
Rambut hitam Jefra yang konstan dengan hitamnya malam melambai terkena angin yang begitu dingin, kakinya melangkah di jalan setapak yang lembab, ada Renata yang tengah digendong di belakang punggung.
"Kamu habis dari mana, Jef?" tanya Renata memecah keheningan, dia masih penasaran dengan ke mana Jefra pergi tadi.
"Aku hanya mencari angin saja," tentu saja Jefra tidak menjawab jujur.
"Yang benar?" Renata terlihat tidak percaya, dia merasa ada hal yang sedang disembunyikan Jefra.
"Benar," jawab Jefra.
'Apa yang disembunyikan Jefra?' batin Renata merasa jika Jefra memiliki sisi misterius.
Langkah kaki Jefra sudah memasuki hotel tempat mereka menginap.
"Turunkan aku, Jef," lirih Renata, dia jadi malu saat karyawan hotel melihat keadaan dia yang berada di gendongan Jefra.
"Kakimu terluka, biarkan aku membantumu," ujar Jefra kalem, pandangannya lurus ke depan.
Kaki Renata memang mengalami luka yang membuatnya kesulitan untuk berjalan, walaupun tidak ada cedera yang parah.
"Aku nggak apa-apa," ucap Renata masih ingin mencoba turun dari gendongan Jefra.
"Masalahnya jantungku yang apa-apa saat melihat kamu terluka seperti ini, aku tidak mungkin membiarkan kamu kesusahan berjalan sendiri," kata Jefra.
Seketika Renata bungkam dengan hati yang bergetar.
"Jadi izinkan aku untuk menggendongmu sampai ke kamar."
"Ya," pada akhirnya Renata menurut.
Renata memeluk pada bahu lebar Jefra. Bahu yang begitu hangat saat dipeluk, memberikan rasa aman, melindungi dan kenyamanan bagi Renata.
"Aku suka bahumu," ucap Renata tanpa sadar.
Namun, Jefra masih bisa mendengarnya, "Apa?"
"Oh, maaf," Renata jadi salah tingkah, "Aku terlalu fokus pada bahumu."
"Tidak apa-apa, peluk saja jika kamu suka," ucap Jefra.
Renata tersenyum kecil saat melihat telinga Jefra yang memerah. Jefra yang kaku ternyata menggemaskan juga saat malu.
Kemudian Renata mengeratkan pelukannya, bahkan dia bisa mencium wangi citrus yang begitu menenangkan.
Perasaan yang Renata rasakan ini...
__ADS_1
'...Apa aku sudah mulai menyukainya?' pikir Renata.
**
Pagi harinya.
"Apa kamu sungguh nggak apa-apa?" tanya Jelita pada Renata yang sedang terduduk di atas ranjang, dia begitu panik saat mendengar jika sepupunya itu habis terjatuh ke jurang.
Kini Jelita, Ryo, dan Jefra sedang berkumpul di kamar Renata.
Semalam Renata memang sudah diperiksa oleh Dokter yang dipanggil oleh Jefra. Gadis itu hanya mengalami luka ringan, lecet pada kaki bagian lutut hingga ke betis, memar pada pundak akibat benturan, dan sedikit goresan pada pelipis.
"Apa kita kembali ke Indonesia saja?" tanya Jelita.
Renata menggeleng, "Jangan dong, bukankah kita akan pergi ke beberapa negara lagi? Aku benar-benar nggak apa-apa," jawabnya.
Tentu saja Renata tidak mau jika acara honeymoon Jelita dan Ryo tidak berjalan lancar karena dirinya. Lagi pula Renata juga masih ingin berlibur, dia sudah mengambil cuti panjang untuk ini.
"Lain kali berhati-hatilah, bisa-bisanya kamu ketiduran hingga jatuh ke jurang!" omel Jelita.
"Namanya juga ketiduran," Renata menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Jangan keluar sendirian lagi setelahnya!" omel Jelita lagi.
"Sebenarnya semalam aku ingin mengajakmu, tapi aku nggak mau menganggu seseorang yang sedang bercocok tanam," ucap Renata justru menggoda Jelita.
"Kita ini sudah sama-sama dewasa, tentu saja aku tahu hal apa yang dilakukan pasangan pengantin baru di malam honeymoon," kata Renata dengan menaik-turunkan ke dua alisnya.
"A-aku ini sedang memarahi kamu, ke-kenapa kamu jadi menggoda aku!" Jelita menutup mukanya dengan ke dua telapak tangan, dia sungguh malu sekali dengan perkataan blak-blakan Renata.
Renata terkekeh melihat respon Jelita.
"Sudahlah, sayang. Jangan memarahi Dokter Renata lagi, sebaiknya biarkan dia istirahat," ujar Ryo sembari merangkul pundak Jelita untuk menggiring ke luar, wajah Ryo juga terlihat memerah.
Jelita hanya menurut, jika dia terus di kamar Renata, yang ada sepupunya itu akan terus-menerus menggodanya.
'Dasar sepupu laknat,' batin Jelita.
Pasangan pengantin baru itu pun pergi, meninggalkan Renata dan Jefra.
"Bukankah mereka begitu manis?" tanya Renata pada Jefra sambil tertawa.
"Sepertinya kamu senang sekali menggoda mereka," ucap Jefra.
Tatapannya tidak lepas dari wajah Renata, fokus pada pipi tembam yang terangkat saat siempunya tertawa. Apakah akan keluar madu jika Jefra menggigitnya? Jefra menggigit pipi bagian dalam untuk menahan gemas.
__ADS_1
"Salahkan mereka yang selalu membuatku iri," kilah Renata yang sudah menghentikan tawanya.
"Iri?" tanya Jefra heran.
"Aku iri pada Jelita dan Ryo yang sudah menikah dengan seseorang yang tepat, aku berharap memiliki kisah indah seperti itu juga, hidup bahagia dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku."
Padahal Renata sudah memimpikan pernikahan yang diharapkannya itu bersama Davian. Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
"Aku juga merasa iri," ucap Jefra.
Renata menatap Jefra, kenapa Jefra jadi ikut-ikutan?
"Aku harap kamu dan aku bisa seperti itu," lanjut Jefra tersenyum tipis.
"O-oh? oh," Jantung Renata sudah seperti ingin meledak.
kemudian Jefra mendudukkan dirinya di bibir ranjang, menatap lembut Renata yang wajahnya sudah tersipu, "Dengarkan baik-baik yang akan aku katakan ini," ujarnya.
"A-apa?" tatapan Renata beralih ke samping, tidak sanggup menatap wajah pemuda tampan yang kini berhadapan dengannya.
"Tatap aku Renata," pinta Jefra menuntut.
Renata menelan saliva berat karena merasa gugup sekali, dengan ragu dia mengalihkan kembali tatapannya, fokus pada dahi milik Jefra karena tidak sanggup menatap mata.
'Apakah itu yang dinamakan dahi paripurna?' pikir Renata, justru mengagumi dahi Jefra.
Dengan agak ragu Jefra meraih tangan kanan Renata untuk digenggam, lalu mengelus punggung tangan Renata dengan ibu jari.
"Aku mencintaimu, Renata," ungkap Jefra.
Deg
Jantung Renata semakin berdetak kencang, pupil mata bergetar. Sebenarnya Renata tahu jika Jefra memiliki perasaan khusus pada dirinya, karena perkataan pemuda itu yang ingin menikah dengannya. Namun, dia tidak menyangka akan mendapatkan pernyataan cinta secara tiba-tiba.
"Se-sejak kapan?" tanya Renata.
"Sejak pertama kali aku melihatmu."
Ya, karena cinta pada pandangan pertama itu benar-benar nyata, bukan mitos atau kebodohan. Saat itu Jefra tidak bisa mengeluarkan Renata dari pikirannya, bahkan waktu bersekutu untuk membantunya bertemu kembali dengan Renata dengan cara tidak terduga.
"Ketika aku melihatmu untuk pertama kalinya, aku menyadari apa yang akan aku lakukan dalam hidupku. Aku akan menghabiskannya untuk mencintaimu," sambung Jefra.
Renata menunduk, melihat tangannya yang masih berada digenggaman Jefra, "I-itu aku..."
Jefra menepuk lembut pucuk kepala Renata, "Aku tidak meminta kamu untuk menjawab, tidak usah khawatir," ucap Jefra.
__ADS_1
Bola mata Renata bergerak ke atas, mengintip Jefra malu-malu dari balik bulu mata yang lentik. Mulutnya yang terbuka kembali tertutup.
_To Be Continued_