
Wedding Day.
Dekorasi gedung dengan warna emas dan putih identik dengan kemewahan dan lambang kesucian dan sakral. Latar belakang berwarna putih dengan furniture dan hiasan yang berwarna emas. Beberapa jenis bunga mawar putih, melati, dahlia putih, camelia, hingga baby's breath menghiasi dengan sangat indah. Aula pesta pernikahan terlihat mewah dan elegan.
Warna putih memiliki arti kesucian, keagungan, kemurnian dan kesegaran. Sedangkan Warna emas melambangkan kesan elegan, kemakmuran, kegembiraan dan kemewahan. Itulah makna warna tema dari pernikahan Ryo dan Jelita.
Tamu undangan terlihat ikut bahagia untuk menyaksikan penyatuan dari keluarga Januartha dan keluarga Albirru. Aula pesta sudah ramai karena 30 menit lagi akad nikah sekaligus resepsi akan segera dimulai.
"Kadang ada saatnya kita harus melepaskan dan mengikhlaskan, karena ada hal yang tidak bisa dipaksakan," ujar Kavin pada Reva yang sedang berdiri di sampingnya.
Hanya satu orang yang terlihat tidak bahagia atas pernikahan itu, yang tidak lain adalah Revalia, terlihat ekpresi tidak mengenakan dari wajah cantiknya itu, "Aku yakin jika pernikahan ini tidak akan bertahan lama karena Ryo mencintai orang lain," ucapnya.
Kavin terdiam, dia agak terkejut karena Reva telah mengatahui jika Ryo mencintai gadis lain.
"Aku tahu jika Ryo mencintai Jelita," sambung Reva.
"Jadi kamu sudah tahu jika Ryo mencintai Jelita?" tanya Kavin.
Reva menatap Kavin, "Ya," jawabnya.
"Apa kamu sudah menyerah saat tahu Ryo mencintai Jelita?" tanya Kavin.
"Tentu saja tidak, aku bahkan nggak rela jika Ryo mencintai Jelita," jawab Reva.
Reva memang menjadi sangat membenci Jelita hingga titik terdalam. Karena Jelita yang sudah membuatnya tidur dengan cleaning servis yang gendut dan jelek. Dia tidak akan pernah memaafkan Jelita.
Kavin menghela napas, "Aku sudah lelah untuk memperingati kamu, Reva. Jika terjadi apa-apa padamu jangan mencari aku untuk menolong kamu," ucapnya dan melangkah pergi untuk menghampiri Gavin yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya.
Reva tersenyum sinis menatap Kavin yang berlalu, "Aku pun tidak sudi untuk meminta tolong padamu, Kavin," gumamnya.
**
Di ruang tempat Ryo bersiap-siap.
Kini Ryo terlihat gusar dengan berjalan bolak-balik, dirinya sudah tampil mempesona dengan kemeja putih dan jas hitam, dan tampak semakin manis dengan dasi kupu-kupunya.
"Aku harus kabur dari sini," gumam Ryo sembari menggigit ibu jarinya.
Ryo sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf dan bertanggung jawab pada Jelita. Jika dia menikah dengan gadis lain itu sama saja dengan lari dari tanggung jawab.
Bukan masalah tidak berbakti pada sang Ibu, sebagai laki-laki dia ingin menebus kesalahannya pada Jelita. Hidup ini memang terdapat pilihan yang harus Ryo putuskan. Jika dia tidak ingin menyesal di kemudian hari, maka dia tidak akan mengorbankan cintanya sendiri.
Dia tidak ingin kehilangan Jelita-nya.
"Ibu... izinkan aku untuk berbahagia dengan gadis yang aku cintai," gumam Ryo menguatkan hatinya sendiri.
Ryo segera membuka pintu keluar perlahan. Namun, ada 2 orang Bodyguard yang sedang menjaganya di ke dua sisi pintu.
__ADS_1
Dengan perlahan Ryo menutup pintu lagi.
"Bagaimana aku bisa pergi?" tanyanya pada diri sendiri.
Kemudian tatapannya tertuju pada jendela besar yang berada di ruangan tempatnya berada, dia segera menuju Jendela dan membukanya. Saat ini Ryo berada di lantai 3 gedung pernikahannya berlangsung, dia tidak bisa sembarangan melompat dari jendela untuk kabur, yang ada dia bisa patah tulang.
"Aku membutuhkan tali," gumamnya.
Ryo segera membuat rencana untuk bisa kabur.
**
Sedangkan di ruang tempat Jelita bersiap-siap.
"Cantik sekali," puji penata rias yang merasa puas dengan hasil karya makeupnya pada wajah Jelita.
Jelita tampil dengan riasan perpaduan blush on pink dan lipstik merah lembut, makeup natural yang simpel namun membuatnya terlihat luar biasa cantik. Rambut pendeknya digerai dengan sempurna dan ditambahkan white floral accent untuk menambah kesan elegan.
Jelita tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, ada rasa senang dan gugup pada dirinya. Jantungnya pun terpompa dengan kencang sejak tadi.
Setelahnya penata rias yang berjumlah 5 orang itu pun undur diri, mereka memberikan ruang privasi agar Jelita bisa menenangkan diri karena sebentar lagi acara pernikahan akan segera dimulai.
Sepeninggal para penata rias Jelita mulai mengatur napas dan detak jantungnya agar lebih tenang, "Aku gugup sekali," gumamnya.
"Waduh, putriku cantik sekali," ucap Arthur yang memasuki ruangan, ada Renata di belakangnya.
Arthur memeluk Jelita, "Oh, my love. Papa jadi sedih karena akan melepas kamu untuk menikah," ucapnya, tanpa sadar air mata menetes dari mata yang memiliki warna seperti Jelita.
Arthur bimbang dan sedih saat akan melepaskan genggaman pada anak perempuannya yang digendongnya sejak kecil. Namun, kini harus diserahkan pada seorang laki-laki yang akan dipanggil suami oleh Jelita.
"Jangan bersedih, Papa," ujar Jelita melepas pelukan Arthur, dia menghapus air mata sang Papa.
Arthur mengangguk, "Papa tahu, putri Papa adalah sosok perempuan hebat. Papa hanya mengharapkan kamu selalu bahagia," ucap Arthur mengelus pucuk kepala Jelita pelan supaya tidak merusak tatanan rambut.
"Terima kasih, Papa. Aku sangat mencintaimu," Jelita mengecup pipi pipi Arthur sekilas.
Bagi Jelita sosok Papanya sangatlah berharga. Bahkan dia telah menganggap Arthur sebagai cinta pertamanya. Meskipun menjadi orang tua tunggal Arthur selalu mencoba memberikan semua hal yang terbaik untuk dirinya.
"Hmm," Renata mencoba berdeham untuk memberitahu tentang keberadaannya, "Apa kamu tidak ingin berterima kasih padaku juga, sepupu?" ucapnya bermaksud bercanda untuk mencairkan situasi yang melankolis itu.
"Oh, aku juga sangat berterima kasih padamu," ucap Jelita menanggapi candaan Renata.
Kemudian terdengar tawa dari ruangan itu, perasaan Jelita yang tadi sangat gugup menjadi lebih tenang setelah berbicara dengan orang terdekatnya.
Beberapa saat kemudian. Arthur sudah kembali ke aula pesta dan kini hanya ada Jelita dan Renata di ruangan itu.
"Masih ada waktu berapa lama lagi acara akan dimulai?" tanya Jelita.
__ADS_1
"15 menit," jawab Renata.
"Aku jadi merasa gugup lagi," ucap Jelita dengan jujur, "Aku deg-degan sekali," lanjutnya sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
Renata tersemyum, "Itu wajar, tenang saja," ujarnya.
"Bolehkah aku keluar selama 5 menit untuk menghirup udara segar?" pinta Jelita.
Renata terlihat berpikir untuk menimbang permintaan Jelita, lalu dia mengangguk, "Hanya 5 menit," ucapnya.
"Ya," jawab Jelita.
"Apa mau aku temani?"
"Nggak usah," tolak Jelita.
Jelita segera bangkit untuk melangkah ke luar ruangan, melalui pintu belakang yang membawanya ke taman belakang gedung.
"Jangan gugup Jelita," gumam Jelita sembari menghirup dalam-dalam udara, lalu menghembuskan kembali secara perlahan.
Namun.
Tuk
"Aduh," rintih Jelita saat merasakan kepalanya kejatuhan sesuatu, lalu dia segera mendongak ke atas.
Jelita mengeryit bingung karena melihat seutas tali yang terbuat dari gorden berwarna putih yang mengenai kepalanya.
"Apa i—"
Perkataan Jelita berhenti saat melihat seseorang tengah berusaha turun dengan menggunakan tali gorden dari lantai 3. Dia menyipitkan mata agar lebih Jelas melihat siapa yang dengan kurang kerjaan bergelantungan seperti monyet.
"Ryo?"
Mata Jelita membola sempurna, apa lagi dia melihat jika Ryo merasa kesulitan saat menggenggam tali dan berakhir terjatuh dari ketinggian.
"Uwaaa!" teriak Ryo.
Grep
Jelita berhasil menangkap Ryo dalam gendongannya. Jangan lupakan kekuatan Jelita yang begitu besar.
Ryo yang mendarat di gendongan Jelita terlihat sangat shock. Mata hazel miliknya bertemu dengan mata amber milik Jelita.
"Jelita..."
_To Be Continued_
__ADS_1