
Sachi menyeruput Dalgona Coffee miliknya.
Sebelum pergi ke rumah sakit Sachi menyempatkan diri meminum kopi di cafe dalam mall tidak jauh dari rumahnya. Berniat menghilangkan kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.
Gadis manis itu memainkan ponselnya sembari menunggu Renata dan Jelita yang ingin bergabung dengannya. Sebenarnya Sachi sudah terbiasa dengan kesendiriannya itu, tetapi dia cukup senang karena ada seseorang yang ingin menemaninya.
"Lihat siapa ini? Bukankah Sachi?"
Sachi mendongak. Bola matanya membesar ketika melihat si pemilik suara yang menginterupsinya. Seorang pemuda yang Sachi kenal bernama Farrel, bisa dibilang teman semasa sekolahnya dulu sekaligus orang yang sempat menyukainya.
"Sachi si Jal*ng."
Sachi menundukkan wajahnya. Padahal kejadian itu sudah lama sekali, tapi kelihatannya Farrel masih sangat membencinya.
"Siapa cewek ini, sayang?" tanya seorang gadis yang mengapit lengan Farrel, mungkin kekasihnya.
"Jal*ng sok polos yang suka bermain dengan om-om," jawab Farrel dengan tatapan jijik.
"Yang benar, bro?" ucap si pemuda yang satunya.
"Dulu aku sempat menyukainya, tapi dia menolakku karena lebih memilih menjadi jal*ng."
Sachi meremas ponsel miliknya kencang. Ingatannya kembali ke saat di mana Farrel menyatakan cinta padanya. Dia yang sakit tentu saja menolak mentah-mentah, tidak hanya Farrel tapi semua laki-laki yang menyukainya pun bernasib sama. Karena itu pula Sachi dicap buruk, dianggap suka mempermainkan hati laki-laki. Bahkan sampai-sampai muncul gosip jika Sachi berkencan dengan om-om.
Semasa sekolah yang benar-benar suram. Beruntunglah karena Sachi adalah gadis yang tangguh, dia bisa melewati itu semua.
"Cih, dasar cewek nggak tahu malu," sinis si kekasih Farrel.
"Kalau dilihat-lihat, cewek ini cantik juga. Nggak usah bersama om-om. Bersamaku saja yuk," kata si pemuda satunya, bahkan dengan kurang ajarnya meraih rambut panjang Sachi untuk diciumnya.
Sachi sontak berdiri, lalu menyiram pemuda itu dengan Dalgona Coffee miliknya yang baru diminum sedikit, yang tentunya masih terasa panas.
"Jangan sentuh!" seru Sachi.
"Akh! Panas!" pekik si pemuda.
Farrel dan kekasihnya pun terkejut, begitu pula dengan semua pengunjung cafe.
"Apa-apa kamu, sialan!" sentak Farrel seraya mengangkat tangan kanannya berniat menampar Sachi.
Namun, gerakannya terhenti ketika ada sebuah tangan yang memegang lengannya.
Jelita si pemilik tangan. Dia mencengkram kuat tangan Farrel hingga si empunya kesakitan.
"Arg!" rintih Farrel kesakitan. Sungguh di luar dugaan, tangannya terasa ingin patah hanya karena dipegang kuat oleh seorang wanita, lebih parahnya wanita yang sedang hamil.
__ADS_1
"Sachi," Renata mencoba mendekati Sachi.
Sachi terlihat gemetar dan pucat, merasa sangat takut saat Farrel berniat menamparnya. Karena membuatnya teringat dengan memori sang Ayah yang memberikan banyak tamparan pada Ibunya dulu.
"Lepaskan dia!" bentak kekasih Farrel pada Jelita.
Jelita melirik gadis yang membentaknya itu dengan begitu tajam. Kekasih Farrel bungkam seketika.
"Aku paling nggak menyukai orang-orang seperti kalian ini," kata Jelita.
Farrel menegang lengannya yang sudah dilepaskan Jelita, benar-benar terasa ingin patah.
"Begitu busuk, kasar, dan nggak bermartabat. Apa menyakiti wanita itu selalu disebut seorang pria? Aku nggak berpikir begitu, mereka tercela dan seperti banci."
"Cewek itu yang menyiram kopi duluan! Lihatlah wajahku hampir melepuh!" hardik si pemuda yang disiram Sachi tadi, tangannya menunjuk Sachi yang dipeluk Renata.
"Karena kamu pantas mendapatkan itu. Bahkan aku merasa kalau itu nggak cukup untuk memberi pelajaran cowok kurang ajar sepertimu," kata Jelita dengan ekspresi datar.
"Jal*ng satu ini!" raung Farrel, tidak kapok dengan kondisi tangannya.
"Cukup. Aku nggak ingin membuat keributan di sini," ucap Jelita sembari menggerus perutnya yang buncit, merasakan tendangan halus dari bayi-bayinya, seperti ingin agar sang Mommy segera memberi ganjaran untuk orang-orang busuk itu.
"Siapa yang mencari keributan pada siapa? Akulah yang menjadi korb───"
Ke tiga orang itu seketika terkejut saat beberapa pria berbadan tinggi besar datang, itu adalah para Bodyguard yang menjaga Jelita.
"Cari tempat sepi dan urus mereka baik-baik," perintah Jelita pada para Bodyguard itu.
"Baik, Nona," patuh salah satu Bodyguard.
"E-eh? Kalian mau apa?"
"Hei, lepaskan kami!"
"Mau di bawa ke mana kami?"
Begitulah suara teriakan dari ke tiga orang yang diseret paksa oleh para Bodyguard.
Jelita menghela napa berat, jika saja dia tidak hamil mungkin kepalan tinjunya akan mendarat manis pada ke tiga orang itu. Namun, Jelita harus menjaga kehamilannya.
Setelahnya, kondisi cafe kembali kondusif. Sepertinya para pengunjung cafe tidak mau mencari gara-gara dengan wanita hamil yang memiliki banyak Bodyguard itu. Entah bagaimana nasib ke tiga orang tadi, mungkin dijadikan perkedel.
"Sachi, tenanglah, oke. Semua baik-baik saja. Mereka tidak bisa menyakitimu," ucap Renata mencoba menenangkan Sachi yang masih gemetar ketakutan, napas gadis itu terdengar ngos-ngosan.
Sachi memang akan merasakan sesak jika kambuh.
__ADS_1
Renata membatu Sachi untuk duduk, "Apa kamu membawa obat?" tanyanya.
Sachi mengangguk kaku.
Renata langsung mencari obat itu di dalam tas milik Sachi, mengobrak-abrik dan akhirnya menemukannya. Dia juga menemukan botol minum. Sachi memang selalu berjaga-jaga.
Kemudian Sachi meminum obat penenang itu.
Jelita yang sejak tadi memperhatikan seketika teringat jika Sachi adalah gadis yang mencium Gavin.
"Apa dia pasienmu?" tanya Jelita.
Renata memberi isyarat dengan meletakan jari telunjuk di tengah-tengah bibir. Dia memang harus menjaga kerahasian pasiennya. Dan Jelita paham akan hal itu.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Renata pada Sachi yang sudah bisa mengatur napasnya kembali.
"Y-ya," jawab Sachi.
Renata mengelus rambut panjang Sachi, "Untunglah."
"Terima kasih," ucap Sachi dengan menatap Renata dan Jelita bergantian, "Aku tidak tahu akan jadi seperti apa jika kalian tidak datang."
"Memangnya siapa mereka?" tanya Renata.
"Aku hanya mengenal cowok yang bernama Farrel, yang dua orang lainnya aku tidak kenal," jawab Sachi.
Kemudian Sachi menceritakan siapa itu Farrel dan penyebab pemuda itu begitu membencinya.
Jelita menatap prihatin Sachi. Dia dapat melihat ketakutan dan kegelisahan pada raut wajah Sachi yang belum sepenuhnya hilang.
Dalam sebuah kehidupan, seseorang pasti memiliki rasa takut. Itu hal yang manusiawi. Namun, ketakutan yang ditunjukan Sachi tidak wajar.
"Apa pun itu, kamu harus menghadapi ketakutan itu. Ada kalanya ketakutan terhadap sesuatu atau seseorang, dapat menghambat langkahmu untuk maju ke depan," ujar Jelita.
"Itu tidak mudah," lirih Sachi.
"Belajarlah untuk berani, orang yang berani bukanlah orang yang tidak merasa takut, tetapi orang yang mengalahkan rasa takut itu."
"Kalau aku bisa mengalahkan rasa takut itu, apa aku bisa sekeren dirimu?" ucap Sachi dengan menatap Jelita.
Bagi Sachi aksi Jelita tadi sangatlah keren dan berani.
"Kamu pasti bisa, Sachi," kata Renata menyemangati.
_To Be Continued_
__ADS_1