Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Kejar-kejaran


__ADS_3

Jelita mengemudikan mobil dengan kecepatan maksimal, dia bisa melihat dari spion samping jika ada 3 mobil yang mengejarnya.


Dor


Dor


Jelita membanting setir sebisa mungkin untuk menghindari tembakan dari arah belakang, "Kamu mau apa?" tanyanya saat melihat Ryo membuka kaca pintu mobil.


"Aku akan menembak balik, kamu fokus saja menyetir," ujar Ryo.


Jelita mengangguk, "Hati-hatilah," ucapnya.


"Ya," jawab Ryo, kemudian dia memposisikan badannya agar lebih mudah menembaki mobil yang membuntuti itu. Ryo terlihat cukup mahir saat melakukannya, tatapannya begitu tajam saat membedil.


Dor


Dor


Peluru sukses menembus salah satu ban mobil dari para mafia, mobil itu pun oleng dan menabrak trotoar jalan, dan tersisa 2 mobil lagi.


"Hell yeah," umpat Ryo menyeringai.


Dor


Dor


Tembakan balasan dilayangkan dari ke dua mobil itu, Ryo segera menghindar dari tembakan itu.


Krakk


Peluru sukses mendarat di kaca sepion, beruntunglah Ryo yang cepat tanggap saat menghindar, "Hampir saja," ucapnya.


"Sudahlah, jangan menembak lagi, itu sangat berbahaya, tuan muda," ujar Jelita yang melihat Ryo hampir tertembak.


Ryo merengut sebal, "Ini lagi seru-serunya," ucapnya.


"Ini bukan permainan," kata Jelita memperingati.


Bisa-bisanya Ryo bersikap kekanak-kanakan di situasi seperti ini.


"Ya," Ryo pun menurut dengan setengah hati.


"Kali ini serahkan saja padaku," tukas Jelita, dia berniat menunjukkan kemampuan menyetirnya.


Jelita kembali fokus ke jalan raya yang lumayan sepi karena saat ini sudah pukul 10 malam, Jelita mengemudikan mobil secara zig-zag, berniat mengecoh. Kemudian dia langsung membanting setir untuk berbelok secara tiba-tiba, satu mobil yang terkecoh terlanjur berjalan lurus dan hampir menabrak truk yang berjalan berlawanan arah.


Mobil itu sukses bertabrakan dengan pohon besar saat mencoba menghindar truk.


Kembali ke sisi Jelita dan Ryo, kini tinggal satu mobil yang mengikuti mereka, hujaman peluru tidak henti-hentinya dilayangkan dari arah belakang.


"Wow, tadi keren sekali," Ryo terkagum-kagum karena aksi Jelita tadi.

__ADS_1


Dor


Dor


Ckitt


Seakan mendapatkan karma, ban mobil mereka tertembus peluru. Namun, Jelita masih dapat menyeimbangkan laju mobil. Kemampuan menyetir gadis itu memang harus diacungkan jempol.


Dor


PRANG


Kaca belakang pecah karena tertembak dan sepertinya bodi mobil juga penyok dibuatnya, jalan raya yang sempit membuat Jelita tidak bisa menghindar dari tembakan itu, belum lagi ban mobil belakang yang bocor.


"Apa sebaiknya kita berhenti saja?" ujar Ryo, dia khawatir dengan keselamatan Jelita dan dirinya jika terus berkendara dengan keadaan ban mobil yang tertembak.


**


"Bos, mobil mereka berhenti," ucap seorang pria yang duduk di Jok pengemudi.


Jason menyeringai, "Oh, sepertinya mereka sudah menyerah bermain kejar-kejaran," tukasnya.


Mobil yang dinaiki Jason ikut berhenti, dan Jason serta 3 orang pria berpakaian serba hitam keluar dari mobil. Mereka menodongkan pistol saat mendekati mobil Jelita dan Ryo yang keadaannya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


"Keluarlah kalian!" teriak Jason, "Kalian nggak bisa kabur lagi, terima saja kematian kalian," desisnya.


Tidak ada jawaban dari Ryo maupun Jelita.


"Langsung tembak saja," titah Jason dengan mengibaskan tangan kirinya memberi aba-aba.


Dor


Dor


Dor


"Matilah, Ryo!" Jason tertawa kesenangan, akhirnya dendam keluarganya terbalasnya.


Namun, tawanya tiba-tiba memudar. Mobil itu kosong, Ryo dan Jelita sudah kabur lebih dulu. "Sialan! Cari mereka!" serunya dengan amarah yang meledak-ledak.


**


Kota Tua Jakarta, tempat wisata yang masih terlihat ramai dengan hiruk-pikuk anak muda yang sedang nongkrong atau menikmati kuliner. Suasana yang begitu indah pada malam hari karena banyak lampu berwarna - warni yang menghiasi tempat itu.


Ryo dan Jelita dengan tangan yang bertaut memasuki bagian tengah Kota Tua, di antara Museum Fatahillah dan Kantor Pos. Saat ini terdapat pertunjukan Akustik, lantunan musik pop dari Akustik Kota Tua mengiringi malam itu. Di dalam keramaian itu mereka mencoba melarikan diri dari pengejaran Jason dan para mafia.


"Itu mereka!" seru seorang Mafia yang melihat Ryo dan Jelita yang berada ditengah-tengah pusat keramaian.


Mereka langsung berlari untuk kejar-kejaran, tabrakan dengan orang yang berlalu lalang pun tidak bisa di hindarkan.


"Ke sini," ujar Jelita seraya menarik Ryo untuk memasuki sebuah toilet umum, mereka berdua bersembunyi di salah satu bilik toilet.

__ADS_1


"Ke mana mereka?" tanya Jason saat kehilangan jejak.


"Sebaiknya kita berpencar, bos. Di sini sangatlah ramai, kita juga nggak boleh terlalu mencolok karena akan menjadi pusat perhatian," saran salah satu mafia.


"Ck, mereka pasti sengaja untuk pergi ke tempat ramai seperti ini karena akan mempermudahkan mereka bersembunyi," ucap Jason dengan berdecak kesal, "Berpencar!" perintahnya.


Mereka pun berpencar untuk mencari ke dua orang yang ternyata telah bersembunyi di toilet itu.


Jelita menghela napas saat Jason dan kawannya telah pergi, "Untung mereka nggak kepikiran untuk memeriksa toilet," ucapnya.


"Y-ya," ucap Ryo gugup. Oh, ayolah, bagaiman tidak gugup? Saat ini posisinya dan Jelita sangatlah awkward alias canggung, Jelita memeluknya dengan erat, belum lagi mereka sedang berada di dalam toilet yang begitu sempit.


Jelita mengeryit ketika mendengar suara Ryo yang terbata-bata, "Kenapa suaramu seperti itu? Apa kamu terluka, tuan muda?" tanyanya khawatir.


"Ah, nggak, aku hanya gugup saja," jawab Ryo jujur dengan wajah yang merona.


Jelita sungguh tidak peka dengan posisi mereka saat ini. Bisa-bisanya dia mengajak seorang laki-laki untuk bersembunyi di toilet, belum lagi laki-laki itu adalah Ryo yang mempunyai iman yang sangat tipis.


"Tenang saja, jangan gugup, kita pasti bisa lolos dari pengejaran mereka," ucap Jelita yang memang tidak tahu apa yang tengah dipikirkan Ryo.


"Hubungi Jefra untuk mengirim bantuan ke sini," titah Ryo yang mencoba lebih tenang.


"Aku nggak bawa ponsel," ucap Jelita yang memang tidak sempat untuk membawa ponsel.


"Gunakan ponselku, ambil di saku celanaku," ujar Ryo, dia susah mengambil ponselnya karena tidak bisa leluasa bergerak.


Jelita menurut, dia melepas tangannya yang sejak tadi melingkar di pinggang Ryo, kemudian menjalar ke bawah untuk mencari ponsel.


'Sh-it,' umpat Ryo di dalam hati lantaran Jelita justru seakan meraba-raba dirinya, "Je-Jelita, apa yang sedang kamu lakukan? Jangan raba bokongku," ujarnya dengan wajah yang sudah semerah tomat.


"Ah, maaf, aku hanya sedang mencari ponselmu," ucap Jelita, "Ini dia ponselnya," lanjutnya saat menemukan ponsel Ryo.


Jelita segera menghubungi Jefra dengan menggunakan ponsel Ryo, tidak lama kemudian panggilan pun tersambung, "Ini aku Jelita," ucapnya.


"..."


"Kami baik-baik saja."


"..."


"Kami sedang berada di Kota Tua."


"..."


"Baiklah."


Setelahnya sambungan telepon berakhir, "Bantuan akan datang 15 menit lagi," kata Jelita kemudian.


"Jadi kita akan di sini selama 15 menit lagi?" tanya Ryo memastikan lagi.


"Ya," jawab Jelita mengangguk.

__ADS_1


Ryo meneguk salivanya berat. So, apakah iman Ryo akan mampu bertahan selama itu?


_To Be Continued_


__ADS_2