Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mulai Perhatian


__ADS_3

Sachi memikirkan tentang apa yang dikatakan Renata saat jadwal konsultasinya.


Apa penyakitnya benar-benar bisa sembuh?


Jika bisa, Sachi sangat mengharapkan itu, sejatinya dia merasa sangat tidak nyaman dengan rasa cemas yang kerap kali mengganggu pikirannya.


Cklek


Dibukanya sebuah pintu berwarna putih.


Hal pertama yang Sachi lihat adalah ruangan serba putih. Lalu langkah kakinya masuk lebih dalam ke ruangan itu.


Terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di bibir ranjang, menatap kosong pemandangan di luar jendela.


"Ibu."


Wanita itu adalah sang Ibunda Sachi, yang bernama Amanda.


Kekerasan rumah tangga yang dilalui Amanda berdampak berkelanjutan. Pelecehan fisik, mental, dan emosional yang dialaminya selama periode waktu yang lama memang sangatlah kejam.


Ibu Sachi mengalami gangguan stres pasca-trauma. Kenyataan kalau bukan hanya Sachi yang mengalami trauma.


Bisa dibayangkan bagaimana kejamnya perlakukan Ayah Sachi. Meskipun pengalaman buruk itu sudah berakhir tatkala ada tetangga yang melaporkan ke polisi, tapi tetap mengakibatkan dampak yang tidak mudah dilupakan bagi korbannya.


"Si-siapa ka-kamu?" Amanda gemetar ketakutan saat melihat Sachi yang mendekat.


Sachi menatap sang Ibu sendu, "Aku Sachi, Ibu."


"Sachi?" Amanda mulai menghilangkan rasa takutnya.


Sachi tersenyum dan mengangguk.


"Kamu sudah pulang sekolah, sayang?" tanya Amanda memeluk Sachi.


"Ya, Sachi sudah pulang," jawab Sachi, dia mencoba menahan tangisnya.


"Jangan takut, ya. Ayahmu sedang pergi bekerja," ucap Amanda sembari mengelus rambut panjang Sachi.


Sachi mengangguk, lalu melerai pelukan Amanda.


"Ibu sudah makan?" tanya Sachi.


"Sudah kok," jawab Amanda.


Namun, sedetik kemudian wajahnya memucat. Amanda mengigit kuku-kuku jari, terlihat panik.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Ibu belum memasak untuk Ayahmu, pasti dia akan marah lagi. Tunggu, Ibu akan memasak dulu," kata Amanda dengan panik.


Sachi segera menahan sang Ibu yang ingin bangkit dari ranjang, "Di sini saja Ibu."


Amanda menggeleng kuat, "Ayahmu akan marah kalau Ibu tidak masak, lepaskan ibu!" serunya memberontak.


Sachi segara memeluk Ibunya, "Tenanglah, Ibu. Ayah sudah tidak ada, Ibu tidak akan dimarahi Ayah lagi," ucapnya mencoba menenangkan Ibunya.


"Be-benarkah?" Amanda mencicit.


"Ya, Ibu," jawab Sachi yang sudah tidak bisa menahan tetasan air matanya.


Hatinya begitu sakit tatkala melihat keadaan sang Ibu. Sachi sungguh terluka melihat Ibunya masih terbayang-bayang dengan perilaku Ayahnya. Dia sangat menyayangi Ibunya. Dirinya berharap sang Ibu segera sembuh dan kembali sehat sehingga bisa pulang ke rumah. Sachi akan selalu menjaga Ibunya dengan sekuat tenaga.


"Apa Ibu sudah minum obat?"


**


Hari demi hari telah berlalu, sudah 5 hari lamanya Sachi merawat Gavin.


Sachi membuka matanya, dia bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk di sofa panjang. 5 hari ini dirinya memang selalu tidur di ruang rawat Gavin untuk menemani si pemuda setiap malamnya, kadang kala dia juga bertukar giliran dengan Mommy Elena.


Senyum terbit di bibir pualam milik Sachi ketika melihat selimut yang menyelimutinya saat tidur tadi. Kemudian tatapannya teralihkan ke arah Gavin yang masih tidur di ranjang dengan tangan yang masih diinfus.


Seperti hari-hari sebelumnya, Gavin secara diam-diam memberikannya selimut. Padahal Sachi sudah mengingatkan agar pemuda itu tidak memberikannya selimut, padahal Gavin sendiri membutuhkan selimut itu.


Cklek


"Selamat pagi," sapa seorang perawat yang membuka pintu dengan tersenyum ramah.


"Pagi, Sus," jawab Sachi dengan tersenyum juga seraya bangkit berdiri.


Bersama itu Gavin membuka matanya.


"Baru bangun?" tanya perawat pada Gavin.


Gavin yang masih mengumpulkan nyawa hanya mengangguk.


"Syukurlah, sepertinya kamu sudah bisa tidur nyenyak," lanjut si perawatan.


"Ya, kepalaku sudah tidak terasa sakit lagi, hanya sesekali saja sakitnya," ucap Gavin.


Si perawat tersenyum, "Sepertinya pacarmu menjagamu dengan baik, ya."


"Pa-pacar?" Gavin tercekat sampai-sampai tersedak napasnya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Sachi merasa mual ketika mendengar kata 'pacar'. Dia masih tidak bisa jika mendengar kata itu.


Tanpa Sachi sadari Gavin melihat perubahan ekspresinya. Pemuda itu mengira-ngira kenapa Sachi tiba-tiba terlihat pucat. Gavin mengira jika Sachi sangat tidak suka dengan perkataan si perawat. Mungkin gadis itu sedang berusaha untuk menjaga perasaan sang suami.


"Kami tidak pacaran, Sus. Dia itu Dosenku," sangkal Gavin.


"O-oh, maaf, aku kira kalian berpacaran," ujar Suster jadi merasa tidak enak.


Kemudian Suster mulai mengukur tekanan darah Gavin. Selama pengukuran, Gavin duduk di atas ranjang dengan lengan ditopang sehingga siku setinggi jantung. Manset diletakkan pada lengan atas Gavin.


Selama itu pula Gavin menatap wajah manis Sachi. Tatapan mereka pun bertemu, lalu mereka saling bertukar senyum. Untunglah ekpresi Sachi sudah kembali santai lagi.


Setelahnya si perawat menyelesaikan pengukurannya, lalu beralih pengecekan suhu tubuh, dan pengecekan infus.


"Aku sudah baik-baik saja kan, Sus? Apa aku boleh pulang hari ini?" tanya Gavin menyuarakan keinginannya.


Gavin memang sudah tidak betah di rumah sakit, dia bosan karena selalu dikasih makan bubur dan minum obat setiap saat. Dia pun sudah sangat ingin bergerak dengan bebas. Walaupun dirinya juga merasa senang berkat Sachi yang merawatnya. Namun, Gavin juga tetap merasa tidak enak karena sudah memanfaatkan kebaikan Dosennya itu.


"Nanti, ya. Kamu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut lagi. Kamu baru boleh pulang setelah melakukan pemeriksaan itu, tapi dengan catatan mendapatkan hasil yang baik," ujar si perawat.


Sebenarnya perawat memang tidak bisa memberi keputusan untuk memulangkan seorang pasien, Dokter yang bersangkutan lah yang dapat melakukan itu.


Gavin merengut mendengarnya. Padahal dia ingin sekali pulang hari ini.


"Kalau begitu aku permisi dulu," ucap si perawat.


"Oh, ya, Sus. Boleh minta selimut tambahan?" tanya Sachi. Untunglah dia tidak lupa.


"Boleh, nanti dibawakan."


Setelah mengatakan itu, si perawat beranjak untuk ke luar.


"Apa kamu ingin jalan-jalan ke luar?" ujar Sachi sepeninggal perawat.


Gavin yang awalnya merengut langsung berbinar senang, "Memangnya Mrs. Sachi tidak ke kampus?"


"Hari ini aku hanya memiliki jadwal mengajar kelas sore. Karena itu aku bisa menemani kamu ke luar untuk berjemur di taman rumah sakit. Sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan."


Sebenarnya Sachi hanya ingin menghibur Gavin agar tidak cemberut karena belum diperbolehkan pulang.


"Ayo kita ke luar," kata Gavin dengan semangat, dia menang sudah terlalu sumpek di dalam kamar rawatnya.


"Tapi setelah kamu mandi dan sarapan," ucap Sachi.


"Aih..."

__ADS_1


Entah Sachi menyadari atau tidak, dirinya sudah mulai perhatian pada Gavin. Tidak tahu jika itu hanyalah rasa tanggung jawab atau rasa yang berarti lain.


_To Be Continued_


__ADS_2