Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

Ting Tong


Jelita yang mendengar suara bel mengeryit heran, "Siapa yang bertamu?" gumamnya seraya berjalan kearah pintu dan membukanya.


Terlihat pemuda berambut pirang dengan mata biru, "Selamat sore, Bu. Apakah Ramaryo ada di rumah?" ucapnya, terlihat di sebelahnya ada sebuah koper.


Pelipis Jelita berdenyut karena kesal, bisa-bisanya dia dipanggil 'Bu', "Pergilah, di sini nggak ngasih sumbangan," ucap Jelita seraya menutup pintu.


Namun, segera di tahan si pemuda pirang, "What? Aku nggak meminta sumbangan, aku ini teman Ryo."


Jelita meneliti penampilan tamu yang tidak diundang itu, terlihat urakan dengan celana robek sana sini, bagaimana bisa Ryo berteman dengan bule berandal?


"Siapa yang datang, cupu?" tanya Ryo yang mengurungkan niatnya untuk ke kamar karena kepo.


Si pemuda pirang berbinar senang melihat Ryo, "Ini aku Kavin, pembantu kamu malah mengusirku."


Kavindra Rafeyfa, teman seperjuangan Ryo saat di LA. Pemuda itu memang asli orang LA, tapi dia sudah sangat lancar berbahasa Indonesia, dia memang sengaja belajar bahasa dari negara orang yang dia cintai.


Jelita menatap kesal Kavin, setelah memanggilnya 'Bu' sekarang justru mengira dia pembantu.


"Dia bukan pembantuku," sengit Ryo, dia tidak suka jika Jelita disamakan pembantu, "Tapi Bodyguardku."


"Oh, maaf aku kira pembantu," kata Kavin kikuk.


Ryo menatap Kavin dan koper yang dibawa pemuda bule itu, "Ngapain kamu ke sini? Apa kamu janjian dengan Reva untuk menyusul aku ke Indonesia?" tanya Ryo menyelidik. Dia memang tidak terlalu percaya dengan Reva yang berkata jika Ibunya sedang sakit.


"Tentu saja untuk menyusul ke dua temanku, kalian tega sekali meninggalkan aku di LA," ucap Kavin dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat.


Ryo memutar bola matanya, "Aku ke Indonesia bukan untuk berlibur."


"Tapi aku sangat kesepian karena tidak ada kalian," kata Kavin mencebikkan bibirnya.


"Lebay banget," ucap Ryo.


"Lebay itu apa, Yo?" tanya Kavin yang belum mempelajari kata lebay.


Ryo menepuk jidat. "Lebay itu ganteng," jawab Ryo sengaja menyalahkan.


Jelita menatap tidak percaya Ryo yang justru menyesatkan temannya sendiri.


"Thanks sudah bilang aku ganteng," ucap Kavin terlihat senang, dia percaya saja dengan Ryo.


'Bertambah lagi satu orang bodoh,' batin Jelita menatap Ryo dan Kavin bergantian.

__ADS_1


"No problem," jawab Ryo.


Setelahnya Ryo mengajak Kavin untuk masuk ke dalam rumah, pemuda bule itu baru saja sampai di Indonesia, dia berniat untuk menginap sehari di rumah Ryo, setelahnya dia akan pindah ke apartemen.


"Mau berapa lama kamu di Indonesia?" tanya Ryo saat dia dan Kavin sedang duduk di ruang tamu.


"Entahlah," jawab Kavin mengedikkan bahu.


"Dasar manusia kurang kerjaan," ejek Ryo, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kavin.


"Aku nggak kurang kerjaan," sangkal Kavin, "Aku sengaja datang untuk mengejar wanita yang aku cin—"


Ting Tong


Perkataan Kavin terpotong karena bel yang berbunyi.


"Ck, siapa lagi sih?" tanya Ryo sedikit ngegas.


"Aku juga nggak tahu, jangan tanya aku," jawab Kavin apa adanya.


"Sana buka pintunya," suruh Ryo pada Kavin, pasalnya Jelita sedang memasak di dapur.


"Aku tamu loh, masa disuruh-suruh," gerutu Kavin, tapi dia tetap beranjak untuk membuka pintu, dia memang cukup terbiasa dengan sifat bossy Ryo.


"Kamu..."


"Hai, Sweety," Kavin segera memeluk Reva.


Revalia, wanita yang Kavin cintai. Pemuda itu memang sengaja datang ke Indonesia untuk mengejar Reva. Cinta memang begitu rumit, disaat Reva mengejar Ryo dan di sisi lain Kavin juga mengejarnya.


Kavin tahu Reva mencintai Ryo dan perasaannya bertepuk sebelah tangan, sakit memang sakit rasanya, kecewa memang kecewa yang dia dapatkan, tetapi dia yang memilih untuk mencintai Reva. Kavin hanya bisa bertahan, tidak peduli bagaimana rasa sakitnya, karena akan lebih sakit jika dia kehilangan Reva.


Reva segera melepas pelukan Kavin paksa, dia terlihat kesal, "Sedang apa kamu di sini, Kavin?"


"Tentu aja sama sepertimu, aku sedang menyusul orang yang aku cintai," jawab Kavin jujur.


Reva menatap Kavin rumit, dia memang tahu perasaan Kavin untuknya, tapi dia tidak bisa membalas perasaan pemuda itu, dia sudah terlanjur mencintai Ryo, lagi pula Kavin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ryo. Kavin tidak lebih kaya dan tidak lebih ganteng dari Ryo, jadi tidak ada alasan untuk Reva memilih Kavin.


Reva adalah perempuan dengan selera yang tinggi, bisa dibilang materialistis.


"Lakukan sesukamu saja, Kavin," ucap Reva setelah menghela napas berat, "Tapi jangan pernah mengganggu rencanaku untuk mendapatkan Ryo."


Kavin tersenyum getir, "Tenang saja, Sweety."

__ADS_1


Kemudian Reva masuk ke dalam dan diikuti Kavin di belakang.


"Baby," Reva mencium pipi Ryo yang terduduk di sofa.


Ryo menampilkan raut tidak suka, "Sudah aku bilang kan, jangan mencium aku."


Reva tidak menghiraukan ketidaksukaan Ryo, dia langsung duduk di sebelah Ryo. "Aku membawakan kamu croissant," katanya sambil menunjukan bungkusan yang dia bawa.


Ryo berbinar melihat itu dan mengambil bungkusan yang Reva bawa, "Thanks, baru saja aku ingin mengusir kamu karena sudah datang tanpa diundang seperti Kavin. Tapi karena ini nggak jadi deh."


"Cih, gampang sekali disogok," celetuk Kavin yang terduduk di sofa satunya.


"Iri bilang, bos," kilah Ryo dengan ekspresi mengejek.


Kavin melengos, dia menang iri dengan Ryo.


"Baby, kamu tidak memberikan aku ciuman untuk ucapan terima kasih? Aku rindu sekali padamu," ucap Reva merapatkan posisi duduknya pada Ryo dan bergelayut manja.


Ryo melihat Jelita yang memasuki ruang tamu dari arah dapur, dia menyeringai. "Kamu mau aku cium?" tanyanya pada Reva.


"Ya," jawab Reva tanpa ada rasa malu.


"Apa kamu sangat menyukai ciumanku?" Ryo menjilat bibirnya sendiri.


"Ya, Baby."


"Padahal kamu sangat menyukainya, tapi ada satu cewek yang menolak aku cium," kata Ryo menatap Jelita yang tengah menatapnya juga.


Jelita yang baru selesai masak dan ingin mengajak Ryo dan Kavin untuk makan malam langsung mendapatkan pemandangan yang menyakitkan hatinya, belum lagi dia mendengar sangat jelas obrolan Ryo dan Reva.


Ryo memang sengaja memanasi Jelita. Dia hanya ingin melihat Jelita yang cemburu padanya, dia ingin memastikan apakah Jelita benar-benar menyukainya.


"Siapa cewek yang menolak kamu, Baby?" tanya Reva penasaran.


"Kamu nggak perlu tahu," jawab Ryo.


"Baiklah, aku juga tidak terlalu perduli dengan cewek itu, yang aku perdulikan hanyalah kamu, Baby," ucap Reva tersenyum menggoda.


Reva mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Ryo. Sebelum bibirnya dan bibir Ryo bersentuhan, dia merasakan jika rambutnya ditarik paksa kebelakang.


"Akh!" pekik Reva merasakan sakit pada kulit kepalanya karena rambutnya ditarik.


"Menjauh darinya."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2