
2 Minggu berlalu setelah kembalinya ke Indonesia.
Ting!
Dentingan pintu lift terdengar, kaki dengan pantofel hitam melangkah saat pintu lift terbuka secara otomatis.
Semua karyawan membungkuk hormat pada Ryo yang berjalan dengan angkuh, ada 2 orang Bodyguard yang mengikuti dari belakang.
"Selamat pagi, tuan muda," sapa seorang wanita muda yang memakai setelan kantor rapi dan bermakeup natural.
Ryo menghentikan langkahnya, lalu mengangguk.
"Saya Sisil yang akan menjadi Asisten pengganti Jefra," jawab si wanita memperkenalkan diri.
Ngomong-ngomong Jefra memang sudah tidak menjadi Bodyguard ataupun Asisten Ryo.
Ayah Xavier bilang kalau Jefra telah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Alasan Jefra berhenti pun tidak jelas. Padahal gaji dari orang kepercayaan keluarga Januartha sangatlah besar.
Atau Jefra sudah tidak membutuhkan uang lagi?
Sebenarnya Ryo tidak masalah tentang hal itu, yang menjadi masalah karena akhir-akhir ini istrinya terlihat sedih karena hilangnya Jefra yang tiba-tiba. Alasan Jelita sedih tentu saja karena Renata yang terlihat terpuruk dibuatnya.
Jika begini akhirnya, Ryo dan Jelita jadi menyesal telah mendekatkan Jefra dengan Renata.
Bukankah Jefra benar-benar bereng-sek? Tidak heran jika kata breng-sek menyentil Jefra yang telah menyakiti dan membuat perasaan Renata menjadi kecewa, karena setelah mendapatkan cinta dari Renata, dia justru pergi begitu saja.
'Apa Jefra tertular virus Casanova aku dulu?' batin Ryo ngawur.
Kemudiaan Ryo kembali melangkah untuk masuk ke ruangan kerjanya. Dia memang harus giat bekerja supaya bisa membeli susu dan popok untuk bayinya dan Jelita kelak. Ryo jadi cengengesan sendiri karena pikirannya. Padahal jika tidak bekerja pun hartanya tidak akan habis tujuh turunan.
**
Terlihat Renata yang tengah duduk termangu di sofa ruang tamu rumahnya. Pikirannya melayang pada pemuda yang telah membawa setengah hatinya pergi.
Jefra.
Ya, pemuda yang sudah membuat hari-harinya tidak berwarna sejak kepulangan dari Italia.
Sebenarnya kemana Jefra? Bukankah pemuda itu bilang akan menikah dengannya? Lantas kenapa menghilang begitu saja?
"Aku kangen kamu," gumam Renata lirih.
"Eh? Apa?"
Renata tersadar dari lamunannya, lalu menatap Ibunya yang tahu-tahu sudah duduk di sofa sebelahnya.
"Kamu kangen si Davian? Jangan pikirkan orang yang sudah menyakitimu itu, Rena," sambung Reina mencoba menasihati putrinya.
Renata mencebikkan bibir karena kesal atas tuduhan Ibunya, "Siapa juga yang kangen Davian."
__ADS_1
Tatapan Reina menyelidik, "Terus siapa?"
Tidak bisa dipungkiri jika Reina sangat khawatir dengan putrinya itu. Dia kira rasa sakit hati putrinya akan sembuh karena habis berlibur. Namun, justru Renata terlihat semakin gundah gulana.
"Apa sebegitu sulitnya kamu melupakan Davian?" tanya Reina lagi.
"Bukan begitu, Mama! Aku sudah melupakan Davian si breng-sek itu!" sangkal Renata, ada keseriusan di nada bicaranya.
"Jadi apa yang telah membuatmu melamun terus-menerus?"
"Aku sedang kehilangan pacar!" jawab Renata tanpa sadar.
Kemudian segera tersadar dan langsung menutup mulutnya.
"Kamu sudah memiliki pacar baru?" Reina menatap tidak percaya.
"Ya! Ah, nggak, aku..." Renata tidak bisa menyangkal.
"Jangan bilang penyebab kamu galau adalah pacar barumu itu, apa kamu ditinggalkan dia?" tebak Reina.
Renata tertunduk, yang dikatakan Ibunya memang benar, saat ini dia merasa jika telah ditinggalkan Jefra.
Reina memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Haduh, Rena. Kan sudah Mama bilang, kamu jangan asal menaruh hati dengan pemuda tidak jelas. Apa kamu nggak belajar dari pengalamanmu dengan Davian yang nggak berjalan lancar? Cobalah untuk menjaga hatimu agar nggak terjebak dengan pemuda yang hanya memanfaatkan kamu saja."
"Jefra bukan pemuda yang nggak jelas, dia juga nggak memanfaatkan aku, tentu saja Jefra lebih baik dari pada Davian," sangkal Renata.
Reina terdiam sesaat karena merasa familiar dengan nama yang disebutkan Renata.
"Ya, nama pacarku Jefra."
"Apa pekerjaannya?" tanya Reina.
"Bodyguard suami Jelita."
"Bodyguard?" beo Rina.
Wanita paruh baya itu membayangkan seorang pemuda berwajah sangar, berpostur tinggi besar, dan kekar. Sejak kapan selera Renata menjadi seperti itu? Bukankah itu berbanding terbalik dengan Davian?
"Lalu orang tuanya?"
Renata terdiam, dia memang tidak tahu siapa orang tua Jefra.
"Orang asli mana?"
Renata masih terdiam.
"Bahkan pertanyaan klise saja nggak bisa kamu jawab, bukankah dia pemuda yang nggak jelas?" ucap Reina.
__ADS_1
Renata memainkan jemari tangan. Apa benar seperti itu? Jefra-nya adalah pemuda yang tidak Jelas? Renata memang belum mengenal lebih dalam Jefra.
Apakah Jefra akan benar-benar meninggalkannya?
Jika benar, hidup Renata akan berputar 360 derajat, kembali ke titik di mana keterpurukan awalnya. Ini seperti tangan dan kakinya yang telah sembuh, lalu kembali dipatahkan.
Tidak, Jefra tidak mungkin melakukan itu.
"Kami menang baru saja mengenal, tapi aku yakin kalau Jefra memiliki perasaan yang tulus padaku," ucap Renata yakin.
Reina menatap prihatin, kemudian mengelus rambut panjang putrinya.
"Lupakanlah pemuda itu," ucap Reina yang membuat Renata mendongak cepat.
"Kenapa mama berkata seperti itu? Aku nggak mau melupakan Jefra!" tolak Renata, kepalanya menggeleng tegas.
"Pada kehidupan yang fana ini, kamu nggak perlu memperjuangkan sesuatu yang nggak jelas. Mama nggak mau melihatmu tersakiti terus-menerus, karena putriku pantas bahagian."
Renata tertegun, dia tahu apa yang dikatakan Ibunya adalah untuk kebaikannya, karena tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke jurang yang gelap.
Namun, Renata sulit untuk melupakan Jefra.
"Lupakanlah dia, dan ciptakan kebahagiaan kamu sendiri dengan cara menikah dengan pemuda yang Ayahmu pilihkan."
"A-apa? Menikah dengan pemuda pilihan Ayah?"
"Ya."
Deg
Jantung Renata berhenti berdetak, dia benar-benar terkejut dengan apa yang sang Ibu katanya.
Apa dia akan dijodohkan sama seperti Jelita?
"Aku nggak mau, Mama! Aku sangat mencintai Jefra. Aku nggak bisa melupakan dia, aku akan menunggu Jefra kembali padaku. Lagi pula Jefra berjanji akan menikahi aku."
"Jangan sering memakan janji manis dari seorang laki-laki. bukankah Davian juga berjanji akan menikahi kamu? Lalu apa? Dia justru selingkuh dengan sahabatmu Gina."
Mata Renata memanas karena ingin menangis, "Tapi Jefra berbeda dengan Davian."
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Reina yang membuat Renata bungkam.
Renata mengigit bibi bawahnya, ingin menyangkal perkataan Ibunya. Namun, lidahnya mendadak keluh. Dia juga tidak yakin 100% jika janji Jefra bukanlah janji manis saja.
"Dengarkan kata Mama untuk sekali ini, Rena sayang. Jangan bersikap keras kepala seperti kamu memaksa untuk menikah dengan Davian yang jelas-jelas nggak Ayahmu sukai itu."
"Aku nggak keras kepala," cicit Renata.
"Besok malam pemuda itu akan datang untuk melamar kamu, jadi persiapkan dirimu jika kamu memang nggak keras kepala," pungkas Reina.
__ADS_1
'Apa akan berakhir seperti ini? Aku akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai,' batin Renata keruh.
_To Be Continued_