Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mengejar Kavin


__ADS_3

"Ayo kita ke mall," ajak Renata yang tahu-tahu datang ke ruang kerja Jelita.


"Mall?" beo Jelita.


"Ya, kita harus belanja untuk persiapan honeymoon kamu, Jelita," tukas Renata menggebu-gebu.


Siapa yang honeymoon, tapi justru Renata yang paling bersemangat.


Jelita menatap Renata dengan heran, sepupunya itu terlihat begitu ceria hari ini. Benar-benar tidak seperti wanita yang habis patah hati.


Apakah ini karena rencana Ryo yang mengurung Renata dan Jefra di ruang tamu?


Namun, Jelita merasa lega karena itu. Ini lebih baik dari pada Renata yang muram durja karena Davian.


Ngomong-ngomong tentang Davian, tentu saja Jelita sudah membuat kehidupan pemuda bajing-an itu hancur.


"Ayolah Jelita, kita ke mall. Kamu nggak seharusnya bekerja terus, lagi pula suamimu itu sudah kaya raya," sambung Renata berniat membujuk Jelita.


Jelita melirik jam yang tergantung manis pada dinding, sudah jam pulang kantor. Jadi tidak masalah jika dia pergi ke mall bersama Renata.


"Ayo," ucap Jelita.


Renata tersenyum semakin lebar karena mendengar jawaban Jelita.


"Aku akan menghubungi Ryo dulu," lanjut Jelita seraya meraih ponselnya dan mulai mendial nomor ponsel suaminya.


"Ya," ucap Renata memaklumi.


Ya, sebagai seorang istri sudah seharusnya meminta izin pada suami, kan?


[Ya, sayang.]


Terdengar suara berat Ryo saat mengangkat panggilan Jelita.


**


Bandara Soekarno Hatta.


Suasana bandara cukup ramai. Sore ini, Kavin akan pulang ke LA dengan pesawat yang akan lepas landas 15 menit lagi.


Ryo mengantungi kembali ponsel miliknya sehabis bertelepon dengan Jelita. Istrinya itu baru saja meminta izin untuk pergi ke mall, dan secara kebetulan dirinya juga sedang tidak bisa menjemput Jelita lantaran ingin mengantar kepulangan Kavin.


"Dasar suami bucin," celetuk Gavin yang berdiri di samping Ryo.


"Iri bilang, bos," ucap Ryo dengan ngegas.


Gavin benar-benar tertohok, niat ingin mengejek justru dia yang diejek balik.


"Sedang menunggu siapa, Kavin?" tanya Ryo pada Kavin yang sedang celingak-celinguk seakan menunggu kedatangan seseorang.

__ADS_1


"Nggak ada," jawab Kavin tersenyum getir.


Kadang seseorang memilih tersenyum untuk menutupi betapa pedih hatinya. Sebenarnya Kavin mengharapkan Reva untuk mencegahnya untuk pergi, tapi itu hanyalah keinginan yang begitu mustahil.


"Apa kamu menunggu Reva?" tanya Ryo lagi, tentu saja dia tidak percaya dengan jawaban 'nggak' yang Kavin berikan.


"Untuk apa? Lagi pula mana mungkin dia datang," ucap Kavin.


Ryo dan Gavin saling tatap karena mendengar ucapan Kavin, mereka berdua tentu saja tahu alasan Kavin pulang ke LA, yakni ingin segera move on dari Reva.


Gavin menepuk pundak Kavin, "Hati-hati ya, bro. Jangan lupakan aku saat kamu sudah di LA nanti," ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya, tenang saja," kata Kavin.


"Aku titip salam pada yang lainnya," ujar Ryo yang mengarah pada teman-temannya yang di LA.


"Oke," jawab Kavin.


"Kalau begitu aku pergi dulu," sambung Kavin.


**


Jalan kota Jakarta begitu padat. Tidak hanya mobil-mobil yang berbaris rapi, tapi motor-motor banyak yang menyelip di kendaraan lainnya, dan mobil milik Reva ikut berdesakan di tengahnya jalan raya.


Tin!


Reva memencet klakson mobilnya dengan gusar, dia benar-benar terjebak di tengah-tengah kemacetan.


Reva tidak bisa menemukan Kavin di apartemen milik pemuda itu. Kemudia dia mengecek ponselnya, betapa terkejutnya saat ada pesan dari Kavin, pesan 30 menit yang lalu. Pesan yang berisikan jika Kavin akan pergi ke LA dengan pesawat yang akan lepas landas pukul 17.30. Betapa bodohnya dirinya yang tidak menyadari pesan itu sejak awal. Ponsel Kavin pun tidak dapat dihubungi.


Dengan perasaan yang begitu panik, Reva segera menyusul Kavin.


Kini sudah pukul 17.20, kurang 10 menit lagi. Apakah Reva sempat untuk menghentikan Kavin? Akan menjadi penyesalan sepanjang hidupnya jika tidak bisa menghentikan Kavin.


Ya, Reva baru menyadari jika Kavin begitu berarti di hidupnya. Reva telah menyesal dengan perbuatannya selama ini, dan dia tidak mau bertambah menyesal karena tidak bertindak untuk menghentikan Kavin pergi.


Reva telah memiliki Kavin yang mencintainya dengan begitu tulus, seharusnya dia lebih menghargai perasaan Kavin, padahal kebahagian tidak akan pernah datang kepada seseorang yang tidak menghargai apa yang telah dimiliki.


Tentu saja Reva tidak ingin kehilangan kebahagiaannya itu.


Nasi memang sudah menjadi bubur, tapi bukan berarti bubur itu tidak bisa dimakan. Bubur masih bisa dimakan dengan menambahkan cita rasanya agar enak untuk di makan.


Begitu pula dengan Reva yang berharap untuk dapat memperbaiki kesalahannya.


Tin!


Reva kembali memencet klakson mobilnya dengan tidak sabaran.


Mobil yang awalnya melaju dengan lambat, kini sudah melaju dengan cepat setelah keluar dari kemacetan yang menyita banyak waktu.

__ADS_1


Sesampainya di bandara Reva memarkirkan mobilnya, lalu segera keluar dari mobil dan berlari untuk memasuki lebih dalam lagi bandara. Dia melepas high heels yang dikenakan agar bisa berlari lebih cepat. Reva bahkan tidak memperdulikan semua orang yang menatapnya aneh karena berlari tanpa alas kaki, terlebih lagi di terminal bandara.


Kemudian Reva melihat Ryo dan Gavin yang sedang mengobrol, dan segera menghampiri ke dua pemuda itu.


"Di mana Kavin?" tanya Reva dengan napas yang memburu karena habis berlari.


Ryo dan Gavin diam, tidak menjawab.


"Ryo, di mana Kavin?" tanya Reva lagi dengan mencengkram kuat lengan Ryo.


Ryo masih terdiam.


Reva melepas cengramannya, "A-apa... Apa Kavin sudah pergi?" tanyanya.


Ya, tentu saja Kavin sudah pergi, saat ini sudah pukul 17.33, dia sudah terlambat 3 menit.


Lantas apa yang dia harapkan sekarang? Kavin benar-benar sudah pergi meninggalkannya.


"Hiks..."


Dengan hati yang sakit, jiwa yang sedih, dan kepala tertunduk. Reva hanya bisa menangis, menangisi penyesalannya, dia tahu ini mungkin karma. Ya, Reva terima karma ini, kenyataan jika waktu tidak akan bisa kembali lagi. Harusnya dia menghalangi Kavin saat di kampus tadi, tapi dirinya justru terlalu banyak berpikir tanpa segera bertindak.


"Tenanglah, Reva," ucap Ryo mencoba menenangkan Reva.


Reva menggeleng dalam isak tangisnya, bagaimana bisa dia tenang atas keterlambatannya ini?


"Reva," Ryo memanggil Reva.


"Reva."


Deg


Reva langsung mendongak saat mendengar bukan suara milik Ryo yang memanggilnya. Namun...


"Ka-Kavin...?"


Kavindra, pemuda itu belum pergi.


Reva segera menghambur ke pelukan Kavin, "Aku kira kamu sudah pergi ke LA, hiks.." ucapnya.


Kavin yang terkejut segera menatap Ryo dan Gavin, tetapi ke dua pemuda itu hanya mengangkat bahu.


"Pesawat yang akan aku tumpangi Delay," ucap Kavin.


Saat Kavin ingin menaiki pesawatnya, dia menerima pengumuman penundaan jadwal penerbangan pesawat dari pihak maskapai. Delay selama 1 jam. Namun, dia tidak menyangka jika Reva akan benar-benar datang untuk menghentikan kepergiannya.


"Kavin... Aku ingin kamu nggak pergi, hiks.. Maafkan aku. Seharusnya aku nggak pernah membiarkanmu meninggalkan aku. Apakah aku terlambat?" lirih Reva dengan isak tangis.


Oh, apa ini? Apa Kavin sedang bermimpi?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2