangkan matanya terpejam. Sungguh sexy.
Perasaan Jefra sampai bergejolak, dia teramat senang dengan keadaan ini. Akhirnya dia bisa menyalurkan hasrat terbenamnya selama ini.
Perlahan Jefra mulai menciumi bukit kembar Renata, membuat siempunya mengerang. Mendapat reaksi itu Jefra semakin gencar memainkan benda kenyal itu. Menjilat dan melumuri ujungnya dengan saliva.
Renata menahan desa-hannya dengan menggigit bibir bawah.
__ADS_1
Kemudian Jefra menghisap buah cherry milik Renata dengan kuat seakan air susu akan keluar dari sana. Menjilatinya buah cherry yang berada di dalam mulutnya.Tidak sampai di situ, tangan Jefra masih meremas bukit satunya. Memainkan buah cherry yang telah mengeras, memilin, mencubit, menyentil, dan menusuk dengan jadi telunjuk.
Oh damn... Renata tidak pernah merasakan hal seperti ini, ada rasa asing dan nikmat menyerangnya dengan cara yang memabukkan. Tanpa sadar dia membusungkan badannya, menekan kepala Jefra seakan memberi dukungan pada Suaminya itu, dan wajahnya mendongak ke atas.
"Jefra..."
Renata bahkan tidak sadar jika Jefra tengah melucuti celana tidurnya, sekalian celana da-lamnya.
Jefra menghentikan aksi, yang membuat Renata membuka mata, menatap sayu, seakan menanti perbuatan sang Suami selanjutnya. Namun, Jefra hanya menatap tubuh polos Renata tanpa berbuat apa-apa.
Renata merasakan tubuhnya semakin memanas saat baru menyadari jika sudah polos seperti bayi, dan juga dia dapat melihat tatapan kagum dari bola mata hitam Jefra. Renata hendak bergerak gelisah karena tidak tahan dengan tatapan itu, tapi tetap membiarkan Suaminya menatapnya hingga puas.
"Cantik," bisik Jefra.
Memang tidak bosan Jefra untuk terus memuji Istrinya cantik, yang mencakup segala hal pada diri Renata memang terlihat cantik baginya.
"Peluk aku, sayang," pinta Jefra kemudian.
Renata merangkul tubuh Jefra dengan patuh.
"Jef, apa kita sedang melakukannya?" tanya Renata dengan malu-malu.
"Melakukan apa?" Jefra bertanya justru bertanya balik.
Renata menelan saliva kasar, "Me-melakukan pagi yang pa-panas."
"Apa kamu mengharapkan sesuatu yang lebih panas dari pada ini?" Jefra menyeringai samar.
Renata tidak menjawab, tanpa sadar dia menjilat bibirnya yang mendadak kering. Kalau boleh jujur, Renata sangat menginginkan Jefra, menginginkan Suaminya itu untuk memilikinya seutuhnya. Dia tidak bisa menepis keinginan itu.
Srekk
Betapa terkejutnya Jefra saat Renata mendorongnya, membalikan keadaan menjadi dia yang di bawah dan Renata yang di atas.
Apa sekarang Renata yang ingin memimpin?
__ADS_1
_To Be Continued_