Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Lembaran Baru


__ADS_3

Kavindra Rafeyfa, seorang pemuda berdarah Amerika Serikat, mata biru, kulit putih, rambut pirang, dan kelopak mata lurus. Karena ke dua orang tuanya yang selalu sibuk bekerja membuat dirinya menjadi pemuda yang bebas. Jika semakin diusut, Kavin adalah orang yang mengajari Ryo untuk masuk ke dalam kehidupan Casanova.


Namun, siapa yang menyangka jika si pemuda berandal justru kecantol dengan gadis populer di sekolah. Dia menyukai Reva saat pandangan pertama, gadis cantik dengan rambut panjang sepinggang berwarna honey blonde dan mata coklat belo yang begitu mempesona.


Karena seringnya memperhatikan Reva membuatnya tahu jika di balik sifat ceria gadis itu ada sisi rapuh yang tersembunyi. Reva sering menangis diam-diam jika sedang merenung sendiri, dan itu semakin membuat Kavin bersimpati. Namun, dia tidak berani untuk lebih mendekat pada Reva lantaran tidak percaya diri.


"Ryo, bisa kamu beri saputangan ini pada gadis yang sedang menangis itu."


Saat itu Kavin tidak tahu jika perkataannya justru akan mempersulit dirinya sendiri, perkataan yang tanpa diduga telah membuat tembok di antara dia dan Reva.


Pada akhirnya Kavin hanya menyesali peluang yang tidak dia ambil. Andai saja dia tidak meminta Ryo agar memberikan saputangan itu dan andai saja Kavin sendiri yang memberi saputangan itu, mungkin saja rasa obsesi Reva pada Ryo tidak akan muncul. Memang selalu ada kata 'andai' untuk mengawali setiap penyesalan.


Namun.


Apakah saat ini tembok di antara Reva dan dirinya sudah runtuh?


"Kavin... Aku ingin kamu nggak pergi, hiks.. Maafkan aku. Seharusnya aku nggak pernah membiarkanmu meninggalkan aku. Apakah aku terlambat?" lirih Reva dengan isak tangis.


Oh, apa ini? Apa Kavin sedang bermimpi?


Kavin mengurai pelukan Reva, memegang ke dua pundak milik gadis yang ingin selalu dia lindungi itu, "Reva, kamu..." dia bahkan tidak sanggup meneruskan perkataannya.


"Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku minta maaf karena telah menyakitimu dengan sengaja, aku begitu buta selama ini, aku baru menyadari perasaanku yang sebenarnya. Tolong maafkan aku, aku mencintaimu," ucap Reva dengan air mata yang masih mengalir.


'Reva... Mencintaiku...?' batin Kavin dengan mata yang membola sempurna.


"Aku mencintaimu, Kavin. Jangan tinggalkan aku, jika kamu memang harus pergi, tolong bawa aku bersamamu, hiks... Aku memang buka cewek yang sempurna, aku begitu kotor, tapi izinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku," sambung Reva.


Ya, Reva ingin keluar dari kubangan lumpur yang selama ini membelenggunya. Bisakah dia meminta tolong Kavin untuk membantunya keluar?


"Kenapa kamu diam saja? Bicaralah, hiks..." kata Reva saat Kavin diam saja.


"Apa... Apa kamu serius dengan perkataanmu itu?" tanya Kavin retorik.


Reva mengangguk, "Ya, aku sangat, sangat, sangat serius," jawabnya tegas.


Mulai sekarang Reva akan menghargai Kavin yang benar-benar mencintainya, sudah banyak pengorbanan Kavin untuk bisa mendapatkan cintanya.


Mata biru milik Kavin seketika berkilat senang, rasa bahagia menyeruak di hatinya.


Kavin menangkup ke dua pipi Reva, "Reva, sebenarnya aku masih belum percaya kalau kamu mencintaiku, bolehkah kamu bilang 7 kali lagi agar aku percaya?" ujarnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu."


Wajah Kavin merona merah saat Reva menuruti permintaannya, jantungnya pun bergemuruh.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku..."


Perkataan Reva terhenti saat Kavin mencium bibirnya, ciuman singkat namun menjalar pada hatinya yang seketika menghangat.


Kavin tersenyum lebar setelahnya, "Reva, ayo ikut aku ke LA," ujarnya.


Reva membalas senyuman Kavin dan mengangguk, "Ya," jawabnya.


Kemudian Kavin menarik tubuh Reva ke dalam pelukannya, "Aku juga mencintaimu, Reva," ucapnya.


Sore ini, mereka berdua akan melupakan pintu yang tertutup, dan fokus pada pintu yang terbuka setelahnya. Kavin dan Reva akan mencoba membuka lembaran baru pada hubungan mereka.


"Hmm," Gavin berdeham untuk menyadarkan ke dua orang yang tanpa sadar sudah menjadi tontonan apik di tengah-tengah terminal bandara.


Kavin segera mengurai pelukannya.


"Ganggu saja, jomblo," sengit Kavin, terlihat ekpresi tidak suka darinya.


"Sadarlah di mana kalian berada, bisa-bisanya cium dan peluk di tempat umum," ujar Ryo menggelengkan kepala.


Sedang Kavin dan Reva terlihat tidak perduli, mungkin memang dasarnya ke dua orang itu tidak mempunyai malu. Bahkan mereka kembali bertatapan dan saling membalas senyum.


Ryo turut senang jika Reva sudah menyadari perasaannya pada Kavin. Sebenarnya Ryo ingin memberikan pelajaran pada Reva karena perbuatan di Club saat itu. Namun, Ryo masih menghargai tali persahabatan yang terjalin cukup lama, dan tahu jika sejatinya Reva hanya tersesat karena mendapatkan perlakuan yang buruk dari Ibunya.


**


Malam harinya, pukul 11 malam.


"Jadi seperti itu ceritanya, Kavin dan Reva akhirnya pergi bersama ke LA," kata Ryo yang sedang terduduk di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Oh, itu bagus," ucap Jelita yang sedang duduk di sebelah Ryo sembari membaca buku bisnis, kacamata baca bertengger manis di hidung kecil namun mancung miliknya.


Ya, itu bagus, itu artinya Reva sudah sadar dari sikap bodohnya, Jelita jadi tidak usah repot-repot untuk memberi pelajaran untuk wanita itu lagi. Teguran dari Jelita sepertinya cukup membuat Reva sadar diri dan menerima kenyataan.


"Sebelum kepergiannya Reva menitipkan permintaan maafnya padamu, sayang," ujar Ryo.


"Pemintaan maaf?" tanya Jelita, dia mengalihkan fokus membacanya untuk menengok ke samping, menatap suaminya yang ternyata sedang menatapnya juga.

__ADS_1


Kepala yang miring dan kacamata yang agak melorot. Jelita tidak tahu jika itu membuat dirinya terlihat begitu imut di mata suaminya.


Ryo bahkan harus menahan mati-matian has-rat ingin menerkamnya, beberapa hari ini Ryo memang harus menahan diri karena sang istri yang sedang datang bulan.


"Reva minta maaf padamu untuk perbuatannya selama ini," ucap Ryo.


Jelita pun mengangguk, "Ya."


"Kamu memaafkannya begitu saja?" tanya Ryo.


"Memaafkan memang nggak akan mengubah sesuatu yang telah terjadi, tapi nggak ada salahnya untuk memaafkan seseorang yang sudah sadar akan kesalahannya," ucap Jelita sambil tersenyum.


"Istriku memang terbaik."


Ryo merangkul pundak Jelita dan mencium puncak kelapa istrinya itu. Ada suatu kebanggaan dari Ryo untuk sang istri.


"Aku berharap nggak ada lagi seseorang yang mengganggu rumah tangga kita lagi," ucap Jelita.


"Tapi bukannya itu adalah derita mempunyai suami super ganteng sepertiku?" Ryo tergelak, dia berniat bercanda.


Jelita merengut sebal.


"Ngomong-ngomong kamu habis membeli apa di mall?" tanya Ryo mengalihkan pembicaraan.


Seketika wajah Jelita merona karena pertanyaan Ryo. Dia teringat dengan apa yang dibelinya, salahkan Renata yang menyarankan ide konyol itu. Renata berkata jika honeymoon akan semakin berkesan jika Jelita membeli itu.


Ya, itu...


Linge-rie dan beberapa pakaian haram lainnya.


"A-aku hanya memberi perlengkapan honeymoon kita," jawab Jelita.


"Oh, ya? Apa saja?" tanya Ryo ingin tahu.


"I-ini keperluan cewek," jawab Jelita.


Ryo terkekeh, "Ya, deh."


Entah akan seperti apa honeymoon mereka nanti.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2