
Muncul ide gila di benak Ryo, dia segera mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk dan memergokinya saat sedang berusaha kabur.
Kemudian dia langsung menarik gorden dari jendela dan mengikatnya hingga menjadi seutas tali, mengikatnya dengan kencang supaya bisa bertahan saat digunakan untuk bergelantungan saat dia turun lewat jendela. Beruntunglah karena dia bisa membuat tali yang cukup panjang.
Ryo memang sangat nekat, dia bahkan tidak perduli dengan resiko berbahaya jika dia terjatuh dari ketinggian. Sekarang yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya agar bisa kabur dan segera mencari Jelita.
Dia melempar tali buatannya ke bawah setelah mengikatkan pada pilar di salah satu sisi jendela.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Ryo merapal doa sebelum dirinya memanjat jendela dan mencoba turun ke bawah dengan bergelantung pada tali.
Setelah bergelantung pada tali, Ryo mencoba untuk menggerakkan dirinya untuk turun tanpa melihat ke bawah karena terlalu takut. Oh, ayolah, dia sedang bergelantungan dari lantai 3 yang memiliki ketinggian 13 meter.
Jika jatuh dia mungkin tidak hanya patah tulang, mungkin nyawanya pun bisa melayang.
Namun, Ryo tidak menyangka jika bergelantungan pada tali begitu sulit sampai-sampai tangannya kebas, belum lagi kain gorden yang berbahan licin. Dengan susah payah dia mencoba bertahan dan pada akhirnya dia terjatuh karena tangannya tidak sanggup lagi berpegangan.
"Uwaaa!" teriak Ryo.
Grep
Jelita berhasil menangkap Ryo dalam gendongannya. Jangan lupakan kekuatan Jelita yang begitu besar.
Ryo yang mendarat di gendongan Jelita terlihat sangat shock. Mata hazel miliknya bertemu dengan mata amber milik Jelita.
"Jelita..."
Ryo berkedip beberapa kali untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
Apa gadis yang tengah menggendongnya itu benar-benar Jelita?
Jelita segera menurunkan Ryo dari gendongannya, dia mendadak kaku karena Ryo dengan begitu mudahnya mengenali dirinya, dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Ryo dalam situasi yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Sedangkan Ryo menatap intens gadis yang dikenalinya sebagai Jelita. Jika ditanya bagaimana bisa dia mengenali Jelita tentu saja karena mata indah gadis itu, dan setahunya tidak ada gadis yang sekuat Jelita yang bisa menggendongnya.
Tapi, penampilan gadis di hadapannya itu sangat berbeda 180° dari Jelita yang dia kenal, dan lagi gadis itu tengah memakai gaun pengantin yang artinya adalah calon istrinya.
"Jelita?" ucap Ryo ragu, dia ingin memastikan apakah gadis itu Jelita atau hanya orang yang memiliki mata yang mirip.
"Ry—"
"Jelita!" seru Renata memanggil Jelita, dia datang dari arah samping yang menyebabkan tidak menyadari kehadiran Ryo.
Semakin kuatlah dugaan Ryo.
Ya, gadis di hadapannya adalah Jelita-nya.
__ADS_1
"Jelita, acaranya akan segera dimulai ayo ki—eh?" Renata terlihat terkejut saat baru menyadari kehadiran Ryo yang tengah berdiri di hadapan Jelita.
'Situasi macam apa ini?' pikir Renata jadi merasa kikuk sendiri.
"Ryo," panggil Jelita agak ragu.
Ryo terdiam sesaat, dia masih menatap intens Jelita, "Jadi kamu adalah calon istriku?" tanyanya kemudian.
"Ya," jawab Jelita sembari mengangguk, "Aku yang akan menikah denganmu, dan aku adalah Jelita yang kamu kenal sebagai Bodyguardmu," sambungnya berkata jujur.
Ryo bungkam, pikirannya campur aduk, ada rasa senang karena sudah bertemu Jelita, rasa kecewa karena merasa dibohongi, dan rasa penyesalan yang masih belum hilang. Ryo bingung harus memberikan respon apa. Lidahnya pun keluh mendadak.
"Tuan muda!" panggil beberapa Bodyguard yang sedang mencari Ryo.
"Sebaiknya kalian bicara nanti saja, acara pernikahan akan segera dimulai," instruksi Renata.
"Ryo, aku akan menjelaskannya nanti," ucap Jelita menatap dalam mata hazel Ryo.
Seakan tersadar Ryo segera mengangguk.
**
Tidak bisa dipungkiri jika Ryo merasa sangat senang karena Jelita yang akan menikah dengannya. Dia pun tidak jadi kabur.
Serentak semua saksi berkata sah dan membaca surah Al Fatihah setelahnya.
Kemudian semua tamu undangan mendadak hening saat Jelita memasuki aula pesta, mereka seolah tersihir.
"Serius itu istri Ryo?"
"Cantik banget."
"Aku baru tahu kalau putri keluarga Albirru sangatlah cantik."
"Beruntung banget Ryo."
"Kalau begitu aku juga ingin dijodohkan jika calonnya secantik dia."
Bisik-bisik penuh kekaguman terdengar di seluruh aula pesta. Itu sangat wajar karena Jelita terlihat begitu cantik seperti bidadari. Bahkan mereka sampai tidak berkedip.
Ryo sendiri pun juga sama. Meskipun sebelumnya dia sudah melihat Jelita, tapi dia tetap terpesona dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Ryo tidak menyangka jika Jelita yang sebelumnya dianggap jelek dan cupu sebenarnya adalah wanita yang sangat cantik.
Namun, kenyataan pahitnya adalah Jelita yang sudah membohonginya selama ini.
Pesta pernikahan berjalan dengan lancar, seharian penuh Jelita dan Ryo menjadi pusat perhatian karena mereka adalah si tokoh utamanya.
__ADS_1
**
Pukul 10.00 malam.
Pesta pernikahan Jelita dan Ryo telah usai, sekarang mereka sedang berada di kamar super besar dengan taburan kelopak bunga mawar di mana-mana, tepatnya di kamar hotel tempat mereka menginap.
"Jadi, apa yang ingin kamu jelaskan?" tanya Ryo dengan menatap tajam Jelita yang berada di hadapannya itu.
Kini mereka sedang terduduk di sofa yang terletak di tengah-tengah kamar, dengan saling berhadapan.
"Maafkan aku karena sudah membohongi kamu selama ini," ucap Jelita dengan ekpresi keruh.
Ryo tersenyum miring, "Ternyata kamu begitu hebat dalam berakting," katanya bermaksud menyindir.
"Aku melakukan ini karena ingin membuatmu berubah," ucap Jelita tertunduk.
"Apa kamu sudah merasa senang karena sudah berhasil membuatku berubah dan membuatku jatuh cinta padamu?" tanya Ryo tanpa adanya ekpresi.
"Aku..." Jelita tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Apa rasa cinta yang kamu berikan padaku hanya kebohongan?" tanya Ryo dengan tatapan terluka, dia terlihat begitu kecewa karena Jelita yang sudah membohonginya.
Seketika Jelita langsung mendongak, "Tentu saja itu bukan kebohongan, aku benar-benar mencintai kamu, percayalah padaku," sangkal Jelita cepat.
"Apa menurutmu aku akan percaya dengan seseorang yang sudah berbohong?" Ryo semakin menyudutkan Jelita.
Jelita meremas gaun pengantin yang masih dia kenakan, tenggorokannya mendadak kering, "Rasa cintaku itu nyata," ujarnya mencoba meyakinkan Ryo.
"Apa buktinya?" tanya Ryo terlihat masih tidak percaya pada perasaan Jelita yang mencintainya.
"Aku sungguh mencintaimu, aku nggak bisa menunjukan bukti lewat kata-kata. Kamu akan tahu dari cara aku memperlakukanmu," jawab Jelita memberanikan diri menatap tepat pada mata hazel Ryo.
"Kalau begitu teruslah bersamaku."
Jelita menatap tidak percaya Ryo dan keningnya berkerut karena mengira dirinya salah dengar, "A-apa?"
"Buktikan rasa cintamu itu dengan terus bersamaku, berada di sisiku, dan hidup menua bersamaku."
Deg
Jantung Jelita sudah tidak bisa terkontrol karena mendengar perkataan Ryo.
"Jangan mencoba pergi dari sisiku lagi, Jelita," sambung Ryo.
_To Be Continued_
__ADS_1