Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Kencan


__ADS_3

Siangnya, di kamar hotel tempat Ryo menginap.


Jelita menatap heran Ryo yang tiduran di sofa dengan menggonta-ganti saluran televisi, entah apa yang akan Ryo tonton. Seharian ini pemuda itu hanya bermalas-malasan di kamar hotel.


"Kamu tidak pergi keluar, tuan muda?" tanya Jelita.


"Malas," jawab Ryo acuh, dia memencet tombol merah pada remote untuk mematikan televisi.


"Padahal ini weekend," ucap Jelita.


"Memangnya kenapa kalau weekend?" tanya Ryo seraya bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk untuk menatap Jelita yang berdiri di samping sofa.


"Kamu bisa pergi ke suatu tempat untuk menghilangkan rasa penat," saran Jelita.


Sekarang Ryo terlihat seperti tidak ada semangat untuk hidup, karena itu Jelita memberi saran.


Ryo berpikir sejenak, sekarang dia memang membutuhkan pengalihan untuk menghilangkan perasaan galaunya.


"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" Ryo justru bertanya pada Jelita.


"Kenapa jadi aku?"


"Karena aku akan mengajakmu kencang," ucap Ryo tersenyum manis.


"Ke-kencan?"


**


Sky Rink, di salah satu mall di Jakarta.


Jika ditanya tempat yang ingin Jelita kunjungan tentu saja jawabannya arena ice skating. Dia memang sangat menyukai olahraga berseluncur di atas permukaan lantai es.


Apa lagi dia sudah lama ingin mencoba keseruan bermain es skating di tengah-tengah mall.


Kini Jelita dan Ryo sedang berada di ruang penyewaan sepatu dan perlengkapan bermain.


"Apa kamu memang sangat menyukai sesuatu yang dingin?" tanya Ryo, baginya Jelita begitu unik karena sangat menyukai es krim dan bermain es skating.


"Ya," Jelita menggangguk, "Pakai ini," ucapnya sembari memakaikan Ryo sarung tangan, untuk bermain es skating mereka memang harus diwajibkan memakai kaos kaki dan sarung tangan.


Jelita bahkan sudah menyuruh Ryo agar memakai pakaian yang tebal dan hangat agar tidak kedinginan.


"Kamu juga harus memakainya," ujar Ryo berbalik memakaikan sarung tangan pada Jelita.


Jelita merona tipis, "Terima kasih," ucapnya.


"Hmm," gumam Ryo sembari tersenyum.


"Apa kamu bisa bermain es skating?" tanya Jelita mencoba menghilangkan rasa gugup mendadaknya.


"Oh, jelas..."

__ADS_1


Setelah siap, mereka segera melakukan perenggangan sebelum menuju ke tengah ice rink yang mempunyai kabut tebal.


"Jelas aku nggak bisa," sambung Ryo dengan menatap orang-orang yang berseluncur di es, karena sekarang adalah weekend tempat itu terlihat ramai. Jika bukan karena keinginan Jelita, dia mana mau datang ke tempat ini.


Jelita tersenyum geli melihat Ryo, "Aku akan mengajari kamu," ujarnya.


Dia memegang ke dua tangan Ryo dan menariknya agar mengikutinya melangkah di atas es.


"Tu-tunggu aku belum siap," Ryo terlihat sangat kaku, dia bahkan tidak bisa menekuk lututnya karena takut terjatuh.


"Sambil melangkah, cobalah untuk menjaga keseimbangan tubuh dan jangan melihat ke bawah agar tubuh lebih seimbang," ujar Jelita.


Ryo pun mencoba untuk melangkah dengan mengangkat kaki seperti berjalan biasa.


"Coba melangkah lebih tinggi dan pasti," instruksi Jelita.


Jelita mulai mengajari Ryo bagaimana caranya berseluncur, caranya berhenti, dan meluncur ke arah yang benar.


**


Di sisi lain.


Jefra mengawasi Jelita dan Ryo yang sedang berkencan, dia memang mengikuti diam-diam sejoli yang sedang dipenuhi dengan lovey dovey itu.


Bukannya berniat apa-apa, Jefra hanya ingin memastikan keselamatan mereka.


Dan benar saja, Jefra melihat jika ada orang yang mencurigakan, seorang pemuda dengan pakaian serba hitam dengan menggunakan topi dan masker.


"Jason," desis Jefra, dia segera menghampiri seseorang yang dia anggap Jason itu. Ya, dia tahu dari postur tubuh pemuda itu, Jefra memang pandai dengan kemampuan mengidentifikasi orang.


Pergerakan Jason terhenti karena menyadari jika Jefra sedang mendekati dirinya, "Ck, bang-sat," umpatnya segera berlari untuk kabur.


Jefra segera mengejar Jason, keadaan mall yang cukup ramai mempersulit dirinya.


Dugh


"Aduh," rintih seorang wanita yang bertabrakan dengan Jefra.


Jefra segera memegang pinggang wanita untuk menahannya agar tidak terjatuh, dia pun bertatap sejenak dengan wanita itu.


Kemudian tanpa berkata apapun dia menyingkirkan si wanita ke samping dan kembali mengejar Jason, sepertinya dia sudah kehilangan jejak.


"Hei! Di mana sopan santun kamu?" pekik si wanita dengan kesal. Dia kesal karena pemuda yang menabraknya tidak mengucapkan maaf.


"Awas saja jika aku bertemu dengannya lagi," gerutu Renata.


Wanita yang ditabrak Jefra adalah Dr. Renata, psikiater yang menangani gangguan nyctophobia Ryo sekaligus sepupu jauh Jelita.


**


Kembali ke area ice skating.

__ADS_1


Setelah mendapatkan pelajaran dari Jelita, Ryo dapat berseluncur meskipun masih sedikit kaku. Mereka berdua berseluncur bersama dengan bergandengan tangan. Terlihat raut kebahagiaan dari ke duanya.


"Menyenangkan juga," ucap Ryo.


"Ya, berseluncur di es memang menyenangkan," Jelita tersenyum manis.


Ryo tertegun sesaat melihat Jelita yang sedang tersenyum, jika seperti ini terus sudah dipastikan perasaannya untuk Jelita akan semakin bertambah dalam.


Tatapan Ryo menjadi sendu saat kembali teringat tentang wasiat sang Ibu. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan, dia tidak ingin mengecewakan Ibunya yang telah tiada karena menolak untuk dijodohkan, dan dia juga tidak sanggup untuk meninggalkan Jelita.


"Awas!" seru Jelita yang menyadarkan lamunan Ryo, gadis itu memeluk Ryo yang hampir bertabrakan dengan peseluncur lainnya.


"Jangan melamun," omel Jelita setelah melepas pelukannya.


"Maaf," ucap Ryo.


"Ugh," rintih Jelita saat merasakan pergelangan kakinya sakit. Sepertinya terkilir saat menolong Ryo tadi.


Ekspresi Ryo berubah khawatir, "Kenapa? Apa yang sakit?" tanyanya.


"Kakiku," jawab Jelita.


Ryo segera memapah Jelita untuk keluar dari arena ice skating. Mereka kembali ke ruang penyewaan.


"Biar aku lihat kakimu," ujar Ryo seraya berjongkok di hadapan Jelita yang sedang duduk di kursi besi yang memanjang.


"Aku baik-baik saja kok," ucap Jelita.


Ryo tidak mengacuhkan ucapan Jelita, dia tahu tabiat Jelita yang sok kuat, gadis itu pasti menyembunyikan rasa sakitnya. Ryo membuka sepatu sepatu berserta kaos kaki yang dikenakan Jelita.


Dan benar saja.


Pergelangan kaki sebelah kiri Jelita memar kemerahan, gadia itu benar-benar terkilir.


"Ugh," Jelita merasakan sakit saat Ryo menyentuh pergelangan kaki kirinya.


"Ck, dasar pembohong," Ryo berdecak kesal, bisa-bisanya Jelita berkata baik-baik saja.


"Tapi aku baik-baik saja, tuan muda," Jelita mencoba menyembunyikan rasa sakitnya lagi, dia tidak mau dianggap lemah.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit," final Ryo.


"Tapi, kencan kita...." Jelita tertunduk, padahal dia masih ingin bersenang-senang dengan Ryo.


Bukankah ini kencan pertama mereka?


"Itu nggak penting, masih ada hari esok untuk kencan," tukas Ryo.


"Hari esok? Apa kita akan kencan lagi?" tanya Jelita dengan tatapan polos.


Ryo menggigit pipi bagian dalamnya untuk menahan gemas karena tatapan polos Jelita, "Ya, apapun untukmu," jawanya.

__ADS_1


Wajah Jelita terbakar karena terlalu senang dengan jawaban Ryo.


_To Be Continued_


__ADS_2