
"Ahh, Ugh..."
Ryo terlihat tersiksa dengan mengigit ibu jarinya. Ryo sangat tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ini adalah efek dari obat perangsa-ng.
"Apa yang kamu lakukan, Ryo? Jangan gigit jarimu seperti itu," ujar Jelita seraya meraih tangan Ryo agar menghentikan apa yang dilakukan pemuda itu.
"Jelita, badanku terasa panas sekali," lirih Ryo.
Ryo membuka kancing kemejanya dengan satu tangan yang tidak dipegang Jelita, dia sungguh merasa panas. Belum lagi sentuhan Jelita pada tangannya yang memperparah keadaannya. Dia ingin sekali menerkam Jelita. Namun, Ryo menahannya dengan sekuat tenaga.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menolong kamu, Ryo?" tanya Jelita.
Jelita menatap keadaan Ryo prihatin, dia tidak tega melihat Ryo yang tersiksa seperti itu.
'Apa Ryo membutuhkan pelampiasan seperti Reva?' batin Jelita.
Ryo menggeleng lemah, dia menarik tangannya dari pegangan Jelita, "Sebaiknya kamu pergi dari kamarku, Jelita..." ujarnya dengan napas yang semakin memburu.
"Aku nggak bisa meninggalkan kamu yang tersiksa," ujar Jelita seraya melepas kacamata miliknya, lalu mengelus pipi kanan milik Ryo dengan sayang.
Ryo terbelalak saat merasakan bibir lembut Jelita yang menempel pada bibirnya.
Jelita menciumnya.
Ryo masih tidak percaya dengan apa yang Jelita lakukan, tapi dia merasa bahagia.
"Jelita..."
Jelita menjauhkan wajahnya dan tersenyum manis untuk meyakinkan Ryo.
Seketika gai-rah Ryo tidak bisa dia tahan lagi, dia benar-benar menginginkan Jelita sekarang juga.
Ryo kembali menyatukan bibir mereka, melu-mat bibir pink yang selalu menggoda itu dengan lembut dan semakin liar setelahnya.
Kemudian Ryo menarik tubuh Jelita agar tidur di ranjang dan mengurung gadis itu di bawahnya, menindihi Jelita dengan satu tangan menjadi tumpuan agar berat badannya tidak menyakiti Jelita.
Ryo bahkan mulai melepas satu persatu kancing kemeja Jelita hingga terlepas semuanya, lalu jemarinya mulai memijit pelan tonjolan milik Jelita yang masih terbungkus br-a. Jelita melenguh pelan, tanpa sadar tangannya menarik tengkuk Ryo dan membuat ciuman mereka semakin dalam.
Gigitan pelan pada bibirnya, membuat Jelita membuka mulut, lalu lidah milik Ryo menerobos masuk ke rongga mulutnya yang hangat. Lidah nakal itu memutar-mutar lidahnya, berniat mengajak berdansa.
Ryo semakin melampiaskan has-ratnya yang dia pendam selama ini.
__ADS_1
"Ryo..." Jelita melenguh saat remasan tangan Ryo menjadi semakin bertenaga.
Ryo melepas tautan bibir mereka hingga menciptakan benang saliva di antar bibir ke duanya.
Tatapan mereka bertemu satu sama lain dan saling mendamba.
"Jelita..." panggil Ryo mengalun lembut di telinga Jelita.
"Ya," jawabnya
Jantung Jelita terpompa dengan cepat, sensasi ciuman yang diberikan Ryo sudah mematik hormon tubuhnya. Wajahnya pun kini sudah sangat memerah.
Jelita menginginkan Ryo.
"Aku mau dirimu, Jelita," ucap Ryo yang membuat Jelita bergetar.
Mereka berdua saling menginginkan.
"Aku... uhmm," Jelita tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena Ryo mulai memberikan jilatan dan hisapan bertubi-tubi pada lehernya.
"Berikan dirimu padaku," ucap Ryo di sela-sela kegiatannya.
"Ryo..." lenguh Jelita, tangannya merambat pada punggung Ryo yang masih mengenakan kemeja dan merabanya.
Jelita gemetar dibuatnya, dia merasakan jika tubuhnya menjadi terasa aneh, seperti ada yang sesuatu yang bergejolak.
Ryo bangkit untuk menanggalkan kemejanya, Jelita menelan saliva kasar saat melihat badan atletis dan sedikit berotot milik Ryo. Namun, tatapannya teralih pada jejak ciuman Reva di dada bidang Ryo.
"Ryo... " cicit Jelita, dia berkaca-kaca dibuatnya.
"Kenapa?" tanya Ryo yang kembali mengukung tubuh Jelita, "Kalau kamu ingin berhenti aku nggak bisa mengabulkannya," lanjutnya sembari menanggalkan kemeja Jelita dan mencoba melepas kaitan br-a.
Ryo memang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lagi, dia sudah cukup menahan diri agar tidak berbuat kasar pada Jelita. Sebisa mungkin Ryo mencoba melakukannya dengan lembut.
"Bukan itu, hanya saja..."
Click
Jelita tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena merasakan br-a miliknya sudah dilepas Ryo, dan kini Ryo sedang menatap ke dua bongkahan miliknya seperti binatang buas.
"Stop, ja-jangan melihat," Jelita segera menutupi tubuh bagian depannya dengan tangan.
__ADS_1
"Jangan malu, sayang," bisik Ryo tepat di telinga Jelita dan itu sukses membuat Jelita meremang, belum lagi panggilan sayang yang Ryo berikan.
Dengan perlahan Ryo menyingkirkan tangan Jelita, dia kembali menatap intens aset milik Jelita yang sangat besar itu. Terlihat buah cherry yang berwana pink sudah menegang. Sungguh terlihat masih ranum karena belum ada satu orangpun yang menikmatinya.
Ryo sangat beruntung karena akan menjadi yang pertama.
Jelita sadar jika dia akan beranjak ke step yang lebih gila. Meskipun dia sudah menduga tetap saja dia merasa terkejut saat mulut Ryo mulai melahap buah cherry miliknya dan meremas bagian sebelahnya lagi.
Perutnya menegang karena merasa adanya kupu-kupu yang berterbangan dan berimbas pada tubuh bagian bawahnya yang basah.
"Ahh."
Darah Jelita berdesir-desir saat merasakan Ryo menjilat dan mengigit, bahkan pilinan dia rasakan pada buah cherry yang lainnya.
Benar-benar kenikmatan yang baru Jelita rasakan.
Sedangkan Ryo juga merasakan hal yang sama, rasa yang begitu manis dia rasakan saat mengecap dan menghisap buah cherry yang berada di dalam mulutnya, kalau bisa dia ingin melahap seluruhnya. Namun, itu mustahil karena milik Jelita sangatlah besar.
Tanpa sadar Jelita membusungkan badannya dan semakin menekan kepala Ryo. Ryo bahkan sampai kesulitan bernapas karena hidungnya juga tertekan.
Ryo segera menjauhakan wajahnya karena butuh bernapas.
"Oh, damn..." geramnya.
Ryo suka sekali melihat wajah Jelita yang sudah berkabut akan gai-rah. Wajah Jelita yang memerah, mata yang terpejam erat dan bibir yang terbuka sedikit.
Jelita membuka matanya saat Ryo mengecup bibirnya sekilas.
"Aku sudah nggak tahan..." bisik Ryo tepat di depan bibir Jelita, gerakan bibirnya bahkan mengenai bibir Jelita.
Jelita mengangguk karena terhipnotis dengan tatapan memabukkan dari Ryo.
Kemudian tangan Ryo bergerak untuk mencari kaitan celana panjang yang di kenakan Jelita dan segera membukanya, tidak lupa dengan resletingnya.
Jelita menelan saliva berat saat Ryo mulai melucuti celananya dan begitu pula dengan celana milik Ryo sendiri.
Kini tubuh mereka sudah sama-sama polos.
"Ryo, aku takut," lirih Jelita saat melihat Ryo yang memposisikan diri untuk memasuki dirinya.
"Jangan takut, percayakan saja padaku," ucap Ryo dengan mengelus pipi Jelita lembut, "Ini akan sangat sakit, tapi akan terasa enak setelahnya."
__ADS_1
_To Be Continued_