
"Revalia?"
Perempuan itu menatap Ryo berbinar, "Ryo?"
Jelita manatap bergantian Ryo dan Revalia, dia tidak menyangka jika ke dua orang itu saling mengenal.
Reva tersenyum sumringah dan langsung mencium pipi Ryo, "Long time no see, Baby."
Ryo kaget mendapatkan ciuman tiba-tiba itu, jika di LA ciuman memang hal yang lumrah, tapi ini adalah di Indonesia. "Don't kiss me, Reva," tukas Ryo segera mengelap pipinya, dia melirik Jelita dari ekor matanya.
Kenapa Ryo merasa tidak enak hati pada Jelita?
Reva menunjukan ekspresi bingung, tapi sedetik kemudian berubah menjadi genit, "Why? Bukannya dulu kita sering melakukan yang lebih?"
So, gadis itu memang salah satu wanitanya saat di LA. "Itu dulu," ucap Ryo.
"Apa bedanya sekarang? Kamu masih mencintaiku, bukan?" ujar Reva menempelkan jari telunjuknya pada dada Ryo yang terbalut kaos berkancing, dia membuat pola lingkaran di sana.
Jelita panas melihatnya, ingin sekali dia menarik Ryo untuk menjauh dari Reva. Jelita menutupi rasa cemburunya dengan wajah datar.
"Jelas berbeda, kamu itu hanya masa laluku," kata Ryo menyentak tangan Reva.
Reva mengeryit heran. Ryo terlihat berbeda, dulu Ryo selalu menuruti semua keinginannya, tidak pernah menolaknya, "Kamu menolak aku, Baby?" tanyanya tidak percaya.
"Ya, aku sudah berbeda dengan yang dulu," jawab Ryo serius.
"Are you kidding me?" Reva masih tidak percaya.
"No."
Reva melihat Jelita, dia meneliti Jelita dari kepala hingga ujung kaki. "Your girlfriend?" tanyanya pada Ryo, terlihat jika ekspresinya mengolok.
"Bukan, dia Bodyguardku," jawab Ryo apa adanya.
"Aku kira cewek jelek ini yang membuat kamu menolak aku, syukurlah kalau selera kamu tidak turun, Baby," ucap Reva, dia melupakan jika gadis yang tengah dia olok adalah penyelamatnya.
"Ck, cewek jelek inilah yang menolong kamu, Reva. Jangan mengolok Bodyguardku," Ryo berdecak kesal karena Jelita diolok.
__ADS_1
Ya, hanya Ryo yang boleh mengolok Jelita, orang lain tidak boleh.
"Oh, sorry," ucap Reva dengan berlagak bersalah.
'Menyesal aku menolongnya,' pikir Jelita.
Reva segera mengambil dompet dari dalam tas jinjing miliknya, dia mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Jelita, "Ini untuk kamu, Ugly."
Jelita diam, dia tidak menerima uang itu, tatapannya masih datar.
"Kurang, ya?" tanya Reva dengan memiringkan kepalanya, dia mengambil lima lembar lagi dan menyodorkan pada Jelita.
Jelita masih diam, sedangkan Ryo hanya memperhatikan.
Reva tersenyum maklum, "Ternyata kamu mata duitan juga, ya," dia mengambil semua uang yang ada di dompetnya dan menyodorkan kembali, total uang ada dua juta.
Jelita menerima uang itu.
Srakk
Jelita melempar uang itu tepat di muka bermakeup tebal Reva.
"Aku nggak membutuhkan uangmu, Nona. Simpan kembali uangmu itu," ucap Jelita tanpa ekspresi, dia memang tidak membutuhkan uang yang tidak seberapa itu, harga dirinya akan hilang jika dia menerimanya.
"B!tch!" umpat Reva menatap nyalang Jelita, "Sombong sekali kamu, ha!"
"Sudahlah, Reva. Jangan mempermalukan dirimu sendiri, aku sangat malu mempunyai mantan yang malu-maluin," Ryo mencoba melerai, pasalnya mereka sudah menjadi pusat perhatian, mereka memang sedang berada di pinggir jalan. Aksi melempar uang yang dilakukan Jelita sungguh menarik perhatian, bahkan ada yang merekamnya.
"Malu-maluin kamu bilang? Cewek secantik aku?" kilah Reva dengan heboh, "Aku adalah model terkenal, dari sisi mana yang membuatmu malu mempunyai mantan sepertiku?"
Ryo memutar bola mata jengah, dia tahu tabiat Reva yang seperti orang sinting jika sedang marah. Reva memanglah sangat cantik, tapi tidak dengan kelakuannya, karena itulah Ryo tidak pernah mempunyai rasa apapun pada Reva, pemuda itu hanya mempermainkan Reva untuk kesenangannya dulu.
"Cupu, kita pergi saja dari sini," putus Ryo karena tidak mau meladeni kemarahan Reva.
"Mau ke mana kamu, Baby!" teriak Reva saat Ryo berbalik pergi dengan Jelita yang mengekor di belakang.
"Kamu memang nggak berubah, Ryo. Kamu sangat suka sekali meninggalkan aku, padahal aku sangat mencintai kamu," lirih Reva dengan menatap sendu punggung Ryo yang menjauh.
__ADS_1
Revalia Sevie, model terkenal dari LA, salah satu wanita yang Ryo kencani.
Awalnya, Reva adalah teman semasa sekolah Ryo, mereka begitu dekat hingga Reva jatuh hati pada Ryo. Dia tahu jika Ryo adalah Casanova yang akan mengatakan apapun untuk merayu dan meniduri wanita, si petualang one night stand. Namun, karena statusnya yang menjadi sahabat Ryo menjadikannya berbeda dengan wanita lainnya, Reva selalu berada di sisi Ryo sedangkan wanita lain langsung dibuang.
Reva begitu sabar ketika Ryo selalu meninggalkannya demi wanita lain, karena dia tahu jika Ryo akan membuang si wanita dan kembali padanya.
Lalu saat mendengar kabar Ryo pergi ke Indonesia sangat membuatnya sakit, pemuda itu bahkan tidak berpamitan dengannya.
Reva memang orang asli Indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu di LA dan karena wajahnya yang cantik dia bisa menjadi model terkenal. Reva mengorbankan beasiswanya hanya untuk menyusul Ryo, jika tidak begitu dia tidak mungkin bisa bertemu pemuda tercintanya itu lagi. Bagaimanapun caranya dia akan mendapatkan Ryo.
Dan untuk kejadian pertemuannya dengan Ryo adalah kesengajaan yang dia buat, dia sengaja menyewa orang untuk menjambret tasnya. Reva memang sudah menjadi stalker Ryo selama di Indonesia, dia bahkan sudah mendaftarkan diri untuk berkuliah di kampus yang sama dengan Ryo.
"Kamu hanyalah milikku, aku tidak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan aku, Baby," gumam Reva tersenyum miring.
**
"Dia hanya mantanku," kata Ryo memecah keheningan di dalam mobil.
Jelita hanya bergumam, "Hmm."
Ryo menyatukan ke dua alisnya karena tidak suka dengan respon Jelita, "Kamu jangan marah, cupu," ucapnya.
"Marah? Kenapa harus marah?" tanya Jelita yang masih fokus pada jalan raya, gadis itu sedang menyetir.
"Jangan cembu..." perkataan Ryo menggantung.
Ryo segera meralat perkataannya sendiri, "Ah, maksudku jangan berpikir macam-macam. Reva hanya masa laluku, sekarang aku nggak bermain wanita lagi."
"Ya, aku percaya. Kamu memang sudah berubah, tuan muda," kata Jelita tersenyum tipis, selama ini Ryo memang sudah menunjukkan perubahannya.
"Tentu saja, aku seperti Power Rangers yang berubah. Bukankah aku keren?" ucap Ryo membanggakan dirinya. Sifat narsis pemuda itu memang tidak pernah luntur.
"Jadi kamu lebih memilih menjadi Power Rangers dari pada Superman?" tanya Jelita saat mengingat perkataan Ryo pada penjambret.
Ryo mengangguk, "Aku nggak suka jadi Superman yang memakai sempαk di luar."
Jelita tertawa mendengarnya, Ryo memang begitu konyol.
__ADS_1
Ryo yang melihat Jelita hanya tersenyum, dia senang saat melihat tawa Jelita.
_To Be Continued_