Bodyguard Tuan Muda

Bodyguard Tuan Muda
Malam Yang Panjang


__ADS_3

21+ 🔥🔥🔥


Ryo menurunkan Jelita ke atas ranjang setelah menggendong ala bridal style dari kamar mandi. Dia menatap tubuh menawan Jelita yang masih terlihat basah karena habis dimandikan.


"Jangan menatap aku terus," Jelita mencoba menutupi tubuhnya yang polos dengan tangannya meskipun perbuatannya tidak ada gunanya sama sekali.


Ryo terkekeh karena melihat Jelita yang masih malu-malu itu, "Mau melihatnya lagi?" tanyanya yang merujuk pada hal yang lain.


"Melihat apa?" tanya Jelita dengan tatapan polos.


"Ini," Ryo menunjuk area bawah perutnya, tepat pada sesuatu yang terlihat menonjol dari balik kimono handuk yang dia pakai. Adik kecilnya yang sudah siap tempur.


Wajah Jelita merona, mulutnya membulat, "Aku..." dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya yang ingin berkata 'mau'.


Ryo menyeringai nakal karena paham dengan arti tatapan Jelita yang malu tapi mau.


Kemudian Ryo menarik tali pada kimono handuk yang dia pakai dan menanggalkannya, memperlihatkan otot-otot perutnya yang berbentuk kotak-kotak dan senjatanya yang sudah tegak seperti Monas.


Jelita menelan saliva kasar saat melihat pemandangan yang semakin membuatnya bergejolak aneh.


Ryo meraih tangan kanan Jelita untuk  memberi kecupan pada punggung tangan, "Jelita, aku mau dirimu lagi," ucapnya dengan menatap Jelita mendamba.


Apa yang barusan Ryo katanya benar-benar sukses membuat jantung Jelita berdegup kencang.


"Buka kakimu," pinta Ryo.


Karena sudah tersihir dengan tatapan memabukkan suaminya itu, Jelita menurut untuk membuka kakinya dan menampakkan tubuh bagian bawahnya yang terlihat merekah.


Ryo segera naik ke ranjang untuk bergabung dengan Jelita yang mengakibatkan kelopak bunga mawar yang berserakan di ranjang berjatuhan ke lantai, lalu dia duduk di antara kaki Jelita yang terbuka, tangannya terulur dan mengusap milik Jelita dengan ibu jarinya.


Jelita sampai menahan napas dibuatnya, dia meremas seprai untuk menyalurkan rasa geli dan menggelitik nikmat saat jari-jari Ryo memberikan sensasi pijatan lembut dengan cara menggosok ke depan dan ke belakang dan mencubit pelan, lalu merang-sang sesuatu yang berbentuk kacang dengan menekan dan melingkar.


"Uhhh, Ry... Ryo..."


Tubuh Jelita menggelinjang saat jari telunjuk Ryo mulai memasuki dirinya dan memberikan gerakan menggelitik.


Selagi jarinya aktif, Ryo mulai mencium perut rata Jelita dan menjalar hingga ke bukit menjulang yang berguncang karena siempunya yang bergerak seperti cacing kepanasan.


Jelita semakin panas dingin saat Ryo mulai meremas satu bukitnya dan mengulum buah cherry miliknya pada bukit lainnya, lalu Ryo juga mulai menambahkan jari untuk memasukinya di bawah sana, kini 3 jari sedang mengobrak-abrik dirinya.


"Ahh!" Jelita tidak sanggup lagi untuk tidak mende-sah dengan kencang dengan urat leher menegang, dan matanya terpejam dengan erat.


Sensasi yang benar-benar gila bagi Jelita, dia terlihat menikmati, lebih tepatnya tersiksa.


Lalu Ryo menjulurkan lidahnya hingga menekan untuk mengitari bukit kembar milik Jelita, mengarah ke leher dan dagu, berakhir mencium bibir istrinya. Mencium dengan liar dan menggebu-gebu.

__ADS_1


Napas Jelita mulai memberat, bagian dalamnya kembali menegang karena Ryo semakin cepat menggerakkan jari-jarinya. Jelita merasakan akan mencapai titik nikmatnya lagi.


Namun, Ryo menghentikan gerakan jarinya.


Da-da Jelita naik turun, "Ryo ja-jarimu..." cicitnya sampai ingin menangis.


Tanpa merasa bersalah Ryo justru menjilati tiga jarinya yang sebelumnya menyiksa Jelita sembari menatap wajah tersiksa Jelita akibat gagal mencapai titik nikmat.


"Ryo..." rengek Jelita.


Ryo terkekeh setan, "Kenapa, sayang?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


Jelita menelan saliva karena tenggorokannya menjadi kering mendadak, "Jarimu ke-kenapa berhenti?" tanyanya.


"Tentu saja karena aku ingin menggantikan dengan ini," Ryo menggesekkan senjatanya pada milik Jelita yang sudah sangat basah.


Jelita menggigit bibir bawahnya, "Apa akan sakit lagi?" tanyanya.


"Tenang saja ini nggak akan sakit seperti pertama kali," bisik Ryo dengan menahan geramannya.


Kemudian Ryo langsung mendorong senjatanya hingga terbenam sepenuhnya pada sangkarnya.


"Ahh, Ryo."


Jelita membelai punggung Ryo yang berkeringat, lalu dia mengecup telinga Ryo dan menggigitnya, "Ryo," panggilnya dengan napas yang memburu.


"Oh, Jelita," geram Ryo dan menggosokkan bibir terbukanya pada buah cherry milik Jelita dan kembali mengulumnya.


Malam yang semakin larut tidak dihiraukan pengantin baru itu. Ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka. Gai-rah mereka telah memuncak, ingin segera dilepaskan, dan ingin saling memuaskan.


"Jelita."


"Y-ya?"


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Ryo."


**


Pagi harinya.


Jelita membuka matanya saat merasakan sinar matahari yang mengintip dari gorden jendela menyinari wajah lelahnya.


Ketika dia ingin bangkit untuk duduk tubuhnya terasa remuk dan tidak bertenaga. Wajar saja karena dia dan Ryo ber-cinta selama 10 kali, Ryo benar-benar menyalurkan has-rat bejatnya yang selama ini ditahan. Beruntunglah karena Jelita adalah wanita yang kuat dan bisa mengimbangi naf-su Ryo yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


Jelita tersenyum saat melihat Ryo yang masih tidur dengan tubuh yang masih polos seperti dirinya, kemudian dia menghujam kecupan-kecupan sayang pada punggung suaminya.


"Ryo, wake up," ucapnya.


Ryo terbangun dan berbalik untuk menatap Jelita, dia membalas senyuman istrinya, lalu menarik tengkuk Jelita untuk mengecup sekilas bibir yang terlihat membengkak itu, "Morning, istriku," katanya bernada serak habis bangun tidur.


Jelita merona karena panggilan yang Ryo berikan untuknya, "Morning, Ryo," balasnya.


"Panggil aku suami," pinta Ryo.


Jelita kaku sesaat, dia menggeleng pertanda tidak mau menuruti permintaan Ryo, untuk memanggil Ryo sayang saja dia malu dan canggung.


Ryo cemberut, "Ayolah, sayang," rengeknya.


"Su-suami," pada akhirnya dia menurut.


"Panggil lagi," ucap Ryo dengan senyum merekah karena senang.


"Suami," ulang Jelita.


Sepertinya dia memang harus membiasakan diri untuk memanggil Ryo seperti itu. Lagi pula kenyataannya Ryo adalah suaminya.


'Jadi ini rasanya dipanggil suami,' pikir Ryo senang.


Ryo langsung menarik Jelita pada pelukannya. Pagi ini adalah pagi terbaik bagi Ryo. Perasaan damai, tenang, dan bahagia memenuhi hatinya. Sebenarnya dia khawatir jika Jelita akan meninggalkannya lagi seperti pagi itu. Namun, kini dirinya merasa lega karena Jelita masih berada di sampingnya dan memanggilnya suami.


"Oh, Jelita, aku sangat mencintaimu," ucap Ryo entah sudah beribu-ribu kalinya sejak semalam.


"Ya, aku tahu," Jelita membalas pelukan Ryo.


Cukup lama mereka berpelukan dan tiba-tiba saja perut Jelita berbunyi karena merasakan lapar.


"Apa kamu lapar?" tanya Ryo sembari terkekeh.


Jelita mengangguk malu.


"Kalau begitu ayo kita mandi bersama dan setelah itu makan," ujar Ryo mengurai pelukannya.


"Ma-mandi bersama?"


"Ya."


Ryo langsung mengangkat Jelita ke kamar mandi.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2