
"Tenang saja," Jelita tersenyum, tangannya mengelus lembut pipi sebelah kiri Ryo, "Aku yang akan mengajari kamu untuk mencintaiku."
Terlihat ekpresi Ryo yang begitu tertarik, "Kamu bisa mengajari aku?"
Jelita mengangguk, "Ya, Aku akan mengajari tuan muda Januartha yang bodoh ini."
"Kok jadi mengejek," Ryo mengerucutkan bibir kesal.
"Kan memang kamu bodoh, dan aku lebih bodoh karena sudah jatuh hati padamu," ucap Jelita, dia memang sudah benar-benar jatuh pada pesona sang Casanova.
Ryo tersenyum, "Dasar Bodyguard bodoh."
"Jadi apa aku boleh mengajari kamu mencintaiku?" tanya Jelita meminta kepastian.
"Boleh," jawab Ryo, "Tolong ajari aku tentang cinta."
Mereka berdua tersenyum dengan saling menatap.
"Jelita," panggil Ryo dengan lembut lagi.
Deg.
"Y-ya, berhenti memanggilku seperti itu," kata Jelita.
"Loh, kenapa?" Ryo terlihat bingung, "Kamu lebih suka aku panggil cupu?"
"Bukan seperti itu, aku hanya belum terbiasa dengan nada lembutmu, itu membuat jantungku tidak nyaman," jelas Jelita.
Ryo terkekeh, "Kamu ada-ada saja, kamu harus membiasakan diri."
Jelita mengangguk ragu, "Baiklah."
"Jelita," panggil Ryo lagi, terlihat sekali jika dia sedang menginginkan sesuatu.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Jelita yang tahu maksud Ryo.
"Bolehkan aku mencium kamu sekali lagi?" pinta Ryo dengan wajah memerah hingga sampai telinga, dia memang sudah candu dengan bibir berwarna pink gadis itu.
Jelita menatap ekpresi Ryo yang merengek seperti anak kecil.
"Jelita, bolehkah?" rengek Ryo yang melihat Jelita diam saja.
Jelita mengangguk, Ryo terlihat imut sekali saat merengek, dia jadi tidak bisa menolak.
Ryo memegang pipi kiri Jelita dan mencium dengan intens, dia menghisap bibir bawah dan atas milik Jelita dengan lembut. Jelita diam saja dengan mengatupkan bibirnya dan mata yang terpejam.
"Buka bibirmu dan balas ciumanku," kata Ryo di sela-sela ciumannya.
Dengan jantung yang berdetak menggila Jelita mengalungkan ke dua tangannya pada leher Ryo, dia membuka bibirnya memberi akses Ryo untuk melumαt lebih dalam, lalu Jelita mencoba membalas dengan mengecap bibir Ryo dengan gerakan yang kaku, berbanding terbalik dengan Ryo yang memang sudah profesional.
Mereka berdua hanyut dan tidak bisa berhenti, ciuman yang begitu sensual dengan tubuh yang semakin merapat satu sama lain. Jelita pun melupakan niatnya untuk mengajak Ryo makan malam.
**
Di sebuah apartemen mewah kelas atas, tempat Kavin tinggal.
__ADS_1
"Bang-sat!" umpat Reva dengan menutup pintu apartemen dengan kencang, Kavin sampai terlonjak dibuatnya.
"Bagaimana bisa Ryo membela cewek jelek itu dibandingkan aku?" geram Reva dengan mengepalkan tangannya marah.
"Tahan emosimu, Sweety," ucap Kavin mencoba menenangkan Reva.
"Ini nggak bisa dibiarkan," gumam Reva dengan tatapan tajam, "Aku akan menjauhkan Bodyguard jelek itu dari Ryo bagaimanapun caranya, hanya aku yang pantas di sisi Ryo."
Kavin menatap nanar Reva, padahal dia selalu ada untuk gadis itu, tapi Reva tidak pernah meliriknya sama sekali, selalu Ryo dan Ryo di pikiran Reva.
Reva menangis setelah, badannya bergetar, "Hiks, Aku sangat mencintai Ryo."
Kavin menghela napas berat, dia menarik Reva ke dalam pelukannya, "Jangan menangis, aku nggak suka melihatmu menangis, Sweety," ucapnya.
Reva semakin menangis.
"Tenanglah, aku akan membantumu memisahkan Ryo dan Bodyguardnya," lanjut Kavin dengan serius.
Apapun akan dia lakukan untuk membuat Reva bahagia, cinta tidak harus memiliki, jika Reva bahagia dengan Ryo maka Kavin akan membantu Reva untuk mendapatkan kebahagiaan itu.
"Terima kasih, Kavin," kata Reva dengan sesenggukan.
Kavin melepas pelukannya, dia menghapus air mata Reva, "Izinkan aku untuk menghiburmu seperti yang sudah-sudah."
Reva mengangguk, "Aku membutuhkan kamu, Kavin."
Setelahnya Kavin mencium bibir Reva dengan menggebu, Reva membalasnya dengan senang hati. Keduanya saling membuka pakaian masing-masing.
"Ahhh, Kavin..."
"Y-ya, aku tahu. Puaskan aku, Kavin."
Hubungan mereka memang sudah sejauh itu.
Jika ditanya kenapa Kavin bisa sangat mencintai Reva adalah karena cinta pada pandangan pertama, dia jatuh hati dengan Reva yang begitu cantik di matanya.
**
Jelita sedang memanaskan masakannya yang sudah dingin. Wajahnya masih terbakar karena apa yang telah dia dan Ryo lakukan sebelumnya dan sampai membuat mereka lupa waktu.
'Bisa-bisanya aku melakukan hal seintim itu bersama Ryo,' pikir Jelita dengan mengigit bibir bawahnya. Mereka hanya melakukan french kiss, tidak lebih, tapi bagi Jelita itu sudah sangatlah intim.
"Kenapa kamu menggigit bibirmu?" tanya Ryo yang tahu-tahu ada di sebelahnya, "Apa kamu mau lagi?"
"Nggak," jawab Jelita cepat.
Ryo cemberut, "Jutek banget, sih."
Jelita hanya diam sambil melanjutkan kegiatannya.
Dertt... Dertt
Ryo segera mengambil ponselnya yang berada di saku celana, dan langsung mengangkat panggilannya telepon yang masuk.
"Ya, Ayah."
__ADS_1
"..."
"Aku baik-baik saja."
Pemuda itu segera menjauh dari Jelita.
Jelita segera menyiapkan makanan yang sudah dia hangatkan dan menatanya di atas meja.
Tidak lama kemudian Ryo datang dan bergabung dengan Jelita untuk duduk di kursi makan, "Aku disuruh Ayahku untuk mengurus cabang perusahaan yang ada di kota ini," katanya.
"Apa ada masalah?" tanya Jelita penasaran.
"Hanya ada tikus yang melakukan penggelapan uang perusahaan," jawab Ryo seakan itu bukan masalah besar.
"Kamu bisa mengatasi itu, tuan muda?" tanya Jelita seakan meremehkan Ryo.
Ryo merasa tertohok karena pertanyaan Jelita, "Jangan remehkan aku," ujarnya.
"Tapi bukankah selama ini kamu hanya tahu bersenang-senang saja?"
"Meskipun aku terlihat bebas, tapi sejak dini aku sudah belajar untuk mengurus perusahaan keluargaku," jelas Ryo berusaha membuat Jelita percaya dengan kemampuannya.
Sebagai anak tunggal dari keluarga Januartha memang Ryo sudah dilatih menjadi sang penerus, dia selalu ditekan dan dituntut menjadi orang yang sempurna, dan karena itulah Ryo memilih bersenang-senang dengan para wanita untuk mengalihkan rasa penatnya itu.
"Ternyata kamu tidak sebodoh yang aku kira," ucap Jelita.
"Sembarang saja kamu, ya," kata Ryo terlihat sebal.
"Makan yang banyak supaya tambah pintar," kata Jelita dengan meletakan ayam goreng dan sayur di piring Ryo.
"Bukannya tambah pintar, tapi tambah melar," kilah Ryo tidak setuju dengan Jelita.
Jelita tertawa mendengarnya, "Nggak apa-apa melar, aku akan tetap menyukaimu, tuan muda."
Seketika Ryo menjadi merona dibuatnya, "Tapi aku nggak mau melar," tolaknya.
"Yasudah, makan secukupnya saja."
"Kalau begitu suapi aku," pinta Ryo.
"Eh?" Jelita terkejut mendengar permintaan Ryo. Kenapa Ryo jadi manja padanya?
"Suapi aku, ya?" rengek Ryo.
Jelita otomatis mengangguk, kelemahannya adalah rengekan Ryo yang terlihat imut.
"Apa sifat aslimu memang semanja ini?" tanya Jelita di sela-sela kegiatannya menyuapi Ryo.
Ryo yang sedang mengunyah mengangguk, "Ya, mungkin kamu akan semakin repot karena sifat asliku ini."
"Penakut dan manja, sebenarnya kamu tidak ada cocok-cocoknya menjadi Casanova," sindir Jelita.
"Hei, aku sudah bertobat."
_To Be Continued_
__ADS_1