Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Terciduk


__ADS_3

3 menit berlalu.


Hanya keheningan di antara mereka berdua, tetesan air dari keran mengisi keheningan itu. Mereka berkeringat karena pengaruh ruangan yang sempit dan fentilasi udara yang minim.


Mata Jelita menyipit saat melihat seekor kecoak, tidak heran jika ada kecoak di toilet umum. Namun, masalahnya adalah Ryo pasti akan berteriak ketakutan karena itu, pemuda itu takut dengan kecoak. Apa lagi si kecoak merambat di dinding, tepat di belakang Ryo seakan sedang meledek.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Ryo yang memang sejak tadi menatap intens Jelita, dia melihat jika gadis di depannya itu tengah menyipit di balik kacamata. Ryo hendak menengok ke belakang untuk melihat sesuatu yang dilihat Jelita.


"Ah, nggak ada," jawab Jelita seraya memegang ke dua pipi Ryo agar pemuda itu tidak melihat ke belakang.


Jelita tidak tahu jika tindakannya itu justru membuatnya dalam bahaya. Lihat saja wajah Ryo dan dirinya yang menjadi sangat dekat. Bola mata hazel bertemu dengan mata bola mata amber, mereka saling menatap satu sama lain.


"Jelita," panggil Ryo mendayu lembut, dia semakin merangsek maju mendekat pada gadis didepannya itu.


"Y-ya," jawab Jelita gugup, "Ini terlalu dekat, tuan muda," sambungnya.


Kini Jelita terhimpit di antara dinding dan tubuh Ryo, ingin sekali Jelita mendorong Ryo tapi masih ada kecoak dibelakang pemuda itu, dia jadi serba salah sekarang.


"Bolehkan aku mencium kamu?" tanya Ryo meminta izin, terlihat sekali jika dia sudah tidak sanggup menahan diri untuk mencium Jelita.


Jelita terperangah sesaat, jantungnya langsung berdisko karena permintaan Ryo, tanpa sadar dia menjilat bibirnya sendiri yang mendadak kering, dan tindakannya itu sukses membuat tatapan Ryo semakin berkilat.


"Aku hanya memberi waktu tiga detik untuk kamu menjawab 'Tidak'," ujar Ryo yang memang tidak berniat untuk menerima penolakan.


"A-apa?" Jelita masih loading.


"Satu, dua, tiga..." Ryo menghitung dengan cepat, "Waktumu habis," ucapnya menyeringai samar.


Ryo segera memiringkan kepalanya dan menyatukan bibinya dengan bibir milik Jelita, dia menahan tengkuk Jelita agar gadis itu tidak bisa menghindar dari ciumannya. Jelita refleks menutup matanya rapat-rapat. Ryo mema-gut lembut bibir Jelita, kemudian lama-lama semakin intens dan menjadi sebuah ciuman panas yang menimbulkan decakan seksi.


Ciuman itu sudah membangkitkan hormon oksitosin yang membuat mereka semakin hanyut ke dalamnya.


"Uhhh, sudahhh," lenguh Jelita seraya mendorong dada bidang Ryo guna melepas tautan mereka, dia butuh bernapas.

__ADS_1


Ryo menatap Jelita yang bernapas memburu, dia terkekeh pelan karena Jelita masih terlihat amatir meskipun sudah sering berciuman dengannya, sepertinya dia memang harus lebih mengajari Jelita. Wajah Jelita memerah entah karena kehabisan napas atau gai-rah gadis itu yang sudah memuncak seperti dirinya, kacamata yang berembun membuat kesan menggemaskan, ingin sekali Ryo memakan habis gadis itu.


Karena merasa gemas Ryo menggosok-gosokkan hidung mancung miliknya pada hidung Jelita.


Jelita tertawa kecil dibuatnya.


Kemudian Ryo mengecup pipi Jelita, lalu menjepit daun telinga milik gadis itu dengan bibirnya dan menarik lembut ke atas atau ke bawah.


Perasaan Jelita meletup-letup saat Ryo melakukan itu, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya. Tanpa sadar tangannya beralih meremas rambut hitam Ryo, "Kamu berbakat banget untuk melakukan hal seperti ini," ucapnya dengan tatapan sayu.


"Tentu saja, dan masih banyak bakat yang belum aku tunjukan padamu," bisik Ryo tepat di telinga Jelita dan memberikan tiupan di sana.


Jelita merinding dibuatnya, tentu saja dia tahu itu, bukan Casanova jika tidak berbakat untuk urusan memanjakan wanita. Jelita sendiri bingung harus merasa senang atau terancam karena bakat yang Ryo miliki itu.


"Let's play with me, Bunny," sambung Ryo dan membawa Jelita ke dalam ciuman maut kembali.


Jelita mengalungkan tangannya pada leher Ryo. Dia bisa merasakan jika tangan nakal Ryo mencoba menelusup ke dalam bajunya lalu mengelus punggung polosnya. Sentuhan Ryo bagai sengatan listrik baginya.


Suara getaran dari ponsel mengalihkan atensi Jelita, pasalnya ponsel Ryo berada di saku celananya. Jelita segera mendorong Ryo lagi, "Tu-tuan muda, berhenti," ucapnya.


Ryo mengeryit tidak suka, dia tidak mau berhenti, lalu Ryo kembali memajukan wajahnya untuk mencium Jelita lagi. Namun, Jelita langsung menutup mulut Ryo dengan tangan kanannya, menghalau bibir Ryo yang seakan haus akan ciuman itu.


"Stop," kata Jelita.


Ryo mendelik saat mulutnya dibungkam tangan Jelita.


Tampak tidak acuh dengan Ryo yang mendelik, Jelita segera mengambil ponsel dengan tangan kirinya dan menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Jefra.


"Halo," jawab Jelita agak serak karena akibat aktivitasnya barusan.


"..."


"Kami sedang ada di..." Jelita menggantung perkataannya, dia tidak mungkin mengatakan jika dia dan Ryo sedang ada di dalam toilet. Jelita baru menyadari kebodohannya yang bersembunyi di toilet umum dengan seorang laki-laki.

__ADS_1


Belum lagi dia dan Ryo baru saja melakukan hal yang menjurus mesum. Bagaimana bisa putri terhormat keluarga Albirru berduaan dengan seorang laki-laki dan hampir melakukan hal yang iya-iya di toilet umum? Ini sungguh memalukan bagi Jelita.


"Kami yang akan ke sana," ucap Jelita kemudian.


Setelahnya panggilan terputus Jelita baru melepas dekapan tangannya pada mulut Ryo.


"Berani-beraninya kamu," tukas Ryo terlihat kesal dengan apa yang dilakukan Jelita tadi.


"Se-sebaiknya kita segera ke luar dari sini, tuan muda," ujar Jelita yang gugup dan malu bersamaan. Dia baru menyadari jika tidak sepantasnya mereka berada di toilet.


Ryo terheran-heran menatap perubahan sifat Jelita. Lalu dia mengikuti Jelita keluar dari bilik toilet.


Tepat saat mereka keluar ada seorang pemuda yang tidak dikenal menghadang mereka.


"Astagfirullah, habis ngapain kalian berdua di dalam toilet?" tanya si pemuda yang ternyata adalah penjaga toilet umum, dia yang tadi pergi untuk membeli air minum memang tidak melihat Ryo dan Jelita yang masuk ke dalam toilet.


"Ka-kami nggak melakukan apa-apa," jawab Ryo yang panik seketika.


Siapa saja yang melihat seorang perempuan dan laki-laki keluar dari bilik toilet yang sama tentu saja akan berpikir buruk, "Apa kalian sudah berbuat mesum!" hardik si penjaga toilet.


Seketika Ryo dan Jelita pucat pasi, belum lagi mereka sudah menjadi tontonan banyak orang.


"Dasar anak mudah zaman sekarang, bawa saja mereka ke kantor polisi, mereka harus di beri sanksi!"


"Ya, nikahkan mereka berdua secara paksa kalau perlu!"


"Sungguh tidak tahu malu!"


Mereka berdua memang sudah berhasil lolos dari pengejaran Jason dan kawannya. Namun, sekarang mereka justru terciduk berbuat mesum di fasilitas umum.


"Tunggu kami bisa jelaskan," kilah Ryo seraya mengangkat ke dua tangannya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2