Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Jangan Marah


__ADS_3

"Jelita, makanlah yang banyak supaya punggungmu cepat sembuh," ucap Gavin dengan berlagak sok perhatian.


"Hmm," Jelita hanya bergumam.


Sehabis pertemuannya dengan Kavin, dia langsung ke kantin untuk mengisi perutnya yang keroncong, berdebat dengan Kavin membuatnya lapar.


"Kamu tahu? Selama kamu di rumah sakit Ryo seperti orang kerasukan setan ga—Asu!" perkataan Gavin terpotong karena merasakan kakinya diinjak Ryo.


Gavin menatap Ryo dengan dahi mengkerut karena merasakan sakit pada kakinya, sedangkan Ryo melotot memperingati Gavin untuk tidak berbicara macam-macam. Ryo bisa malu sendiri jika Gavin bilang dia galau karena Jelita.


Jelita menatap Gavin aneh, "Apa?" tanyanya penasaran dengan kelanjutan perkataan Gavin.


"Ah, ng-nggak," jawab Gavin terbata karena Ryo semakin kencang menginjak kakinya.


Kemudian Jelita hanya mengangkat bahu, dia melanjutkan acara makanya.


Gavin bernapas lega saat Ryo melepaskan injakan kakinya, kemudian dia menendang kaki Ryo untuk melakukan pembalasan. Ryo yang merasakan kakinya di tendang tidak tinggal diam, dia membalas menendang kaki Gavin, dan pada akhirnya mereka saling tendang menendang di bawah meja. Aksi ke dua pemuda itu menyebabkan meja bergoyang, Jelita yang sedang makan pun menjadi terganggu dibuatnya.


Ekspresi wajah Jelita menggelap, dia menggesekkan garpu yang sedang dia pegang pada piring hingga menimbulkan bunyi gesekan yang membuat ngilu dan merinding secara bersamaan. Ryo, Gavin, dan bahkan Jefra yang sedari tadi diam langsung menutup telinga mereka.


Ryo langsung menggenggam tangan Jelita yang memegang garpu supaya berhenti, "Stop," ucapnya.


Bunyi yang menggangu itupun akhirnya berhenti, ke tiga pemuda yang tadi menutup telinga merasa lega setelahnya.


"Kalian berdua diam," ujar Jelita menatap Ryo dan Gavin tajam.


Ke dua pemuda itu menjadi ciut, mereka beruntung karena Jelita yang masih belum pulih sepenuhnya, jika tidak pasti mereka sudah babak belur. Sedangkan Jefra yang sejak tadi diam hanya menahan tawa karena baru kali ini melihat ekspresi tuan mudanya yang seperti kucing ketakutan.


"Ini salah Ryo," ucap Gavin dengan nunjuk Ryo dengan ekor matanya.


Ryo menelan saliva berat. Oh, ayolah, dia juga bingung kenapa jadi setakut ini pada Jelita.


Jelita langsung mendelik pada Ryo.

__ADS_1


"Be...berani-beraninya kamu melotot pada majikanmu," kata Ryo dengan terbata-bata, untuk mengatakan itu saja dia butuh keberanian.


"Ck," Jelita berdecak kesal, dia melengos dari menatap Ryo.


Ryo menatap Jelita dengan rumit, 'Apa dia marah? Aku harus apa kalau dia marah?' pikir Ryo semrawut.


Kemudian Ryo menatap Gavin untuk meminta arahan tapi pemuda itu justru menunjukkan gerak-gerik tidak perduli dengan bersiul, Ryo berganti menatap Jefra tapi pemuda itu juga tidak perduli dengan pura-pura menatap lurus ke depan.


"Jelita," panggil Ryo.


"Ya?" jawab Jelita.


"Jangan marah dong, nanti aku belikan kamu es krim," ucap Ryo, sebenarnya dia ragu jika Jelita bisa dibujuk dengan es krim.


"Oke," Jelita justru berbinar karena tawaran Ryo.


Ryo menatap Jelita tidak percaya, ternyata Jelita sangat mudah untuk dibujuk dengan es krim, dia kira Jelita sama seperti wanita lain yang sangat susah dibujuk jika tidak dengan barang-barang mewah.


"Hai, Baby," tiba-tiba saja Reva datang dan merangkul leher Ryo dari belakang.


Karena merasa aura Jelita yang tidak enak Ryo langsung melepas paksa tangan Reva, sia-sia dia mandi satu truk hand sanitizer jika Reva masih menempelinya begini, "Apa sih, babi babi aku bukan babi ngepet," sengit Ryo.


"Pftt, dasar babi ngepet," ledek Gavin sambil menahan tawa.


"Terus mau dipanggil apa dong?" tanya Reva dengan nada manja.


"Wiro sableng," jawab Ryo ngasal.


Semua yang mendengarnya seketika speechless.


"Tentu saja Ryo, R-Y-O," lanjut Ryo dengan mengeja namanya.


Reva tertawa kikuk, "Aku juga tahu nama kamu Ryo, Baby itu panggilan sayangku untukmu," ucapnya.

__ADS_1


Ryo hanya memutar bola matanya, sebenarnya dia malas berbicara dengan Reva, gadis itu begitu susah dikasih tahu dengan bahasa manusia, buktinya sudah dia tolak berkali-kali pun Reva tidak mengindahkan.


Reva mengalihkan tatapannya pada Jelita yang menatapnya tajam, "Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya.


"Aku hanya kagum dengan kecantikan kamu," jawab Jelita berbohong, padahal dia ingin sekali mencakar wajah bermakeup tebal Reva.


"Oh, terima kasih," ucap Reva sembari mengibaskan rambutnya, sepertinya dia senang saat mendapat pujian itu, "Apa kamu mau tahu rahasia menjadi secantik aku?" sambungnya.


"Ah, nggak. Aku yang jelek ini mana bisa menjadi secantik kamu," tolak Jelita.


"Bagus deh, kalau kamu sadar diri," ujar Reva dengan tatapan mengejek, "Tapi setidaknya cobalah memakai makeup untuk menutupi muka jelek kamu itu. Maaf, ya, bukan bermaksud untuk menghina, tapi dengan muka jelek seperti itu nggak akan ada cowok yang suka padamu," sambungnya.


Reva terlihat puas karena sudah menghina Jelita di hadapan Ryo, dia ingin memberitahu gadis berkacamata itu jika hanya dialah yang pantas bersama Ryo, cewek jelek seperti Jelita bukanlah level Ryo.


Ryo menyatukan kedua alisnya karena tidak suka dengan ucapan Reva, dia ingin membuka mulut untuk membela Jelita. Namun, seseorang menyelanya.


"Siapa bilang nggak ada yang suka dengan Jelita?"


Semuanya pun mengalihkan atensi pada orang yang baru datang itu. Vano tahu-tahu sudah berdiri di samping Jelita, "Aku suka kok dengan Jelita," katanya seraya menatap Reva, "Sepertinya kamu yang perlu makan makeup, supaya kamu bisa cantik dari dalam juga," lanjutnya.


Reva mengepalkan tangannya, dia marah karena ada laki-laki tampan yang membela Jelita, memangnya apa bagusnya Jelita?


"Aku suka gayamu, Dude," ucap Gavin memberi jempol pada Vano.


Vano tidak mengacuhkan Gavin, "Hai, Honey. Kamu ke mana saja?" tanyanya pada Jelita.


'Apa-apaan cowok itu? Jadi dia serius menyukai Jelita?' batin Reva menatap tidak percaya Vano yang sedang menggoda Jelita.


"Nggak ke mana-mana," jawab Jelita cuek.


"Padahal aku sangat kangen sekali, aku ingin bertemu denganmu untuk bertanya tentang hubungan kamu dengan si penjahat kelamin," ucap Vano seraya menunjuk Ryo dengan dagunya, "Gosip tentang kamu yang dekat dengan dia nggak benar, kan? Kamu hanya dekat dengan aku saja, kan?" lanjut Vano, dia yang mempunyai image irit bicara dan berhati es kini menjadi cerewet sekali.


Tentang gosip yang beredar di kampus memang sudah sampai ke telinga Vano, dia sih senang-senang saja jika Jelita digosipkan dekat dengannya tapi dia tidak suka jika Jelita digosipkan dekat dengan Ryo.

__ADS_1


Ryo yang sejak tadi sudah kesal dengan kedatangan Vano semakin menjadi-jadi rasa kesalnya, "Kami memang dekat, bahkan lebih dekat dari yang kamu kira," ucapnya.


_To Be Continued_


__ADS_2