Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Mencoba Jujur Padamu


__ADS_3

"Kita mau ke mana?" tanya Gavin pada Sachi yang menarik lengannya, berjalan ke area parkiran kampus.


Mau bagaimanapun Sachi mencoba menarik Gavin, tapi si pemuda dengan begitu mudahnya menahan pergerakannya untuk berhenti.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat," jawab Sachi pada akhirnya.


Gavin mengangkat ke dua alisnya, kenapa jawaban Sachi ambigu sekali?


"Pokoknya kamu harus ikut, jangan bertanya lagi," pungkas Sachi.


Benar-benar membuat Gavin penasaran.


Kemudian Gavin hanya bisa menurut ke mana Sachi akan membawanya.


"Kamu adalah satu-satunya Dosen yang mengajak mahasiswanya bolos," ucap Gavin setelah sampai di samping motor sport miliknya.


Sachi memainkan jari. Ya, ucapnya Gavin memang benar, "Aku tidak bermaksud."


Gavin terkekeh, lalu mengacak rambut Sachi.


"Apa kita akan naik motor ini?" tanya Sachi ketika melihat motor sport dengan warna merah dan hitam.


"Ya, tidak apa-apa, kan?"


"Tapi aku sedang pakai rok," kata Sachi lebih seperti mencicit.


Oh, Gavin baru menyadarinya. Menaiki motor dengan menggunakan rok span pendek akan membuat paha mulus Sachi yang bahkan belum pernah dilihatnya terekspos. Lalu Gavin segera melepas jaket denim yang dipakainya, setalah itu melilitkannya pada pinggang ramping Sachi.


"Pakai ini," ujar Gavin merasa jika dirinya sudah menjadi gentleman.


"Terima kasih," ucap Sachi kikuk, karena belum terbiasa dengan perlakuan manis dari seorang laki-laki. Terlebih lagi dari Gavin yang kini berstatus kekasihnya.


Sachi memang harus lebih membiasakan diri.


Gavin mulai menaiki kuda besi kesayangannya itu, dan diikuti dengan Sachi yang terlihat agak kesusahan saat menaiki jok belakang.


'Yes! Akhirnya jok belakang motorku diduduki seorang cewek,' batin Gavin bersorak gembira.


Maklumlah pemuda itu baru saja melepas status jomblonya. Sebelumnya Gavin memang tidak pernah membonceng perempuan. Jadi wajar saja jika dirinya begitu senang.


Ngomong-ngomong, Sachi bakal memeluknya atau nggak, ya? Hubungan mereka memang masih terbilang kaku karena baru berpacaran. Pastinya Sachi tidak akan memeluknya. Lantas kenapa Gavin mengharapkannya?


Sett


Gavin tertegun tatkala merasakan tangan Sachi yang melingkar pada pinggangnya, memeluk dari belakang. Sungguh membuatnya bergetar tidak karuan.


"Aku takut terjatuh," ucap Sachi.


"A-ah, ya. Kamu boleh berpegangan," ujar Gavin dag-dig-dug ser.


"Peluk yang erat juga boleh," lanjut Gavin dengan memelankan nada suaranya, wajahnya bersemu merah.


"Apa?"


"Tidak kok."


Kemudian Gavin mulai melajukan motor sport miliknya. Menembus jalan raya di siang hari.


Sachi mengeratkan pelukannya. Kondisi jok motor yang terbatas membuat posisi duduk mereka berdekatan. Ditambah lagi saat melewati jalanan rusak atau polisi tidur. Tubuh bagian belakang Gavin menempel erat dengan tubuh bagian depan Sachi. Gavin sampai tidak konsen nyetir dibuatnya, ada gejolak-gejolak yang mendera dirinya.


Jika tahu akan seperti ini. Gavin rela mengikuti Sachi ke manapun.

__ADS_1


**


Rumah Sakit Jiwa.


Kenapa Sachi membawanya ke sini? Gavin hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Meskipun sudah rela mengikuti Sachi ke manapun tapi tetap saja dia merasa terheran-heran.


"Ayo bertemu dengan Ibuku," ucap Sachi dengan menerbitkan senyum yang begitu manis.


Bisa-bisa Gavin diabetes dibuatnya. Kenapa bisa ada seorang gadis semanis Sachi di dunia ini? Tentu saja itu bukan sekedar hiperbola. Itu kenyataan!


"Ibumu?" Gavin memastikan pendengarannya yang dirasa salah.


"Ya, Ibuku."


Ternyata itu benar. Kenapa Ibu Sachi ada di rumah sakit jiwa?


"Ibumu sedang sakit?" tanya Gavin dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan gadis itu.


"Ya," jawab Sachi lugas.


Gavin bernapas lega karena ekspresi Sachi tidak menunjukan ketidaksukaan.


Langkah mereka berhenti disebuah pintu bernomor 543.


"Mulai dari sini aku akan mencoba jujur padamu, Gavin. Aku harap pandanganmu terhadapku tidak berubah setelahnya," ucap Sachi dengan menatap dalam manik cokelat milik si pemuda.


Gavin menatap balik manik hitam memikat milik Sachi. Bagai tersihir, kepalanya mengangguk.


Cklek


Kemudian Sachi membuka pintu itu.


Hal pertama yang Gavin lihat adalah ruangan serba putih. Lalu langkah kakinya mengikuti Sachi untuk masuk lebih dalam ke ruangan itu.


"Ibu," panggil Sachi.


"Halo, Tante," sapa Gavin dengan sopan.


"Si-siapa ka-kalian?" Amanda gemetar ketakutan saat melihat Sachi dan Gavin.


Sachi menatap sang Ibu sendu, "Aku Sachi, Ibu."


"Sachi?" Amanda mulai menghilangkan rasa takutnya.


Sachi tersenyum dan mengangguk.


"Kamu sudah pulang sekolah, sayang?" tanya Amanda memeluk Sachi.


"Ya, Sachi sudah pulang," jawab Sachi,


"Jangan takut, ya. Ayahmu sedang pergi bekerja," ucap Amanda sembari mengelus rambut panjang Sachi.


Ya, selalu itu yang diucapkan Amanda. Meskipun selalu mendengar perkataan yang sama, tetapi Sachi tidak bosan mendengarnya. Dia mengganggap jika itu adalah bentuk perhatian dari Ibunya.


Gavin hanya terdiam ketika melihat interaksi Ibu dan putrinya itu. Dia paham dengan keadaan Ibu Sachi dari pertama kali melihatnya. Apakah ini kejujuran yang Sachi maksud?


"Apakah dia temanmu?" tanya Amanda setelah melerai pelukan. Tatapannya tertuju pada Gavin.


"Dia..." wajah Sachi merona.


"Wahh, apa ini? Putriku sudah memiliki kekasih?" ujar Amanda yang melihat semburat kemerahan di ke dua pipi Sachi.

__ADS_1


Sachi mengganggu malu-malu.


Amanda kembali menatap Gavin, "Siapa namamu?" tanyanya tersenyum ramah.


Jika seperti ini, Amanda terlihat seperti Ibu normal pada umumnya. Dan Sachi sangat bersyukur akan hal itu.


"Namaku Gavin. Gavin Albercio," Gavin memperkenalkan dirinya.


"Aku harap kamu bisa menjaga putriku dengan baik," ujar Amanda memberi amanat.


Dan tentunya akan Gavin lakukan dengan sepenuh hati.


"Baik, Tante."


"Panggil Ibu saja.


"Ya, I-Ibu."


Gavin benar-benar merasa senang karena dirinya seolah mendapatkan lampu hijau dari sang calon Ibu Mertua.


Tunggu. Lampu hijau?


Jika dia telah mendapatkan lampu hijau, lantas bagaimana dengan suami Sachi?


"Gavin, aku belum menikah," ucap Sachi seakan tahu dengan apa yang dipikirkan Gavin.


"Eh?" bagaikan orang bodoh, Gavin mengedipkan mata beberapa kali.


"Aku belum menikah. Maaf, telah membohongimu."


Jujur. Ya, itulah yang sekarang Sachi lakukan.


"Te-terus cicinmu?" Gavin tercekat, masih tidak percaya.


Sachi melepas cincin yang tersemat dijari manis tangan kanannya.


"Ini hanyalah bentuk perlindungan diriku."


Jujur Gavin senang dengan kenyataan jika Sachi belum menikah. Namun, ada rasa kecewa pada hatinya karena telah dibohongi.


"Kenapa kamu berbohong? Apa maksud perlindungan diri?" tanya Gavin.


"Aku punya masalah psikis..."


PRANGG


Suara pecahan gelas mengejutkan mereka. Amanda menjatuhkan gelas minumnya saat sedang ingin meraihnya.


"A!" sontak Ananda berteriak histeris.


"Ibu," Sachi mencoba menenangkan Ibunya.


"Tidak, jangan pukul aku! Hiks ...Sachi pergilah. Ayah bisa melukaimu jika kamu terus berada di sini," kata Amanda dengan gemetar ketakutan.


"Tenanglah, Ibu. Itu hanyalah gelas yang terjatuh. Ayah sudah tidak ada. Ibu tidak usah takut lagi, ya."


Amanda masih menangis sesenggukan, tangannya memeluk tubuhnya sendiri, terutama kepalanya. Seakan mencoba melindungi diri dari sebuah pukulan yang akan dia terima.


Gavin yang melihatnya terpaku ditempat.


"Mrs. Sachi..."

__ADS_1


Sebenarnya masa lalu apa yang dialami Sachi dan Ibunya?


_To Be Continued_


__ADS_2