
"Karena aku sudah ada di sini, kamu boleh kok mengganti guling itu dengan diriku," ucap Ryo menawarkan diri.
"A-apa?" Jelita sampai menganga mendengarnya.
"Kamu boleh peluk aku dan bertanya tentang apa yang ingin kamu tanyakan tadi," ujar Ryo dengan semburat tipis di pipinya.
Jelita menggigit bibir bawahnya, jantungnya hampir meledak karena ucapan Ryo itu, "Aku..." dia bahkan tidak sanggup meneruskan perkataannya.
Ryo menutup pintu kamar yang tadi masih terbuka dan tanpa permisi masuk lebih dalam ke kamar Jelita, "Ayo sini," ucap Ryo yang sudah duduk di bibir ranjang seraya menepuk pahanya agar Jelita duduk di sana.
"Nggak mau," tolak Jelita.
"Kenapa?" tanya Ryo.
"Aku," Jelita memutar otak untuk bisa kabur dari situasi yang membahayakan itu, "Aku ingin ke dapur untuk menyimpan es krim di kulkas, nanti es krimnya bisa meleleh," lanjutnya.
Ryo mengangguk paham, "Yasudah, kamu pergilah, aku akan menunggumu di sini," ucapnya.
"Me-menunggu?"
"Ya," kata Ryo sembari merebahkan dirinya di ranjang milik Jelita.
Jelita menelan saliva berat, kenapa Ryo justru menunggunya? Apa Ryo benar-benar ingin jadi guling?
**
Jelita mondar-mandir di dapur sembari menggigit kuku jarinya.
Setelah menyimpan es krim di kulkas Jelita tidak kembali ke kamarnya, dia takut jantungnya akan benar-benar meledak jika dia menemui Ryo, itu sama saja dengan masuk ke kandang buaya.
"Ada apa, Nona?" tanya Jefra yang ingin menyeduh kopi.
Jelita menghentikan gerakannya, dia agak terkejut dengan kedatangan Jefra yang tiba-tiba, "Kamu mengejutkan aku saja, Jefra," ucapnya.
"Maaf, Nona," kata Jefra.
Jelita menggangguk, "Sudah aku bilang jangan bertingkah sopan kayak gitu, panggil aku Jelita saja," ucapnya.
"Baik, No-Jelita," patuh Jefra dengan canggung.
"Ada apa kamu ke dapur?" tanya Jelita.
"Aku ingin membuat kopi," jawab Jefra, "Kalau No-kamu sendiri sedang apa?" tanya Jefra dengan sangat kikuk dalam memanggil Jelita.
"Nggak ada," jawab Jelita mencoba menutupi rasa gugupnya tadi, "Biar aku saja yang membuatkan kamu kopi," tawar Jelita.
"Tidak usah," tolak Jefra dengan cepat.
"Biar aku saja," ucap Jelita tanpa mengacuhkan Jefra, lagi pula dia juga butuh pengalihan kegiatan, dari pada harus mondar-mandir tidak jelas lebih baik dia membuat kopi.
Pada akhirnya Jefra membiarkan Jelita untuk membuat kopi untuknya.
Bagaimana bisa nona muda dari keluarga Albirru sekaligus calon istri dari tuan mudanya membuatkan dia kopi? Habis mimpi apa dia?
"Kamu ingin kopi apa?" tanya Jelita.
"Kopi hitam saja," jawab Jefra lalu mendudukkan dirinya di kursi.
Jelita segera membuat kopi, dia juga berniat untuk membuatkan Ryo, mungkin dengan menyediakan kopi dan croissant bisa mengalihkan Ryo dari niatnya menjadi guling. Ya, itu adalah ide yang cukup cemerlang.
Lima menit kemudian Jelita selesai menyeduh secangkir kopi hitam dan secangkir kopi susu.
__ADS_1
"Ini kopi kamu," ucap Jelita seraya meletakkan secangkir kopi hitam di meja, tepat dihadapan Jefra.
"Terima kasih," kata Jefra kikuk, dia langsung meminum kopi yang masih mengepul itu.
"Itu masih panas," cegah Jelita.
"Akh," Jefra merasa panas pada lidahnya dan cairan kopi yang tumpah di kemejanya semakin memperburuk keadaannya, "Aduh," rintihnya yang berdiri dari posisi duduknya.
Jelita meringis melihat kecerobohan Jefra, "Kamu gimana, sih," ucapnya seraya mengambil tisu untuk mengelap kemeja Jefra yang ketumpahan kopi, dia berniat menolong.
Namun, sial. Kaki Jelita tersandung kakinya sendiri dan terjatuh ke arah Jefra.
Settt
Sebelum Jelita jatuh ke arah Jefra, dia merasakan jika ada yang menarik kerah bajunya dari belakang untuk menahannya.
"Sedang apa kalian?" tanya Ryo dengan nada yang begitu dingin.
Deg
'Ryo?' Jantung Jelita berdetak maraton kembali.
"Tuan muda," ucap Jefra menunduk sopan, "Ini tidak seperti tuan muda pikirkan," lanjutnya.
Ryo menatap Jefra tajam, dia meneliti Jefra yang terlihat kacau, "Pergilah," titahnya.
Jefra menurut dan berlalu, dia memang harus membenahi keadaan kacaunya itu.
"Lepas," tukas Jelita mencoba melepaskan tangan Ryo yang menarik kerah bajunya, hampir saja dia tercekik dibuatnya, meskipun berkat itu dia tidak jadi terjatuh menimpa Jefra.
Ryo melepaskan Jelita, "Kenapa lama sekali, sih? Aku hampir karatan karena menunggumu dan kamu malah berdua dengan Jefra di dapur," ujarnya mencebikkan bibir.
"Karatan?" beo Jelita, Ryo benar-benar hiperbola, "Aku nggak berduaan dengan Jefra, dia cuman minum kopi," lanjutnya.
"Nggak gitu," Jelita menggeleng, "Aku juga sedang membuatkan kamu kopi dan menyiapkan croissant," lanjutnya sambil menunjuk meja dengan jarinya.
Dan benar saja, ada secangkir kopi susu dan beberapa croissant di piring.
"Aku nggak meminta itu," ucap Ryo, dia mencoba menutupi rasa senangnya saat melihat roti kesukaannya itu. Memang benar jika dia gampang sekali disogok dengan croissant.
"Kamu nggak mau? Kalau begitu aku akan menyimpannya lagi," kata Jelita.
"Jangan," cegah Ryo, "Siapa bilang aku nggak mau?"
"Aku kira kamu nggak mau."
"Mau kok, " ucap Ryo, lalu dia duduk di kursi dan segera menyesap kopi.
Jelita memperhatikan Ryo, dia merasa lega karena sepertinya Ryo melupakan niatnya untuk menjadi guling, idenya untuk mengalihkan Ryo memang brilian.
Namun, pikirannya salah.
Ryo menarik tangan Jelita untuk duduk di pangkuannya.
"Tu-tuan muda," cicit Jelita gugup.
"Duduk yang manis," ucap Ryo sambil mengunyah roti yang dia makan, tangan kirinya memegang pinggang Jelita supaya gadis itu tidak bangkit dari pangkuannya.
Jelita mengangguk, dia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Ryo.
"Gadis penurut," kata Ryo mengelus rambut pendek Jelita yang berada di pangkuannya itu.
__ADS_1
'Apa Ryo nggak jijik dengan rambut klimis aku?' pikir Jelita.
Ryo masih mengelus rambut Jelita seraya menikmati kopi dan roti kesukaannya. Dia memang tidak merasa jijik sama sekali.
Jelita memberanikan diri melingkarkan tangannya untuk memeluk Ryo, "Hangat," gumamnya.
"Lebih baik dari pada memeluk guling, bukan?" Ryo terkekeh.
"Ya, kamu memang lebih baik dari pada guling," ucap Jelita dengan jujur.
Ryo menerbitkan senyumnya, dia cukup senang mendengar ucapan Jekita, "Kalau begitu buang semua guling yang kamu miliki, gantikan saja dengan aku," ujarnya.
Jelita mendongak untuk menatap Ryo, "Maksudnya?" tanyanya.
"Mulai sekarang kita akan tidur bersama karena aku akan menjadi gulingmu," jelas Ryo menunduk untuk menatap Jelita balik.
"Aku nggak mau tidur bersama denganmu," tolak Jelita cepat.
Ryo agak terkejut dengan penolakan Jelita, "Kenapa? Apa kamu benar-benar jijik denganku?" tanyanya.
"Bukan masalah jijiknya," jawab Jelita.
"Terus?" tanya Ryo masih bingung.
"Seorang laki-laki dan perempuan nggak boleh tidur bersama sebelum menikah," jelas Jelita.
"Jadi kita harus menikah dulu?" tanya Ryo agak ragu.
Jelita mengangguk.
Ryo terlihat kaget, sepertinya dia menyalah artikan penjelasan Jelita, "Setelah menyatakan cinta, kini kamu mengajakku menikah? Kenapa kamu seberani ini?" ujarnya dengan wajah yang terbakar.
"Bukan seperti itu, maksu—"
Ryo menutup bibir Jelita dengan telunjuknya agar berhenti bicara, "Baiklah ayo kita menikah."
"A-apa?" Jelita menatap tidak percaya Ryo.
"Ayo kita nikah," ulang Ryo.
Demi ingin menjadi guling dia bersedia menikah dengan Jelita. Sebenarnya apa yang ada dipikiran Ryo?
"Jangan bercanda, tuan muda."
Terlihat ekpresi Ryo yang serius, "Aku nggak bercanda."
"Memangnya kamu sudah me-mencintai aku?" tanya Jelita ragu.
"Aku—"
SPLAASH
Perkataan Ryo terpotong saat lampu tiba-tiba mati, Ryo yang memang belum sepenuhnya sembuh dari gangguan nyctophobia menegang seketika.
Kenapa rumahnya ini sering sekali mati lampu?
"Tenanglah," Jelita mencoba menenangkan Ryo yang mulai gemetar.
Dor
Dor
__ADS_1
Keadaan menjadi menegangkan saat terdengar suara tembakan dari luar.
_To Be Continued_