Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mencetak Gol


__ADS_3

"Renata, aku ingin memasukimu."


Renata sungguh tidak bisa menolaknya. Mekipun lemas tetapi dia juga menginginkan itu.


Jefra berpindah posisi, berada di tengah-tengah tubuh bagian bawah Renata setelah membuka kaki Istrinya. Lalu dia menggesekkan senjatanya pada inti yang licin dan memerah itu, dan di sambut de-sahan si empunya.


Jefra mendesis nikmat saat merasakan kelembapan pada milik Renata pada senjatanya yang panas.


"Rileks, oke," bisik Jefra pada Renata yang sedang menggigit bibir.


"Ya."


Renata mengeryit saat merasakan sensasi gesekan yang diberikan Jefra. Kemudian mengeram saat Jefra mulai mendorong benda keras pada kepunyaannya dengan gerakan perlahan.


"Hiks, sakit, Jef..."


Air mata Renata mengalir seiring pergerakan Jefra yang ingin menembusnya, dia merasa sangat sakit. Namun, berbeda dengan Jefra yang merasa enak tiada tara.


"Damn! Sempit sekali," desis Jefra.


Renata nyaris kehilangan napas akibat rasa sakit. Dia menangis. Jefra menghujani wajah dan matanya dengan kecupan untuk menenangkannya, dan tidak menghentikan gerakannya.


Jleb


"Ah───hmmp!"


Mulut Jefra langsung membungkam mulut Renata untuk meredam teriakan saat senjatanya berhasil masuk sepenuhnya. Jefra benar-benar sudah mencetak gol pada pagi hari ini!


Jefra memberikan luma-tan lembut pada bibir Renata yang bergetar karena efek dari penyatuan mereka, bahkan tidak mengindahkan cakaran kuku-kuku tajam Istrinya pada lengannya. Kepala Jefra terasa berdentum-dentum, karena merasa kenikmatan yang luar biasa saat benda kebanggaannya terjepit begitu erat oleh otot-otot kewa-nitaan Renata.


Jefra terdiam untuk menunggu Istrinya rileks dan terbiasa dengan keberadaan dirinya, walaupun ingin sekali segera menghujam dan melepaskan has-rat binatang buasnya.


Lama-kelamaan Renata merasa sakitnya perlahan-lahan menghilang.


"Oh, Jefra, sesak... bergeraklah."


Karena sudah mendapatkan lampu hijau Jefra mulai menggerakkan tubuhnya. Bergerak lambat dan mempercepat tempo. Belum pernah Jefra merasa senikmat ini.


Dengan mata terpejam, Renata membelai punggung Jefra, meraba tengkuk Jefra dengan telapak tangan. Kemudian mengecup telinga Suaminya itu, dan menggigitnya. Napasnya memburu di telinga Jefra saat mende-sah.


"Jefra," panggil Renata dengan napas tertahan, lalu dengan lebih keras, "Jefra!"


"Renata..." Jefra menjawab disertai geraman.


Gairah Renata memuncak mendengar Jefra memanggil namanya, terdengar sangat sexy di telinganya. Renata membuka mata dan memandangi wajah Jefra yang mengerut dengan nikmat dan memasukkannya dalam ingatannya. Wajah yang tampan, liar, dan indah. Keringat melekat di dahi lelaki itu ketika gerakannya semakin cepat.

__ADS_1


Sepasang mata hitam Jefra menatap balik Renata, lalu terpejam. Diangkatnya pinggul Renata dan dipeluknya erat-erat, sementara tubuhnya sendiri masih bergerak aktif.


Renata melingkarkan kedua lengannya di leher Jefra dan menekankan wajahnya di tubuh bagian depan Suaminya, sementara tubuhnya sendiri bergetar menerima hujaman.


Tak lama kemudian, ke duanya memasuki kepuncak kenikmatan. Bibir Jefra bergerak-gerak di dekat telinga Renata, mengatakan...


"Aku mencintaimu, Renata."


Renata membelai belakang kepala Jefra, serta menikmati rasa rambut Gaara yang menusuk pipinya.


Awal yang terasa sakit. Namun, berakhir memuaskan. Jefra sudah berhasil memanjangkan Renata dengan cintanya.


**


Renata terbangun lagi, lalu memindahkan tangan Jefra yang menangkup salah satu bukit miliknya, sepertinya Jefra benar-benar menyukainya, dan itu sukses membuat Renata merona merah. Lalu ditatapnya wajah damai Suami tampannya, dikecupnya pipi Jefra, tetapi si empunya tidak terusik dalam tidurnya.


Mereka memang kembali tidur setelah percintaan di pagi hari. Pagi pertama yang begitu berkeringat.


Kemudian Renata melirik jam dinding yang menggantung, sudah pukul 9 pagi. Pantas saja dia merasa lapar hingga terbangun.


Renata melilitkan selimut pada tubuhnya. Setelahnya, mencoba bangkit untuk ke kamar mandi. Namun, dia meringis saat merasakan perih tepat di bawah perut, dan ada sesuatu yang mengalir keluar ketika dia berdiri. Mengalir dan menetes ke lantai. Itu adalah cairan milik Jefra.


Digigitnya bibir bawahnya, Renata tidak bisa membayangkan berapa banyak pelepasan yang Jefra keluarkan di dalam tubuhnya. Dan lagi Renata dapat melihat jejak darah yang membekas di selimut. Ya, dia benar-benar sudah menjadi wanita seutuhnya.


Kemudian Renata melangkah ke kamar mandi dengan agak tertatih. Dia berniat membersihkan diri, lalu membuat makanan untuk dirinya dan Jefra.


Cklek


Terbukanya pintu kamar mandi tanpa Renata sadari, itulah akibatnya karena terbiasa tidak mengunci pintu saat mandi.


"A!" pekik Renata saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya, jantungnya seakan meloncat karena terkejut.


"Maaf, membuatmu terkejut," bisik si empunya tangan, yang tidak lain adalah Jefra.


Renata segera berbalik, menatap Jefra yang bergabung di bawah shower, "Kenapa di sini?" tanyanya.


"Ingin ikut mandi," jawab Jefra sekenanya.


Ingin menolak tetapi mereka sudah sama-sama polos dan basah, "Tapi jangan macam-macam," ujar Renata.


"Macam-macam seperti apa maksudnya?" tanya Jefra justru tersenyum menggoda.


"Pokoknya jangan macam-macam," kilah Renata.


"Maksudmu macam-macam seperti ini..."

__ADS_1


Jefra menarik tengkuk Renata dan untuk memberikan ciuman.


Renata mencoba mendorong Jefra, tapi tidak sanggup. Pada akhirnya Renata pasrah saat Jefra memberikan ciuman yang terasa dingin karena tercampur dengan air. Tangan Jefra bergerak untuk menjalar ke tubuh bagian belakang Renata, meremas bokongnya.


Renata mengerang tatkala senjata Jefra menusuk-nusuk perutnya. Kemudian memekik saat merasakan tubuhnya melayang. Jefra mengangkatnya dan melakukan penetra-si penyatuan lagi.


"Ah!"


Jefra benar-benar sudah menggila.


**


Pada akhirnya mereka keluar kamar pada jam 11 siang.


Sebagai gantinya, Jefra yang memasak karena sudah membuat Renata kelelahan. Walaupun masakan Jefra terasa seperti tanah, tetapi masih bisa dimakan untuk mengisi perut mereka yang keroncong.


"Makanlah," ujar Jefra seraya meletakan omurice buatannya di meja makan. Lalu bergabung untuk duduk di sebelah Istrinya.


Renata berbinar saat melihat nasi goreng saus tomat yang dibungkus oleh telur goreng omelet. Kemudian menyantapnya setelah membaca doa. Renata yang sudah terlalu lapar tidak memperdulikan rasanya.


Jefra bernapas lega dibuatnya, untung saja Renata tidak melayangkan protes soal masakannya. Lalu Jefra pun ikut menyantap omurice miliknya.


"Ngomong-ngomong di mana Ayah dan Ibu?" tanya Jefra kemudian.


"Aku tidak tahu," jawab Renata sekenanya.


Rumah memang terlihat kosong saat Renata dan Jefra keluar kamar. Padahal Renata sudah menyiapkan mental untuk bertemu ke dua orang tuanya, dia takut kalau-kalau kegiatannya dengan Jefra diketahui karena terlalu berisik. Renata benar-benar malu sekali jika orang tuanya tahu.


"Apa mereka pergi untuk memberi privasi pada kita?" tebak Jefra.


"Kalau begitu bagus," seketika Renata terlihat senang.


Ya, itu bagus bagi Renata. Dengan begitu pasti orang tuanya tidak mengetahuinya. Renata bernapas lega dibuatnya.


Namun.


"Wah, mama kira si pengantin baru tidak akan keluar kamar seharian."


Renata hampir tersedak makanan yang dia makan. Lalu menoleh kesamping untuk melihat Reina yang tersenyum menggoda ke arahnya.


"Bagaimana, Rena? Apa suaramu baik-baik saja?" tanya Reina dengan tertawa tanpa beban.


Renata dan Jefra membatu seketika.


"Sepertinya sebentar lagi kalian akan memberikan cucu," sambung Reina justru terlihat senang.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2