
"Jelita..." gumam Ryo dari dalam tidurnya.
Gerakan tangan Reva yang mencoba melepas tautan kancing pada kemeja Ryo berhenti seketika, dia mematung saat mendengar Ryo memanggil nama Jelita.
"Jelita..."
Wajah Reva seketika mengeras karena marah, "Jangan bilang orang yang kamu cintai itu adalah cewek jelek itu," geramnya.
Hening. Reva tidak mendengar Ryo yang menyebut nama Jelita lagi, yang terdengar adalah suara napas teratur si pemuda.
"Shtt," Reva mendesis saat merasakan jika tubuhnya semakin panas, "Ahh, Baby... bangunlah, bantu aku."
Ryo masih saja tertidur, padahal Reva sudah sangat tersiksa karena tubuh sensitifnya sudah sangatlah gatal dan ingin sekali disentuh. Reva segera melepas br-a miliknya, terlihat ke dua bukit yang puncaknya sudah menegang dengan sempurna. Kemudian dia meraih tangan kanan Ryo dan membimbingnya untuk meremas salah satu bukit miliknya, "Oh, yes... remas terus, Baby."
Reva terlihat menikmati permainan solonya itu, dia menyayangkan Ryo yang masih saja tertidur pulas.
"Baby... aku sudah nggak tahan, uhhh," rengek Reva, tangan satunya menjalar pada tubuh bagian bawah miliknya yang masih terlapis celana da-lam dan mulai menggeseknya.
Terlihat wajah Reva yang sudah sangat memerah dengan napas yang terengah-engah. Lalu dia memajukan wajahnya berniat menciumi dada bidang Ryo yang terbuka.
Namun.
Tok... Tok... Tok
"Buka pintunya!" terdengar suara dari balik daun pintu.
Reva tidak bergeming, dia terlalu terbawa kabut naf-su yang sudah menguasainya, bibirnya terus saja memberikan ciuman pada tubuh bagian depan Ryo hingga meninggalkan jejak memerah di sana.
Jelita si pengetuk pintu, dia memang sedang mencari Ryo di setiap kamar di Club, Jelita langsung mengeluarkan pistolnya karena tidak mendengar jawaban apapun dari dalam.
Dia akan membukanya secara paksa.
Dor
Jelita menembak lubang kunci seperti yang dia lakukan di ruang ganti pelayan.
BRAK
Pintu langsung terbuka dengan paksa tepat di saat Reva ingin mencium bibir Ryo.
"Dasar Jalαng!" umpat Jelita seraya menarik rambut Reva hingga wanita itu menjauh secara paksa dari Ryo, "Apa yang sedang kamu lalukan, ha?"
"Akh! Sa-sakit, lepaskan aku..." rintih Reva yang terlihat tidak berdaya.
__ADS_1
Reva terlihat lemah karena gair-ahnya yang sudah sangat memuncak.
"Minggir!" Jelita langsung mendorong tubuh hampir telanja-ng Reva hingga terjatuh ke rantai yang dingin.
"Ryo, bangun," sambung Jelita menggoyang tubuh Ryo, tapi pemuda itu tidak bangun.
Jelita pun langsung paham dengan situasi yang sedang terjadi saat ini, Ryo tengah dibius obat tidur.
Pandangan Jelita teralihkan pada kamera ponsel Reva yang sedang merekam, dia langsung meraih ponsel itu dan mematikan rekaman yang sedang berlangsung. Jelita memutar hasil video rekaman dan dia bernapas lega karena ternyata dirinya belum terlambat, lalu dia segera menghapus video rekaman itu.
Prakk
Setelahnya Jelita melempar ponsel milik Reva ke tembok hingga hancur berkeping-keping.
Jelita langsung mengancingkan kembali kemeja Ryo, dia bahkan mengabaikan hatinya yang mencelos saat melihat dada Ryo yang terdapat jejak cumbuan Reva.
"Ahh..."
Terdengar suara desαh dari Reva yang masih terduduk di lantai, terlihat Reva yang mulai memainkan tubuh bagian bawahnya dengan jari-jarinya sendiri.
"Menjijikkan," ucap Jelita menatap Reva jijik.
Seketika Jelita tersenyum miring karena memikirkan sesuatu yang mungkin akan berbalik menjatuhkan reputasi Reva.
Jelita mengambil ponsel dari kantung celana Ryo. Dengan menggunakan ponsel itu Jelita melakukan panggilan video pada ponselnya sendiri. Lalu mengambil ponsel miliknya dan mengangkat panggilan video itu, setelahnya meletakan ponsel miliknya di meja.
Ya, Jelita akan merekam dengan panggilan video itu.
Jelita segera menggendong Ryo di belakang punggungnya dan keluar dari kamar.
"Hei, kamu," panggil Jelita pada seorang pemuda bertubuh gempal yang sedang menyapu lorong.
"Ya," sahur pemuda itu yang ternyata adalah cleaning servis.
"Apa kamu menginginkan uang yang banyak?" tanya Jelita.
Pemuda gempal itu menggangguk semangat, "Tentu saja mau," jawabnya.
"Kamu hanya harus memuaskan seorang wanita yang berada di kamar itu," ucap Jelita dengan menunjuk kamar di mana Reva berada.
"A-apa? Me-muaskan wanita?" si pemuda menelan saliva kasar.
"Ya."
__ADS_1
**
Setelahnya Jelita memberi tahu Kavin dan Gavin jika Ryo sudah ditemukan, lalu segera keluar dari Club malam.
Jelita segera memasukan Ryo ke kursi belakang mobil dan menidurkan pemuda itu di sana.
Kemudian dia masuk ke kursi depan untuk mengemudikan mobil. Sebelum itu Jelita melihat panggilan Video yang tersambung di ponsel Ryo. Tidak lupa juga menyalakan fitur perekam layar.
Jelita bisa melihat si pemuda gempal yang mulai mengangkat Reva ke atas ranjang dan mulai saling mencumbu satu sama lain. Bahkan Reva terlihat begitu agresif dengan membuka kakinya lebar-lebar untuk menyambut si pemuda yang bahkan tidak dia kenal itu.
"A-apa ini yang namanya making love?" tanya Jelita dengan bergidik ngeri. Matanya sudah tercemar dengan adegan panas yang disajikan Reva dan si pemuda gempal.
"Apa dulu Ryo sering melakukan hal seperti ini dengan banyak wanita?"
Jelita melirik Ryo yang masih tidur lewat kaca sepion tengah.
Hatinya sangat sakit membayangkan Ryo yang ber-cinta dengan banyak wanita. Bahkan matanya sudah memanas.
Jelita mengharapkan Ryo untuk mencintainya apa adanya sampai menyamar menjadi Bodyguard yang cupu. Akan tetapi, apa dia bisa mencintai Ryo apa adanya?
"Aku nggak boleh seperti ini, lagi pula Ryo sudah berubah menjadi lebih baik. Bukankah aku harus menerima masa lalu Ryo? Dia bahkan sudah menerimaku yang berpenampilan jelek ini," gumam Jelita menguatkan hatinya sendiri.
Ya, Jelita akan tetap mencintai Ryo bagaimanapun masa lalu pemuda itu, karena cinta adalah di mana dia sanggup menerima Ryo apa adanya.
**
Sesampainya di rumah, pukul 12.00 malam.
Jelita membawa Ryo ke kamar dan menempatkan pemuda itu di atas ranjang. Dia melepas sepatu dan kaos kaki Ryo.
Setelahnya Jelita duduk di bibir ranjang sembari menatap dalam wajah Ryo yang begitu damai saat tertidur.
Tangannya terjulur untuk mengelus kepala yang ditumbuhi rambut hitam tebal milik Ryo, "Bisa-bisanya kamu tidur seperti orang mati saat sedang digerayangi cewek," ucapnya sedikit terkekeh.
"Ugh," Ryo tiba-tiba saja merintih di dalam tidurnya.
"Ryo? Kamu kenapa?" tanya Jelita khawatir saat melihat Ryo yang membuka mata dan merintih seperti menahan sakit.
"Ahh," Ryo segera bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk, napasnya memburu dengan wajah yang memerah seperti demam.
"Ada apa denganmu? Apa kamu demam?" tanya Jelita lagi.
"Jelita," Ryo menatap Jelita dengan tatapan yang begitu sayu, "Jelita, badanku panas sekali, rasanya sangat nggak enak..." lirihnya.
__ADS_1
_To Be Continued_