
Cklek
Pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Renata dari balik daun pintu. Hari ini dia pulang begitu larut.
"Akhirnya sampai di rumah juga," gumam Renata seraya berjalan terseok-seok, lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"Setidaknya hari ini berjalan begitu lancar."
Terlepas dari kandasnya hubungannya dengan Davian, hidup Renata masih tetap berjalan, aktivitas dan pekerjaannya membantunya untuk melupakan Davian.
Renata termenung sesaat, seharian ini pikirannya tidak lepas dari sosok Jefra. Saat tadi pagi dia merasa bingung karena terbangun di kamarnya sendiri, padahal dia yakin jika sebelumnya dia tengah terkunci di kamar tamu. Ibunya mengatakan jika seorang laki-laki berpostur tinggi yang telah mengantarnya, yang tidak lain pasti Jefra.
"Aku harus mengatakan terima kasih pada Jefra, dia pasti sangat kerepotan karena mengantar aku pulang," gumam Renata.
Lalu Renata meraih ponselnya dan mencoba mengirimkan sebuah pesan untuk Jefra.
[10.21] My : Jefra, terima kasih karena sudah mengantarku pulang. Aku juga senang karena kamu sudah mau mendengar curhatku yang nggak bermutu ✿^‿^ terima kasih juga karena sudah meminjamkan pundakmu. Selamat beristirahat~
Send.
Renata melihat jika pesan yang sudah dia kirim menunjukan ceklis satu. Salahnya sendiri yang mengirim pesan terlalu larut, benar-benar ucapan terima kasih yang telat sekali.
Kemudian Renata bangkit dari posisinya untuk berjalan ke kamar mandi, berniat untuk membersihkan diri, mandi akan membuat merasa lebih segar. Meski Renata tahu jika mandi malam tidak baik untuk kesehatan, tapi tubuhnya lengket sekali.
45 menit kemudian.
Renata terlihat segar karena sudah mandi, pakaiannya pun sudah digantikan dengan babydoll.
Dertt... Dertt...
"Jefra?" Renata mengeryit saat melihat layar ponselnya yang menunjukkan adanya panggilan telepon dari Jefra, lalu dia meraih ponselnya.
"Halo?" ucap Renata setelah mengangkat panggilan itu.
[Kenapa?]
"Kok bilang 'kenapa'? Harusnya itu pertanyaanku. Kamu yang telepon, kan?" tanya Renata terheran-heran.
[Kamu yang mengirim pesan.]
Renata terdiam, dia memang mengirim pesan, tapi kenapa Jefra meneleponnya? Padahal isi pesannya tidak mengatakan agar Jefra meneleponnya.
"Apa aku sudah mengganggu?" tanya Renata kemudian, dia merebahkan tubuh di atas ranjang.
[Tidak.]
"Oh, aku kira kamu merasa terganggu."
[Aku tidak pernah merasa terganggu olehmu, Renata.]
Wajah Renata merona karena ucapan Jefra, "Ke-kenapa kamu belum tidur, Jef?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
[Aku memang terbiasa tidak tidur.]
"Kenapa?"
[Sebagai Bodyguard aku harus siap siaga.]
"Apa kamu robot?"
Begitulah percakapan Renata dan Jefra dimulai, dan berlangsung lumayan lama. Hingga...
[...?]
Dan tanpa sadar Renata tidur karena suara berat Jefra yang menenangkan.
[Selamat tidur, Renata...]
Renata tersenyum dalam tidurnya, sepertinya dia bermimpi indah malam ini.
**
Keesokan harinya.
"Reva, uang Mama habis, berikan Mama uang lagi," ucap seorang wanita paruh baya.
Reva yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus mengalihkan atensinya untuk menatap Dina──Ibunya.
"Bukankah aku sudah memberikan Mama uang 5 hari yang lalu?" tanya Reva.
"Sudah habis Mama pakai untuk membeli ini," jawab Dina sembari memamerkan tas branded miliknya.
Terlepas dari sifat Reva yang terobsesi dengan Ryo, dia adalah tulang punggung keluarga, dan gadis yang cukup pintar untuk bisa mendapatkan beasiswa sekolah di LA.
Ibunya yang suka menghamburkan uang membuatnya berambisi untuk mendapatkan uang bagaimanapun caranya, bahkan Reva rela menjual tubuhnya sendiri untuk menjadi model terkenal di LA. Itu semua dia lakukan hanya untuk sang Ibu.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Reva.
"Dasar anak tidak tahu terima kasih, aku membesarkan kamu untuk memberikan aku uang, jika tahu begini lebih baik aku tidak pernah melahirkan kamu ke dunia ini!" sentak Dina si pemilik tangan yang menampar Reva.
Reva memegang pipinya yang berdenyut sakit, matanya memerah menahan tangis. Ibunya selalu saja seperti itu, padahal dia sudah berusaha menuruti apa yang Ibunya inginkan, karena Dina adalah satu-satunya keluarga yang Reva miliki.
Sejak kecil Reva tidak tahu siapa Ayahnya, karena dia adalah anak hasil dari pe-merkosaan. Tidak heran jika Dina terlihat begitu membencinya dan hanya memanfaatkannya. Padahal tidak sepantasnya orang tua bersikap sewenang-wenang terhadap anaknya.
"Gara-gara melahirkan kamu hidupku jadi hancur! Apakah ini balasan kamu untuk Aku yang sudah bersedia membesarkan anak haram sepertimu?" bentak Dina, emosinya terlihat meledak-ledak.
"Cukup, Mama! Jangan memanggilku anak haram!" seru Reva dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi.
Hatinya sakit setiap kali Ibunya memanggilnya 'anak haram'.
Dina menatap tajam Reva, "Kamu sudah berani melawan?" tanyanya.
__ADS_1
Sejak dulu Reva memang selalu menjadi anak yang penurut pada Ibunya karena ingin mendapatkan kasih sayang orang tua. Namun, tidak sedikitpun Dina memberikan kasih sayang itu, dia akan bersikap baik jika hanya meminta uang pada Reva.
Dengan rasa kecewa yang begitu dalam Reva berbalik pergi ke luar rumah, mengabaikan Dina yang berteriak memanggil namanya. Dia segera menaiki mobilnya dan menjalankannya.
Sepanjang jalan air mata tidak henti-hentinya menetes.
Reva merasa lelah jika terus seperti ini, bolehkah dia menyerah untuk mendapatkan kasih sayang Ibunya?
Ingatannya kembali di saat kali pertama bertemu dengan Ryo, pemuda yang menghiburnya ketika dia merasa sedih saat perlakuan sang Ibu.
"Pakailah," ucap seorang pemuda menyodorkan saputangan pada Reva yang sedang menangis di bangku taman sekolah.
Reva mendongak, dia terkejut saat melihat pemuda yang memiliki bentuk wajah yang sempurna, alis tebal, iris mata hazel, bulu mata lentik, dan bibir cupid bow berwarna merah jambu alami, begitu tampan.
Dengan ragu Reva menerima saputangan itu dan menghapus air matanya.
"Gadis cantik nggak boleh menangis," ucap si pemuda.
Reva mengangguk dengan wajah yang merona.
"Boleh aku duduk di sampingmu?" tanya si pemuda.
"Ya," jawab Reva.
"Siapa namamu?" tanya si pemuda lagi.
"Revalia," jawab Reva.
"Aku Ryo."
"Ryo...?"
"Kamu boleh menangis karena memiliki segunung masalah di tanganmu untuk diselesaikan, kemudian tersenyumlah setelahnya karena setiap masalah suatu saat pasti akan terselesaikan," ucap si pemuda dengan tersenyum lebar.
Deg
Detik itu juga Reva mulai menunjukan ketertarikan pada Ryo, pemuda pemberi saputangan yang mampu membuat jantungnya berdebar.
Dan rasa ketertarikannya semakin bertambah besar karena dia tahu jika Ryo bukanlah pemuda biasa.
"Ryo..." gumam Reva begitu lirih.
Jika dia bisa memutar waktu, Reva ingin sekali kembali ke masa itu. Masa di mana Ryo masih memperdulikan dirinya meski hanya sebagai teman dan masa di mana Ryo belum mengenal Jelita.
Reva menghapus jejak-jejak air matanya saat mobilnya mulai memasuki area kampus.
Ya, dirinya harus menyembunyikan sisi rapuhnya ini. Dia masih harus menjalankan rencana untuk menghancurkan rumah tangga Ryo dan Jelita. Mau bagaimanapun Ryo adalah miliknya, mataharinya. Reva tidak akan pernah menyerahkan Ryo pada siapapun, tidak terkecuali Jelita.
Reva memarkirkan mobilnya dan keluar dari sana, lalu berjalan dengan langkah yang begitu anggun.
Namun, dia merasa aneh dengan tatapan semua mahasiswa yang terarah padanya, tatapan seperti mengejek dan tidak percaya.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa?
_To Be Continued_