
Sebenarnya ada apa?
Kenapa semua mahasiswa menatap Reva seperti mengejek dan tidak percaya?
Bahkan Reva mendengar bisik-bisik dari mereka.
"Ternyata dia masih berani pergi ke kampus."
"Apa dia nggak punya malu?"
"Nggak nyangka sih, wajah cantik memang nggak menjamin kelakukan."
"Wah, gila sih."
"Benar-benar murahan."
Reva menghentikan langkahnya, memutar balik untuk menghampiri seorang mahasiswi yang mengatakan 'murahan.'
"Maksudmu apa?" tanya Reva dengan memincingkan mata tajam.
"Memang benar kan kalau kamu itu murahan," ucap si mahasiswi tersenyum mencemooh.
Reva mengepalkan ke dua tangannya, merasa marah.
"Sebegitu murahnya sampai menjual tubuhmu," kata mahasiswi yang lainnya.
"A-apa?" Reva tercekat.
Bagaimana mereka bisa tahu? Siapa yang memberitahu?
"Lihatlah, kamu nggak bisa menyangkal," sinis si mahasiswi sembari menunjukan ponselnya yang sedang memutar video tidak senonoh dirinya dan seorang pria.
Reva membulatkan matanya dengan sempurna, wajahnya mendadak pucat, bibirnya bergetar, dan lidahnya mendadak keluh. Ya, itu memang dirinya dengan si cleaning servis.
Pasti Jelita yang sudah merekamnya dan menyebarkannya.
"Masih punya muka kamu, ha?" hardik Mahasiswa lainnya lagi.
"Pergi sana dasar jal*ng."
"Kamu nggak pantas berada di kampus."
Bruk
Tubuh Reva terdorong hingga terjatuh saat ada yang mendorongnya, terasa sakit saat kulit kakinya bergesekan dengan aspal.
"Kami sudah menyiapkan hadiah untuk wanita jal*ng sepertimu."
Byurr
Reva membatu saat dirinya disiram dengan satu emper air kotor, sepertinya itu adalah air bekas pel.
Pandangan Reva mengabur karena air mata.
Kenapa hal ini terjadi padanya? Apakah ini sebuah peringatan dari Jelita? Reva bahkan sudah kalah sebelum memulai rencananya. Memang seharusnya dia tidak mencari masalah dengan Jelita.
__ADS_1
Tatapan Reva teralihkan pada Ryo yang tengah menatapnya tanpa ekspresi. Seketika hatinya mencelos, tentu saja Ryo tidak akan menolongnya, sebuah kebodohan karena dia mengharapkan itu. Ryo memang tidak perduli padanya.
Satu kenyataan yang harus dia terima, mengharapkan cinta Ryo itu sama halnya dengan mengharap kasih sayang Ibunya. Sangat mustahil untuk dia dapatkan.
"Hiks..." isak Reva yang lolos dari bibirnya yang bergetar.
Reva bahkan sudah tidak bisa mendengar banyak hinaan di sekelilingnya, tatapannya berubah kosong.
Kini Reva terlihat sangat terpuruk, dia berpikir jika takdirnya memang seperti ini, begitu menyediakan, buntu, apapun yang dia lakukan seperti menambah masalah, dan jalan di depan seperti kelabu.
Sett
Reva tertegun saat merasakan sebuah jaket menyelimuti dirinya, dia pun mendongak.
"...Kavin?"
Kavin menghela napas sesaat, mau bagaimanapun dia mencoba tidak perduli pada Reva tetapi tubuhnya seakan bergerak sendiri.
Kemudian Kavin menggendong Reva dengan bridal style, membawa Reva untuk menjauh kerumunan yang sedang mencaci-maki gadis itu. Bahkan dia tidak menghiraukan bau tidak enak dari tubuh Reva yang habis di siram air bekas pel.
"Kavin," lirih Reva, air mata semakin deras, tangannya mencengkram kuat lengan baju Kavin.
Kenapa pemuda yang bahkan tidak dia inginkan yang datang menolongnya? Jika dipikir-pikir memang Kavin yang selalu ada untuk dirinya.
"Hiks... Kenapa kamu menolongku, Kavin?" cicit Reva dengan terisak.
"Aku memang berkata jika jangan mencari aku untuk menolong kamu, tapi biarkan aku yang datang menolong kamu, Reva," ucap Kavin dengan tatapan lurus ke depan, dia tidak sanggup melihat Reva menangis.
Reva bungkam dalam tangisannya.
**
"Sudah kamu sebarkan video itu?" tanya Jelita pada Nohan yang sedang berdiri di hadapan meja kerjanya.
"Sudah Nona, aku sudah mengirim video itu ke seluruh mahasiswa," jawab Nohan yang merujuk pada mahasiswa di kampus tempat Ryo kuliah.
"Bagus," ucap Jelita.
"Kenapa Nona tidak menghajarnya langsung saja?" tanya Nohan dengan santainya.
"Ck, kamu kira aku Algojo," sengit Jelita.
Nohan tertawa kikuk, "Tapi biasanya kan seperti itu," ujarnya.
Jelita menopang kepalanya dengan tangan kanan, lalu menatap lekat Nohan.
Sedangkan yang ditatap merasa ketar-ketir sendiri.
"Aku hanya ingin memberi peringatan pada Reva untuk segera mengurungkan niatnya itu," ucap Jelita dingin.
"Lalu bagaimana jika dia nggak jera?" tanya Nohan.
Jelita meraih anak panah kecil yang berada di atas meja, kemudian melemparnya ke arah Nohan.
Jleb
__ADS_1
Dan tepat mengenai titik tengah pada papan berbentuk bulat yang berada di belakang Nohan.
Nohan terlihat begitu tegang saat mengira jika dialah yang akan menjadi sasaran, Nona-nya itu benar-benar membuatnya hampir jantungan.
"Jika dia nggak jera, aku nggak akan segan lagi," jawab dengan tatap yang berubah tajam.
Jelita tentu saja tidak akan tinggal diam saat ada yang ingin merusak rumah tangannya, apalagi merebut Ryo yang sangat dia cintai. Jika Reva berani bermain api, makan Reva juga harus berani untuk menghadapi perlawanan dari Jelita.
'Ingin merebut Ryo katanya? Dalam mimpi saja,' batin Jelita tersenyum miring.
**
Reva keluar dari kamar mandi setelah membersihkan keadaan buruknya.
"Terima kasih, Kavin," ucap Reva.
"Ya," jawab Kavin.
Reva menunduk, dia sangat malu untuk bertatapan dengan Kavin.
"Reva, lihatlah aku," ucap Kavin.
Reva memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap wajah pemuda bule yang berdiri di hadapannya itu.
"Aku akan kembali ke LA sore ini," kata Kavin.
"So-sore ini? Bukankah kamu bilang akan kembali ke LA akhir semester?" tanya Reva, entah kenapa dia menjadi tidak rela jika Kavin pergi.
Kavin menggeleng pelan, "Jika aku terus berada di sini, akan sulit bagiku untuk melupakan kamu," jawanya.
Reva kembali menunduk, tangannya meremas ujung jaket pemberian Kavin yang dia kenakan.
"Aku hanya ingin berpesan padamu untuk nggak mencari masalah dengan Jelita lagi, kamu nggak mungkin bisa melawannya," sambung Kavin, ada nada khawatir pada suaranya.
Reva tidak menjawab ataupun mengangguk.
Kavin menghela napas berat, seharusnya dia tahu jika Reva sangatlah keras kepala. Dia hanya tidak mau jika Reva akan mengalami kejadian yang lebih buruk dari pada tadi, dan dia tidak bisa menolong gadis itu lagi.
"Hanya itu saja yang ingin aku katakan padamu, aku harap kamu baik-baik saja setelah aku pergi," kata Kavin terdengar parau.
Kamudian Kavin berbalik pergi, meninggalkan Reva yang diam seribu bahasa.
Reva menatap punggung Kavin yang semakin menjauh hingga tidak terlihat saat berbelok.
Reva tidak tahu mengenai apa yang sudah dimilikinya, hingga tanpa sadar sudah kehilangannya. Namun, juga tidak tahu apa yang sudah dilewati hingga pada akhirnya bisa menemukannya. Kadang orang yang selalu ada adalah cinta yang tidak disadari.
Tubuhnya merosot ke bawah, berjongkok dan kembali menangis dengan tersedu-sedu.
Hatinya begitu sakit saat melihat Kavin yang akan benar-benar meninggalkannya. Bahkan melebihi rasa sakit saat melihat pernikahan Ryo dan Jelita.
Apakah sekarang dia menyesal?
_To Be Continued_
Visual Reva dan Kavin :
__ADS_1