
"Yo, bagaimana persiapan skripsimu? Apa lancar?" tanya Gavin pada Ryo yang baru datang.
Ryo meletakkan ransel miliknya di atas meja, lalu duduk di kursi kosong sebelah Gavin.
"Ya, lancar. Aku mendapat Dosbing yang sangat membantu."
Bukan hanya mendapatkan Dosbing atau Dosen pembimbing yang baik, Ryo juga dibantu Jelita yang genius. Tidak heran jika Ryo tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan skripsi. Ya, dia sangat beruntung. Sepertinya keinginannya untuk wisuda akan benar-benar terwujud.
Ekspresi Gavin terlihat iri, wajahnya tertekuk seakan sedang tertekan.
"Kenapa ekpresimu seperti itu?" tanya Ryo yang merasa risih melihatnya.
"Aku mendapatkan Dosbing yang tidak membantu skripsiku sama sekali, kayaknya aku nggak bisa lulus cepat deh."
"Kenapa memangnya? Bukannya kamu yang memilih Dosbing itu sendiri?
Mahasiswa memang diperbolehkan untuk memilih dan mengajukan dosbingnya sendiri. Meskipun pada akhirnya keputusan akhir tetap ada pada pihak kampus.
"Request dosbingku ditolak, jadi yang menentukan pihak kampus," ucap Gavin lesu, "Dosbingku susah sekali untuk ditemui, aku hanya bisa menghubungi lewat ponsel. Sangat super teliti sampai menyuruhku revisi berkali-kali, senang menuntut ini itu, cuek, ketus, dan masih banyak lagi."
"Benar-benar batu sandungan. Kamu harus mencoba menjinakkan Dosen itu," ujar Ryo.
"Menjinakkan?" beo Gavin.
"Kamu harus melakukan tips-tips khusus untuk menjinakkan Dosen itu. Setidaknya supaya dia bersedia membantumu dalam mengerjakan skripsi dengan baik, dan bisa memberimu nilai tambahan saat sidang nanti."
Gavin manggut-manggut. Benar kata Ryo, dia memang harus mulai menjinakkannya Dosen itu.
"Ngomong-ngomong siapa Dosen kamu itu?" tanya Ryo yang penasaran siapa Dosbing yang menjadi batu sandungan kelulusan Gavin.
"Namanya──"
BRAKK
Perkataan Gavin terpotong saat seseorang tidak sengaja menabrak mejanya, yang mengakibatkan buku-buku miliknya terjauh.
"Sorry, nggak sengaja," ucap pemuda yang menabrak itu.
Pemuda itu memang sedang bercanda dengan temannya sehingga tanpa sengaja menabrak meja Gavin.
Gavin mengibaskan tangannya menandakan tidak apa-apa.
Kemudian Gavin menundukkan tubuhnya untuk mengambil buku-bukunya yang terjatuh. Di saat bersamaan pintu kelas terbuka, menampakan seorang Dosen wanita.
"Vin," panggil Ryo pada Gavin yang masih mengambil buku-bukunya, "Gavin, lihatlah Dosen itu."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Gavin setelah kembali ke posisi duduk tegaknya.
"Bukankah dia..." perkataan Ryo menggantung sembari memberi isyarat dengan dagu, supaya Gavin melihat ke depan kelas.
Lalu Gavin mengalihkan tatapannya ke Depan kelas. Dan sontak terbelalak saat melihat seorang wanita yang sempat membuatnya galau.
"Saya Sachi Emelin, Dosen pengganti yang akan menggantikan Miss. Silvia yang sedang cuti melahirkan."
Deg
Sachi Emelin, gadis manis yang pernah menciumnya.
"Kamu bilang cewek itu memberimu nomor ponsel palsu, bukan? Lalu apa sekarang? Nomor ponsel palsu sepertinya nggak menghalangi kalian untuk bertemu lagi," bisik Ryo yang terlihat terkejut juga.
Saat itu Sachi memang tidak benar-benar memberikan nomor ponselnya pada Gavin. Bahkan Sachi sengaja memberikan nomor ponsel seorang laki-laki. Dan itu sukses membuat Gavin galau. Dia berpikir kalau Sachi sudah mempunyai kekasih atau suami.
"Jangan-jangan dia Dosbingku," gumam Gavin.
Ya, nama Dosen pembimbing Gavin memang bernama Sachi Emelin, dia kira hanya nama yang sama. Namun, ternyata orang yang sama pula.
"Wah, sepertinya dia benar-benar jodohmu," celetuk Ryo.
Sachi melihat ke arah Gavin. Tatapan mereka bertemu selama 3 detik. Seolah tidak mengenal Gavin, Sachi memulai kelas pada pagi itu.
**
Malam harinya.
Tap
Ryo menutup Laptop yang sejak tadi menjadi fokus Jelita, yang membuat Jelita terkejut dan melayangkan tatapan protes.
"Aku harus segera menyelesaikan laporan──"
"Tidak ada laporan apapun. Aku nggak ingin kamu kelelahan, jadi jangan memaksakan diri."
Ryo memotong cepat protes dari Jelita. Tentu saja dia tidak ingin jika Istrinya kelelahan karena masih saja bekerja meski sudah disuruh berhenti.
Jelita cemberut dengan mengerucutkan bibir sebal. Lalu menjengit saat Ryo mengecup bibirnya sekilas.
"Menurut, oke. Ingatlah kalau ada dua bayi di sini," ujar Ryo seraya mengelus perut buncit sang Istri.
Jelita mengangguk kemudian, rasa kesalnya seketika menguap.
"Sayang," panggil Ryo mengalun lembut.
__ADS_1
"Ya," Jelita begitu suka jika Ryo memanggilnya seperti itu. Dibalik sikap Ryo yang serampangan, tetapi suaminya itu selalu menunjukkan kelembutan pada dirinya.
Oh, Jelita sangat mencintai Suaminya. Tidak bisa berhenti untuk mencintai lebih tepatnya.
"Maukah kamu menurut jika aku menyuruhmu berhenti bekerja?"
Jelita terdiam sesaat. Berhenti bekerja? Sejujurnya alasan Jelita bekerja bukanlah ingin mendapatkan penghasilan. Ini tentang karier, tentang impian, tentang kepercayaan diri dan sejuta alasan lain. Jelita adalah seorang CEO yang memiliki tanggung jawab besar, dia dapat membangun perusahaan besar dengan jerih payahnya sendiri. Namun, sekarang Suaminya justru menyuruhnya berhenti bekerja.
"Hei, aku nggak menyuruhmu berhenti bekerja untuk selama-lamanya. Hanya sampai ke dua bayi kita lahir. Aku nggak mau kamu kelelahan," lanjut Ryo seolah tahu maksud ekspresi Jelita yang tiba-tiba murung, dielusnya pipi putih Istrinya yang semakin gembil. Ryo sangat menyukai tubuh Jelita yang menjadi lebih berisi.
"Baiklah, aku akan berhenti bekerja. Nohan akan menggantikan aku sementara waktu," pada akhirnya Jelita menurut. Dia pikir Ryo menyuruhnya berhenti kerja seterusnya, ternyata tidak.
"Aku percaya kalau kamu adalah wanita yang paling kuat di dunia. Kamu pasti dapat melalui sembilan bulan penuh tantangan ini dengan baik, sayang."
"Ya," Jelita tersenyum menanggapi perkataan Ryo.
Namun, sekejap ekspresi Jelita berubah menjadi mengeryit, "Uhm."
"Kenapa, sayang?" tanya Ryo.
Jelita dapat merasakan gerakan yang menyerupai kepakan kupu-kupu yang lembut, tekanan ringan yang menyebabkan rasa geli di sekitar perut.
"Mereka menendang," ucap Jelita dengan perasaan bahagia.
"Benarkah?" Ryo berbinar tertarik, kemudian menyelusupkan tangannya ke dalam baju yang dikenakan Jelita. Mencoba merasakan tendangan yang dimaksud Istrinya.
"Tunggu," ujar Jelita.
Dan benar saja. Setalah menunggu selama 4 detik, Ryo merasakan pergerakan dari perut Jelita. Sedangkan Jelita kembali merasakan sensasi bergulir yang menekan di perut. Ke dua jagoan mereka bergantian untuk bergerak.
Ryo segera menyingkap baju yang dikenakan Jelita hingga memperlihatkan perut yang menonjol, terlihat lucu di mata Ryo. Lalu menempelkan telinganya di sana.
"Mereka begitu aktif," ucap Ryo tersenyum senang.
"Mirip seperti Daddy-nya," Jelita terkekeh.
Ya, tidak heran.
"Yang satu mirip denganku dan yang satunya mirip denganmu," Ryo melirik ke atas tanpa merubah posisinya.
Niat awal ingin melihat wajah ayu sang Istri, tapi justru teralihkan pada ke dua bukit yang membuat Ryo menelan saliva kasar.
Oh, Ryo kangen sekali untuk bermain dengan ke dua benda kenyal itu. Bolehkan dia meminta jatah sekarang?
_To Be Continued_
__ADS_1