
Plak
Bugh
Reva menampar dan meninju mukanya sendiri.
"Benar-benar nggak waras," ucap Jelita yang melihat Reva menyakiti dirinya sendiri.
"Jika kamu nggak mau menjauh dari Ryo, aku akan membuat Ryo yang menjauh dari kamu," kata Reva dengan menyeringai.
Jelita paham dengan apa yang direncanakan Reva, gadis itu playing victim, pasti Reva akan menyalahkan Jelita atas luka-luka yang dia buat sendiri.
"Tidak usah repot-repot, sini aku bantu," ucap Jelita dengan santainya.
"Ma-mau apa kamu?"
Plak
Plak
Jelita menampar ke dua pipi Reva, dari pada dia disalahkan dengan apa yang tidak dia lakukan, lebih baik dia benar-benar menyakiti Reva.
"Akh!"
Jelita menjambak rambut honey blonde Reva hingga siempunya mendongak. Reva jadi ketakutan sendiri, dia tidak menyangka jika Jelita justru akan menyakitinya sungguhan.
BRAK
Pintu kamar mandi terbuka paksa. Ryo, Kavin, dan Gavin datang, mereka terkejut karena melihat keadaan Reva yang sudah babak belur. Ini memang sudah direncanakan Kavin dan Reva.
"Reva!" seru Kavin langsung menghampiri Reva.
Jelita melepaskan Reva, dia menatap Reva yang sudah berada di pelukan Kavin, 'Oh, jadi mereka berkomplot,' pikirnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Reva, ha?" bentak Kavin pada Jelita.
Karena mendengar keributan dari arah kamar mandi para mahasiswa pun berdatangan, mereka kepo dengan apa yang telah terjadi.
"Kamu bisa melihatnya sendiri," jawab Jelita dengan wajah yang datar, tidak ada ekpresi sama sekali di sana.
Ryo menatap Jelita dengan ekspresi tidak terbaca, "Kenapa kamu memukul Reva, Jelita?" tanyanya.
Sebelum Jelita menjawab Reva menyela, "Jelita mengancam aku untuk tidak dekat-dekat dengan kamu, Ryo."
Para mahasiswa berbisik-bisik dengan menatap tidak suka Jelita, mereka lebih bersimpati pada Reva dan Jelita dianggap orang yang paling bersalah.
"Apakah itu benar?" tanya Ryo pada Bodyguardnya.
"Menurutmu?" bukannya menjawab Jelita justru bertanya balik.
"Jelas-jelas dia yang sudah memukul dan mengancam Reva. Kamu jangan membelanya, Ryo," ucap Kavin agar Ryo tidak membela Jelita.
__ADS_1
Ryo mengabaikan Kavin, "Jelita, aku bertanya padamu. Apa itu benar?" tanyanya sekali lagi.
"Aku memang memukulnya, tapi aku nggak mengancamnya," jawab Jelita jujur.
"Lalu kenapa kamu memukulnya?" tanya Gavin yang sejak tadi menonton.
"Cewek itu playing victim," ucap Jelita dengan menatap Reva yang menangis bombay di pelukan Kavin, "Dia sengaja menyakiti dirinya sendiri untuk menyalahkan aku atas perbuatannya itu, dari pada dia menuduhku lebih baik aku memukulkannya sekalian," jelasnya.
Jelita tidak perduli Ryo akan percaya padanya atau tidak.
"That's nice, beibeh. Aku percaya padamu," ucap Ryo yang membuat semua orang kaget.
"Ryo! Bagaimana bisa kamu percaya dia begitu saja? Reva nggak mungkin seperti itu," kilah Kavin terlihat marah mendengar ucapan Ryo.
"Itu urusanku untuk percaya pada siapa," kata Ryo menatap tajam Kavin, "Sebaiknya kamu urus saja Reva."
Reva menangis semakin kencang, "Kenapa kamu lebih mempercayai dia yang baru kamu kenal itu, Ryo...?"
"Karena Jelita begitu berharga dibandingkan kamu," kata Ryo yang membuat hati Reva teriris-iris.
Jelita menatap Ryo tanpa berkedip, dia tidak menyangka jika respon Ryo akan seperti itu.
"Ayo kita pergi, Jelita," ajak Ryo dengan nada memerintah.
"Baik, tuan muda," patuh Jelita dan mengikuti Ryo yang melangkah pergi.
"Tunggu aku!" seru Gavin yang ikut mengekor, dia sendiri juga percaya dengan Jelita. Reva menang cantik tapi Gavin lebih mengenal Jelita dibandingkan Reva.
Para mahasiswa yang berkerumun pun bubar. Setelah ini pasti akan ada gosip beredar tentang hubungan Ryo dengan si Bodyguard cupunya.
"Tuan muda," panggil Jelita pada Ryo yang berjalan di depannya.
Ryo berhenti berjalan dan berbalik menatap Jelita, "Ya?"
"Terima kasih karena sudah percaya dengan aku," ucap Jelita.
"Hmm," Ryo hanya bergumam.
"Aku juga percaya dengan kamu loh, Jelita. Kamu nggak terima kasih juga sama aku?" celetuk Gavin. Ryo dan Jelita hampir melupakan keberadaan pemuda itu.
"Terima kasih juga, Gavin," ucap Jelita tersenyum pada Gavin.
Seketika Gavin dibuat salah tingkah dengan senyum Jelita, gadis itu memang jarang sekali tersenyum. Gavin baru tahu jika Jelita terlihat manis saat tersenyum, "Y-ya, sa..sama-sama," jawab Gavin tergagap.
Ryo menatap tidak suka Gavin, dia meraup mata Gavin dengan tangan kanannya, "Jaga matamu, Gavin," sengitnya.
"Hais, kenapa, sih? Jangan halangi aku untuk melihat senyuman manis Jelita yang hanya dapat aku lihat sekali seumur hidup itu," kata Gavin mendramatisir.
"Aku colok saja sini matamu!" seru Ryo marah.
"Aku salah apa, sih? Kok kamu malah ngamuk?" tanya Gavin yang tidak tahu jika sudah mematik api cemburu Ryo.
__ADS_1
Ryo tidak menjawab pertanyaan Gavin, "Pukul dia, Jelita," perintah Ryo pada Jelita.
"Astoge! Jangan pukul aku," seru Gavin dan langsung lari terbirit-birit.
"Kejar dia, Jelita," titah Ryo sekali lagi.
"Malas," tolak Jelita.
Ryo menatap Jelita kesal, "Kamu melawan perintahku?"
"Aku nggak mau menuruti perintah nggak jelas," jawab Jelita, perintah Ryo memang sangatlah konyol.
Ryo memincingkan mata, "Bilang saja kalau kamu menyukai Gavin."
"Tentu saja aku menyukainya."
Wajah Ryo mengeras, bisa-bisanya Jelita menyukai Gavin setelah menyatakan cinta padanya, apa Jelita ingin mempermainkan dirinya? Apa perkataan Jelita yang mencintainya itu hanya bohong belaka? Apa...
"Aku menyukai Gavin sebagai teman," sambung Jelita yang menghentikan pikiran negatif Ryo.
Ryo tersadar seketika, "Ah, begitu."
Jelita tersenyum geli melihat Ryo, "Tenang saja, hanya tuan muda Januartha yang paling aku sukai."
Ryo menjadi tersipu dibuatnya, "O-oh."
Jelita mengigit bibi bagian dalamnya untuk menahan gemas, Ryo yang tersipu seperti anak kucing yang begitu lucu. Ingin sekali Jelita mencium dan menggigit pipi Ryo yang terlihat cute itu.
'Stop berpikir mesum,' batin Jelita mencoba mengenyahkan pikirannya.
"Sebaiknya kita kembali ke kelas," ajak Jelita.
Ryo menengok ke sekeliling, koridor kampus terlihat sepi, "Jelita."
"Ya, tuan muda?" Jelita heran dengan Ryo yang justru memanggil namanya.
"Apa kamu mau memegang tanganku?" ucap Ryo sedikit ragu.
"Apa terjadi sesuatu dengan tanganmu?" Jelita terlihat khawatir.
"Tangan aku nggak apa-apa."
"Terus kenapa kamu menawari aku memegang tanganmu, tuan muda?" tanya Jelita masih tidak mengerti.
"Ck, ayo kita bergandengan tangan," Ryo geregetan sendiri, dia langsung menggenggam tangan Jelita, menggandengnya untuk berjalan di koridor kampus menuju kelas mereka.
Jantung Jelita kembali berdetak tidak normal. Tangan Ryo yang terlihat kokoh dan begitu hangat tengah menggenggam tangannya, hanya tautan tangan saja sudah sangat membuatnya bahagia.
"Katanya mau mengajari aku cinta, tapi gandengan tangan saja nggak tahu."
Sejujurnya Jelita juga tidak tahu cara mengajari Ryo cinta, dia saja masih awam tentang perasaan itu.
__ADS_1
_To Be Continued_