Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Serangan Panik


__ADS_3

"Benar aku memiliki penyakit psikis."


Kini Sachi dan Gavin sedang duduk di sebuah kursi, depan kamar rawat. Mereka disuruh ke luar karena Dokter sedang menangani kambuhnya gangguan emosional Amanda.


"Philophobia. Cirinya adalah menghindari orang yang berniat memberikan cinta. Merasa tidak nyaman atau bahkan ketakutan ketika berhubungan dengan sebuah ikatan emosional yang cukup dalam. Mungkin banyak orang menyebutnya fobia jatuh cinta."


"Penderita penyakit ini sangat sulit untuk menjalin hubungan, tidak bisa menerima cinta atau mencintai."


Sachi sangat tahu jika penyakitnya sangatlah konyol. Dia berharap jika Gavin memiliki rasa toleransi untuk mengerti keadaannya.


Sekarang bagaimana pendapat Gavin? Apa dia dapat menerima keadaan Sachi yang tidak normal?


"Ah..." Gavin membuka mulutnya.


Sachi menoleh untuk menatap ekspresi Gavin. Ekspresi yang terlihat begitu terkejut, seakan tidak percaya.


Kemudian Sachi bangkit. Ya, pasti Gavin tidak percaya dengan penyakit anehnya ini. Sepertinya Sachi salah. Gavin pasti tidak akan mengerti tentang dirinya, karena tidak menghadapi apa yang tidak diketahui.


Sachi berlari meninggalkan Gavin, pelupuk matanya terasa berat karena air mata yang mendesak keluar.


"Mrs. Sachi!"


Bahkan Sachi tidak memperdulikan Gavin yang meneriaki namanya.


"Hais, kenapa dia lari?" Gavin menjadi gusar sendiri.


Kemudian Gavin mencoba mengejar Sachi. Melangkah cepat di koridor rumah sakit, mata cokelat miliknya bergerak kesana-kemari. Sachi sedang memakai baju dengan warna merah yang terlihat mencolok, tidak sulit untuk mencarinya.


Seketika Gavin berhenti, tepat di pintu ke luar rumah sakit yang terbuka otomatis.


ZRAAASHH


Ternyata hujan deras sedang mengguyur. Gavin melihat sekeliling, terlihat raut wajahnya yang begitu khawatir kalau-kalau Sachi nekat menerobos hujan.


JGEEER


Guntur dan kilat petir menyambar dengan sangat kencang. Dan benar saja, Gavin melihat Sachi sedang menerobos hujan menuju ke luar pagar. Pemuda itu langsung menerobos hujan, untuk mengejar.


"Tunggu, Mrs. Sachi!" seru Gavin ketika sudah agak dekat dengan Sachi, tapi dihiraukan.


Sachi menghentikan taksi dengan melambaikan tangan kanan, lalu langsung masuk ke kursi belakang.


"Cepat jalan, Pak."


Tok.. Tok... Tok...


Gavin mengetuk pintu kaca mobil yang Sachi tumpangi.


"Nona, dia───"


"Jalan saja, Pak," pungkas Sachi memotong perkataan si supir taksi.


Si supir taksi menurut dengan apa yang dikatakan Sachi. Dia bahkan hanya terdiam ketika mendengar suara tangis dari penumpangnya itu.


**

__ADS_1


Sesampainya di rumah.


Di rumah inilah Ayahnya meninggalkan kenangan menakutkan itu. Bukannya tidak ingin pindah dari rumah yang membuatnya terbayang-bayang kekejaman sang Ayah. Sachi hanya tidak ingin kehilangan kenangan indah bersama Ibunya di rumah ini.


Ya, tidak hanya kenangan buruk, akan tetapi masih banyak kenangan indah di dalam rumah ini.


Sachi merosot ke bawah, terduduk di lantai yang dingin dengan keadaannya yang basah kuyup. Ke dua tangan menangkup wajahnya yang sudah berderai air mata. Isak tangis terdengar.


"Uhuk... Uhuk..."


Napasnya terasa ngos-ngosan.


Betul-betul mengecewakan. Padahal Sachi sudah bertekad untuk melawan rasa takutnya. Namun, dia justru langsung menciut ketika melihat ekspresi Gavin yang tidak dia harapkan sebelumnya.


Sachi menjadi bingung dan sedih.


Saat ini perasaan gadis itu memang sedang sensitif sekali. Hal sekecil apapun pasti langsung membuatnya pesimis, dan gelisah sejadi-jadinya.


Sepertinya ini karena sudah empat hari Sachi tidak meminum obat. Dia memang ingin mencoba lepas dari obat-obatan penenang itu.


Sachi mencoba mengobrak-abrik tas miliknya, mencari obat yang mungkin bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.


Ketemu.


Namun, belum sempat Sachi meminumnya terdengar suara ketukan pintu.


Knock... Knock...


"Mrs. Sachi!"


"Tolong, buka pintunya!"


Sachi sangat terkejut dibuatnya. Kenapa Gavin bisa menyusul sampai ke rumahnya?


"Uhuk... uhuk.. hhh..."


Napas Sachi menjadi sesak karena serangan panik.


"Bukalah! Atau aku akan berbuat nekat untuk mendobraknya!" seru Gavin dari balik daun pintu.


"Uhuk.."


Sachi tidak sanggup untuk menjawabnya.


BRAK BRAK


Gavin benaran mencoba mendobrak pintu rumah Sachi. Dia memang sungguh nekat. Entahlah, Gavin hanya mengikuti insting karena perasaannya tidak enak. Dirinya takut jika Sachi kenapa-kenapa.


BRAKKK


Pintu rumah Sachi berhasil Gavin buka.


Dan dugaannya benar. Mata Gavin terbelalak ketika melihat keadaan Sachi yang terduduk lemas di lantai dengan napas yang hampir habis.


Dihampirinya Sachi, lalu merengkuh ke dua pipi yang telah basah olah air mata, "Kamu kenapa?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Hhh... o-obat," kata Sachi dengan susah payah.


Gavin melihat obat yang dipegang Sachi, diambilnya obat itu, "Obat antidepresan?"


Ya, itu tertulis dengan jelas.


Sepertinya Sachi harus meminumnya.


Gavin segera bangkit untuk melangkah ke tempat yang dia yakini dapur. Rumah Sachi memang tidak terlalu besar, ruang tamu langsung bersebelahan dengan dapur dan ruang makan.


"Hanya dengan cara ini."


Gavin memasukan obat ke dalam mulutnya, lalu meminum air yang dia ambil di dapur.


Setelahnya, Gavin kembali ke tempat di mana Sachi berada. Berjongkok tepat di hadapan Sachi. Tangannya menarik pipi Sachi dengan lembut dan perlahan, membuat mulut gadis itu terbuka. Lalu tanpa basa-basi lagi langsung menempelkan bibirnya pada bibir ranum Sachi.


Gavin berinisiatif memasukan obatnya.


Sachi melebarkan matanya. Luar biasa terkejut dengan cara Gavin yang memasukkan obat dari mulut ke mulut. Tubuhnya gemetar, bahkan nyaris limbung jika Gavin tidak memeluk pinggulnya. Air menetes dari bibi menuju dagu Sachi.


Wajah Gavin menjauh, melepas tautan bibir mereka.


"Akhirnya tertelan juga," kata Gavin setelahnya.


"Uhuk..." Sachi terbatuk.


Gavin menghapus jejak air mata Sachi dengan ke dua ibu jarinya. Hatinya terasa sakit melihat sisi rapuh gadis yang dicintainya itu. Dia tidak menyangka jika gadis semanis Sachi telah mengalami banyak penderitaan selama ini.


"Sachi, kamu pasti telah banyak mengalami kesulitan dari pada orang lain. Meskipun tidak ada hal lain di dunia yang bisa kamu percayai, tapi percayalah kalau aku mencintaimu sepenuh hatiku," ungkap Gavin begitu tulus.


Sachi tertegun mendengarnya. Mata-mata berkaca-kaca, air matanya ingin tumpah lagi.


"Meski aku tahu kalau kamu sedang sakit, aku akan tetap mencintaimu. Ingin terus memelukmu seperti ini, menciummu, melindungimu, dan melakukan banyak hal bersamamu."


Air mata Sachi benar-benar tumpah kembali. Ternyata Gavin benar-benar tulus mencintainya.


"Jangan menangis lagi, hmm," ujar Gavin sembari mengusap pipi kemerahan Sachi dengan ibu jarinya.


Sachi mengangguk, "Gavin... hiks..."


"Sudah mengangguk kok malah nangis?" ujar Gavin tergelak.


"Gavin..."


Sachi menghambur ke pelukan Gavin.


Gavin terkejut untuk beberapa detik. Kemudian tersenyum dan membalas pelukan Sachi.


Sachi semakin mengeratkan pelukannya.


Untuk sekali dalam hidupnya. Sachi ingin selalu bersama seseorang. Ketika bersama Gavin keinginannya itu muncul begitu saja.


Hati Sachi yang awalnya penuh dengan ketakutan dan kegelisahan, kini telah dipenuhi rasa hangat yang begitu menyenangkan.


"Gavin, Terima kasih."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2