Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Kenapa Menolongku?


__ADS_3

Gina baru saja keluar dari cafe. Kemudian memincingkan mata saat melihat Renata yang terdiam menatap anak perempuan.


Secara impulsif Gina ikut berlari, ketika melihat Renata berlari untuk menyelamatkan si anak perempuan yang mau tertabrak mobil


Grep


Renata langsung menggendong si anak perempuan. Tetapi, dia tidak cukup waktu untuk menghindar, karena mobil sudah sangat dekat dan melaju cepat ke arahnya. Sekarang yang bisa dia lakukan adalah memeluk erat anak perempuan yang berada digendongnya.


Tin!


Namun, Renata merasakan jika dirinya didorong oleh seseorang hingga terjatuh ke samping trotoar.


Tin!


BRAKK


Tidak, bukan Renata yang tertabrak.


Dengan mata kepalanya sendiri, Renata melihat tubuh seorang wanita yang tadi mendorongnya tertabrak mobil hingga terpental jauh, dan berakhir tergeletak di aspal jalan raya.


Deg


"Wanita itu tertabrak!"


"Astaga! Cepat telepon ambulance!"


Teriakan-teriakan histeris dari orang-orang yang melihat kejadian itu terdengar.


Jantung Renata berdegup dengan kencang saat melihat siapa wanita yang mendorongnya dan menggantikannya tertabrak mobil. Renata melepas si anak kecil yang menangis di pelukannya.


"Gi... Gina!"


Ya, wanita itu Gina.


"Renata!"


Bersama dengan teriakan Renata, Jefra juga memanggil namanya.


Kemudian Renata berlari ke tempat di mana Gina yang sudah berlumuran darah. Dia bersimpuh di sebelah Gina, bibirnya bergetar, dan mata yang memerah ingin menangis.


"Syu, Uhh... syukurlah, a-aku bi-bisa cepat menolongmu..." Gina berkata di sela-sela rasa sakit yang dia rasakan di seluruh tubuhnya.


"Kenapa... kenapa kamu menolongku, Gina...? Hiks..." tangis Renata pecah.


"Ka-karena ki-kita teman... waktu itu ka-kamu juga me-menolongku," Gina berbicara dengan susah payah.


"Hiks, Gina..." Renata bertambah menangis.

__ADS_1


Dengan tangan bergetar Gina meraih tangan Renata, "Maaf... maafkan aku. A-aku sudah berbuat ja-jahat padamu, aku berharap ki-kita masih bisa ber-berteman dan makan es krim bersama seperti du-dulu... Uhuk," darah keluar dari mulutnya.


"Ya, kita akan selalu berteman, jadi bertahanlah," Renata menggenggam tangan Gina yang bersimbah darah.


Kenapa Gina baru sadar betapa berharganya Renata baginya? Dia bahkan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Renata. Saat melihat Renata ingin tertabrak mobil, tanpa berpikir panjang tubuhnya langsung bergerak.


"Maaf... karena aku sudah menjadi te-teman yang buruk. A-aku harap kamu bi-bisa terus bahagia, ja-jangan salahkan dirimu tentang i-ini..."


Renata mengangguk, dan bersama itu Gina terkulai tidak sadarkan diri.


"Tidak! Bangun Gina! Bertahanlah!"


Jefra datang dan berjongkok di sebelah Renata, "Tenanglah, ambulance sudah datang, kita bawa dia ke rumah sakit."


Dengan dibantu banyak orang, Renata dan Jefra membawa Gina ke rumah sakit.


**


Gina dilarikan ke ruang IGD karena kondisinya kritis. Perawat melihat monitor dan memberitahu dokter jika detak jantung Gina melemah. Dokter langsung menggunakan alat pemacu jantung dan langsung meletakan di bagian dada Gina. Namun, detak jantung Gina semakin melemah.


Di luar ruangan, Renata yang ditemani Jefra sedang menunggu menunjukan raut khawatir.


"Gina... hiks," isak Renata menangis di pelukan Jefra.


"Stt, sudah tidak apa-apa," Jefra mencoba menenangkan Istrinya.


"Aku tidak menyangka kalau Gina akan datang menolongku. Bukankah Gina tertabrak gara-gara aku?" lirih Renata menyalakan diri sendiri.


Sesungguhnya, Jefra sendiri merasa jika dialah yang pantas disalahkan di sini, dia merasa telah lengah untuk menjaga Renata. Tidak seharusnya dia melepaskan perhatiannya saat mengangkat telepon tadi.


Cklek


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu ruang ICU terbuka, menampakan seorang pria berperawakan kurus.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Renata setelah melepaskan diri dari pelukan Jefra. Dia sungguh berharap jika Gina baik-baik saja, dan tidak mengalami luka yang serius.


"Apa ada keluarganya?" Dokter justru bertanya balik.


"Dia sebatang kara, tidak punya keluarga."


Ya, Renata sangat tahu itu. Gina sudah tidak berhubungan dengan orang tuanya yang berada di balik jeruji besi.


"Dia mengalami benturan yang sangat keras di bagian perut, yang mengakibatkan pendarahan luas hingga membanjiri paru-paru dan mendorong jantung sehingga tidak bisa berfungsi normal."


"A-apa?" Renata tercekat mendengar apa yang dijelaskan Dokter.


"Kami sudah mencoba yang terbaik untuk menolong, tapi paru-paru dan jantungnya sudah rusak karena adanya penumpukan udara. Dia dan bayi yang sedang dikandungnya sudah tiada."

__ADS_1


Jadi Gina sedang mengandung? Apa itu anak Davian?


Renata langsung tergugu dan pikirannya menjadi kosong. Akal sehatnya seolah berhenti bekerja.


"Ti-tidak," Renata menggeleng kuat, tidak mau percaya dengan sesuatu yang dia dengar itu.


Jefra menarik Renata ke dalam pelukannya lagi. Renata menangis dan meraung di dalam pelukan Jefra.


"Gina, tidak mungkin, hiks... itu bohong kan, Jef?"


Jefra mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Istrinya.


Kehilangan Gina untuk selama-lamanya tentu menjadi hal yang paling menyedihkan bagi Renata. Mekipun Gina pernah menyakitinya, tapi wanita itu sudah minta saat kata terakhirnya, bahkan ingin kembali berteman dengan Renata. Namun, Gina sudah pergi sebelum mereka memulai pertemanan itu kembali.


"I-ini salahku..."


Karena terlalu shock Renata pingsan di pelukan Jefra.


**


Gina benar-benar dinyatakan sudah meninggal oleh Dokter. Kemudian Gina dibawa petugas ke kamar jenazah untuk segera dilakukan pemulasaraan.


"Gina!"


Itu suara Davian yang baru memasuki kamar jenazah. Keadaannya yang memang sudah kacau bertambah kacau saat ini. Jika ditanya kenapa Davian bisa datang, itu karena Jefra yang memberi tahu. Jefra berpikir jika Davian perlu mengetahui keadaan Gina dan bayinya.


Di tengah ruangan terlihat seorang gadis terbaring di brankar rumah sakit. Perawat yang melihat kedatangan Davian langsung segera menyingkir.


"Gina..." perkataan Davian terhenti di tenggorokan ketika sudah berada di sisi ranjang.


Davian dapat melihat keadaan Gina yang sudah tidak bernyawa. Matanya terpejam dengan muka pucat dan bibir yang membiru.


Dipegangnya tangan Gina yang terasa dingin dan kaku, "Kenapa kamu nggak bilang kalau sedang hamil?"


Tidak ada respon sama sekali dari wanita itu.


Pemuda itu sungguh sangat terpukul dengan kenyataan jika Gina sudah pergi membawa bayi mereka. Seandainya Gina bilang jika sedang mengandung, dirinya pasti akan memperlakukan wanita itu dengan lebih baik, karena mau bagaimanapun juga bayi yang sedang dikandung Gina adalah darah dagingnya.


Dan sekarang, Davian kembali mengalami penyesalan.


"Sial!"


Air mata menetes dari pelupuk mata Davian.


Terlalu menyesali hanya akan membuat kita lupa untuk bersiap memperbaiki. Davian memang menyesal karena sudah menyakiti Renata. Bukannya sadar untuk tidak menyakiti wanita lain, tapi justru menyakiti Gina. Kini, Davian sadar betapa brengseknya dia. Perbuatannya sudah menenggelamkan dia sampai menjadi benar-benar tidak berguna.


"Gina, maafkan aku."

__ADS_1


Davian hanya bisa menangis di antara deretan panjang penyesalannya. Ini adalah hal yang harus dia terima karena mempunyai ego yang sangatlah besar. Dan juga dia harus terima jika waktu tidak akan bisa kembali lagi.


_To Be Continued _


__ADS_2