Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Tanda Cinta


__ADS_3

Jefra menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Renata.


"Jadi kamu marah karena cemburu?"


Renata mencoba memastikan alasan Jefra.


"Cemburu sih tidak, hanya ada rasa yang mengganjal saja saat aku melihat kamu menerima bunga dari Davian," jawab Jefra.


"Sama saja itu namanya cemburu," kilah Renata yang masih menganggap Jefra cemburu.


Dalam suatu hubungan pasti rasa cemburu kerap timbul. Banyak yang mengatakan cemburu sebenarnya adalah bentuk dari rasa memiliki dan cinta kepada sang kekasih. Namun jika terlalu berlebihan, justru akan menyebabkan konflik yang berujung ketidakpercayaan. Padahal Jefra pernah berkata jika dia percaya pada Renata. Jefra jadi malu sendiri, karena merasa mengkhianati perkataannya sendiri.


Senyum Renata terbit, seperti tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Jefra.


"Aku tahu kok kenapa kamu cemburu. Kamu hanya takut kehilangan diriku, bukan?"


"Ya, aku takut sekali. Tapi itu bukan berarti aku tidak mempercayaimu, Renata," jawab Jefra dengan yakin.


Renata meraih tangan kanan Jefra, lalu mengusapkan pipinya pada punggung tangan Jefra.


"Aku sudah menolak Davian. Aku tidak menerima bunga itu, tapi aku mematahkannya. Ya, seperti mematahkan harapan Davian yang ingin kembali padaku. Tentu saja aku tidak mungkin mau kembali padanya, karena aku sudah memiliki kamu yang begitu mencintaiku."


Oh, ayolah, Davian mana bisa menggeser posisi Jefra di hati Renata. Davian hanyalah masa lalu yang mengajarkan Renata arti untuk memahami, mengikhlaskan, dan melaju menuju masa depan. Dan Renata sudah mengubur perasaan masa lalunya itu, tepat ketika Jefra datang dengan membawa sejuta pesona yang membuat hati Renata oleng terus-menerus.


Kehadiran Jefra memang menimbulkan efek yang luar biasa bagi Renata.


Jefra tersenyum saat mendengar perkataan Renata yang menimbulkan rasa hangat dan melegakan pada hatinya. Hati milik Jefra memang selalu sensitif jika berkaitan dengan gadisnya.


"Salahku juga yang langsung pergi tanpa melihat kelanjutannya," Jefra sungguh merutuki kebodohannya itu.


Jefra membayangkan bagaimana ekspresi putus asa Davian yang mendapat penolakan. Apa Davian benar-benar menangis seperti perempuan?


Apa berdosa jika senang di atas kehancuran hati seseorang? Oh, tentu saja tidak, karena yang hancur adalah hati pemuda bereng-sek semacam Davian.


"Ya, itu memang salahmu," ucap Renata mengangguk.


"Ma──"


"Tidak, aku tidak membutuhkan kata maaf," Renata memotong ucapan Jefra yang ingin minta maaf.


"Jadi aku harus apa?" Jefra terlihat bingung.


"Sini mendekat padaku. Aku akan memberimu hukuman."


Renata menggerakkan tangannya, memberikan isyarat untuk mendekat.


Hukuman? Memang apa yang ingin Renata lakukan?


Lalu Jefra menurut.


Renata mendekatkan wajahnya pada Jefra. Tanpa sadar Jefra menelan saliva berat. Dia berpikir jika Renata akan memberikan ciuman untuk hukuman. Jefra sungguh bersenang hati jika begitu. Mata Jefra pun tertutup untuk menantikan itu.

__ADS_1


Namun, tidak sesuai harapan.


Mata Jefra terbuka lebar ketika merasakan kulit lehernya digigit Renata dengan kencang. Terasa perih dan basah.


"Re-Renata," rintih Jefra.


Apa Renata adalah seorang Vampir? Sayangnya ini bukanlah novel bergenre fantasi romantis.


Renata menjauh setelahnya.


"Tanda cinta," Renata terlihat senang karena hasil dari gigitannya, senyum puas nampak di wajah cantik itu.


Jefra bergegas melihat lehernya di cermin bagian kanan mobil. Terdapat jejak gigi dengan ranum merah keunguan. Renata benar-benar nakal sekali.


"Hais, bagaimana jika dilihat orang?" ucap Jefra seraya mengusap leher.


Jefra akan merasa malu jika ada yang melihat tanda cinta Renata yang terlihat jelas itu. Bagaimana bisa seorang Kolonel bertugas dengan keadaan leher bertato gigi.


"Ya, itulah hukuman kamu," kata Renata tanpa ada rasa bersalah.


Dan Jefra hanya bisa pasrah saja, "Baiklah, aku terima hukumannya."


"Bagus," Renata tertawa dengan tangan yang menutup mulut.


Kemudian tawa Renata berhenti, tatapannya terarah ke bola mata hitam Jefra.


"Mulai sekarang kita harus saling terbuka satu sama lain. Kalau hatimu merasakan keganjalan, setidaknya bicaralah. Jangan menahannya sendiri," ujar Renata.


"Ketahuilah, Jefra. Ujian sebelum menikah bisa datang dari segala arah, entah dari diri kita sendiri atau masa lalu yang mendadak datang. Tapi, itu adalah bentuk Tuhan menguji kita untuk membentuk pribadi yang lebih kuat nantinya, karena akad dan resepsi pernikahan adalah gerbang dari kehidupan yang selanjutnya."


Renata memang harus mewanti-wanti si calon Suami.


Jefra tersenyum lembut, "Ya, aku mengerti, sayang," ucapnya sembari mengelus surai panjang Renata.


Ada kalanya ujian sebelum pernikahan diberikan supaya hati lebih mantap. Ujian yang menimpa diberikan untuk melihat seberapa besar kesabaran, serta seberapa besar memantapkan diri untuk membangun sebuah keluarga.


Namun, percayalah di setiap ujian pasti datang sepaket dengan solusinya.


**


Pukul 11 malam. Di kediaman Ryo dan Jelita.


Terlihat Ryo yang sedang sibuk dengan laptop. Si calon Ayah sedang mencari ide penelitian dalam rangka perjuangan untuk mengerjakan skripsi.


Cklek


Jelita keluar dari kamar mandi, dia menjadi sering buang air kecil karena sedang mengandung.


"Sudah mendapatkan idenya?" tanya Jelita yang duduk di samping Ryo.


Mereka berdua duduk di sofa yang berada di tengah-tengah kamar.

__ADS_1


"Aku sedang mencarinya," jawab Ryo.


Jelita menyandarkan kepala di bahu Ryo, "Coba analisis persepsi harga, keragaman produk dari sebuah perusahaan, lokasi, promosi dan suasana perusahaan yang bersangkutan," sarannya.


Cepat sekali Jelita menemukan ide.


"Lalu..."


Jelita mulai mengajarkan Ryo untuk membuat skripsi yang baik. Bukankah Ryo sangat beruntung mendapatkan bimbingan dari istrinya yang super genius.


Ryo jadi semakin bersemangat untuk mengejar kelulusannya. Dia berharap segera wisuda sebelum bayinya lahir.


"Kamu nggak ngantuk?" tanya Ryo pada sang Istri.


"Nggak, aku masih mau menemani kamu membuat skripsi," kilah Jelita.


"Hais, bumil jangan ikut-ikutan begadang."


"Nggak ada guling yang dipeluk," Jelita merengut. Dia mana bisa tidur jika tidak memeluk Ryo, jangan lupakan jika Ryo sudah menjadi gulingnya.


"Oh, ya. Aku lupa," Ryo melupakan soal itu. Mau tidak mau Ryo harus ikut tidur bersama Istrinya.


Kemudian Ryo mulai mematikan laptop, dan membereskan kertas yang berserakan di meja.


Srakk


Satu kertas yang tadinya terselip pada map terjatuh tepat di kaki Jelita. Lalu Jelita langsung mengambilnya.


"Ini..." Jelita membaca isi kertas itu.


"Hmm?"


"Kamu masih menyimpan peraturan ini?" tanya Jelita.


Isi dari kertas itu adalah peraturan konyol yang Ryo berikan padanya dulu. Jika mengingat itu, Jelita tidak percaya jika pemuda yang menurutnya sangat menebalkan, kini sudah menjadi Suaminya.


Ryo segera merampas kertas itu.


"Akhirnya ketemu. Dulu aku mencari-cari kertas ini untuk merobeknya. Ternyata terselip di map."


Kemudian Ryo merobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil.


"Kok disobek?" tanya Jelita menatap bingung.


Ryo membenarkan posisinya menjadi berhadap-hadapan dengan Jelita, menatap manik indah milik Istrinya itu. Dia menjadi merasa tidak enak hati pada Jelita. Peraturan itu adalah bukti dari perlakuan buruknya pada Jelita dulu. Bahkan Ryo sempat menampar Jelita, jika mengingat itu, Ryo jadi ingin memotong tangannya.


"Jelita, maafkan aku."


Andai dapat mengulang waktu, Ryo ingin memperbaiki kelakuan buruknya itu. Namun, Ryo tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa menyesal dan merasa bersalah.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2