Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Kembali Tanpa Jefra


__ADS_3

Alex Rudiart adalah seorang pemimpin sebuah kelompok mafia yang menjadi buronan pihak berwajib di sepanjang hidupnya, si pemilik jaringan pemasok zat haram paling berkuasa di dunia. Sepak terjangnya di dunia mafia terkenal sadis, brutal, dan licin di setiap aksinya. Alex tidak segan-segan untuk membunuh siapa saja dengan dalih agar bisa melanjutkan kegiatannya dalam melawan hukum.


Namun, siapa yang menyangka jika malam ini Alex akan tertangkap oleh para tentara Indonesia dan Italia yang bekerjasama untuk mengepungnya.


Alex sudah tamat.


Jefra yang sedang menggendong Renata ala bridal style menatap Alex yang sedang dibawa oleh para tentara, terlihat jika kaki dan bahu pria itu sudah tertembak. Para bawahan Alex yang berjumlah 100 orang lebih pun juga segera diamankan.


David dan Vivi menghampiri Jefra.


"Agen Jefra, bagaimana bisa kamu melibatkan warga sipil?" Vivi menatap Jefra dan Renata bergantian.


"Dan kamu sudah membuatnya dalam bahaya!"


Vivi terlihat marah. Ya, karena melibatkan warga sipil dalam misi seorang agen rahasia adalah kesalahan fatal. Seharusnya Jefra lebih berhati-hati untuk bertindak.


Jefra terdiam, tadinya dia juga tidak mengizinkan Renata ikut bersamanya, akan lebih baik jika Renata lari bersama Jelita dan Ryo, tetapi gadis itu justru memaksa ingin ikut dengannya.


"Sudahlah, Vivi. Lagi pula Jefra sudah berhasil melindunginya," ucap David mencoba menenangkan situasi.


"Beruntunglah karena dia tidak tahu siapa dirimu sebenarnya," sengit Vivi.


"Karena itu aku membuatnya pingsan," ucap Jefra sembari menatap wajah Renata yang damai. Di dalam hatinya terus mengatakan maaf pada kekasihnya itu.


"Kerja bagus," David menepuk bahu Jefra, "Misi kita sukses berkat kamu."


"Tetap saja dia melakukan kesalahan," Vivi masih merasa kesal dengan Jefra.


"Seharusnya kita berterima kasih pada Jefra untuk ini," lerai David pada kekesalan Vivi.


Vivi menghembuskan napas berat, "Baiklah."


Tidak bisa dipungkiri jika Jefra memang yang berperan penting dalam keberhasilan misi mereka, pemuda itu adalah ujung tombak.


"Bagaimana dengan tuan muda Januartha?" tanya Jefra kemudian.


Jefra berharap jika Ryo dan Jelita baik-baik saja.


"Beberapa tentara yang ingin menolong datang terlambat," jawab Davin.


"Apa maksudmu?" rahang Jefra mengeras.


"Jason dan kawannya sudah terkapar tidak berdaya saat tentara datang menolong," jelas David.


Oh, memang tidak seharusnya Jefra mengkhawatirkan Ryo yang bersama dengan Jelita.


"Jason juga sudah ditangkap," timpal Vivi.


"Untunglah," Jefra lega mendengarnya.

__ADS_1


Tap


Suara langkah kaki menginterupsi.


Mereka bertiga terkejut saat tahu siapa pemilik langkah kaki itu.


Jendral Sebastian.


Karena ini adalah sebuah misi yang melibatkan kerjasama antar negara, yang pastinya Sebastian sang Panglima TNI ikut andil di dalamnya.


"Hormat, Jendral!" seru Jefra, David, dan Vivi serempak, hormat pada sang Jenderal dan menegakkan posisi berdiri mereka.


Sebastian menatap Renata yang berada di gendongan Jefra tanpa ekspresi.


"Kenapa putriku bisa bersama denganmu?" tanya Sebastian pada Jefra.


David dan Vivi saling tatap karena mereka baru tahu jika gadis yang digendong Jefra adalah putri dari sang Jenderal.


Bukankah riwayat Jefra sudah tamat?


"Ada hubungan apa kamu dengan putriku?" tanya Sebastian lagi.


Jefra mendapat skakmat dari sang calon mertua.


**


Pagi harinya.


Sebuah ornamen bercahaya menggantung di atas kepala ranjang, ada sofa lengkap dengan mejanya terpajang dengan anggun beberapa meter di depan kasur. Lantai marmer berwarna cream terang melapisi seluruh bagian bawah ruangan. Jendela-jendela besar yang menjadi penghubung balkon masih tertutup tirai berwarna putih.


Kamar hotel.


Kapan dia ada di kamar hotel? Apa Jefra yang membawanya? Kemudian Renata mengingat situasi menegangkan semalam.


Itu bukanlah mimpi, dan Renata mengingat jika Jefra yang sudah membuatnya pingsan.


Renata menggigit bibir bawahnya, dia menerka-nerka kenapa kekasihnya tega melakukan itu.


"Tega sekali," gumam Renata dengan tatapan keruh.


Cklek


Lamunan Renata buyar ketika mendengar pintu terbuka, tampak Jelita dari balik pintu dan berjalan masuk. Istri dari Ramaryo itu terlihat cantik dengan balutan dress berwarna putih gading. Begitu feminim untuk kepribadian Jelita yang tomboy dan jago memukul orang.


"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Jelita sembari membuka tirai jendela.


Sinar matahari menyeruak masuk dari jendela kaca. Renata menyipitkan mata karena silau. Lalu melihat ke arah jam yang berada di meja sebelah ranjang, pukul 10 pagi, pantas saja.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Jelita yang mendekat pada Renata.

__ADS_1


Renata mengeryit bingung, "Perasaan apa?" tanyanya.


"Kata Jefra kamu pingsan karena sangat ketakutan. Penyerangan itu memang sungguh tiba-tiba, kamu pasti shock karena berada di situasi yang berbahaya seperti semalam."


"Aku pingsan karena shock?" beo Renata.


"Ya, memang kenapa lagi?" Jelita menatap heran Renata.


Renata terdiam sesaat, untuk memikirkan kejanggalan yang Jelita katakan. Jujur dia memang shock semalam, tapi dia bukan pingsan karena itu. Renata ingat betul kalau Jefra yang telah memukulnya hingga pingsan. Serta senyuman Jefra yang memiliki banyak arti juga tidak luput dari ingatannya.


"Ah, nggak, aku memang sangat shock," jawab Renata berdalih.


"Ngomong-ngomong di mana Jefra?" tanyanya kemudian.


"Baru saja bangun tapi sudah menanyakan Jefra, dasar dimabuk cinta, apa kamu kangen padanya?" ucap Jelita meledek.


Renata merona karena ledekan Jelita, walau sebenarnya tujuan mencari Jefra adalah untuk bertanya langsung atas sesuatu yang mengganjal pikirannya, dia tidak mau menerka-nerka hal yang buruk.


"Tapi sayangnya kamu nggak bisa bertemu Jefra dulu," ucap Jelita.


"Kenapa?" tanya Renata bingung.


"Jefra sedang berurusan dengan kepolisian Italia."


Renata terkejut saat mendengar jawaban Jelita, "A-apa?"


Jelita pun menceritakan tentang kelanjutan dari kejadian semalam.


Yang Jelita tahu pihak kepolisian Italia yang telah menolong mereka, serta menangkap Jason dan orang-orangnya, karena itu Jefra harus berurusan dengan kepolisian Italia untuk menjadi saksi untuk mengurus semuanya.


"Kita akan kembali ke Indonesia tanpa Jefra."


"Lalu kapan aku bisa bertemu dengan Jefra?" tanya Renata dengan kecewa.


**


Ujung dari Honeymoon, mereka bertiga kembali terbang ke Indonesia tanpa adanya Jefra.


Sepanjang perjalanan pikiran Renata terus saja tertuju pada pemuda tercintanya, keinginan untuk bertemu dengan Jefra pupus, untuk menghubungi lewat ponsel pun sulit.


Jelita juga berkata jika Renata tidak perlu khawatir berlebih. Namun, tetap saja dia tidak bisa melakukan itu.


"Berurusan dengan kepolisian memakan waktu yang tidak sebentar, apalagi ini bukan negara kita sendiri," ucap Jelita.


Renata juga tahu tentang itu. Masalahnya, Renata merasa jika Jefra memiliki sebuah rahasia. Sejak awal Renata memang merasa jika Jefra misterius.


Semoga saja itu bukan sesuatu yang buruk.


"Jefra, jangan membuat aku berpikir buruk terhadapmu, padahal kita baru saja menjalin hubungan," gumam Renata tersenyum masam.

__ADS_1


_To Be Continued_


Note : Cerita ini hanya karangan otor saja ya~


__ADS_2