
Esoknya, H-1 pernikahan Jelita dan Ryo.
"Kenapa kamu membawa aku ke sini, Renata?" tanya Jelita saat dirinya tengah ditarik sang sepupu untuk memasuki sebuah salon.
"Tentu saja untuk melakukan perawatan, besok kamu akan menikah, kamu harus tampil cantik," jawab Renata.
"Tapi aku sudah cantik," ucap Jelita percaya diri, sepertinya dia sudah tertular penyakit narsisme milik Ryo.
Renata memutar bola matanya, "Kamu itu sedang menyambut hari terpenting dalam hidup, setiap perempuan pasti ingin tampil paling maksimal bagaikan seorang ratu di hari pernikahannya. Kamu harus melakukan perawatan tubuh dan perawatan wajah agar Ryo semakin tergila-gila padamu," jelasnya.
Seketika Jelita mendadak antusias, "Ya," pada akhir dia pun menurut.
Kemudian Jelita mulai memanjakan dirinya dengan berbagai macam perawatan. Seperti lulur, masker dan facial wajah, perawatan rambut, serta perawatan tangan dan kuku. Semestinya dia melakukan itu sebulan atau 1 Minggu sebelum hari pernikahan. Namun, Jelita tidak sempat melakukan itu karena dia harus menjadi Bodyguard dan lagi pernikahannya begitu mendadak.
Cukup memakan waktu yang lama untuk melakukan semua perawatan itu.
Setelahnya, Renata mengajak Jelita memasuki butik yang memang sudah diperuntukan untuk menyiapkan gaun pernikahan Jelita. Beberapa gaun memang sudah disiapkan dan Jelita tinggal mencobanya.
Ya, agenda selanjutnya adalah fitting gaun pengantin.
"Wah, sangat cantik dan indah," kata Renata dengan tatapan berbinar.
Jelita terlihat menawan dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dengan model mermaid dress dan memiliki detail bordir di bagian atas dan Lace di bagian bawah. Sentuhan V neck yang ditampilkan oleh gaun membuat penampilannya terlihat lebih seksi dengan cara elegan.
Jelita tampak merona karena pujian Renata, dia juga sangat menyukai gaun pengantinnya ini.
"Aku akan memilih gaun yang ini," ucap Jelita sembari melihat pantulan dirinya di kaca yang lumayan besar.
"Pilihan yang bagus, Nona. Gaun pengantin itu memang membuatmu terlihat anggun sekaligus memesona," ujar Desainer si perancangan gaun.
Seharian ini Jelita begitu sibuk dengan persiapan pernikahannya. Saking sibuknya, dia melupakan keadaan Ryo paska dirinya pergi.
**
Di sisi lain.
"Putus cinta itu biasa. Putus rem, nyawa taruhannya," celetuk Gavin.
Ryo yang sedang terduduk di sofa tidak menghiraukan Gavin yang tahu-tahu ada di rumahnya itu, siaran televisi yang menayangkan Dora the Explorer alias film kesukaannya itu juga tidak Ryo perdulikan.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Yo? Padahal besok mau menikah," ucap Kavin yang juga datang, "Harusnya kamu bahagia doang," lanjutnya.
Ryo semakin suram saat Kavin justru mengingatkan akan pernikahannya, "Jangan ungkit pernikahanku," ujarnya.
Kavin mengeryit heran karena respon Ryo yang seolah tidak menyukai pernikahannya yang akan di gelar besok, pemuda bule itu memang itu memang tidak tahu tentang Ryo yang mencintai Jelita.
Sedangkan Gavin menepuk bahu Kavin agar diam, dia yang tahu akibat kegalauan yang Ryo rasakan memang sengaja datang ke sini untuk sekedar menghibur temannya itu.
Sudah dua hari ini Ryo tidak masuk kuliah, bukan karena sibuk mempersiapkan pernikahan tapi justru mengurung diri di rumah.
Siapa bilang laki-laki tidak bisa galau seperti halnya wanita? Laki-laki juga bisa galau berat. Inilah yang tengah dirasakan Ryo sejak dua hari ini.
Tidak dapat dipungkiri, rasa resah, gelisah, gundah gulana yang disebabkan oleh kepergian Jelita mengakibatkan hal impulsif terhadap sikap Ryo, membuat pikirannya menjadi tidak keruan karena tak kunjung menemukan solusinya untuk menghilangkan Jelita dalam pikirannya. Dia tentu merasa frustasi dan sangat depresi karena orang yang sangat dicintai pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun sebelumnya.
"Sebenarnya ada apa dengan Jelita?" tanya Gavin kemudian.
"Dia pergi," jawab Ryo, dari suaranya saja terdengar adanya kepedihan.
"Jadi kamu galau karena Jelita?" tanya Kavin yang masih belum tahu situasi.
"Jelita meninggalkan aku setelah kami menghabiskan malam bersama, aku tidak menyangka jika dicampakkan akan sesakit ini," ucap Ryo sembari memegang dadanya yang berdenyut sakit.
Gavin dan Kavin terkejut mendengarnya, mereka menatap Ryo seakan sedang menemukan keajaiban dunia. Sang Casanova sudah bertekuk lutut pada seorang wanita.
"Ya, aku sangat mencintainya," jawab Ryo, matanya melihat ke bawah.
"Jika Jelita pergi, kamu hanya harus mencarinya saja," ujar Gavin mencoba memberi semangat.
Ryo menggeleng, "Dia melarang aku untuk mencarinya," ucapnya.
"Kenapa kamu lemah sekali, Ryo?" tukas Kavin memincingkan mata, "Jika kamu mencintainya maka kejarlah dia, seharusnya kamu nggak menyerah begitu saja hanya karena sekedar larangan," lanjutnya.
Untuk masalah kejar mengejar cinta tentu saja Kavin yang lebih tahu, dia sudah cukup berpengalaman mengajar cinta Reva.
"Tapi... bagaimana kalau Jelita semakin membenciku?" tanya Ryo sembari menatap Kavin.
"Membencimu? Memang apa yang telah kamu lakukan sebelumnya?" tanya Gavin dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja karena aku sudah merenggut kehormatannya, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Padahal aku akan menikah dengan gadis lain, tapi justru aku menodainya," jelas Ryo seraya meremas rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Maka carilah Jelita, temui dia, dan minta maaflah padanya secara langsung. Sebuah masalah nggak akan selesai hanya dengan berdiam diri dengan rasa galau yang nggak berujung," ujar Kavin.
Ya, harusnya Ryo melakukan itu.
**
Di sebuah restauran.
"Akhirnya selesai juga," ucap Renata bernapas dengan lega.
Agenda hari ini telah terselesaikan dengan baik.
"Kenapa jadi kamu yang repot, Renata? Padahal aku yang ingin menikah," ucap Jelita.
"Tentu saja karena aku ingin pesta pernikahan sepupu tercintaku menjadi sangat luar biasa," kilah Renata dengan hebohnya.
Jelita jadi tersentuh dibuatnya, "Terima kasih," ucapnya.
"Ya, sama-sama," jawab Renata tersenyum, "Aku harap kamu bahagia setelah menikah dengan Ryo," lanjutnya.
Jelita mengulum senyum, "Aku bahagia karena akan menikah dengan orang yang aku cintai," ucapnya.
"Syukurlah."
"Tapi..."
Jelita menggantung perkataannya sesaat.
"Aku takut saat bertemu Ryo nanti, dia pasti akan kecewa karena aku telah berbohong selama ini," sambungnya dengan memainkan jarinya yang bertaut di atas meja.
"Itulah resiko yang harus kamu ambil," ujar Renata.
"Ya, aku tahu itu."
Ya, Jelita tahu jika dia harus berani mengambil risiko apa pun ketika dia memutuskan untuk memulai suatu kebohongan.
"Kamu harus berani mengatakan kejujuran pada Ryo dan meminta maaflah padanya," ujar Renata, dia berharap jika hubungan Jelita dan Ryo berjalan dengan lancar.
Meskipun suatu buhungan yang berawal dari kebohongan tidaklah baik. Namun, meminta maaf untuk kesalahan yang dibuat akan menjadikan keadaan terasa lebih baik. Sejatinya di dalam semua kehidupan selalu ada tempat untuk sebuah kata maaf dan rasa penyesalan.
__ADS_1
"Ya, aku akan meminta maaf pada Ryo," ucap Jelita dengan yakin.
_To Be Continued_