
Gina memasuki kamar apartemen dengan perasaan marah. Dia sungguh merasa terinjak-injak dengan perkataan Jefra. Namun, ingin melawan pun Gina tidak berani.
Kini perasaan Gina begitu iri dan dengki, apalagi saat melihat binar kebahagiaan dari Renata.
Ingatan Gina kembali ke masa di mana bertemu pertama kali dengan Renata.
Awalnya Gina adalah Nona muda dari keluarga konglomerat yang mengalami kebangkrutan. Ke dua orang tuanya mendekam di penjara, Ayahnya melakukan korupsi, sedangkan Ibunya mengonsumsi zat haram. Karena itu Gina menjadi terasingkan. Hidup Gina benar-benar hancur saat itu.
Dengan perasaan putus asa Gina mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari rooftop kampus.
Namun, siapa sangka jika seseorang yang sebelumnya tidak dia kenal datang mencegahnya.
"Jangan lakukan itu, kamu bisa berteman denganku. Kita bisa berbagi kebahagiaan sebagai teman."
Renata datang dengan mengucapkan kalimat yang sampai sekarang masih Gina ingat.
Tetapi Gina salah penafsiran. Dia beranggapan jika semua kebahagiaan Renata adalah kebahagiaannya juga. Apapun yang dimiliki Renata adalah miliknya juga. Renata tidak boleh lebih bahagia dari pada dirinya.
Sampai-sampai menyebar rumor palsu jika Renata adalah perempuan yang sombong dan suka pilih-pilih teman, karena itu tidak ada yang ingin berteman dengan Renata selain Gina sewaktu di kampus dulu. Semua laki-laki yang dekat dengan Renata pun didekati agar berbalik menyukainya. Bahkan barang-barang dan makanan yang Renata suka dia minta.
Menurut Gina itulah yang namanya berbagi kebahagiaan.
"Sial!" umpat Gina menjambak rambutnya frustasi.
"Kamu berbohong, Renata. Kamu berkata jika kita akan berbagi kebahagian. Tapi kenapa kamu bahagia tanpa aku?"
Tubuh Gina merosot ke lantai, dia menangis.
Dok! Dok!
Suara ketukan pintu yang begitu kencang mengalihkan Gina, segera dilap jejak air matanya, dan beranjak untuk membuka pintu.
Cklek
Terlihat sosok Davian yang terlihat mabuk. Kini pemuda itu memang sudah menjadi sampah tidak berguna, pengangguran yang kerjanya pergi ke Club malam.
"Lama sekali!" bentak Davian seraya mendorong tubuh Gina hingga tergeser ke samping.
Davian masuk ke dalam, dengan langkah yang terhuyung.
"Kenapa kamu ke sini, ha! Kita sudah nggak memiliki hubungan lagi!" hardik Gina marah.
"Berikan aku uang," ucap Davian.
"Bajing-an! Aku nggak akan memberikanmu uang lagi! Pergi dari sini!"
Grep
Davian mencengkram rahang Gina kasar, "Memangnya kamu pikir karena siapa hidupku hancur seperti ini? Itu Gara-gara kamu yang menggodaku hingga berpaling dari Renata!"
Tanpa ada rasa takut Gina tersenyum miring, "Kenapa menyalahkan aku? Salahkan dirimu sendiri yang mudah berpaling."
Plak
Davian menampar pipi Gina hingga membuat robek di sudut bibir.
"Dasar Ja-lang! Kamu benar-benar membuatku muak, Gina! Aku sungguh menyesal karena sudah termakan rayuanmu!" geram Davian.
__ADS_1
"Kalau begitu kembalilah pada Renata!" seru Gina seraya memegang pipinya yang berdenyut sakit.
Davian terdiam sekejap. Kembali pada Renata? Dia tidak memikirkan itu sebelumnya?
Gina menyeringai samar karena melihat respon Davian.
"Kehancuran kamu tidak bisa diperbaiki dengan cara menyalahkan aku. Tapi kamu bisa memperbaikinya dengan cara kembali pada Renata," kata Gina mencoba memprovokasi.
"Renata nggak mungkin mau kembali bersamaku lagi, kamu pikir aku bodoh?" Davian memincingkan mata tajam.
"Apa kamu lupa? Renata sangat mencintaimu. Pasti dia akan luluh jika kamu meminta maaf," tukas Gina.
Davian kembali terdiam.
"Renata sangatlah baik, nggak mungkin jika dia nggak memaafkan kamu yang dicintainya."
Setelah cukup lama terdiam, Davian berbalik pergi dari apartemen Gina. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu.
"Ya, aku akan mengembalikan sampah itu padamu, Renata. Kamu pikir aku akan membiarkanmu bahagia tanpa adanya batu sandungan?" gumam Gina.
Karena tahu jika dirinya tidak bisa merusak hubungan Renata dan Jefra. Gina berniat menggunakan Davian untuk melakukannya.
**
Lusa kemudian, tepatnya hari Minggu.
Terlihat Ryo yang bersantai di sofa ruang tamu dengan memakan mangga muda. Merasakan rasa asam yang terasa sangat segar ketika dikonsumsi di siang hari.
"Daddy," panggil Jelita yang menghampiri Ryo dari arah kamar.
Terlihat Jelita yang mengenakan tshirt putih berlengan panjang yang dipadukan dengan jaket motif kotak-kotak, serta jeans bermodel cut bray dan sepatu boot high ankle berwarna hitam.
"Mau ke mana?" tanya Ryo sambil mengernyitkan dahi, merasa risi dengan jeans dan sepatu boot yang dipakai Jelita.
Kenapa Ibu hamil memakai itu?
"Aku ingin pergi bersama Renata untuk menemani fitting gaun pengantin. Boleh, ya?"
Jelita meminta izin pada suaminya. Karena Renata yang paling sibuk sewaktu pernikahannya dulu, Jelita juga ingin berperan dalam persiapan pernikahan sepupu itu.
"Boleh," jawab Ryo seraya menggigit mangga muda miliknya.
Jelita berbinar senang mendapatkan izin dari Ryo.
"Tapi, ganti celana dan sepatu kamu," sambung Ryo.
"Memang kenapa? Apa aku nggak pantas menggunakan ini?" tanya Jelita sembari meneliti penampilan.
"Kamu pantas kok pakai itu, karena kamu akan selalu cantik memakai apapun," jawab Ryo yang membuat Jelita tersipu.
"Terus kenapa harus ganti?"
"Kurasa itu nggak nyaman untuk dipakai Ibu hamil."
Jelita menepuk jidat, hampir lupa dengan kehamilannya. Itu karena Jelita tidak merasakan gejala kehamilan. Bolehkan dia merasa beruntung karena suaminya yang merasakannya?
"Bisa-bisanya lupa," Ryo menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Jelita tertawa kikuk, "Maaf, kalau begitu aku ganti dulu."
Ryo mengangguk, "Gantilah dengan sesuatu yang nyaman," sarannya.
"Yes, Dad."
Kemudian Jelita berbalik untuk kembali ke kamar.
"Hee, sepertinya dia sangat suka memanggilku Daddy," Ryo terkekeh sendiri.
Lalu calon Ayah muda itu melanjutkan ritual ngidamnya.
**
Kini tiba saatnya bagi Renata untuk fitting gaun pengantin setelah melakukan pencarian gaun yang cocok.
Pilihan Renata jatuh pada gaun model brokat yang cantik dengan hiasan penuh swarovski dengan bagian bawah tutu terawang.
Renata berputar sembari melihat cermin yang lebih tinggi darinya. Dia senang karena gaun yang dipilih itu benar-benar pas di tubuhnya, dan sesuai dengan keinginan.
"Tampak sexy dan mewah," ucap Jelita.
"Aku sangat suka gaun ini," Renata tersenyum senang.
Jelita ikut tersenyum, dia tahu apa yang tengah Renata rasakan saat ini, karena dulu Jelita pernah merasakannya juga.
Drett... Drett...
Ponsel milik Renata yang diletakkan di meja bergetar, menunjukan adanya panggilan masuk. Tetapi dia abaikan.
"Kamu juga harus memilih gaun, Jelita. Kamu kan yang akan menjadi bridesmaid," ujar Renata.
"Baiklah."
Lalu Jelita mulai menelusuri tumpukan gaun dan dress yang tergantung.
Sedangkan Renata kembali melihat pantulannya pada cermin, dia benar-benar menyukai gaun pengantinnya.
Drett... Drett...
Ponsel Renata kembali bergetar. Pada akhirnya Renata meraih ponselnya, kemudian mengeryit bingung saat melihat ada nomor yang tidak dikenal memanggilnya.
Apa pasiennya?
"Halo?" kata Renata setelah menerima panggilan.
[Renata.]
Renata begitu terkejut saat mendengar suara yang familiar dari ujung sana.
"Davian?"
Hadirnya orang dari masa lalu.
Apakah ini bisa disebut godaan saat menjelang pernikahan? Banyak yang bilang jika hadirnya orang dari masa lalu alias mantan sering kali membuat hati seseorang menjadi goyah saat melangkah ke pelaminan.
_To Be Continued_
__ADS_1