Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Yordania


__ADS_3

"Aku merasa bersalah pada Renata, karena melupakan tujuanku mengajaknya ikut bersama kita, harusnya aku menghiburnya dan mendekatkannya pada Jefra," ucap Jelita dengan ekspresi keruh.


"Tenanglah, sayang," Ryo mencoba menenangkan sang istri.


"Apa kamu nggak membaca situasi barusan?" tanya Ryo setelahnya.


"Situasi apa?" Jelita tidak paham dengan apa yang dimaksud suaminya.


"Bukankah Jefra yang telah menolong Dokter Renata? Dari situ pasti hubungan mereka akan menjadi lebih dekat. Selanjutnya insting Jefra-lah yang berperan, tergantung bagaimana Jefra berusaha untuk mendapatkan hati gadis yang dia sukai. Serta kesiapan dari hati Dokter Renata untuk menutup kisah cinta lamanya dan memulai kisah cinta baru bersama Jefra."


"Kita sudah cukup membuka kesempatan dengan mempertemukan mereka di perjalanan ini, kita nggak bisa membantu lebih banyak lagi untuk keberhasilan hubungan mereka." jelas Ryo.


"Ya, kamu benar, suamiku," ucap Jelita.


Ryo menangkup ke dua pipi Jelita, "Kalau begitu jangan murung lagi, ya."


Jelita berkedip beberapa kali, lalu tersenyum setelahnya, "Ya," ucapnya.


Ryo memajukan wajah untuk mendaratkan bibir pada tahi lalat di bawah mata kiri Jelita, sungguh manis istrinya itu.


"Let's go to breakfast," ajak Ryo seraya meraih tangan kanan Jelita dan memberikan kecupan di sana.


Jelita tersipu dibuatnya, "Ya."


Kemudian mereka beriringan untuk pergi sarapan bersama, tanpa mengajak Jefra dan Renata, membiarkan ke dua orang yang sedang pdkt itu.


"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Ryo.


"Hmm, steak?"


"Apa kamu sedang ngidam?"


"Nggak secepat itu," Jelita tertawa.


**


Mereka berempat berada di Nepal selama seminggu, menunda perjalanan ke negara selanjutnya karena menunggu Renata pulih.


Seminggu kemudian perjalanan keliling dunia berlanjut, menuju Agra, India, tempat di mana Taj Mahal berdiri. Lalu ke Uzbekistan, di mana bisa mengenal sejarah kota Jalur Sutra Samarkand. Setelah itu pergi ke Abu Dhabi untuk menonton balapan khusus di Sirkuit Yas Marina. Mereka melakukan kunjungan di tiap-tiap negara selama 2 hari untuk mempersingkat waktu.


Kemudian di sinilah mereka, tepatnya berada di kota kuno Petra, Yordania. Kota yang dibangun pada dinding batu. Arsitektur unik yang memiliki kisah sejarah masa lalu yang menarik.


"Re..."


"Renata!"


Renata tersadar dari lamunannya, "Ah, ya. Ada apa Jelita?"


"Kenapa kamu terus saja melamun? Apa kamu nggak menyukai perjalanan ini?" tanya Jelita dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Aku suka kok," jawab Renata yang justru melirik Jefra yang sedang mengobrol dengan Ryo dan seorang pemandu wisata.


Saat Jefra meliriknya balik, Renata langsung mengalihkan arah bola matanya, jantungnya berdetak setelahnya.


Sudah beberapa hari berlalu tetapi Renata tidak bisa melupakan peryataan cinta Jefra, bahkan sampai tidak bisa tidur dibuatnya, terlebih lagi Jefra yang kerap memberikan perhatian kecil yang mampu menggetarkan hati terus-menerus.


"Kamu menyukai Jefra?" tanya Jelita yang melihat Renata melirik diam-diam Jefra.


Skakmat. Jelita sungguh peka sekali.


Wajah Renata merona merah, lalu mengangguk. Ya, sekarang Renata sudah yakin dengan perasaannya, karena dengan bersama Jefra hati Renata menemukan ritmenya.


Bibir Jelita membulat kecil, dia agak terkejut.


"Aku menyesal karena nggak menjawab pertanyaan cinta Jefra waktu itu," Renata mengungkapkan isi hatinya.


"Jefra sudah menyatakan perasaannya?" Jelita baru tahu tentang itu, ternyata Bodyguard suaminya itu sudah gerak cepat.


"Ya," jawab Renata.


Jelita menarik ujung bibirnya membentuk senyuman, yang dikatakan Ryo memang benar, Jefra telah berhasil mengambil hati Renata dengan usahanya sendiri. Jelita turut senang karena Renata sudah melupakan Davian karena adanya Jefra.


"Nggak usah menyesal, Renata. Kamu hanya perlu mendekatkan diri pada Jefra, jangan membuat jarak dengannya lagi," kata Jelita.


Perkataan Jelita bagai angin segar bagi Renata.


"Ya, aku nggak boleh terlalu menjauhkan diri lagi," ucap Renata.


"Entahlah, aku juga nggak tahu."


Begitulah perasaan seseorang ketika jatuh cinta, momen yang bisa membuat bingung untuk mengenali diri sendiri.


Kemudian mereka kembali menikmati pemandangan situs kuno yang begitu menakjubkan.


"Aku kira kota yang bangunannya terbuat dari batu dan berada di dinding tebing cuman ada di film saja," ucap Renata menatap kagum.


"Tapi kota batu semacam itu benar-benar ada di dunia," ujar Jelita menatap kagum juga.


"Sayang, kita akan menaiki unta," instruksi Ryo yang sudah berada di sebelah Jelita.


"Wah, pasti menyenangkan," Jelita berbinar.


"Aku juga mau," ucap Renata.


"Ya, kita akan naik unta untuk menikmati matahari terbenam di antara perbukitan," kata Ryo.


"Mereka akan mengantar kalian ke tempat di mana melihat sunset. Perjalanan sekitar satu jam," ujar pemandu wisata, menunjuk warga suku Badui.


Unta dipesan dari warga suku Badui, pada pukul 16.30 mereka akan berangkat untuk berjalan-jalan di sekitar gurun. Sepanjang perjalanan mereka akan ditemani oleh warga Badui yang terlihat ramah itu.

__ADS_1


"Aku akan naik bersama Jelita, sedangkan Dokter Renata bersama Jefra," ujar Ryo.


"A-apa?" Renata gugup seketika.


"Fighting," Jelita mendorong tubuh Renata ke arah Jefra.


Duk


Tubuh Renata mengenai punggung Jefra yang sedang memunggunginya.


Jefra yang kaget segera berbalik.


"Ma-maaf," ucap Renata sembari merutuki Jelita yang telah mendorongnya.


Sedangkan Jelita tengah berbisik pada Ryo, lalu ke duanya menatap penuh arti ke arah Renata dan Jefra.


"Tidak apa-apa," Jefra tersenyum tipis.


"J-Jef," panggil Renata ragu.


"Hmm?"


"Ayo naik unta bersamaku," ajak Renata dengan sekali tarikan napas.


"Ya, memangnya kamu mau naik bersama siapa lagi?" Jefra tertawa.


Renata tertegun karena melihat Jefra tertawa, yang menambah tingkat ketampanan pemuda itu. Hanya dengan sesuatu sepele sudah dapat membuat Renata bergetar, jantung seakan ingin meledak tanpa disadari.


Tiba-tiba saja Jefra datang dan memberikan perasaan itu padanya. Ingin menolak tapi hati Renata justru sudah terperangkap pada pesona pemuda asing yang baru dikenal itu. Pemuda yang selalu datang menolongnya, lalu perlahan memperbaiki hatinya yang sebelumnya pecah berkeping-keping.


"Renata."


Bahkan namanya yang sudah biasa dipanggil banyak orang, menjadi terasa istimewa saat dipanggil Jefra.


"Ya?"


"Ayo," Jefra mengulurkan tangannya.


Dengan senyum yang begitu manis Renata menerima uluran tangan Jefra.


Kemudian mereka menaiki unta yang saling terikat sehingga selalu berjalan beriringan dengan rombongan yang lain. Unta berjalan di gurun Wadi Rum yang memiliki tanah berwarna merah bagaikan planet Mars.


Setibanya di atas bukit, mereka disuguhi pemandangan spektakuler hamparan gurun dan bebatuan. Terlihat warna cokelat kemerahan dari gurun pasir, dan merah menyala dari bebatuan. Ditambah sinar matahari yang tenggelam, suasana sore di Lembah Bulan begitu mempesona.


Sungguh ciptaan Tuhan sangat yang indah.


_To Be Continued_


Otor bawa kalian jalan-jalan ke Yordania~

__ADS_1



__ADS_2