Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Daddy Gula


__ADS_3

Perasaan senang, haru, atau mungkin takut menghinggapi Jelita di awal kehamilan. Namun, berkat perhatian dan kasih sayang orang terdekat menguatkan dan menentramkan hatinya.


Selain itu, kehamilan merupakan anugrah tiada tara dan karunia besar dari Tuhan. Sebuah berkah jika seorang wanita telah mengalami momen paling ajaib ini dalam hidupnya. Jelita sungguh bersyukur atas itu.


Bahkan Xavier dan Arthur juga sangat bersyukur dibuatnya, tentu saja karena mereka akan menimang cucu sebentar lagi.


Kini ruang tamu terlihat ramai dengan kedatangan dua pria paruh baya dan Renata.


"Bocah, akhirnya kamu bisa membanggakan Ayah juga," ucap Xavier yang rela datang dari LA karena mendengar jika menantunya tengah hamil.


Ryo menatap tidak suka Ayahnya, "Jangan panggil aku bocah lagi. Sekarang aku adalah calon Ayah!"


Xavier tertawa nyaring, "Baiklah, calon Ayah muda."


Seketika Ryo berbinar-binar karena panggilan itu, dirinya sungguh merasa bangga dengan pencapaiannya, hidung mancung miliknya pun kembang kempis dibuatnya.


"Laki-laki adalah pemimpin keluarga. Siapkan dirimu mulai sekarang. Sayangi Istrimu selayaknya ketulusanmu pada Ibu, dan jadilah contoh yang baik untuk anak-anakmu kelak," nasihat Xavier pada putra semata wayangnya.


"Pasti akan aku lakukan," kata Ryo dengan bersungguh-sungguh.


"Akhirnya putriku jadi wanita sejati. Papa senang dengar kabar kehamilanmu, tetap jaga kesehatan dan emosi, doa terbaik untukmu dan cucuku," ucap Xavier dengan mengelap air matanya dengan saputangan, dia sungguh terharu.


"Terima kasih, Papa. Jelita pasti akan menjaganya dengan baik," Jelita mengelus perutnya.


"Dan tugasku adalah menjaga kalian berdua," timpal Ryo sembari ikut mengelus perut Istrinya.


Jelita menatap Ryo dengan senyum cantik yang terukir di wajahnya.


Xavier dan Arthur menatap pasangan suami-istri itu, ternyata keputusan yang dulu mereka ambil telah membawa kebahagiaan bagi Ryo dan Jelita. Sebenarnya mereka sempat takut jika perjodohan itu tidak berjalan dengan lancar, tapi justru sebaliknya.


"Huwa, Jelita... Kenapa kamu hamil duluan? Harusnya kan kita hamil bersama-sama," kata Renata.


"Hamil itu bukan soal dulu-duluan atau bersamaan, bahkan kita tidak tahu bagaimana kehamilanmu terjadi, secara terencana, secara medis, ataupun terjadi begitu saja," ucap Jelita menanggapi perkataan sepupunya.


Renata mengangguk mengerti, "Yasudah deh. Aku juga turut sukacita dengan kehadiran bayi kalian. Selamat atas kesempatan untuk mendapatkan keajaiban terbesar dalam hidup, Jelita" ucapnya sembari memberikan pelukan pada Jelita.


"Terima kasih, Renata," Jelita membalas pelukan Renata.


"Dokter Renata tenang saja. Jelita juga akan hamil lagi, kalian bisa hamil bersama-sama setelah ini, soalnya aku berniat mempunyai 11 anak," celetuk Ryo tanpa beban.


Jelita mendelik seketika, lalu mencubit pinggang Ryo, "Ka-kamu saja yang hamil sana!"


"Ouch! Aduh! Aku mana bisa hamil."


"Aku bukan kucing yang hamil terus-menerus," kata Jelita mencebik kesal.


"Dengar ya, sayang. Aku nggak mau kalau anak kita kesepian jika menjadi anak tunggal, biarkan kita saja yang merasakan kesepian karena nggak punya saudara."

__ADS_1


Xavier dan Arthur merasa tertohok dengan ucapan Ryo.


"Kita harus memberikannya adik, tapi kalau anak kita cuman 2, mereka juga akan merasa kesepian kalau salah satu pergi ke sekolah, maka dari itu tambah satu lagi jadi 3. Tetapi karena yang satu pasti akan iri, kita tambah satu lagi jadi 4. Tapi sepertinya angka ganjil lebih baik, aku memilih 11 anak karena nggak menyukai angka 5, 7, dan 9," jelas Ryo.


Seketika semuanya sweatdrop dibuatnya.


"Sekalian saja buat tim kesebelasan sepak bola dengan anak-anak kalian itu," celetuk Renata.


"Ah, boleh juga," Ryo menjentikkan jari.


"Jangan macam-macam!" seru Jelita.


Ryo hanya cengengesan.


"Ngomong-ngomong, Renata. Bagaimana persiapan pernikahan kamu?" tanya Jelita mencoba mengalihkan pembicaraan, karena jika dilanjutkan Ryo pasti semakin ngawur.


"Sedang dalam persiapan. Tapi aku sangat berdebar-debar setiap waktu saat menunggu hari pernikahan," jawab Renata jujur.


Karena hari pernikahan sudah mulai mendekat, rasa senang dan gelisah campur menjadi satu pada hati Renata saat menjelang hari pernikahan.


"Pasti kamu sedang sibuk sekali ya, tapi jangan lupa untuk terus menjaga kesehatan. Nggak lucu jika kamu sakit sewaktu hari pernikahan," Jelita mengingatkan Renata.


"Tentu saja itu nggak lucu," Renata tergelak, "Ya, aku akan selalu menjaga kesehatan. Jefra juga menyuruhku untuk nggak terlalu memikirkannya, karena dia yang akan mengurusnya."


"Wow, ternyata Jefra gentleman juga," celetuk Ryo yang masuk dalam obrolan ke dua wanita.


Berbicara tentang Jefra. Renata jadi tidak sabar menunggu hari esok, karena Jefra akan mengajaknya untuk bertemu ke dua orang tua pemuda itu.


"Kenapa aku tiba-tiba ingin mangga muda, ya?" gumam Ryo tahu-tahu.


**


Malam harinya.


"Aku mual sekali," rengek Ryo pada Jelita yang sedang fokus pada laptop.


"Apa kamu mau minuman hangat?" tanya Jelita mengalihkan atensinya.


Ryo mengangguk, "Tapi aku nggak mau teh atau susu," ucapnya.


Jelita berpikir sejenak. Minuman hangat selain teh atau susu? Kemudian terlintas minuman yang akan membuat rasa mual Ryo terobati.


"Wedang jahe?" tawar Jelita.


Ya, Rempah yang memiliki rasa pedas itu memang dapat menjadi obat mual dan gangguan pencernaan.


Ryo mengangguk agak ragu.

__ADS_1


"Aku akan menyeduh air rebusan jahe dengan madu, itu bisa membuat tubuh lebih hangat dan mengusir perut kembung," ujar Jelita.


"Ya, perutku memang terasa penuh," Ryo berkata sembari mengusap-usap perutnya seakan dialah yang sedang hamil.


"Sepertinya bayi kita sangat menyayangimu. Sebaiknya kamu segera menyiapkan nama untuknya," Jelita terkekeh.


Ryo ikut terkekeh, lalu mendekatkan telinganya pada perut Jelita dan menempelkannya di sana, mencoba mendengar detak jantung si calon anak.


"Anak Daddy Ryo nggak boleh menyusahkan Mommy cantik ya. Tumbuhnya dengan baik selama 9 bulan ini, setelah itu Daddy akan memberimu nama yang keren."


Jelita merasa terharu ketika melihat Ryo yang seolah sedang berbicara dengan si kecil.


"Daddy Ryo?" Jelita mengulang panggilan yang Ryo ciptakan sendiri.


"Ya," jawab Ryo berbinar.


"Jadi kamu ingin dipanggil Daddy?" Jelita tertawa pelan.


"Ya, mulai sekarang kalian harus memanggilku Daddy," ujar Ryo seraya menepuk dada bidang miliknya.


"Yes, Daddy."


"O-oh," Ryo malah jadi gugup sendiri.


Apakah saat ini Ryo bisa menyebut dirinya sebagai Daddy gula? Oh, tentu saja Jelita yang menjadi Baby gula-nya. Entah kenapa pikiran Ryo justru lari ke arah situ. Salahkan Jelita yang terlalu imut.


"Sayang," panggil Ryo.


"Ya, Daddy," jawab Jelita.


Ryo menelan saliva kasar, "Aku ingin makan... Gula."


Lok kok?


Ryo jadi merasa bingung sendiri, padahal tadi dia ingin memakan istinya yang imut itu. Tapi kenapa tiba-tiba berubah haluan menjadi ingin makan gula?


Sepertinya si calon bayi ingin melindungi sang Mommy dari kebuasan Daddy Ryo.


"Apa sekarang kamu ngidam makan gula?"


"Ya, sepertinya..." Ryo benar-benar bingung.


"Baiklah, tunggu ya."


Kemudian Jelita beranjak dari kamar untuk pergi ke dapur, berniat membuat wedang jahe dan membawakan Ryo gula.


Beruntungnya Ryo tidak ngidam yang aneh-aneh.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2